BINA PRODUKSI KEHUTANAN
FORESTRY PRODUCTION DEVELOPMENT

HAK PENGUSAHAN HUTAN (HPH)

Pengusahaan hutan adalah kegiatan peman-faatan  hutan yang didasarkan atas azas kelestarian fungsi dan azas perusahaan yang meliputi penanaman, pemeliharaan, penga-manan, pemanenan hasil dan pemasaran hasil hutan. Dalam mengusahakan hutan, pemerintah menempuh kebijaksanaan dengan memberikan Hak Pengusahaan Hutan diatas suatu areal hak pengusahaan hutan berdasarkan PP No. 6 tahun 1999 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Hak Pengusahaan Hutan adalah hak untuk mengusahakan hutan didalam kawasan hutan produksi, yang kegiatannya terdiri dari penanaman, pemeilharaan, pengamanan, pemanenan hasil, pengolahan dan pemasaran hasil hutan.

  2. Areal kerja Hak Pengusahaan Hutan yang dimaksud adalah pada kawasan hutan produksi yang dibebani Hak Pengusahaan Hutan. Keputusan pemberian hak pengusahaan hutan adalah ijin yang diberikan oleh Menteri untuk melaksanakan pengusahaan hutan

  3. Pengusahaan hutan dan pemanfaatan hasil hutan dilaksanakan berdasarkan azas rasionalitas, optimalitas serta kelestarian hutan dan keseimbangan fungsi ekosistem dengan memperhatikan rasa keadilan dan manfaat bagi masyarakat.

Tujuan Pengusahaan Hutan dan Pemanfaatan Hasil Hutan adalah mewujudkan keberadaan sumberdaya hutan yang berkualitas tinggi, memperoleh manfaat ekonomi, sosial dan ekologi yang maksimal dan lestari serta menjamin distribusi manfaatnya secara adil dan merata khususnya terhadap masyarakat yang tinggal di dalam dan atau di sekitar hutan.

Berdasarkan data sampai dengan bulan Desember tahun 2002, Jumlah Perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan di seluruh Indonesia adalah sebanyak 270 Perusahaan HPH dengan total luas areal yang diusahakan seluas 28,08  juta ha dengan perincian seperti pada Tabel-1.

Areal pengusahaan hutan terbanyak tersebar di pulau Kalimantan yaitu sejumlah 127 unit dengan luas areal 10,76 juta ha, dan paling sedikit di Maluku dan Nusa Tenggara Barat sejumlah 25 unit dengan luas areal 1,87 juta ha.

Tabel-1. Keadaan Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Tahun 2002

Wilayah

Unit

Luas
(juta ha)

Sumatera

43

2,80

Kalimantan

127

10,76

Sulawesi

25

1,89

Maluku

24

1,84

Nusa Tenggara Barat

1

0,03

Irian

50

10,75

Indonesia

270

28,08

 HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI)

Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) adalah hak yang diberikan oleh Menteri Kehutanan kepada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta dan atau Koperasi untuk mengusahakan Hutan Tanaman Industri dalam jangka waktu tertentu.

HTI diperuntukan sebagai berikut :

  1. HTI Pulp adalah hutan tanaman yang diperuntukkan terutama bagi penyediaan bahan baku industri pulp(bubur kayu).

  2. HTI Kayu Pertukangan adalah hutan tanaman yang diperuntukkan terutama bagi penyediaan bahan baku industri kayu pertukangan dan atau industri lainnya.

  3. HTI lainnya adalah hutan tanaman yang diperuntukkan bagi penyediaan bahan baku kayu dan atau industri lainnya (misalnya jenis kayu andalan yang spesifik di suatu tempat/ local specific species.

Sampai dengan bulan Desember tahun 2002,  Perusahaan HPHTI definitif ada sebanyak 108 Unit perusahaan dengan total luas areal  sebesar 5,38 juta ha.   Realisasi penanaman HTI adalah sebesar  2,98 juta ha, atau sebesar 55,39 % dibandingkan dengan luas areal HTI yang memiliki ijin definitif.

Prestasi penanaman HTI mulai meningkat dibandingkan 2 tahun sebelumnya.

PRODUKSI HASIL HUTAN

  • Kayu Bulat

    Produksi hasil hutan utama yang dihasilkan dari hutan adalah kayu bulat. Kayu bulat adalah semua kayu bulat yang ditebang atau di panen yang bisa dijadikan sebagai bahan baku produksi pengolahan kayu hulu (IPKH).  Produksi kayu bulat ini dihasilkan dari hutan alam melalui kegiatan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), dan kegiatan ijin pemanfaatan kayu (IPK) dalam rangka pembukaan wilayah hutan dan dari Hutan tanaman melalui kegiatan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), dan terakhir dari kegiatan hutan rakyat.

    Produksi kayu bulat yang dicatat dalam statistik ini tidak ikut didalamnya kayu bahan baku chip dan kayu bakar.

    Pada tahun 2002, produksi kayu bulat adalah sebesar 8,14 Juta m3, dengan perincian dari kegiatan HPH sebesar 3,02 juta m3, dari kegiatan IPK sebesar 0,18 juta ha, dan dari hutan tanaman sebesar 4,93 juta m3.  Kayu bulat dari kegiatan hutan rakyat masih belum dapat direkam pada statistik ini.

  • Kayu Gergajian

    Kayu Gergajian adalah kayu hasil konversi kayu bulat dengan mengunakan mesin gergaji, mempunyai bentuk yang teratur dengan sisi-sisi sejajar dan sudut-sudutnya siku dengan ketebalan tidak lebih dari 6 cm dan kadar air tidak lebih dari 18 %.  Kayu Gergajian yang diolah langsung dari kayu bulat, wajib didukung dengan dokumen yang sah.

    Tahun 2002 produksi kayu gergajian yang tercatat adalah sebesar 415.751 m3, semakin menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

  • Kayu Lapis

    Kayu Lapis adalah panel kayu yang tersusun dari lapisan veneer dibagian luarnya, sedangkan dibagian intinya (core) bisa berupa veneer atau material lain, diikat dengan lem kemudian dipress (ditekan) sedemikian rupa sehingga menjadi panel yang kuat.  Termasuk dalam artian ini adalah kayu lapis yang dilapisi lagi dengan material lain.

    Produksi kayu lapis memiliki kecenderungan penurunan produksi yang dari tahun ke tahun sejak tahun 1996/1997.  Pada tahun 2002 produksi kayu lapis Indonesia hanya mencapai angka produksi 1,20 juta m3, terus menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

  • Produksi kayu olahan lainnya

    Produksi kayu olahan lainnnya yang dicatat dalam statistik ini adalah produksi Blockboard, Veneer,  Particle board, chipwood, Pulp, Moulding dan Dowels.  Produksi kayu olahan pada tahun 2002 dirincikan pada Tabel-2.

Tabel-2.   Volume Produksi Kayu Olahan Tahun 2002 

Nama Produk

Volume produksi
Tahun 2002

Plywood

1.202.040 m3

Kayu gergajian

   415.751 m3

Woodworking

   5.098 m3

Blockboard

   76.088 m3

Veneer

    4.361.044 m3

Particle board

   6.731 m3

Chipwood

   22.024 m3

Pulp

   280.591 ton

Moulding

   93.883 m3

Dowels

           0 m3

Kayu olahan lainnya

     0 m3

  • Hasil Hutan Non Kayu

  1. Rotan (Rotan Bulat)

    Rotan bulat adalah rotan asalan yang dihasilkan dari hutan alam atau hasil budidaya masyarakat di kawasan hutan. Potensi Rotan Indonesia cukup besar dan sebagian besar berasal dari propinsi-propinsi Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.  Di Pulau Jawa tanaman Rotan dibudidayakan oleh Perhutani

  2. Gondorukem

    Gondorukem adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi gondorukem. Kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, kosmetik dll.

  3. Terpentin

    Terpentin adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamfer dan farmasi.

  4. Minyak Kayu Putih

    Minyak kayu putih adalah produk dari daun pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron) melalui proses penyulingan dihasilkan minyak kayu putih. Kegunaan minyak kayu putih adalah untuk bahan farmasi.

  5. Damar

    Damar adalah hasil sekresi (getah) dari pohon Shorea sp, Vatica sp, Dryobalanops sp, dan dari suku Dipterocarpaceae. Didalamnya termasuk damar mata kucing dan damar gelap. Kegunaan damar adalah sebagai bahan korek api, plastik, plester, vernis, lak dan lain sebagainya.

  6. Sagu

    Sagu adalah ekstrak tepung sagu yang diambil dari empulur pohon sagu (Metroxylon Rumphii Mart) yang tumbuh secara alam (luar Jawa) dan tanaman (Jawa).

  7. Sutera

    Sutera adalah hasil/produk Usaha Tani Persuteraan Alam yang merupakan kegiatan usaha tani dengan hasil pokok berupa kokon atau benang sutera mentah.

  8. Kopal

    Kopal adalah getah dari pohon damar (Agathis alba) yang kemudian diolah menjadi kopal. Kegunaan kopal adalah untuk melapisi kertas agar tidak rusak kalau ditulis dengan tinta.

EKSPOR PRODUKSI HASIL HUTAN

Produksi hasil hutan yang berhasil diekspor terutama adalah berupa hasil kayu olahan seperti kayu gergajian, kayu lapis dan kayu-kayu olahan lainnya.   

Pada tahun 2002, volume dan pemasukan devisa dari produk kayu olahan yang berhasil diekspor ke berbagai negara disajikan pada Tabel-3 sebagai berikut :

Tabel-3.  Volume Ekspor Produk Kayu Olahan Tahun 2002 

Produk Kayu Olahan yang diekspor

Volume
(m3)

Nilai
Juta US $

Negara Tujuan
Utama

Plywood

4.983.025

440,91

Japan (26%)

Kayu gergajian

  392.588

    1,91

Taiwan (73%)

Woodworking

6.676.796

 222,83

Singapore (40%) & Japan (22%)

Blockboard

464.218

  31,61

Hong Kong (57%)

Pulp

232.710

54,05

China (98%)

Kertas

282.470

166,91

Asia (89%)

Veneer

    132

    0,06

Singapore (100%)

Chipwood

  59.138

    5,19

Japan (48%) &
Korea (26%)

 Produk ekspor kayu olahan dari Indonesia diekspor ke berbagai negara terutama negara Asia seperti Jepang, Singapura, Taiwan, Hongkong, China dan Korea.  Sebagian lagi ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Pada tahun 2002, kayu gergajian terbesar diekspor ke negara Taiwan dengan volume mencapai 286.279 m3, atau 73% dari total volume ekspor kayu gergajian.

Produk kayu lapis (plywood), terbesar diekspor ke negara Jepang sebesar 1,29 juta m3,  setara dengan 26%  dari total volume ekspor kayu lapis. 

 

FOREST CONCESSION RIGHT 

Forest utilization is an activity to use forest resources based on sustainable and entrepreneurship  principles consisting of planting, maintenance, security, harvesting, and marketing its forest product.  This Government Policy is stated in Government Act No. 6 /1999 concerning forest concessionary and harvesting forest product within the production forest. The rule are as follows :

  1. Forest concessionary right is the right for managing the production forest consists of planting, tending, controlling, harvesting, and marketing its forest product.

  2. Working area of the forest concession right is located in the production forest land that issued by ministry of forestry.

  3. Forest concessionary and harvesting forest product are conducted base mainly on such principles as rationality, optimal, sustainable and balance of ecosystem functions with respect to beneficiary and equality for the people.

The objective of forest concession and forest product utilization are to ensure the high quality of forest resources, get a maximum benefit in term of economic, social, and ecology and also ensure its product distribution equally to the people who live within or around forest area.    

Based on data in December 2002, there are 270 units of forest concession rights in Indonesia that manage forest area about 28.08 million ha as indicated at Table-1.

Most of the forest concessions are located in Kalimantan Island with 127 units that manage 10.76 million ha. On the other hand, in the Mollucas and Nusa Tenggara Barat provinces, there are only 25 units with area of 1.87 million ha.

Table-1. Condition of Forest Concession Rights in the year of 2002

Regions

Units

Area
(millions ha)

Sumatera

43

2.80

Kalimantan

127

10.76

Sulawesi

25

1.89

Maluku

24

1.84

West Nusa Tenggara

1

0.03

Irian

50

10.75

Indonesia

270

28.08

 INDUSTRIAL FOREST PLANTATION

Plantation Forest Licence is licence that issued by Ministry of Forestry to the State-owned Enterprise, private, and cooperatives for managing plantation forest in particular period of time.

The main purpose of Plantation Forests are :

  1. Plantation Forest for Pulp is designed mainly for providing raw material of pulp industries).

  2. Plantation Forest for primary forest product is designed for providing raw material of forestry industries or related industries.

  3. Plantation Forest for others is designed for providing raw material of specific species in particular location industries. 

Up to December 2002, there are 108 units of existing Plantation Forests for the whole of Indonesia that manage areas of 5.38 million ha.  Planted areas are about 2.98 million ha or 55.39% of the total which have licenses.

FOREST PRODUCT FIGURES

  • Round-wood

    The main forest product is round wood. Round wood is all timber that felled or harvested for providing raw material of primary forestry industries (IPKH).  The source of round wood may come from natural forest through forest concessionaires (HPH), forest felling license (IPK), forest product harvesting license (HPHH), plantation forest licence (HTI) and timber out side forest such as private owned forest, etc.  In this forest product statistic are excluded fuel wood and wood chip.

    In the year of 2002, the round wood production is about 8.14 million m3 which is consisting of 3.02 million m3 of HPH, 0,18 million m3 of IPK, and 4.93 millions m3 of HTI. Round wood from private owned forest are not covered in this statistic due to lack of information of the matter.

  • Sawn wood

    Sawn wood is wood that has been produced either by sawing lengthways or by a profile- chipping process and that, with a few exceptions, no more than 6 cm in thickness and also having water moisture no more than 16 %.  Sawn wood processed from round wood must be supported by legal forestry documents and also come from certified forest management unit.

    In the year of 2002 the reported production of sawn wood is approximately 415,751 m3, that tend to decline at the recent years.

  • Plywood

    Plywood is a panel consisting of an assembly of veneer sheets bonded together with the direction of the grain in alternate plies generally at right angles. The veneer sheets are usually placed symmetrically on both sides of a central ply or core which may itself be made from a veneer sheet or another material.

    The production of plywood tend to decline after the peak period in 1996/1997. In the year of 2002, a reported plywood productions only 1.20 million m3. This figure sharply drop after the year of  2001.

  •  Other forest products

    Other forest products reported in this statistic are block board, veneer, particle board, chip wood, pulp, molding and dowels.  The production of forest product in the year of 2002 are figured in Table-2.

Table-2. Volumes of Processed Wood Products in the year 2002 

Products

Volume

Plywood

1,202,040 m3

Sawn wood

   415,751 m3

Woodworking

   5,098 m3

Block board

   76,088 m3

Veneer

    4,361,044 m3

Particle board

   6,731 m3

Chip wood

   22,024 m3

Pulp

   280,591 ton

Molding

   93,883 m3

Dowels

           0 m3

Others

     0 m3

  • Non-wood Forest Products

  1. Rattan (round rattan)

    Round rattan is derived from natural forest or planted by people in the forest land. Indonesia have a bulk of this raw material that mostly come from Sumatera, Kalimantan and Sulawesi islands. In Java island rattan are planted by State-owned Enterprise called Perum Perhutani.

  2. Gum Resin

    Gum Resin is resin that is extracted from pine trees (Pinus merkusii) and then processed as a gum. This gum is used as raw material for industries of paper, plastic, paint, soap, ink, comestic.

  3. Turpentin

    Turpentin is resin derive from pine trees (Pinus merkusii) that processed as a raw material of cosmetic industries, paint oil, antiseptic, camphor, etc.

  4. Cajuput oil

    Cajuput oil is oil processed from trees called Melaleuca leucadendron by means of evaporate so as to get oil. This oil is used for medical material.

  5. Resin (damar)

    Resin is a result of secretion of particular tree such as Shorea sp, Vatica sp, Dryobalanops sp, and from dipterocarp family. The resin is used for plastic, etc.

  6. Sago

    Sago is an extract from sago trees (Metroxylon Rumphii Mart) that grow naturally in outer of Java island and also be planted in Java island.

  7. Silk

    Silk is a product of silk farming effort usually for cloth, etc.

  8. Copal

    Copal is rubber of resin tree which is  processed to become copal. Usefulness of copal is to arrange in layers paper in order not to destroy if inked in. 

FOREST PRODUCTS EXPORT

The main forest products from Indonesia are sawn-wood, ply-wood and other secondary forest products such as pulp, paper, moulding, etc.  

In the year of 2002, volumes and revenues from forest product export to partners countries can be illustrated in Table-3 as follows :

Table-3.  Indonesia’s Forest Products Export in 2002 

Forest Products 

Volume
(m3)

Value
M US $

Destination Countries

Plywood

4,983,025

440.91

Japan (26%)

Sawn wood

  392,588

    1.91

Taiwan (73%)

Woodworking

6,676,796

 222.83

Singapore (40%) &
Japan (22%)

Block board

464,218

  31.61

Hong Kong (57%)

Pulp

232,710

54.05

China (98%)

paper

282,470

166.91

Asia (89%)

Veneer

    132

    0.06

Singapore (100%)

Chip wood

  59,138

    5.19

Japan (48%) &
Korea (26%)

 The forest products export mainly to Asian countries such as Japan, Singapore, Taiwan, Hong Kong, China, and South Korea. Other destination are the European countries  and the USA. In the year of 2002, sawn-wood are mainly exported to Taiwan with the volume of 286,279 m3, or 73 % of the total sawn-wood export.

Plywood products are mainly exported to Japan of 1.29 million m3 or equal to 26 % of total of the plywood export.