TABEL V.1.1 : PENELITIAN UNGGULAN BADAN LITBANG KEHUTANAN TAHUN 2001/ Result of Major Research in Forestry

 


NO.

INSTANSI/JUDUL

HASIL/KESIMPULAN

1

P3HKA
Campuran Rotan Manau dan Tanaman Meranti Dalam mengembangkan rotan manau sebagai upaya diversifikasi di bawah tegakan meranti perlu memperhitungkan waktu tanam, dengan memperhatikan struktur perkembangan riap kedua jenis tumbuhan tersebut.
Idealnya pertumbuhan tanaman meranti telah memiliki batang bebas cabang optimal (10-12m) sebelum rotan ditanam, sehingga tajuk perambat tidak tertutup dan tidak terboboti oleh tajuk rotan.
Disarankan penanaman rotan manau sebagai diversifikasi produk hutan dapat dilakukan pada saat tegakan Shorea spp. Berumur diatas enam tahun.
Model Dinamika Struktur Tegakan Hutan Alam Bekas Tebangan Untuk Pengaturan Hasil Model yang dinamika struktur tegakan yang dihasilkan sebagai berikut :
Komersial Ndit=774,89100 e-(0,08508 Di-0,00026 N0di t) ; R=99,13
Non Komersial Ndit=220,42636 e-(0,09156 Di-0,00211 N0di t) ; R=97,69
Semua Jenis Ndit=1087,30415 e-(0,08855 Di-0,00025 N0di t) ; R=99,24

2

P3BTH
Potensi Eucalyptus Pellita, F. Muell Untuk Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Pengembangan Program Pemuliaan Pohon Hasil penelitian dilakukan melalui uji jenis dan uji keturunan di beberapa lokasi HTI menunjukkan bahwa jenis E. pellita mempunyai pertumbuhan yang sangat menjanjikan dengan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga jenis eucalyptus.  Dari pertumbuhannya nampak bahwa jenis tersebut tumbuh cepat, berbatang tunggal, lurus, bebas cabang tinggi serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit.  Pada umur 4,5 tahun dapat mencapai tinggi lebih dari 19 m dengan diameter di atas 14 cm, adapun pada umur 6 tahun lebih dari 20 cmm dan 16 cm.  Hasil analisis kayu menunjukkan nilai berat jenis kayu sebesar 0,55-0,68 dan panjang serat 0,75-1,08 mm.
Untuk pengembangan program pemuliaan pohon, jenis E. pellita mempunyai potensi yang tinggi.  Hasil analisis menunjukkan  taksiran peningkatan genetik yang cukup tinggi yaitu lebih daro 10% terhadap populasi awal bila dibandingkan dengan A. mangium yang saat ini banyak digunakan oleh para pelaksana HTI dengan peningkatan genetik di bawah 5% untuk sifat pertumbuhan.  Dengan seleksi yang lebih intensif, peningkatan genetik yang dihasilkan akan lebih tinggi dari generasi sebelumnya dan hal ini berarti akan meningkatkan produktivitas lahan yang digunakan serta memungkinkan untuk penggunaan yang lebih luas.

3

P3THH
Alat Pengeluaran Kayu Sistem Kabel Layang P3HH20 Generasi Kedua Volume kayu yang dikeluarkan rata-rata 0,360 m3/rit.  Produktivitas penyaradan rata-rata 2,83 m3/rit (efektif) dan 1,71 m3/rit (total).
Biaya penyaradan rata-rata Rp. 15.250,00/m3. Alat P3HH20 generasi kedua baru dapat mengeluarkan kayu 0,5 m3/rit.
Untuk meningkatkan produktivitas pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang perlu disempurnakan serta perlu meningkatkan tenaga kerja terkait.

4

P3SBEK
Pemberlakuan Kembali Kebijakan Larangan Ekspor Kayu Bulat Pemberlakuan kembali kebijakan larangan ekspor kayu bulat akan berdampak negatif terhadap kelestarian hutan, tetapi berdampak positif terhadap penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja.  Dampak negatif terhadap kelestarian hutan merupakan kejadian yang sesungguhnya, sedangkan peningkatan penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja merupakan kejadian yang semu.

5

BPK Pematang Siantar
Standardisasi Mutu Bibit Tusam (Pinus Merlusii) Grade I, bibit kuat dan segar, merupakan pilihan utama dalam pengadaan bibit untuk tujuan tanaman komersil.
Grade II, bibit kuat menengah, merupakan pilihan kedua dalam pengadaan bibit untuk tujuan tanaman komersil.
Grade III, bibit kurang kuat, tidak dianjurkan dipilih untuk tujuan tanaman komersil tetapi dapat dipakai untuk tujuan rehabilitasi (ekologis).
Grade IV, bibit sangat kurang kuat, tidak terpilih baik untuk tujuan tanaman komersil maupun rehabilitasi.
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak swasta sebagai pembangun hutan tanaman untuk menentukan mutu bibit dengan penampakan dan pengelolaan yang bagaimana yang lebih ekonomis, efisien dan menguntungkan juga instansi pemerintah dalam hal reboisasi untuk menghasilkan bibit yang berkualitas dengan teknik persemaian yang lebih ekonomis sehingga keberhasilan reboisasipun lebih terjamin dengan penggunaan bibit yang berkualitas.

6

BPK Samarinda
Teknik Budidaya Jenis-jenis Kayu di Kalimantan (Jelutung dan Binuang) Pengambilan bibit tanaman dari stek untuk Jelutung (Dyera costulata) adalah dengan media campuran pasir dengan bokasi kotoran sapi (1 :1) dengan bantuan hormon Rootone F sistem oles.
Sedangkan untuk Binuang Bini (Octomeles sumatrana Miq.) adalah dengan media pasir dengan hormon Atonik 300 ppm.
Pengambilan bibit dengan pemotongan batang tanaman O. sumatrana Miq. di kebun pangkas adalah dengan memotong batang bagian atas dan pangkal batang disisakan 50 cm dimana akan menghasilkan tunas dan bahan stek yang banyak.
Penanaman dengan bibit yang berasal dari cabutan menghasilkan koefisien keragaman hasil pengukuran tanaman tergolong besar, sehingga terlihat bahwa tanaman yang ditanam sangat heterogen, karena bibitnya berasal dari cabutan dan bukan dari biji.

7

BPK Ujung Pandang
Pembentukan Varietas Murbei Tahan Kekeringan Melalui Persilangan Terkendali Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : kombinasi silangan antara M. khunpai dengan M. indica S-54 pertumbuhan tinggi dan produksi daunnya lebih baik dibandingkan dengan kombinasi silangan M. khunpai dengan varietas NI jantan dan kombinasi silangan M. khunpai dengan Morus sp.  Sedang pada parameter gugur daun rata-rata kombinasi silangan daya gugur daunnya lebih tinggi dari induk betina, kecuali varietas KI 36, KNI 5 dan KU 7.

8

BPK Kupang
Teknik Budidaya Jenis Duabanga (Duabanga Moluccana BI) Media semai tanah : pasir=1:1 disterilkan dengan disangrai.  Media yang digunakan dalam penyapihan bibit adalah campuran tanah : kompos = 4:1.
Penanaman dapat dilakukan dengan sistem tumpangsari untuk menghemat biaya pembersihan dari gulma/rumput.
Pemupukan dilakukan satu kali cetakan terutama pada musim hujan dengan jenis NPK 60 gr/pohon pada umur 2 bulan dalam 120 gr/pohon pada umur 1 s/d 3 tahun.
Penanaman tanaman peneduh untuk klicung perlu dilakukan mengingat pada umur 1 tahun klicung memerlukan tanaman. Tanaman peneduh diantaranya dari tanaman tumpangsari atau larikan tanaman yang cepat tumbuh seperti Accia villosa, Lamtoro dan Gamal.
Pemeliharaan yang dilakukan terutama penyulaman, penyiangan, pemupukan, pemangkasan, penjarangan, pemberantasan hama dan penyakit.
Teknik budidaya klicung melalui biji merupakan hasil teknologi dasar yang ditemukan oleh BPK Kupang.  Selama ini pengembangan jenis klicung oleh pengelola hutan (Dinas Kehutanan Kabupaten) dan masyarakat sekitar hutan di Lombok dan Sumbawa menggunakan cabutan alami yang tumbuh di dalam kawasan oleh karena itu, untuk mempertahankan dan meningkatkan potensi jenis klicung maka diharapkan di dalam mengembangkan jenis ini menggunakan teknik budidaya klicung melalui biji.

9

BPK Manokwari
Kajian Awal Sistem Silvikultur Alternatif Dalam Pengelolaan Hutan Alam Austalasia di Irian Jaya Sistem silvikultur alternatif yang dianggap memadai dan dapat diterapkan dalam pengelolaan hutan alam austalasia di Irian Jaya adalah kombinasi dari sistem silvikultur dengan limit diameter tertentu dan dengan pembatasan jumlah pohon yang dapat ditebang sesuai dengan potensi dan struktur tegakan setempat.
Limit diameter yang dianggap memadai adalah 40 cm untuk HP dan 50 cm untuk HPT dengan pembatasan jumlah pohon yang ditebang berkisar antara 10-15 pohon.ha.

10

BTPDAS Surakarta
Kajian Model Erosi dan Sedimentasi ANSWERS dan RUSLE pada Beberapa Ukuran DAS dan Formasi Geologi Dengan model ANSWERS, tingkat akurasi perencanaan RLKT DAS untuk mengetahui laju sedimentasi DAS dan simulasi kegiatan RLKT DAS dari adanya perubahan penggunaan lahan dapat dilakukan dengan lebih baik.

11

BTP DAS Ujung Pandang
Model Pemanfaatan Hutan Cadangan Pangan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan Kegiatan Hutan Cadangan Pangan I yang dikenalkan oleh pihak Unit RLKT hendaknya senantiasa dipantau sehingga dapat terlaksana secara kontinu dan tujuan akhir untuk peningkatan pendapatan petani dan penyediaan pangan dapat tercapai.
Perlu dipikirkan upaya peningkatan dan pengembangan pemanfaatan tanaman sagu untuk bahan industri mengingat daerah Luwu pada umumnya kaya potensi sagu, sedangkan pemanfaatannya hingga kini masih terbatas sebagai bahan pangan lokal.
Pengolahan hasil hutan cadangan pangan menjadi bentuk lain (bahan pangan siap olah) perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk meningkatkan nilai jualnya.
Perlu disediakan sarana dan prsarana untuk pemasaran hasil hutan cadangan pangan agar hutan cadangan pangan dapat produktif dan berkelanjutan.

12

BTR banjarbaru
Teknik Budidaya Jenis Niagawi Hutan Rawa Gambut Untuk areal bekas tebangan dapat disimpulkan bahwa punak (T. glabra) memiliki pertumbuhan yang cukup seimbang, dimana memiliki riap diameter paling besar, riap tinggi cukup besar dan persentase hidup lebih dari 60%.  Sedangkan resak (V. rassak) dan ramin (G. bancanus) memiliki riap pertumbuhan yang lambat.
Kapur naga (C. macrocarpum) dan meranti (S.parvifolia) memiliki persentase hidup yang rendah (kurang 60%) sehingga tidak bisa dikatakan berhasil.
Untuk belukar rawa gambut ternyata hanya jenis blangeran yang dapat dikatakan berhasil bila dilihat dari daya hidupnya yang mencapai 60%. Jenis ini bisa dijadikan alternatif dalam rehabilitasi belukar rawa gambut.
Penelitian dengan fokus untuk dapat mempertahankan persentase hidup yang lebih baik pada kegiatan penanaman di hutan rawa gambut sangat diperlukan sebelum melakukan kegiatan pengembangan, misalnya cara penyiapan lahan, standar mutu bibit untuk hutan rawa gambut dan bahaya kebakaran.

13

BTR Palembang
Teknik Rehabilitasi Hutan Lindung Bekas Terbakar Dengan Model Agroferstry di Sumatera Selatan Rehabilitasi pola atau model agroforestry tersebut salah satu pendekatan bagi masyarakat perambah, sehingga pola penggarapan oleh masyarakat diharapkan berazaskan konservasi.
Hasil pengamatan aktivitas erosi pada ketiga kemiringan yakni 0-20%, 20-40% dan > 40%, dimana kemiringan dibawah 40% pada curah hujan rata-rata 40 m/2 hari belum ditemukan aktivitas erosi, sedangkan pada kemiringan 40% keatas nampaknya terjadi erosi (aliran permukaan) 9464,20 liter/hektar, dan pemindahan tanah topsoil akibat erosi 3,41 ton/hektar.

 

Sumber/ Source : Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan/ Forestry  Research and Development Agency

Statistik Kehutanan 2001
[ Menu Utama | Statistik Kehutanan ]
[ E-Mail Pejabat | Buku Tamu | Situs Terkait ]