SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA MASYARAKAT

SEKITAR TAMAN NASIONAL

 

Pemukiman masyarakat pada desa-desa di dalam dan di sekitar kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih sangat dipengaruhi oleh keadaan topografi, keadaan tanah, tata air, hubungan kekerabatan dan budaya pada daerah-daerah tersebut. Perumahan penduduk dibuat membentuk kelompok kecil atau membentuk deretan memanjang di tepi kiri-kanan jalan dan ada juga yang mengikuti bentuk pantai dengan pekarangan yang sempit, bahkan ada yang membangun rumahnya di tepi pantai. Hal tersebut karena topografi lahan yang tidak memungkinkan, juga karena keterbatasan kemampuan masyarakat untuk membangun perumahan tersebut. Tipe rumah pada umumnya berbentuk rumah panggung seperti kebanyakan rumah tradisional lainnya di Irian Jaya dengan ukuran empat persegi panjang.


Salah satu pola pemukiman masyarakat
di sekitar Kawasan Taman Nasional

Sebagian besar penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai peramu dan nelayan tradisional, disamping berkebun, berburu dan bertani kelapa. Sebagai peramu, masyarakat sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencari sagu dan kebutuhan hidup yang lain. Pada musim keadaan laut tenang masyarakat lebih menggantungkan hidupnya pada laut dengan mencari dan mengumpulkan hasil-hasil laut untuk dijual pada pedagang pengumpul yang biasanya merupakan pendatang dan Manokwari dan Nabire ataupun dari tempat lain.

Seringkali pedagang pendatang tersebut datang dengan menggunakan kapal motor ukuran besar dengan membawa peralatan/perlengkapan menyelam yang lengkap dan modern serta menginap/tinggal di pulau-pulau untuk mengumpulkan hasil laut tersebut. Para nelayan ini juga kadang-kadang melakukan praktek penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan bahan kimia yang menyebabkan rusaknya terumbu karang dan biota laut.


Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea)

Disisi lain masyarakat setempat merupakan nelayan tradisional yang memiliki peralatan yang sangat sederhana. Biota laut yang biasanya dikumpulkan dan dijual antara lain Lola (Trochus niloticus), Batu laga (Turbo marmoratus), Pea-pea (Pintadafucata martensi), Kulit bia triton (Charonia tritonis), Kulit bia kepala kambing (Cassis cormuta), Kima raksasa (Tridacna gigas), Kima lubang (Tridacna croacea), Kima sisik (Tridacna squamosa), Kima besar (Tridacna maxima), Kima tapak kuda (Hippopus hippopus) serta berbagai jenis kerang lainnya.

Masyarakat juga menangkap Penyu untuk dikonsumsikan dan sisik/kerangnya dijual kepada pedagang pengumpul. Masyarakat di kawasan tersebut ada juga yang berstatus Pegawai Negeri, Pedagang, dan Anggota ABRI, terutama yang berasal dari daerah lain dan bukan penduduk asli setempat.

Masyarakat di sekitar kawasan taman nasional pada umumnya memiliki suatu kepercayaan sejak nenek moyang yang tetap dijaga dan diwariskan secara turun temurun. Pada beberapa kampung ada kepercayaan dalam hubungannya dengan larangan untuk memakan jenis-jenis hewan tertentu. Masyarakat Desa Aisandami (Klen Waropen dan Auri) tidak memakan Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus). Masyarakat kampung Goni di Kecamatan Yaur (Klen Sadi) juga tidak memakan Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan Duyung (Dugong dugon). Sedangkan masyarakat kampung Yeretnar tidak memakan Buaya (Crocodylus sp.), Bia dan Ika Bubara. Selain itu masyarakat desa Yaur dan Napan Yaur tidak boleh memakan Bia, Biawak dan Buaya serta ikan Lumba-lumba.

Larangan-larangan ini masih terpelihara dan dijaga dengan baik dalam lingkungan masyarakat oleh marga/klen tertentu secara turun-temurun dan apabila tidak mematuhi larangan-larangan tersebut akan berakibat fatal terhadap pelanggar.

Sistem kekerabatan diantara masyarakat/marga sangat tinggi dan pada umumnya masyarakat yang sama kekerabatannya hidup secara berkelompok/bersama-sama.
 


[ Home | Info | Menu Pemb.Kehutanan | Menu PHPA | Menu Taman Nasional ]