2.
Pelestarian Plasma Nutfah
Plasma nutfah
merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di
bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya
merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh
karena itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama
untuk mempertahankan keanekaragaman hayati (Buku I Repelita V hal. 429). Hutan
kota dapat dijadikan sebagai tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar
di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan hutan kota dapat dipandang sebagai
areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal ini dapat
dilestarikan flora dan fauna secara exsitu. Salah satu tanaman yang langka
adalah nam-nam (Cynometra cauliflora).
3.
Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
Udara alami yang
bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami
maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang
tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon
melalui proses jerapan dan serapan. Dengan adanya mekanisme ini jumlah debu
yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang di
permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya
daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi
terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel
pada kulit pohon, cabang dan ranting.
Daun yang berbulu
dan berlekuk seperti halnya daun Bunga Matahari dan Kersen mempunyai kemampuan
yang tinggi dalam menjerap partikel dari pada daun yang mempunyai permukaan
yang halus (Wedding dkk. dalam Smith, 1981).
Manfaat dari
adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan
sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari
hutan kota.
4.
Penyerap dan Penjerap Partikel Timbal
Kendaraan bermotor
merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah perkotaan
(Goldmisth dan Hexter, 1967). diperkirakan sekitar 60-70% dari partikel timbal
di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor (Krishnayya dan Bedi, 1986).
Dahlan (1989);
Fakuara, Dahlan, Husin, Ekarelawan, Danur, Pringgodigdo dan Sigit (1990)
menyatakan damar (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla),
jamuju (Podocarpus imbricatus) dan pala (Mirystica fragrans),
asam landi (Pithecelobiumdulce), johar (Cassia siamea), mempunyai
kemampuan yang sedang tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara.
Untuk beberapa tanaman berikut ini : glodogan (Polyalthea longifolia)
keben (Barringtonia asiatica) dan tanjung (Mimusops elengi),
walaupun kemampuan serapannya terhadap timbal rendah, namun tanaman tersebut
tidak peka terhadap pencemar udara. Sedangkan untuk tanaman daun kupu-kupu (Bauhinia
purpurea) dan kesumba (Bixa orellana) mempunyai kemampuan yang
sangat rendah dan sangat tidak tahan terhadap pencemar yang dikeluarkan oleh
kendaraan bermotor.
5.
Penyerap dan Penjerap Debu Semen
Debu semen
merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan
penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas
harus diturunkan kadarnya.
Studi ketahanan
dan kemampuan dari 11 jenis akan yaitu : mahoni (Swietenia macrophylla),
bisbul (Diospyrosdiscolor), tanjung (Mimusops elengi), kenari (Canarium
commune), meranti merah (Shorealeprosula), kere payung (Filicium
decipiens), kayu hitam (Diospyros clebica), duwet (Eugenia
cuminii), medang lilin (Litsea roxburghii) dan sempur (Dillenia
ovata) telah diteliti oleh Irawati tahun 1990. Hasil penelitian ini
menunjukkan, tanaman yang baik untuk dipergunakan dalam program pengembangan
hutan kota di kawasan pabrik semen, karena memiliki ketahanan yang tinggi
terhadap pencemaran debu semen dan kemampuan yang tinggi dalam menjerap (adsorpsi)
dan menyerap (absorpsi) debu semen adalah mahoni, bisbul, tanjung,
kenari, meranti merah, kere payung dan kayu hitam. Sedangkan duwet, medang
lilin dan sempur kurang baik digunakan sebagai tanaman untuk penghijauan di
kawasan industri pabrik semen. Ketiga jenis tanaman ini selain agak peka
terhadap debu semen, juga mempunyai kemampuan yang rendah dalam menjerap dan
menyerap partikel semen (Irawati, 1990).
6.
Peredam Kebisingan
Pohon dapat
meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan
ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang
mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang (Grey dan Deneke, 1978).
dengan menanam
berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan
dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang
sumbernya berasal
dari bawah. Menurut Grey dan Deneke (1978), dedaunan tanaman dapat menyerap
kebisingan sampai 95%.
7.
Mengurangi Bahaya Hujan Asam
Menurut Smith
(1985), pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui
proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan
memberikan beberapa unsur diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik
seperti glumatin dan gula (Smith, 1981).
Menurut Henderson et
al., (1977) bahan an-organik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk
melalui proses troughfall dengan urutan K>Ca> Mg>Na baik untuk
tajuk dari tegakan daun lebar maupun dari daun jarum.
Hujan yang
mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di
permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi,
maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang
terdapat pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral.
Dengan demikian pH air dari pada pH air hujan asam itu sendiri. Dengan demikian
adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu
dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi
lingkungan. Hasil penelitian dari Hoffman et al. (1980) menunjukkan
bahwa pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika
dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon.
8.
Penyerap Karbon-monoksida
Bidwell dan Fraser
dalam Smith (1981) mengemukakan, kacang merah (Phaseolus vulgaris) dapat
menyerap gas ini sebesar 12-120 kg/km2/hari.
Mikro organisme
serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas
ini (Bennet dan Hill, 1975). Inman dan kawan-kawan dalam Smith (1981) mengemukakan,
tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula
konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol
hanya dalam waktu 3 jam saja.
9.
Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
Hutan merupakan
penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fito-plankton,
ganggang dan rumput laut di samudra. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam
menyerap gas ini sebagai akibat menurunnya luasan hutan akibat perladangan,
pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu
mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut.
Cahaya matahari
akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik hutan kota, hutan alami, tanaman
pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah
gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian
proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila
konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan
mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas
oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.
Widyastama (1991)
mengemukakan, tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 dan
penghasil oksigen adalah : damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia
purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia
auriculiformis) dan beringin (ficus benyamina).
11.
Penyerap dan Penapis Bau
Daerah yang
merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang
tidak sedap. Tanaman dapat digunakan untuk mengurangi bau. Tanaman dapat
menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang
bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke, 1978). Akan lebih baik lagi
hasilnya, jika tanaman yang ditanam dapat mengeluarkan bau harum yang dapat
menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum. Tanaman yang dapat
menghasilkan bau harum antara lain : Cempaka (Michelia champaka) dan
tanjung (Mimusops elengi).
12.
Mengatasi Penggenangan
Daerah bawah yang
sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai
kemampuan evapotranspirasi yang tinggi. Jenis tanaman yang memenuhi kriteria
ini adalah tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai
stomata (mulut daun) yang banyak pula.
Menurut Manan
(1976) tanaman penguap yang sedang tinggi diantaranya adalah : nangka (Artocarpus
integra), albizia (Paraserianthes falcataria), Acacia vilosa,
Indigofera galegoides, Dalbergia spp., mahoni (Swietenia spp), jati
(Tectona grandis), kihujan (Samanea saman) dan lamtoro (Leucanea
glauca).
13.
Mengatasi Intrusi Air Laut
Kota-kota yang
terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini
dihantui oleh intrusi air laut.
Pemilihan jenis
tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi
air laut harus betul-betul diperhatikan karena:
Upaya untuk
mengatasi masalah ini sama dengan upaya untuk meningkatkan kandungan air tanah
yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air tanah yaitu
membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang
mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah.
14.
Produksi Terbatas
Hutan kota
berfungsi in-tangible juga tangible. Sebagai contoh, pohon mahoni
di Sukabumi sebanyak 490 pohon telah dilelang dengan harga Rp. 74 juta (Pikiran
Rakyat, 18-3-1991). Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau buah
yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan warga masyarakat dapat
meningkatkan taraf gizi/kesehatan dan penghasilan masyarakat. Buah kenari untuk
kerajinan tangan. Bunga tanjung diambil bunganya. Buah sawo, kawista, pala,
lengkeng, duku, asem, menteng dan lain-lain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
guna meningkatkan gizi dan kesehatan warga kota.
15.
Ameliorasi Iklim
Salah satu masalah
penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa
kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan.
Hutan kota dapat
dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak
terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat,
jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan
lain-lain. sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan
dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi (Grey dan Deneke, 1978 dan
Robinette, 1983).
Robinette (1983)
lebih jauh menjelaskan, jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat
dipengaruhi oleh : panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi
jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca dan posisi lintang.
Suhu udara pada
daerah berhutan lebih nyaman dari pada daerah tidak ditumbuhi oleh tanaman.
Wenda (1991) telah melakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara pada lahan
yang bervegetasi dengan berbagai kerapatan, tinggi dan luasan dari hutan kota
di Bogor yang dibandingkan dengan lahan pemukiman yang didominasi oleh tembok
dan jalan aspal, diperoleh hasil bahwa:
Koto (1991) juga
telah melakukan penelitian di beberapa tipe vegetasi di sekitar Gedung Manggala
Wanabakti. Dari penelitian ini dapat dinyatakan, hutan memiliki suhu udara yang
paling rendah, jika dibandingkan dengan suhu udara di taman parkir, padang
rumput dan beton.
16.
Pengelolaan Sampah
Hutan kota dapat
diarahkan untuk pengelolaan sampah dalam hal : (1) sebagai penyekat bau (2)
sebagai penyerap bau (3) sebagai pelindung tanah hasil bentukan dekomposisi
dari sampah (4) sebagai penyerap zat yang berbahaya yang mungkin terkandung
dalam sampah seperti logam berat, pestisida serta bahan beracun dan berbahaya
lainnya.
17.
Pelestarian Air Tanah
Sistem perakaran
tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori
tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air
yang besar (Bernatzky, 1978). Maka kadar air tanah hutan akan meningkat.
Pada daerah hulu
yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya ditanami dengan tanaman
yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Di samping itu sistem perakaran
dan serasahnya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak
yang masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit yang menjadi
air limpasan.
Jika hujan lebat
terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih
dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah. Dengan demikian hutan kota yang
dibangun pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat
membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik.
Menurut Manan
(1976) tanaman yang mempunyai daya evapotrnspirasi yang rendah antara lain :
cemara laut Casuarina equisetifolia), Ficus elastica, karet (Hevea
brasiliensis), manggis (Garcinia mangostana), bungur (Lagerstroemia
speciosa), Fragraea fragrans dan kelapa (Cocos nucifera).
Po. K (1 + r - c)t - PAM - Pa
La = ----------------------------------
z
La : luas hutan kota yang harus dibangun
Po : jumlah penduduk
K : konsumsi air per kapita 1/hari)
r : laju peningkatan pemakaian air
c : faktor pengendali
PAM : kapasitas suplai perusahaan air minum
t : tahun
Pa : potensi air tanah
z : kemampuan hutan kota dalam menyimpan air
18.
Penapis Cahaya Silau
Manusia sering
dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, aluminium,
baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda tersebut
memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan
mengurangi daya pandang pengendara. Oleh sebab itu, cahaya silau tersebut perlu
untuk dikurangi.
Keefektifan pohon
dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan
kerapatannya. Pohon dapat dipilih berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan
tajuknya.
19.
Meningkatkan Keindahan
Manusia dalam
hidupnya tidak saja membutuhkan tersedianya makanan, minuman, namun juga
membutuhkan keindahan. Keindahan merupakan pelengkap kebutuhan rohani.
Benda-benda di sekeliling manusia dapat ditata dengan indah menurut garis,
bentuk, warna, ukuran dan teksturnya (Grey dan Deneke, 1978), sehingga dapat
diperoleh suatu bentuk komposisi yang menarik.
Benda-benda buatan
manusia, walaupun mempunyai bentuk, warna dan tekstur yang sudah dirancang
sedemikian rupa tetap masih mempunyai kekurangan yaitu tidak alami, sehingga
boleh jadi tidak segar tampaknya di depan mata. Akan tetapi dengan menghadirkan
pohon ke dalam sistem tersebut, maka keindahan yang telah ada akan lebih
sempurna, karena lebih bersifat alami yang sangat disukai oleh setiap manusia.
Tanaman dalam
bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan benda-benda buatan
seperti gedung, jalan dan sebagainya untuk mendapatkan komposisi yang baik.
Peletakan dan pemilihan jenis tanaman harus dipilih sedemikian rupa, sehingga
pada saat pohon tersebut telah dewasa akan sesuai dengan kondisi yang ada.
Warna daun, bunga atau buah dapat dipilih sebagai komponen yang kontras atau
untuk memenuhi rancangan yang nuansa (bergradasi lembut).
Komposisi tanaman
dapat diatur dan diletakkan sedemikian rupa, sehingga pemandangan yang kurang
enak dilihat seperti : tempat pembuangan sampah, pemukiman kumuh, rumah susun
dengan jemuran yang beraneka bentuk dan warna, pabrik dengan kesan yang kaku
dapat sedikit ditingkatkan citranya menjadi lebih indah, sopan, manusiawi dan
akrab dengan hadirnya hutan kota sebagai tabir penyekat di sana.
20.
Sebagai Habitat Burung
Masyarakat modern
kini cenderung kembali ke alam (back to nature). Desiran angin, kicauan
burung dan atraksi satwa lainnya di kota diharapkan dapat menghalau kejenuhan
dan stress yang banyak dialami oleh penduduk perkotaan.
Salah satu satwa
liar yang dapat dikembangkan di perkotaan adalah burung. Burung perlu
dilestarikan, mengingat mempunyai manfaat yang tidak kecil artinya bagi
masyarakat, antara lain (Hernowo dan Prasetyo, 1989) :
Beberapa jenis
burung sangat membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makan maupun sebagai
tempat bersarang dan bertelur. Pohon kaliandra di antaranya disenangi burung
pengisap madu. Pohon jenis lain disenangi oleh burung, karena berulat yang
dapat dimakan oleh jenis burung lainnya.
Menurut Ballen (1989),
beberapa jenis tumbuhan yang banyak didatangi burung antara lain :
21.
Mengurangi Stress
Kehidupan
masyarakat di kota besar menuntut aktivitas, mobilitas dan persaingan yang
tinggi. Namun di lain pihak lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang
sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri.
Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan
lainnya sering mempunyai temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal
dan karbon-monoksida (Soemarwoto, 1985). Oleh sebab itu gejala stress (tekanan
psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada anggota
masyarakat yang tinggal dan berusaha di kota atau mereka yang hanya bekerja
untuk memenuhi keperluannya saja di kota.
Program
pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang
negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan
kejenuhan dan kepenatan. Cemaran timbal, CO, SOx, NOx dan lainnya dapat
dikurangi oleh tajuk dan lantai hutan kota. Kicauan dan tarian burung akan
menghilangkan kejemuan. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan
monotonitas.
22.
Mengamankan Pantai Terhadap Abrasi
Hutan kota berupa
formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat membantu
proses pengendapan lumpur di pantai. Dengan demikian hutan kota selain dapat
mengurangi bahaya abrasi pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan
daratan.
23.
Meningkatkan Industri Pariwisata
Bunga bangkai (Amorphophallus
titanum) di Kebun raya Bogor yang berbunga setiap 2-3 tahun dan tingginya
dapat mencapai 1,6 m dan bunga Raflesia Arnoldi di Bengkulu merupakan salah
satu daya tarik bagi turis domestik maupun manca-negara. Tamu asing pun akan
mempunyai kesan tersendiri, jika berkunjung atau singgah pada suatu kota yang
dilengkapi dengan hutan kota yang unik, indah dan menawan.
24.
Sebagai Hobi dan Pengisi Waktu Luang
Monotonitas,
rutinitas dan kejenuhan kehidupan di kota besar perlu diimbangi oleh kegiatan
lain yang bersifat rekreatif, akan dapat menghilangkan monotonitas, rutinitas
dan kejenuhan kerja.
BAB V. TIPE DAN
BENTUK HUTAN KOTA
1.
Tipe Hutan Kota
Hutan kota yang
dibangun pada areal pemukiman bertujuan utama untuk pengelolaan lingkungan
pemukiman, maka yang harus dibangun adalah hutan kota dengan tipe pemukiman.
Hutan kota tipe ini lebih dititik-beratkan kepada keindahan, penyejukan,
penyediaan habitat satwa khususnya burung, dan tempat bermain dan bersantai.
Kawasan industri
yang memiliki kebisingan yang tinggi dan udaranya tercemar, maka harus dibangun
hutan kota dengan tipe kawasan industri yang mempunyai fungsi sebagai penyerap
pencemar, tempat istirahat bagi pekerja, tempat parkir kendaraan dan keindahan.
Kota yang memiliki
kuantitas air tanah yang sedikit dan atau terancam masalah intrusi air laut,
maka fungsi hutan yang harus diperhatikan adalah sebagai penyerap, penyimpan
dan pemasok air. Maka hutan yang cocok adalah hutan lindung di daerah tangkapan
airnya.
a. Tipe
Pemukiman
Hutan kota di
daerah pemukiman dapat berupa taman dengan komposisi tanaman pepohonan yang
tinggi dikombinasikan dengan semak dan rerumputan. Taman adalah sebidang tanah
terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan
rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya
dipergunakan untuk olah raga, bersantai, bermain dan sebagainya.
b. Tipe
Kawasan Industri
Suatu wilayah
perkotaan pada umumnya mempunyai satu atau beberapa kawasan industri. Limbah
dari industri dapat berupa partikel, aerosol, gas dan cairan dapat mengganggu
kesehatan manusia. Di samping itu juga dapat menimbulkan masalah kebisingan dan
bau yang dapat mengganggu kenyamanan.
Beberapa jenis
tanaman telah diketahui kemampuannya dalam menyerap dan menjerap polutan.
Dewasa ini juga tengah diteliti ketahanan dari beberapa jenis tanaman terhadap
polutan yang dihasilkan oleh suatu pabrik. Dengan demikian informasi ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jenis-jenis tanaman yang
akan dikembangkan di kawasan industri.
c. Tipe
Rekreasi dan Keindahan
Manusia dalam
kehidupannya tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah seperti
makanan dan minuman, tetapi juga berusaha memenuhi kebutuhan rohaniahnya,
antara lain rekreasi dan keindahan. Rekreasi dapat didefinisikan sebagai setiap
kegiatan manusia untuk memanfaatkan waktu luangnya (Douglass, 1982). Pigram
dalam Mercer (1980) mengemukakan bahwa rekreasi dapat dibagi menjadi dua
golongan yakni : (1) Rekreasi di dalam bangunan (indoor recreation) dan (2) Rekreasi
di alam terbuka (outdoor recreation). Brockman (1979) mengemukakan, rekreasi
dalam bangunan yaitu mendatangkan pengalaman baru, lebih menyehatkan baik
jasmani maupun rohani, serta meningkatkan ketrampilan.
Dewasa ini
terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan minat penduduk perkotaan untuk
rekreasi. Hal ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan pendapatan,
peningkatan sarana transportasi, peningkatan sistem informasi baik cetak maupun
elektronika, semakin sibuk dan semakin besar kemungkinan untuk mendapat stress.
Rekreasi pada
kawasan hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah
penat dan jenuh dengan kegiatan rutin, supaya siap menghadapi tugas yang baru.
Untuk mendapatkan kesegaran diperlukan suatu masa istirahat yang terbebas dari
proses berpikir yang rutin sambil menikmati sajian alam yang indah, segar dan
penuh ketenangan.
d. Tipe
Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan konservasi
mengandung tujuan untuk mencegah kerusakan perlindungan dan pelestarian
terhadap sumberdaya alam. Bentuk hutan kota yang memenuhi kriteria ini antara
lain : kebun raya, hutan raya dan kebun binatang. Ada 2 sasaran pembangunan
hutan kota untuk pelestarian plasma nutfah yaitu :
Manusia modern
menginginkan back to nature. Hutan kota dapat diarahkan kepada
penyediaan habitat burung dan satwa lainnya. Suatu kota sering kali mempunyai
kekhasan dalam satwa tertentu, khususnys burung yang perlu diperhatikan
kelestariannya. Untuk melestarikan burung tertentu, maka jenis tanaman yang
perlu ditanam adalah yang sesuai dengan keperluan hidup satwa yang akan
dilindungi atau ingin dikembangkan, misalnya untuk keperluan bersarang,
bermain, mencari makan ataupun untuk bertelur.
Hutan yang
terdapat di pesisir pantai menghasilkan bahan organik. Dedaunan yang jatuh ke
air laut kemudia dapat berubah menjadi detritus. Pada permukaan detritus dapat
menjumpai mikroorganisme air. Sebagian hewan merupakan pemakan detritus (detritus
feeder). Nampaknya organisme yang memakan detritus ini, sesungguhnya
memangsa mikroorganismenya, karena mikroorganisme mengandung protein,
karbohidrat dan lain-lain. Apabila hutan ini hilang, maka detritus tidak
tersedia lagi dan akibatnya hewan pemakan detritus pun akan musnah.
e. Tipe
Perlindungan
Selain dari tipe
yang telah disebutkan di atas, areal kota dengan mintakat ke lima yaitu daerah
dengan kemiringan yang cukup tinggi yang ditandai dengan tebing-tebing yang
curam ataupun daerah tepian sungai perlu dijaga dengan membangun hutan kota
agar terhindar dari bahaya erosi dan longsoran.
Hutan kota yang
berada di daerah pesisir dapat berguna untuk mengamankan daerah pantai dari
gempuran ombak laut yang dapat menghancurkan pantai. Untuk beberapa kota
masalah abrasi pantai ini merupakan masalah yang sangat penting.
Kota yang memiliki
kerawanan air tawar akibat menipisnya jumlah air tanah dangkal dan atau terancam
masalah intrusi air laut, maka hutan lindung sebagai penyerap, penyimpan dan
pemasok air harus dibangun di daerah resapan airnya. Dengan demikian ancaman
bahaya intrusi air laut dapat dikurangi.
f. Tipe
Pengamanan
Yang dimaksudkan
hutan kota dengan tipe pengamanan adalah jalur hijau di sepanjang tepi jalan
bebas hambatan. Dengan menanam perdu yang liat dan dilengkapi dengan jalur
pohon pisang dan tanaman yang merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan
dapat menahan kendaraan yang keluar dari jalur jalan. Sehingga bahaya
kecelakaan karena pecah ban, patah setir ataupun karena pengendara mengantuk
dapat dikurangi.
Pada kawasan ini
tanaman harus betul-betul cermat dipilih yaitu yang tidak mengundang masyarakat
untuk memanfaatkannya. Tanaman yang tidak enak rasanya seperti pisang hutan
dapat dianjurkan untuk ditanam di sini.
2.
Bentuk Hutan Kota
a. Jalur
Hijau
Pohon peneduh
jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik tegangan tinggi, jalur hijau di
tepi jalan kereta api, jalur hijau di tepi sungai di dalam kota atau di luar
kota dapat dibangun dan dikembangkan sebagai hutan kota guna diperoleh manfaat
kualitas lingkungan perkotaan yang baik. Tanaman yang ditanam pada daerah di
bawah jalur kawat listrik dan telepon diusahakan yang rendah saja, atau boleh
saja dengan tanaman yang dapat menjulang tinggi, namun pada batas ketinggian
tertentu harus diberikan pemangkasan.
Kawasan riparian
seperti : delta sungai, kanal, saluran irigasi, tepian danau dan tepi pantai
dapat merupakan bagian lokasi dari kegiatan pengembangan hutan kota. Penanaman
tanaman di kawasan ini diharapkan dapat memperbaiki kuantitas dan kualitas air
serta untuk memperkecil erosi.
Seperti telah
disebutkan di atas, jalur hijau di tepi jalan bebas hambatan yang terdiri dari
jalur tanaman pisang dan jalur tanaman yang merambat serta tanaman perdu yang
liat yang ditanam secara berlapis-lapis diharapkan dapat berfungsi sebagai
penyelamat bagi kendaraan yang keluar dari badan jalan. Sedangkan pada bagian
yang lebih luar lagi dapat ditanami dengan tanaman yang tinggi dan rindang
untuk menyerap pencemar yang diemisikan oleh kendaraan bermotor.
b. Taman
Kota
Taman dapat
diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik
sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia untuk mendapatkan komposisi
tertentu yang indah.
Setiap jenis
tanaman mempunyai karakteristik tersendiri baik menurut bentuk, warna dan
teksturnya. Ada pohon yang bentuk tajuknya kecil tinggi dan lurus (cemara
lilin), tajuk pohon berbentuk piramida (cemara) dan ada juga yang bentuk
tajuknya besar, bulat dan rindang (beringin).
Tekstur daun dapat
pula dijadikan bahan pertimbangan dalam suatu komposisi taman. Ada daun dengan
tekstur yang kasar (Ficus elastica), tekstur sedang (duren) dan ada yang
halus (lamtoro).
Bentuk percabangan
juga dapat dijadikan sebagai komponen dari suatu komposisi. Ada beberapa bentuk
percabangan seperti : mendatar, menyudut (acute), menjumbai (weeping)
dan tegak.
c. Kebun dan
Halaman
Jenis tanaman yang
ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang dapat menghasilkan buah
seperti : mangga, durian, sawo, rambutan, jambu, pala, jeruk, delima, kelapa
dan lain-lain serta dari jenis yang tidak diharapkan hasil buahnya seperti :
cemara, palem, pakis, filisium dan beberapa jenis lainnya.
Halaman rumah
dapat memberikan prestise tertentu. Oleh sebab itu halaman rumah ditata apik
sedemikian rupa untuk mendapatkan citra, kebanggaan dan keindahan tertentu bagi
yang empunya rumah maupun orang lain yang memandang dan menikmatinya. Maka
halaman tidak hanya ditanam dengan tanaman seperti tersebut di atas, namun
dilengkapi juga dengan tanaman bebungaan yang indah. Tanaman lainnya yang dapat
dijumpai adalah : sayuran, empon-empon dan tanaman apotik hidup lainnya. Pada
halaman rumah pun dapat dijumpai unggas, ikan dan heawan lainnya.
Menurut Soemarwoto
(1983) tanaman halaman rumah mempunyai fungsi integrasi antara fungsi alam
hutan dengan fungsi sosial-budaya-ekonomi masyarakat.
d. Kebun
Raya, Hutan Raya dan Kebun Binatang
Kebun raya, hutan
raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk hutan kota.
Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun dari daerah lain, baik dari
daerah lain di dalam negeri maupun di luar negeri.Soemarwoto (1983)
berpendapat, kebun raya ada yang bersifat ekonomi dan yang bertujuan utama
untuk ilmiah.
e. Hutan
Lindung
Mintakat kota ke
lima yaitu darah dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan hutan karena
rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi air
laut, hendaknya dijadikan hutan lindung.
f. Kuburan
dan Taman Makam Pahlawan
Pada tempat
pemakaman banyak ditanam pepohonan. Nampaknya sebagai manifestasi kecintaan
orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal tak akan pernah
berhenti, selama pohon tersebut masih tegak berdiri. Personifikasi ini
nampaknya menyatakan bahwa dengan melalui tanaman dapat digambarkan bahwa
kehidupan tidaklah berakhir dengan kematian, namun kematian adalah awal dari
kehidupan.
BAB VI. PEMBANGUNAN
HUTAN KOTA
1.
Perencanaan
Dalam studi kajian
perencanaan aspek yang diteliti meliputi : lokasi, fungsi dan pemanfaatan,
aspek tehnik silvikultur, arsitektur lansekap, sarana dan prasarana, tehnik
pengelolaan lingkungan.
Bahan informasi
yang dibutuhkan dalam studi meliputi : (1) Data fisik (letak, wilayah, tanah,
iklim dan lain-lain); (2) Sosial ekonomi (aktivitas di wilayah bersangkutan dan
kondisinya); (3) Keadaan lingkungan (lokasi dan sekitarnya); (4) Rencana pembangunan
wilayah (RUTR,RTK,RTH), serta
(5) Bahan-bahan penunjang lainnya.
Hasil studi berupa
Rencana Pembangunan Hutan Kota yang terdiri dari tiga bagian, yakni:
2.
Kelembagaan dan Organisasi Pelaksanaannya
Organisasi
pembangunan dan pengelolaan hutan kota sangat bergantung kepada perangkat yang
ada dan keperluannya. Sistem pengorganisasian di suatu daerah mungkin berbeda
dengan daerah lainnya. Salah satu bentuk pengorganisasiannya pembangunan dan
pengelolaan hutan adalah seperti tercantum pada Gambar
2. Walikota atau Bupati sebagai kepala wilayah bertanggung jawab
atas pembangunan dan pengembangan hutan kota di wilayahnya. Bidang perencanaan
dan pengendalian dipegang oleh Bappeda Tingkat II yang dibantu oleh tim pembina
yang terdiri dari Kanwil Departemen Kehutanan, Kanwil Departemen Pertanian dan
Perkebunan, Kanwil Departemen Pekerjaan Umum, Kanwil Departemen Kesehatan, Biro
Kependudukan dan Lingkungan Hidup dan yang lainnya menurut kebutuhan masing-
masing kota atau daerah. Untuk pelaksanaannya dapat ditunjuk dinas-dinas yang
berada di wilayahnya.
Pengelolaan hutan
kota pada areal yang dibebani hak milik diserahkan kepada pemiliknya, namun
dalam pelaksanaannya harus memperhatikan petunjuk dari bidang perencanaan dan
pengendalian. Guna memperlancar pelaksanaannya kiranya perlu dipikirkan jasa
atau imbalan apa yang dapat diberikan oleh pemerintah kepada yang bersangkutan.
3.
Pemilihan Jenis
Guna mendapatkan
keberhasilan dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan hidup di perkotaan,
jenis yang ditanam dalam program pembangunan dan pengembangan hutan kota
hendaknya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan dengan tujuan agar tanaman
dapat tumbuh baik dan tanaman tersebut dapat menanggulangi masalah lingkungan
yang muncul di tempat itu dengan baik.
Untuk mendapat
hasil pertumbuhan tanaman serta manfaat hutan kota yang maksimal, beberapa
informasi yang perlu diperhatikan dan dikumpulkan antara lain:
|
|
Tahan terhadap hama dan penyakit, |
|
|
Cepat tumbuh, |
|
|
Kelengkapan jenis dan penyebaran jenis, |
|
|
Mempunyai umur yang panjang, |
|
|
Mempunyai bentuk yang indah, |
|
|
Ketika dewasa sesuai dengan ruang yang ada, |
|
|
Kompatibel dengan tanaman lain, |
|
|
Serbuk sarinya tidak bersifat alergis, |
|
|
Mudah tumbuh pada tanah yang padat, |
||||||||||||||
|
|
Tidak mempunyai akar yang besar di permukaan tanah, |
||||||||||||||
|
|
Tanah terhadap hembusan angin yang kuat, |
||||||||||||||
|
|
Dahan dan ranting tidak mudah patah, |
||||||||||||||
|
|
Pohon tidak mudah tumbang, |
||||||||||||||
|
|
Buah tidak terlalu besar, |
||||||||||||||
|
|
Serasah yang dihasilkan sedikit, |
||||||||||||||
|
|
Tahan terhadap pencemar dari kendaraan bermotor dan industri, |
||||||||||||||
|
|
Luka akibat benturan mobil mudah sembuh, |
||||||||||||||
|
|
Cukup teduh, tetapi tidak terlalu gelap, |
||||||||||||||
|
|
Kompatibel dengan tanaman lain, |
||||||||||||||
|
|
Daun, bunga, buah, batang dan percabangannya secara keseluruhan indah,
Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk menebang pohon adalah : a. Tumpangan (Toping) Cara ini sangat biasa dipakai untuk menebang kayu di hutan. Penebang (belandong) pertama-tama akan menentukan arah rebah. Takik rebah dan takik balas dibuat baik dengan gergaji maupun dengan kapak. Cara ini hanya dapat dilakukan di daerah yang luas dan jauh dari jalan raya, pemukiman, jalur listrik, telepon dan lain-lain. b. Penggalan (Sectioning) Pemanjat pohon yang telah dilengkapi dengan tali pengaman yang dikaitkan ke tubuhnya kemudian memanjat pohon. Pemanjat menuju cabang pertama kemudian memotong dengan gergaji mesin atau kapak dan memotong cabang tersebut. Kemudian naik lagi dan memotong cabang yang lain dengan cara bersandar pada cabang lain yang aman. Demikian selanjutnya, pekerjaan diteruskan sampai ke atas. Pada saat tersebut, orang yang berada di tanah memotong-motong cabang dan ranting yang baru jatuh. Setelah cabang-cabang terpotong, orang yang berada di bawah mulai membereskan cabang-cabang tersebut. Kemudian pemanjat turun dan pekerjaannya digantikan oleh yang lain untuk memenggal pohon bagian demi bagian yang dimulai dari bagian atas. Bila pohon yang hendak ditebang memiliki dahan yang panjang, melintang di atas rumah, pagar, tanaman berharga dan kabel listrik, maka salah satu cara adalah dengan menggunakan tali. Pengikatan, pemotongan dan penurunan, bagian demi bagian, walaupun ketinggalan jaman, tetapi kadang-kadang merupakan jalan yang terbaik. c. High-lining Cara lain yang menarik adalah high-lining. Jika pohon yang akan dipotong dikelilingi oleh benda-benda berharga yang tidak dapat disingkirkan, maka cabang dapat dipotong bagian demi bagian dan dijatuh-arahkan ke sasaran yang diinginkan. Cara ini dapat dilakukan dengan jalan menambatkan salah satu ujung tambang yang kuat pada pohon dan ujung lain di lokasi sasaran yang menjadi tempat jatuhnya bagian-bagian pohon. Tambang tersebut diusahakan mempunyai sudut kemiringan yang cukup. Tidak terlalu tajam, agar bagian pohon tidak meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi, namun sebaliknya tidak terlalu landai. Jika sudut kemiringan tambang terlalu landai, maka jatuhnya dahan tersebut mungkin akan terganggu, bahkan terhenti selain itu membutuhkan areal yang lebih jauh. Operasi pemindahan potongan cabang pohon ini berdasarkan gaya gravitasi. Dengan cara ini semua cabang dapat dipindahkan ke tempat lain dengan aman. Penebangan pohon dilakukan seperti pada cara penggalan. d. Potong bawah (Bottoming) Penebangan dengan cara menumbangkannya serta pembagian batang bagian demi bagian dari ujung sampai ke pangkal merupakan dua cara standar dalam penebangan pohon. Cara lainnya yang jarang ditemui adalah potong bawah (bottoming). Cara ini merupakan kebalikan dari cara yang telah dijelaskan terlebih dahulu (Haller, 1986). Teknik ini hanya dapat dilakukan bila ada satu atau lebih pohon lain yang berukuran sama atau lebih besar di dekat pohon yang akan ditebang. Dalam cara ini, tali diikatkan di sekeliling tajuk pohon yang akan ditebang ke pohon yang tidak ditebang. Pohon yang telah diikat dengan tali di sekitar puncaknya kemudian bagian pangkalnya digergaji. Bagian pangkal/bawah dari pohon dipotong dengan posisi tetap berdiri. Panjang bagian batang yang dipotong sesuai dengan yang dikehendaki. Setelah pemotongan pohon diturunkan dengan cara mengulurkan tali sambil menjaga agar batang tetap tegak, kemudian sedikit demi sedikit pohon dipotong lagi. Demikian seterusnya sampai pohon habis terpotong. BAB VIII. ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Telah dijelaskan pada Bab I bahwa dalam sejarah perkembangan peradabannya, manusia semula selalu bersahabat dengan alam. Rumah tempat tinggal manusia yang dekat dengan hutan, akan akrab dengan flora dan fauna. Sedangkan yang tinggal dekat dengan laut sangat akrab dengan deburan ombak, hembusan angin, hutan pantai dan bakau. Namun dengan berkembangnya pemukiman dari desa yang kecil dan sederhana menjadi kota yang besar dan kompleks mengakibatkan terjadinya pelepasan diri manusia bahkan ada kecenderungan untuk "menghancurkan" hutan. Hasilnya baru kemudian dirasakan adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup. Beberapa kota besar telah membangun dan mengembangkan hutan kota untuk mengantisipasi masalah tersebut di atas, namun ada juga pembangunan hutan kotanya masih dalam tarap perencanaan. Fraksi Karya Pembangunan DPRD Tingkat I Bali pada tanggal 25 April 1991 telah mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah Daerah Tk I tentang rencana pembangunan hutan kota di propinsi Bali. Juru bicara fraksi tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa jangan sampai tanah sudah habis dibangun, baru mencari tanah untuk hutan kota (Pedoman Rakyat, 25-4-1991). Pada tanggal 2 Mei 1990 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia juga mempertanyakan tentang realisasi pembangunan hutan kota di Jakarta. Target penghijauan di Jakarta baru terealisasi 10% saja (Kompas, 26-10-1990). Padahal menurut rencana luasan lahan yang harus dihijaukan adalah sekitar 40% dari luas 650 km2. Menurut Rencana Induk 1965-1985 (tahun 1977) luasan lahan yang harus dihijaukan di Jakarta adalah 23.750 Ha (Kompas, 26-10-1990). Pada kenyataannya taman-taman di Jakarta sebanyak 181 dari 394 taman telah berubah fungsi menjadi lokasi pedagang kaki lima, gardu listrik, pompa bensin dan kantor RW (Suara Pembaruan, 2-5-1990). Soeriatmadja dalam Seminar Penghijauan Kota yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung dan Pikiran Rakyat menyatakan tahun 1961 kota Bandung yang luasnya 8.098 Ha terdiri dari taman alam dan buatan seluas 3.431 Ha. Namun setelah 20 tahun kemudian hanya tinggal 716 Ha saja (Suara Pembaruan, 29-1-1991). Perhitungan yang dilakukan berdasarkan pendekatan kebutuhan oksigen berdasarkan Rumus Gerakis pada tahun 1988 di Kotamadya Bandung mestinya sudah harus tersedia penghijauan sebesar 5.093,61 Ha (Ryanto, 1989). Beberapa hambatan yang dijumpai dan sering mengakibatkan kurang berhasilnya program pengembangan hutan kota antara lain:
Beberapa upaya penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan- hambatan tersebut di atas antara lain:
Masalah hutan kota yang paling mendasar hingga saat ini adalah : (1) dukungan dari penentu kebijakan, (2) dukungan finansial, (3) dukungan masyarakat, dan (4) tenaga ahli. Oleh karena itu untuk memperoleh keberhasilan pembangunan dan pengembangan hutan kota di Indonesia dukungan-dukungan seperti yang telah disebutkan di atas perlu disempurnakan secara sungguh-sungguh. Ilmu hutan kota merupakan suatu disiplin ilmu yang relatif baru, namun sangat perlu dan segera harus dikembangkan, karena mempunyai keuntungan antara lain:
|