PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
FOREST PROTECTION AND NATURE CONSERVATION
 

Perlindungan hutan dan konservasi alam merupakan seluruh upaya untuk melindungi eksistensi kawasan dan sumberdaya hutan, melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, konservasi kawasan dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, serta mengembangkan wisata alam dan pemanfaatan jasa lingkungan.

PERLINDUNGAN HUTAN

Perlindungan terhadap kawasan hutan diarahkan untuk mempertahankan eksistensi kawasan hutan dan keanekaragaman hayatinya  serta menjaga agar peranan hutan sebagai sistem penyangga kehidupan dapat terus berlangsung. 

Selama tahun 2005, telah tercatat berbagai gangguan yang mengancam eksistensi dan kondisi kawasan hutan. Gangguan berupa penyerobotan kawasan hutan oleh masyarakat mencapai luasan 19.527,91 hektar, sedangkan gangguan terhadap tegakan hutan berupa penebangan ilegal diperkirakan telah meng-akibatkan kehilangan kayu  ±686.353,01 M3 kayu bulat.

Sebagaimana dilaporkan oleh pemerintah daerah/UPT, kebakaran melanda kawasan hutan seluas ± 5.502,47 Ha. Namun demikian, karena adanya kendala dalam memperkirakan luasan kawasan yang terbakar, diyakini bahwa angka tersebut lebih kecil dari kenyataan lapangan yang sebenarnya. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, antara lain dengan mendeteksi titik api, dimana pada tahun 2005 dideteksi  sebanyak 37.896 titik api.

Upaya lain yang dilaksanakan untuk melindungi kawasan hutan, Departemen Kehutanan telah melaksanakan berbagai kegiatan yang bersifat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat serta upaya penegakan hukum.

Sarana dan prasarana pengamanan hutan meliputi sarana pengamanan berupa senjata api beserta amunisinya, senjata bius, borgol, sangkur dan lemari senjata api sebanyak 600 unit; sarana angkutan terdiri dari kendaraan roda 4 sebanyak 299 unit, roda 2 sebanyak 853 unit, speed boat 114 unit dan motor tempel 53 unit; sarana komunikasi berupa handy talky (HT) sebanyak 929 unit dan Radio SSB 72 unit.

Sampai dengan akhir tahun 2005, tenaga pengamanan hutan terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut) sebanyak 7.956 orang, Perwira Pembina Polisi Kehutanan (PABIN) 180 orang, Penyidik Pegawai Negeri Sipil 1.742 orang, satpam HPH 1.149 orang dan Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) sebanyak 38 orang.

KONSERVASI KAWASAN

Berdasarkan UU Nomor 41/1999 tentang Kehutanan, Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya.  Kawasan hutan konservasi dibedakan menjadi Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru.

Kawasan Suaka Alam adalah hutan yang dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan.  Termasuk dalam kategori kawasan ini ialah Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa.  Kedua kategori kawasan tersebut dilindungi secara ketat, sehingga tidak boleh ada sedikitpun campur tangan manusia dalam proses-proses alami yang terjadi di dalam kawasan tersebut; kawasan ini hanya diperuntukkan  bagi keperluan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Saat ini terdapat 241 unit Cagar Alam Darat dengan total luas 4.524.848,92 hektar, dan 8 unit Cagar Alam perairan dengan luas sekitar 404.020 hektar; sedangkan Suaka Margasatwa darat sebanyak 71 unit dengan luas 5.004.629,74 hektar, 5 unit Suaka perairan dengan luas sekitar 337.750 hektar.

Kawasan Pelestarian Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.  Termasuk ke dalam kategori kawasan ini adalah Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan Taman Hutan Raya.

Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi untuk keperluan ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan/atau satwa, pariwisata, dan rekreasi. Dewasa ini telah ada 43 unit Taman Nasional Darat dengan luas 12.330.204,61 hektar, dan 7 unit Taman Nasional Laut dengan luas 4.045.048,70 hektar. 

Taman Wisata  Alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan  bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.  Saat ini terdapat 105 unit Taman Wisata Alam Darat dengan total luas sekitar 271.224,51 hektar, dan 19 Taman Wisata Laut dengan total luas sekitar 770.120,70 hektar.

Taman Hutan Raya merupakan kawasan pelestarian alam yang ditetapkan untuk tujuan koleksi tumbuh-tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau bukan alami, dari jenis asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan/atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Saat ini terdapat 21 unit Taman Hutan Raya dengan luas total sekitar 347.427,34 hektar.

Taman Buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata buru.  Saat ini terdapat 14 unit Taman Buru dengan total luas sekitar 224.816,04 hektar. 

KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI

Keanekaragaman hayati yang dikandung sumberdaya hutan dan perairan di Indonesia termasuk sangat tinggi dan sebagian bersifat endemik, sehingga Indonesia disebut sebagai negara megabiodiversity. Berdasarkan hasil-hasil penelitian, keanekaragaman hayati Indonesia terdiri dari : Mamalia 515 species (12 % dari jenis mamalia dunia), reptilia 511 jenis (7,3 % dari jenis reptilia dunia), burung 1.531 jenis (17 % dari jenis burung dunia), ampibi 270 jenis, binatang tak bertulang belakang 2.827 jenis dan tumbuhan sebanyak ± 38.000 jenis, diantaranya 1.260 jenis yang bernilai medis (fitofarmaka).

Sampai dengan akhir tahun 2005, Departemen Kehutanan telah menetapkan jenis flora dan fauna yang dilindungi adalah :  mamalia (127 jenis), burung (382 jenis), reptilia (31 jenis), ikan (9 jenis), serangga (20 jenis), moluska (12 jenis), krustasea (2 jenis), anthozoa (1 jenis) dan bivalvia (12 jenis).

Sebagai salah satu upaya untuk menangani perdagangan flora dan fauna yang mendekati kepunahan, Indonesia telah menandatangani konvensi CITES dan mendaftarkan sejumlah 1.053 jenis flora dan 1.384 jenis fauna ke dalam Appendix I dan II. 

EKSPOR SATWA DAN TUMBUHAN

Pada tahun 2005, ekspor satwa liar antara lain sarang burung walet, koral, kulit buaya dan ikan arowana, menghasilkan penerimaan negara sekitar 15,29 juta US dollar. Dari jumlah penerimaan tersebut, penerimaan terbesar diperoleh dari ekspor sarang burung walet yaitu sebesar 10,69 juta US dollar.

Penerimaan ekspor beberapa jenis tumbuhan, diantaranya anggrek, gaharu dan ramin menghasilkan penerimaan sebesar 1,45 juta US Dollar.

 

Forest protection and nature conservation comprise of overall efforts to protect the existence of forest area and its resources, to take preventive and measures against forest fire, to implement forest area and biodiversity conservations and development of ecotourism and environmental services. 

FOREST PROTECTION  

Protection of forest area is intended to maintain the existence of forest ecosystem and its biodiversity and to ensure that its role as life support system is in place. 

During the year 2005, there were a number of recorded disturbances that threatened the forest existence and its condition. These disturbances were land occupation by the community which reached 19,527.91 hectares of forest and illegal logging practises which caused a loss of 686,353.01 M3 of logs.

As reported from the regional offices, forest fires were occured in approximately 5,502.47 ha of forest areas. However, due to the constraint in estimating the damaged area by fire, it seems that the actual degraded area by fire is smaller than those estimated. A number of preventive measures had been taken to combat the fire, for example by hotspots detection. During 2005, it identified about 37,896 hotspots.

In addition, to ensure the existence of forest area well protected, the Ministry of Forestry has promoted community development and empowerment and ensure that enforcement is in place.

Infrastructure and facilities for forest protection consist of fire guns and its ammunition, immobilized weapon, handcuff, knife and 600 units of fire gun stores; transportation facilities which consist of 299 units of autocars,  853 units of motorcycles, 114 units of speedboats and 53 units of longboats. In addition to that, the facility also provided with communication facilities which included 929 units of handy talky and 72 units of Single Side Band (SSB) Radio.

Up to the end of 2005, enforcement officers within the Ministry of Forestry consist of 7,956 persons of forest rangers, 180 supervisors, 1,742 investigators, 1,149 guards of forest concessionaire and 38 other forest protection guards.

FOREST AREA CONSERVATION 

Pursuant to the Law on Forestry No. 41/1999, Conservation Forest is a forest area with a specific characteristic with the main function for conservation of biodiversity and their ecosystem. Such a forest area is divided into three categories, namely  Sanctuary Reserve Area, Nature Conservation Area and Game Hunting Park.

Sanctuary Reserve Area is a forest with specific characteristic with its main function is to preserve wildlife and plant species and their ecosystem and serve as life supporting system.  Including to this category are Strict Nature Reserve and Wildlife Sanctuary.  The two forest categories are strictly protected, no human intervention is allowed to interfere the natural processes within their boundaries; these areas are devoted for scientific and educational purposes.  Today, there are  241 unit Terrestrial Strict Nature Reserves with a total area of 4,524,848.92 ha, and 8 Marine Strict Nature Reserves with a total area of 404,020 ha; 71 Terrestrial Wildlife Sanctuaries covering a total area of 5,004,629.74 ha, and 5 Marine Wildlife Sanctuaries with a total area of 337,750 hectares.

Nature Conservation Area is a forest or marine area having specific characteristic and its main function is to protect life support system, biodiversity conservation and their ecosystem, and sustainable utilization of the natural resources contained therein.  Including to this category are National Park,  Nature Recreation Park, Game Hunting Park  and Grand Forest Park.

National Park is a natural conservation area with an original ecosystem managed under zoning system for scientific, education, support of plant propagation and animal breeding, tourism, and reacreational purposes.  In 2005 there are 43 Terrestrial National Parks with a total area of 12,330,204.61 ha, and 7 Marine National Parks with a total area of 4,045,048.70 hectares. 

Nature Recreation Park is a nature conservation area mainly for the benefit of ecotourism and recreational site.  At present there are 105 Terrestrial Nature Recreation Parks with a total area of approximately 271,224.51 ha, and 19 Marine Nature Recreation Parks with a total area of approximately 770,120.70 hectares.

Grand Forest Park is a nature conservation specifically dedicated for collection of animal and plant species, both indigenous and exotic for research, scientific, support for plant and or animal breeding, culture, tourism, and recreational purposes.  At present there are 21 unit Grand Forest Parks with a total area of appoximately 347,427.34 hectares.

Game Hunting Park is a forest area dedicated for game hunting recreation.   At present there are 14 Game Hunting Parks with a total area of approximately 224,816.04 hectares. 

BIODIVERSITY CONSERVATION

Biodiversity of Indonesian forest and marine ecosystem is considereed very high. Some of species are endemics,  that lead Indonesia to be a megabiodiversity country. Upon the long term research, Indonesian biodiversity encompasses : Mammals 515 species (12 % of world’s mammals), reptil 511 species (7.3 % od world’s reptil), birds 1,531 species (17 % of world’s birds), amphibia 270 species, invertebrata 2,827 species and plants ± 38,000 species, of which  ± 1,260 species are medicinal plants.

Up to the end of 2005, the Ministry of Forestry has managed to protect the following species : mammals (127 species), birds (382 species), reptil (31 species), fish (9 species), insect (20 species), mollusca (12 species), crustacea (2 species), anthozoa (1 species) and bivalves (12 species).

On the effort of maintaining sustainable harvest of the commercial species, the Ministry of Forestry has listed a number of species of 1,053 flora and 1,384 fauna into CITES appendices. 

EXPORT OF ANIMAL AND PLANT SPECIES 

In 2005, the export of wildlife, among others are swallow nest, corals, crocodile skin and golden arowana fish, contributed at approximately 15.29 million US dollars to the national revenue. Most of the revenue were generated from the export of swallow nest worthed at 10.69 million US dollars.

Whereas export of plant species such as orchid, sandalwood and ramin contributed a revenue of 1.45 million US dollars in foreign exchange.