Penduduk asli yang menetap di sekitar
Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya merupakan keturunan dari kelompok
suku Dayak Limbai, Ransa, Kenyilu, Ot Danum, Malahui, Kahoi dan Kahayan,
walaupun demikian bahasa Indonesia sudah dimengerti oleh penduduk dan dipakai
sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan dan pertemuan umum. Pada umumnya
mereka hidup berkelompok dalam jumlah terbatas, tersebar di sepanjang sungai-sungai
kecil yang bermuara di Sungai Melawi dan di Kalimatan Barat maupun Sungai
Katingan di Kalimantan Tengah. Mata pencaharian mereka adalah berladang
berpindah, berkebun dan memelihara ternak. Karya-karya budaya yang dapat
disaksikan adalah patung-patung kayu leluhur terbuat dari kayu belian,
kerajinan tangan dari rotan maupun bambu dan daun pandan serta upacara-upacara
adat.
Penduduk Asli Sekitar
Kawasan
Secara tradisional masyarakat suku Dayak tinggal sekeluarga di rumah panjang yang disebut Betang. Pemerintah desa dipegang oleh lembaga adat yang dijalankan oleh kepala adat. Hukum adat yang berlaku pada masing-masing desa umumnya mengatur hubungan sosial antar warga desa misalnya perkawinan, perceraian, pemakaian lahan, tata cara pembukaan ladang pada bekas ladang maupun hutan yang masih asli, penebangan pohon dan pemanfaatan hasil hutan.
[ Home
| Info
| Menu Pemb.Kehutanan
| Menu PKA
| Menu Taman Nasional ]