KONDISI UMUM

 

  1. Keadaan Umum Wilayah Nusa Tenggara Timur

    1. Luas dan Letak

      Propinsi Nusa Tenggara Timur secara geografis terletak diantara 85' - 111' Lintang Selatan dan diantara 11856' - 12511' Bujur Timur. Di sebelah Utara dibatasi Laut Flores, di sebelah Selatan dibatasi Selat Sape (Propinsi Nusa Tenggara Barat) dan disebelah Timur dibatasi oleh Propinsi Timor-Timur. Propinsi ini merupakan wilayah Kepulauan, terdiri dari 566 pulau, diantaranya terdapat 3 gugusan pulau yaitu Flores (Komodo, Rinca, Flores, Solor, Adonara, Lembata) Sumba dan Timor (Sawu, Rote, Semau, Timor, Alor dan Pantar).

      Luas daratan wilayah Nusa Tenggara Timur 4.735.980 Ha dan secara administrasi terbagi atas 15 wilayah Kabupaten, 1 Kota, 139 Kecamatan, 2545 desa (BPS Nusa Tenggara Timur, 2000).

    2. Keadaan Lapangan/Topografi dan DAS

      Keadaan lapangan Propinsi Nusa Tenggara Timur mulai datar sampai sangat curam dengan bentuk daratan sampai sangat bergunung. Topografi datar (lereng 0-8%) seluas 1.265.196 Ha (26,51% dari luas wilayah), landai (lereng 8-15%) seluas 1.174.366 Ha (24,78%), agak curam (lereng 15-25%) seluas 1.409.765 Ha (29,75%), curam (lereng 25-45%) seluas 132.425 Ha (2,79%). Pada topografi datar terdapat beberapa daratan yang cukup luas antara lain di Pulau Flores terdapat daratan Lembor, Borong, Aimere, dan Aisesa, di Pulau Sumba terdapat daratan Waikabubak, Anakalang dan Lewa, di Pulau Timor terdapat daratan Oesao, Bokong, Bena, Ponu, Aroki dan Besikama.

      Beberapa gunung yang ada di Pulau Flores antara lain Gunung Ranaka (2.400 m dari permukaan laut, tertinggi di Pulau Flores), Mandosaawu (2.382 m), Inerie (2.245 m), Guteng (2.216) m), Ambulembo (2.149 m). Di Pulau Sumba antara lain Gunung Wanggameti (1,225 m dari permukaan laut, tertinggi di Pulau Sumba), Anajeke (1.172 m), Iwing (1.605 m), Kabaau (1.051) ) dan Pahulubandil (1.050 m). Di Pulau Timor antara lain terdapat Gunung Mutis (2.427 m dari permukaan laut, tertinggi di Pulau Timor dan di Nusa Tenggara Timur), Nefomat (2.251) m), Kekneno (2.070) m), Wehaf (1.966 m), Timau (1.774 m). Di Pulau Alor antara lain terdapat Gunung Muna (1.423 m dari permukaan laut), Apengmana (1.378 m), Blikmana (1.354 m) dan Fokala (1.331 m).

      Sungai yang terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mempunyai fluktuasi aliran air yang cukup tinggi, pada musim penghujan berair dan banjir, sedangkan pada musim kemarau berkurang bahkan ada yang tidak berair sama sekali.

      Sungai-sungai yang ada di Pulau Flores antara lain Sungai Aisesa (65 km, terpanjang di Flores), Reo (55 km), Moke (45 km), Leo Ria (40 Km) dan Jamal (40 Km). Di Pulau Sumba antara lain terdapat sungai Kambaniru (118 Km, terpanjang di Pulau Sumba), Kadaha (46 Km), Melolo (51 Km), Baing (48 Km) dan Kalada (46 Km). Di Pulau Timor antara lain terdapat Sungai Benain (135 Km, terpanjang di Pulau Timor dan di Nusa Tenggara Timur), Mina (97 Km), Termanu (51 Km), Muke (45 Km) dan Mena (33 Km).

      Berdasarkan pola daerah aliran sungai yang dibatasi garis-garis gunung, maka wilayah Nusa Tenggara Timur terbagi atas 31 Daerah Aliran Sungai (DAS).

    3. T a n a h

      Keadaan formasi tanah di Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur secara garis besar adalah sebagai berikut:

      1. Pulau Flores dan sekitarnya

        Tanah di Pulau Flores terdiri dari jenis tanah mediteran dengan bentuk wilayah Volkan, tanah Kompleks dengan bentuk wilayah pegunungan, kompleks Latosol dengan bentuk wilayah Volkan, Alluvial dengan bentuk wilayah dataran. Tanah-tanah Mediteran dengan bentuk wilayah Volkan mempunyai penyebaran yang paling luas. Pulau Lembata Adonara dan Solor mempunyai tanah jenis Mediteran dengan bentuk Volkan.

      2. Pulau Sumba

        Tanah di Pulau Sumba terdiri dari jenis mediteran dengan bentuk wilayah pengunungan lipatan dan datar serta bentuk wilayah volkan. Latosol dan Grumusol dengan bentuk wilayah pelembahan.

        Tanah Mediteran dengan bentuk wilayah pengunungan lipatan adalah merupakan jenis tanah yang paling luas penyebarannya.

      3. Pulau Timor dan sekitarnya

        Jenis tanah di Pulau Timor adalah tanah-tanah kompleks dengan bentuk wilayah pengunungan kompleks, mediteran dengan bentuk wilayah lipatan, Grumusol dengan bentuk wilayah dataran, Latosol dengan bentuk wilayah plato/Volkan. Tanah-tanah kompleks dengan bentuk wilayah pengunungan kompleks merupakan jenis tanah yang paling luas penyebarannya. Pulau Alor dan Pantar mempunyai jenis tanah Mediteran bentuk tanah Volkan.

        Berdasarkan penyebarannya, maka prosentasi jenis-jenis tanah di wilayah Nusa Tenggara Timur antara lain terdiri dari tanah Mediteran 51%; tanah-tanah kompleks 32,25%; Latosol 9,72%; Grumusol 3,25%; Andosol 1,93%; Regosol 0,19% dan jenis tanah Aluvial 1,66% (Sumber Rencana Umum Kehutanan Propinsi Dati I Nusa Tenggara Timur tahun 1987).

    4. I k l i m

      Propinsi Nusa Tenggara Timur beriklim kering (Semi arid) yang dipengaruhi oleh Angin Muson. Musim penghujan sangat pendek dan terjadi antara bulan Nopember sampai bulan Maret, Sedangkan Musim Kemarau panjang dan kering terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Oktober.

      Tipe iklim daerah ini adalah tipe B sampai F (pembagian menurut Smidt dan Ferguson) dengan penyebaran paling luas adalah tipe iklim E (46,34%); F (27,37%); D (22,93%); B (2,30%) dan C (1,05%).

      Curah hujan berkisar antara 697 - 2.737 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap tahun antara 44 sampai 61 hari. Suhu maksimum rata-rata 33,2C dan suhu minimum rata-rata 21,7C. Kelembaban nisbi terendah terjadi pada Musim Timur Tenggara (63-76%) yaitu bulan Juni sampai Nopember dan kelembaban tertinggi pada Musim Barat Daya (82-88%) yaitu bulan Desember sampai bulan Mei.

      Kecepatan angin rata-rata pada Bulan Nopember sampai April 03-05 Knot dan Angin Musim Timor Tenggara terjadi pada bulan mei sampai dengan Oktober dengan kecepatan dapat mencapai 06-10 Knot (apabila ditunjang angin permukaan).

    5. Sosial Budaya

      1. Kependudukan

        Penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Timur sampai dengan tahun 2000 berjumlah 3.545.052. Data secara lengkap dapat dilihat pada

        Tabel. Keadaan Luas Willayah, Jumlah, Kepadatan Penduduk Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002

        Sumber :

        Kepadatan penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur tergolong rendah, berkisar antara 25,56 jiwa/kM2 sampai dengan 965,55 jiwa/km2 , dengan penyebaran yang tidak merata. Umumnya pusat‑pusat pertumbuhan penduduk terletak pada daerah perkotaan (pusat kota kabupaten).

  2. Kondisi Kawasan Hutan dan Lahan

    1. Daerah Aliran Sungai (DAS)

      Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Daerah Aliran Sungai) di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan pada satuan Wilayah Daerah Aliran Sungai (SWP DAS).   SWP Daerah Aliran Sungai di Provinsi Propinsi Nusa Tenggara Timur berjumlah 31 buah.  Adapun rincian letak dan luas Das dapat dilihat pada tabel berikut :

      Tabel : Das per kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur

      No.

      Kabupaten/Kota

      Nama DAS

      Luas

      Keterangan

      1.

      Kota Kupang

      Oesao

       

       

      2.

      Kupang

      1.       Oesao

      2.       Tramanu

      3.       Noelmina

       

       

      3.

      Rote Ndao

      P. Roti

       

       

      4.

      Timor Tengah Selatan

      1.       Noelmina

      2.       Muke

      3.       Benenain

       

       

      5.

      Timor Tengah Utara

      1.       Besi Erat

      2.       Benenain

       

       

      6.

      Belu

      1.       Benenain

      2.       Laumea

      3.       Lois

       

       

      7.

      Sumba Timur

      1.       Mangili-Rendi

      2.       Kambaniru

      3.       Kalada

      4.       Wonokaka

       

       

      8.

      Sumba Barat

      1.       Kalada

      2.       Wonokaka

      3.       Bondokodi

       

       

      9.

      Alor

      1.       P. Alor

      2.       P. Pantar

       

       

      10.

      Lembata

      P. Lomblen

       

       

      11.

      Flores Timur

      1.       P. Adonara

      2.       P. Solor

      3.       Waeruni

      4.       Nebe

       

       

      12.

      Sikka

      1.       Waeruni

      2.       Nebe

      3.       Magepanda

      4.       Loworea

       

       

      13.

      Ende

      1.       Magepanda

      2.       Loworea

       

       

      14.

      Ngada

      1.       Magepanda

      2.       Loworea

      3.       Aisesa

      4.       Wera Buntal

      5.       Moke

       

       

      15.

      Manggarai

      1.       Wera Buntal

      2.       Moke

      3.       Waeterang

      4.       Jamal Lembor

       

       

      16

      Manggarai Barat

      1.       Waeterang

      2.       Jamal Lembor

      3.       Anganae

      4.       P. Komodo

      5.       P. Rinca

       

       

      Dari 31 DAS tersebut ada beberapa yang sudah dibagi menjadi sub DAS - sub DAS terutama pada daerah-daerah yang dianggap strategis untuk mendukung pembangunan.di sekitarnya baik berupa cek dam, bendungan dll.

      Beberapa Sub DAS yang telah dibuat RTL-RLKT diantaranya, antara lain :

      • DAS Oesao (Sub DAS Oesao, Noelbeno, Nunkurus, Pulukayu, Oebelo, Manikin, Oesapa Besar) terletak di Kotamadya Kupang dan kabupaten Kupang.

      • DAS Noelmina (Sub DAS Bokong, Lake, Besiam, Meto) terletak di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan.

      • DAS Benenain (Sub DAS Noni, Lakoe, Maubesi, Baen-Tobino, Kotoen, Bikomi) di Kabupaten Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara dan Belu,

      • DAS Aisesa (Sub DAS Aisesa, Posolik, Waru) di Kabupaten Ngada

      • DAS Kalada dan DAS Wonokaka (Sub DAS Karendi) di Kabupaten Sumba Barat.

    2. Rehabilitasi Hutan dan Lahan

      Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang telah dilaksanakan Sampai dengan Tahun 2002 Reboisasi, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Rakyat, Unit percontohan UPSA, Kebun Bibit Desa, Dam Pengendali, Kredit Usaha Tani Konservasi Tanah, Rehabilitasi Hutan Mangrove, Wana tani/Wanawarma.

      Kondisi lahan kritis di Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat luas, yaitu 1.313.897 Ha yang terbagi dalam kawasan hutan 297.322 ha dan luar kawasan hutan 1.016.575.  Rincian kondisi lahan kritis di Provinsi Nusa Tenggara Timur  dapat dilihat pada tabel  berikut :

       

    3. Pola Pemanfaatan Lahan

      Pemanfaatan lahan di Provinsi Nusa Tenggara Timur berbeda antara masing‑masing kabupaten. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi fisik lahan yang bervariasi dalam hal topografl, kelerengan, kesuburan tanah dan pasang surut air sungai. VVilayah Nusa Tenggara Timur dengan luas 4.734.980 ha, sebagian besar merupakan kawasan hutan 1.808.900 ha (Penunjukan Menhut SK.423/Kpts-II/1999) dan  2.926.080 Ha kawasan yang berada diluar kawasan hutan berupa lahan pertanian (sawah dan ladang/tegalan), perkebunan , kebun dan areal penggunaan lain . Dan keterangan tersebut diketahui bahwa sektor kehutanan menjadi salah satu andalan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu sektor andalan lainnya adalah sektor pertanian, dalam hal ini lahan sawah sebagian besar terdapat di daerah pesisir pantai utara dan pesisir sungai yang merupakan sawah tadah hujan dan sawah pasang surut. Pertanian lahan kering meliputi dataran rendah dan daerah lereng di kaki gunung.

      Dikaitkan dengan mata pencaharian, hampir 80 % penduduk Nusa Tenggara Timur menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Usaha tani sawah tadah hujan dan pertanian lahan kering merupakan sistem yang paling banyak dilakukan. Selain pertanian menetap, pedadangan berpindah dengan sistem tebas bakar merupakan cara yang biasa dilakukan. Jenis tanaman yang dikembangkan o!eh petani di lahan kering antara lain padi gogo, jagung, kacang‑kacangan, sayur‑sayuran dan buah‑buahan (mangga, nangka, cempedak, dan !ain‑lain). Jenis‑ienis tersebut ditanam bercampur dengan cara tradisional, tanpa penggunaan pupuk dan obat‑obatan untuk peningkatan produksinya. Pola usaha tani sistem perladangan tersebut cenderung menimbulkan masalah‑masalah erosi, kemunduran produksi dan degradasi lahan.

    4. Peladang Berpindah di kawasan hutan

      Jumlah peladang berpindah di Nusa Tenggara Timur 68.351 KK  dengan jumlah jiwa 360.879 jiwa terdapat pada 258 desa tersebar di seluruh kabupaten. Perambah hutan ini tersebar pada seluruh fungsi kawasan hutan baik pada hutan lindung, hutan konservasi, hutan produksi maupun hutan konversi. Adapun data perambah hutan menurut fungsi hutan dapat dilihat pada tabel berikut :

      Tabel 1.   Jumlah peladang berpindah / perambah hutan menurut fungsi hutan.

    5. Persepsi Masyarakat Terhadap Kawasan Hutan

      Saat ini masyarakat yang berada di sekitar hutan telah berkembang menjadi masyarakat multietnik yang heterogen. Pertumbuhan dan perkembangan kegiatan ekonomi dad sektor‑sektor perkebunan, kehutanan dan pertambangan serta program transmigrasi di berbagai lokasi telah mendorong tumbuhnya pemukiman‑pemukiman pendatang yang berasal dad berbagai daerah dan suku. Masing‑masing kelompok umumnya tetap mempertahankan aciat istiadat masing‑masing yang berasal dari daerah asalnya. Pada desa‑desa yang terletak di dekat pusat‑pusat perkembangan wilayah yang anggota masyarakatnya relatif heterogen, terjadi akulturasi budaya sehingga adat yang berlaku lebih longgar dalam pelaksanaannya.

      Lembaga‑lembaga sosial yang berada di desa sekitar hutan terdiri dad dua jenis yaitu lembaga formal dan non formal. Lembaga formal misalnya Balai Desa, LKMD, LIVID, PKK maupun Karang Taruna. Lembaga formal ini digunakan oleh masyarakat untuk berdialog, bertatap muka dengan pihak pemerintahan desa atau tamu dan luar. Selain itu, terdapat lembaga‑lembaga seperti Kelompok Tani dan Penyuluh (Petugas) Lapangan. Sedangkan lembaga non formal terutama berupa lembaga gotong royong untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang Dikaitkan dengan mata pencaharian, hampir 80 % penduduk Nusa Tenggara Timur menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Usaha tani sawah tadah hujan dan pertanian lahan kering merupakan sistem yang paling banyak dilakukan. Selain pertanian menetap, pedadangan berpindah dengan sistem tebas bakar merupakan cara yang biasa dilakukan. Jenis tanaman yang dikembangkan o!eh petani di lahan kering antara lain padi gogo, jagung, kacang‑kacangan, sayur‑sayuran dan buah‑buahan (durian, rambutan, cempedak, dan !ain‑lain). Jenis‑ienis tersebut ditanam bercampur dengan cara tradisional, tanpa penggunaan pupuk dan obat‑obatan untuk peningkatan produksinya. Pola usaha tani sistem perladangan tersebut cenderung menimbulkan masalah‑masalah erosi, kemunduran produksi dan degradasi lahan.

    6. Permasalahan Sosial‑Ekonomi

      Beberapa permasalahan sosial ekonomi yang secara umum mewamai pengelolaan hutan di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada dasarnya tidak begitu berbeda dengan permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan hutan di Indonesia pada umumnya. Beberapa permasalahan yang dihimpun dari hasil penelitian dan observasi di lapangan dapat digambarkan dalam berbagai permasalahan seperti diuraikan berikut ini :

      a).   Penebangan Liar

      Keadaan ini terutama disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan relatif masih lemah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

      b).   Kondisi Sosial Politik Masyarakat yang Lemah

      Di dalam mengelola hutan, masyarakat masih bergerak secara sendid‑sendiri. Selama ini, masyarakat masih dipandang sebagai obyek daripada sebagai subyek pembangunan. Hal ini mengakibatkan masyarakat menjadi pasif terhadap perkembangan disekitamya dan lemah dalam merumuskan agenda‑agenda bersama.