Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai |
![]() |
Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah, hutan bakau, hutan pantai, savana, dan hutan rawa air tawar di Sulawesi. Vegetasi savana di taman nasional ini memiliki ciri khas dan keunikan, karena merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar dan bambu duri serta semak belukar, juga tumbuhan di sepanjang sungai-sungai yang mengalir di padang savana tersebut. Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai (Victoria spp.).
|
||
Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung,
tercatat 155 jenis burung ada di dalamnya, 32 jenis diantaranya tergolong
langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain
maleo (Macrocephalon maleo), bangau tong-tong (Leptoptilos
javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus episcopus),
raja udang kalung putih (Halcyon chloris chloris), kakatua putih
besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter
rhodogaster rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis),
dan punai emas (Caloena nicobarica), Terdapat satu jenis burung
endemik di Sulawesi Tenggara yaitu kacamata Sulawesi (Zosterops consobrinorum).
Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun yang lalu,
namun saat ini terlihat ada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. |
Jenis primata yang ada yaitu tangkasi/podi
(Tarsius spectrum spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra
nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya seperti anoa dataran
rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi),
soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), kuskus kerdil (Strigocuscus
celebensis celebensis), rusa (Cervus timorensis djonga),
babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis), dan musang Sulawesi
(Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii). |
![]() |
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Tolaki pada bulan
Desember di Kendari. Cara pencapaian lokasi: Kendari-Punggaluku-Tinanggea-Lanowulu (+ 120 km) dengan waktu dua jam 30 menit, atau Kendari-Motaha-Tinanggea-Lanowulu (± 130 km) selama tiga jam, dan Kendari-Lambuya-Aopa-Lanowulu berjarak + 145 km dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan mobil.
|
![]() |
Kantor : Lanowulu, Tinanggea Kendari 93385, Sulawesi Tenggara |
| Dinyatakan Menteri Kehutanan, tahun 1989 dengan luas 96.804 hektar Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 756/Kpts-II/1990 dengan luas 105.194 hektar Ditetapkan --- Letak Kab. Kendari, Kab. Buton dan Kab. Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara Temperatur udara 23° - 30° C Ketinggian tempat 0 - 981 meter dpl Letak geografis 4°00’ - 4°36’ LS, 121°46’ - 122°09’ BT |