CERTIFIED FOREST : Data dan Fakta

Akhir-akhir ini sertifikasi hutan telah menjadi isu yang menarik untuk dibicarakan di kalangan  rimbawan di Indonesia.  Topik tersebut makin menyita perhatian dengan adanya pernyataan Menteri Kehutanan kepada publik bahwasanya pada tahun 2003 seluruh HPH harus sudah memperoleh sertifikasi hutan [1].

Dengan maraknya topik sertifikasi hutan di kalangan stakeholders kehutanan Indonesia saat ini, berikut disajikan informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber mengenai perkembangan mengenai luasan areal/hutan yang telah disertifikasi melalui berbagai skema sertifikasi hutan yang sudah berlaku dan dilaksanakan di lapangan.  Tentu saja, skema sertifikasi hutan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah skema sertifikasi hutan sebagai instrumen pasar (market driven) dan bersifat sukarela (voluntary).

Sampai saat ini, telah berkembang bermacam-macam skema sertifikasi hutan yang diakui dan sudah dilaksanakan di lapangan, baik yang dikembangkan sebagai suatu inisiatif nasional, regional, maupun internasional.  Beberapa skema sertifikasi hutan tersebut adalah yang dikembangkan oleh FSC (Forest Stewardship Council), PEFC (Pan-European Forest Certification), CSA (Canada’s National Sustainable Forest Management Standard), SFI (Sustainable Forest Initiative), American Tree Farm System, LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia), dan yang lainnya.

Selain skema sertifikasi hutan yang telah diaplikasikan di lapangan tersebut, masih banyak pula beberapa skema sertifikasi hutan yang sedang dalam tahap pengembangan, diantaranya di Ghana, Chile, Malaysia (NTCC) dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini juga akan disajikan pembahasan terhadap empat skema sertifikasi hutan (FSC, PEFC, CSA, dan SFI) untuk areal hutan yang telah disertifikasi di dunia dan skema LEI.

Sertifikasi Hutan di Dunia

Berdasar data terakhir, dengan menggunakan keempat skema sertifikasi hutan sebagaimana tersebut di atas, seluas kurang lebih 102 juta ha hutan telah disertifikasi di seluruh dunia (lihat Tabel 1).  Data tersebut belum mencakup areal hutan yang disertifikasi melalui skema sertifikasi lainnya seperti ISO 14000 dan inisiatif nasional yang belum berafiliasi dengan FSC.

Perkembangan certified forest [2] berdasarkan skema-skema tersebut di atas, sampai dengan saat ini adalah seperti tersaji pada Tabel 1 berikut ini.

  Tabel 1.  Luas “Certified Forest”

Skema Sertifikasi

Luas Certified Forest (Ha)

Cakupan

FSC

28.827.037

Internasional

PEFC

42.806.334

Eropa

CSA

4.670.000

Kanada

SFI

25.743.107

AS dan Kanada

Total

102.046.478

 

Sumber: Diolah dari data sekunder [3])

Dari pustaka diperoleh informasi bahwa skema sertifikasi hutan yang mempunyai cakupan kerja meliputi hampir seluruh dunia pada saat ini adalah skema FSC, sedangkan skema sertifikasi hutan lainnya hanya berlaku di tingkat regional (PEFC dan SFI), maupun nasional (CSA).

- FSC

Berdasarkan data FSC terakhir (per 9 Mei 2002), tercatat seluas kurang lebih 28 juta Ha areal hutan yang telah disertifikasi yang mencakup 420 unit manajemen di  56 negara di seluruh dunia.

Luasan Unit Manajemen (UM) yang telah disertifikasi bervariasi antara 2 ha (di Inggris) sampai dengan  1,8 juta ha (di Swedia). Data lengkap 'certifed forest' berdasarkan skema FSC dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa luasan “certified forest” di Eropa dan Amerika Utara telah mencapai  23.528.423 ha atau sekitar 81,62% dari seluruh “certified forest” berdasarkan skema FSC.  Sedangkan 3 (tiga) region lainnya yaitu Afrika, Asia-Pasifik, dan Amerika Latin hanya memiliki luasan hutan sebesar 5.297.674 ha yang telah disertifikasi atau hanya sekitar 18,38%.  Angka-angka tersebut akan semakin berkurang drastis apabila Selandia Baru dan Jepang dikeluarkan dari kelompok Asia-Pasifik, sehingga dapat dilihat bahwa di negara-negara berkembang luas “certified forest” berdasar skema FSC baru mencapai 4.763.93 ha atau sekitar 16,5%.

Luasan “certified forest” dari waktu ke waktu ternyata menunjukkan perkembangan yang meyakinkan, dimana pada Mei 2002 luasan “certified forest” telah mengalami peningkatan sekitar 30% dibandingkan dengan luasan pada Maret 2001.  Trend perkembangan luasan areal “certified forest” selama periode Maret 2001 s/d Mei 2002 dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Tabel 2. Data ‘certified forest’ berdasar skema FSC

No

Negara

Luas Areal (Ha)

Jumlah UM

1

China

940

1

2

India

175

1

3

Indonesia

151.589

3

4

Jepang

6.390

4

5

Malaysia

55.083

1

6

Selandia Baru

527.351

8

7

PNG

4310

1

8

Philippines

14.800

1

9

Kep. Solomon

39.402

1

10

Sri Langka

17.825

4

11

Thailand

6.349

2

Jumlah Asia-Pasifik

823.274

26

12

Argentina

22.232

3

13

Belize

95.800

1

14

Bolivia

927.263

8

15

Brasil

1.157.640

23

16

Chile

249.096

4

17

Kolombia

20.056

1

18

Kosta Rika

85.445

17

19

Ekuador

21.341

2

20

Guatemala

312.461

12

21

Honduras

13.868

2

22

Meksiko

502.656

20

23

Nikaragua

3.500

1

24

Panama

8.383

3

25

Uruguay

62.004

3

Jumlah Amerika Latin

3.481.745

100

26

Kanada

973.856

10

27

Amerika Serikat

3.509.234

94

Jumlah Amerika Utara

4.483.090

104

28

Namibia

61.130

1

29

Afrika Selatan 816.600 14

30

Swaziland 17.018 1

31

Uganda 35.000 2

32

Zimbabwe 62.907 3

Jumlah Afrika

992.655 21

33

Austria 3.366 4

34

Belgia 4.342 2

35

Kroasia 241.234 3

36

Republik Ceko 10.441 1

37

Denmark 372 1

38

Estonia 1.063.517 2

39

Finlandia 120 2

40

Perancis 15.363 4

41

Jerman 382.601 49

42

Hungaria 60.720 1

43

Irlandia 438.000 1

44

Italia 11.000 1

45

Latvia 906.217 7

46

Liechtenstein 7.372 1

47

Lithuania 66.141 1

48

Belanda 97.505 11

49

Norwegia 5.100 1

50

Polandia 4.013.160 9

51

Rusia 215.715 3

52

Slovakia 48.159 1

53

Swedia 10.123.907 22

54

Swiss 76.615 12

55

Ukraina 203.000 1

56

Inggris Raya 1.051.366 29

Jumlah Eropa

19.045.333 169

T O T A L

28.827.037 420

Sumber: Diolah dari data sekunder3).

Data luasan yang telah diuraikan di atas, untuk kawasan Eropa dan Amerika Utara, belum menunjukkan jumlah keseluruhan luasan “certified forest”, karena di daerah tersebut masih terdapat skema sertifikasi lainnya, yang juga sudah diterima pasar.

- PEFC

Skema sertifikasi hutan yang diimplementasikan di Eropa selain dari skema FSC, masih terdapat skema lain yang dikenal sebagai skema PEFC (Pan European Forest Certification). Skema ini  mulai berkembang di Eropa sekitar 1998/99, dan diperkenalkan pada publik pada Juni 1999. Pengembangan PEFC dilakukan sebagai hasil Helsinki dan Lisbon Ministerial Conferences dan sebagian merupakan ungkapan kekecewaan terhadap FSC yang dianggap didominasi oleh LSM dan tidak mengakomodir kepentingan pemilik hutan berskala kecil.  Berdasarkan skema PEFC ini sampai dengan Maret 2002 terdapat seluas ± 42 juta hektar “certified forest” yang tersebar di 7 (tujuh) negara Eropa, yaitu : 

1.   Austria

=

3.924.000

Ha

2.   Finlandia

=

21.910.000

Ha

3.   Jerman

=

5.584.592

Ha

4.   Latvia

=

6.000

Ha

5.   Norwegia

=

9.352.000

Ha

6.   Swedia

=

1.972.552

Ha

7.   Swiss

=

57.190

Ha

Jumlah

=

42.806.334

Ha

Di Eropa ternyata skema PEFC telah menjadi suatu skema sertifikasi hutan yang banyak dianut oleh para pengelola hutan.  Hal ini dapat terlihat dari luasan areal “certified forest” yang terus mengalami peningkatan sangat besar selama setahun terakhir.  Pada Maret 2001, luasan “certified forest” telah mencapai 32.370.000 ha sehingga dibandingkan dengan data terakhir maka terjadi peningkatan sebesar ± 10 juta hektar (lihat Gambar 2).  Kemajuan perkembangan ini dapat dipahami mengingat pengembangan skema PEFC dimotori oleh para pemilik/pengelola hutan itu sendiri, khususnya pemilik hutan berskala kecil.

- SFI

Sementara itu di Amerika Serikat dan Kanada selain skema FSC, untuk kepentingan sertifikasi hutan juga terdapat skema lain yang dikenal sebagai Sustainable Forestry Initiative (SFI) Program.  SFI merupakan skema sertifikasi hutan yang digagas oleh masyarakat perhutanan dan asosiasi kertas yang ada di Amerika Serikat (the American Forest and Paper Association atau AF&PA).  Program ini telah dimulai semenjak tahun 1995, dimana setiap anggota asosiasi didorong untuk berpartisipasi dalam skema ini, baik dalam bentuk “self-assessment”, “second party”, maupun “third-party”.  Namun hanya verifikasi yang dilaksanakan oleh “third-party” yang disebut sebagai sertifikasi.  Berdasarkan data sampai dengan Pebruari 2002, tercatat seluas 20.613.107 ha areal hutan di Amerika Serikat dan 5.130.000 ha areal hutan di Kanada yang telah mendapatkan sertifikasi dari pihak ketiga berdasarkan program SFI.  Angka “certified forest” tersebut meningkat secara sangat fantastis (lihat Gambar 2) dibandingkan dengan luasan pada Maret 2001 yang baru mencapai 11.336.032 ha.  Seperti juga dengan PEFC, sertifikasi hutan dengan skema SFI ini juga terus berkembang dan diterima pasar, yang dimungkinkan dikarenakan pengembangan sistemnya dilakukan oleh para pelaku bisnis itu sendiri, dalam hal ini AF&PA yang mencakup 90% lahan hutan dan 84% produksi kertas di Amerika Serikat. 

 - CSA

Skema sertifikasi hutan lainnya yang telah diaplikasikan di lapangan adalah Canada’s National Sustainable Forest Management Standard atau dikenal sebagai skema sertifikasi hutan “CSA”.   Kalau ketiga skema sertifikasi hutan sebelumnya, berlaku di tingkat internasional dan regional, maka untuk skema ini hanya berlaku di Kanada.  Standar ini dikembangkan dan diadopsi oleh the Canadian Standards Association, dan telah melakukan suatu mutual recognition agreement dengan PEFC.  Sampai dengan Mei 2002, areal hutan yang sudah “diregistrasi” berdasarkan skema CSA adalah seluas 4.670.000 ha.   Peningkatan luasan tersebut memang tidak secepat ketiga skema sertifikasi hutan lainnya (lihat Gambar 2), namun sebagai sebuah inisiatif nasional, skema sertifikasi hutan CSA ternyata mampu untuk tetap eksis di dalam negeri Kanada berbarengan dengan skema sertifikasi hutan lainnya.  Sebagai informasi tambahan, di Kanada skema sertifikasi hutan yang dipilih dan diaplikasikan oleh para pengelola dan pemilik areal hutan adalah skema sertifikasi hutan dari ISO 14001 (seluas  43.640.000 ha), FSC (seluas 973.856 ha) dan SFI (seluas 5.130.000 ha).

Sertifikasi Hutan di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini Indonesia juga telah memiliki 'national initiative' sertifikasi hutan lestari melalui skema Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yang telah diaplikasikan di lapangan.  Selanjutnya, Departemen Kehutanan juga sedang mengembangkan suatu skema sertifikasi hutan mandatory, sedangkan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) juga akan mengaplikasikan skema sertifikasi hutan self-declare.  Namun demikian, sampai dengan saat ini skema sertifikasi hutan yang telah berjalan dan diaplikasikan di lapangan adalah skema LEI (melalui Joint Certification Protocol/JCP dengan FSC).

Berdasarkan data, terdapat 3 Unit Manajemen (UM) di Indonesia yang telah mendapat sertifikasi hutan dari FSC, yaitu PT. Diamond Raya Timber, PT. Xylo Indah Pratama, dan PT. Perhutani (Persero) - KPH Lawu DS (lihat Gambar 3), dengan total luas mencapai 151.589 ha atau sebesar 0,13% dari luas total hutan yang dimiliki Indonesia (Luas hutan Indonesia menurut Pusat Data dan Perpetaan (2000) adalah ± 120 juta ha.

Ha.

 Ironisnya, Indonesia yang menurut data FAO memiliki areal hutan keenam terluas di dunia, atau sekitar 3,2% dari total luas hutan di seluruh dunia ternyata pencapaian areal hutan yang telah disertifikasi hanya seluas 151.589 ha atau 0,5259% dari luas total areal hutan yang telah disertifikasi melalui skema FSC.  Di tingkat ASEAN, luas “certified forest” Indonesia ternyata masih jauh lebih luas dibandingkan dengan Malaysia, Philippines, dan Thailand.  Tentu saja data ini belum membandingkan prosentase luas kawasan hutan di masing-masing negara.  Sedangkan berdasarkan skema JCP (LEI dengan FSC), sampai dengan saat ini baru 1 (satu) unit manajemen yang telah memperoleh sertifikat hutan lestari, yaitu PT. Diamond Raya Timber di Propinsi Riau.  Lalu bagaimana dengan unit manajemen ataupun areal hutan produksi lainnya di Indonesia?

Penutup

Perkembangan sertifikasi hutan dan luasan “certified forest” di Indonesia ternyata mempunyai kecenderungan yang berbeda dengan dunia internasional.  Hal ini ditunjang dengan kenyataan bahwasanya sampai dengan saat ini luasan hutan di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi hanya memberikan kontribusi sebesar 0,5259% dari luas total “certified forest” berdasar skema FSC. Banyak pihak berpendapat, rendahnya luasan areal hutan tersebut dikarenakan skema FSC ataupun LEI yang dirasakan sangat “berat” dan sulit untuk diaplikasikan pada kondisi pengelolaan hutan di Indonesia.  Namun demikian, hal tersebut janganlah menjadi alasan yang selalu didengungkan. Dengan berkaca dari kondisi sertifikasi hutan di negara lain, menjadi sangat relevan apabila Indonesia juga mulai mencoba untuk mengaplikasikan skema lainnya dalam sertifikasi hutan seperti skema ISO 14001 dan lain sebagainya, termasuk inisiatif dari para pengelola HPH dan pengusaha produk hutan dan kehutanan.  Terlepas dari kekurangan yang dimiliki oleh ISO 14001 dalam aplikasinya untuk sertifikasi hutan, namun apabila sertifikasi ISO 14001 dijadikan sebagai langkah awal untuk memperoleh sertifikasi hutan dari FSC ataupun LEI, maka setidaknya telah ada langkah nyata yang sudah dilakukan oleh pengelola hutan di Indonesia untuk mengelola hutan yang berwawasan lingkungan dan lestari. Adanya berbagai macam skema sertifikasi hutan yang berlaku di suatu negara merupakan akibat dari sifat sukarela dari sertifikasi hutan itu sendiri. Sebagai gambaran akan hal ini adalah apa yang dilakukan di Kanada, dimana terdapat 4 (empat) skema sertifikasi hutan yang berlaku (FSC, SFI, CSA, dan ISO 14001); di Eropa setidaknya juga terdapat 2 skema sertifikasi hutan yaitu FSC dan PEFC; dan di Amerika Serikat setidaknya terdapat 3 skema sertifikasi hutan yaitu (FSC, SFI, dan American Tree Farm System). Tentu saja aplikasinya disesuaikan dengan kepentingan pasar para pelaku bisnis kehutanan itu sendiri, karena semuanya adalah sukarela.


[1] Sertifikasi Hutan yang dimaksud adalah Sertifikasi Hutan mandatory (Program Penilaian Kinerja PHPL) Departemen Kehutanan, yang merupakan instrumen internal pemerintah untuk memperoleh data dan informasi tentang tingkat kepatuhan dan kinerja tiap HPH sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan status ijin HPH atau ijin IUPHHK.

[2] ‘Certified forest‘ merupakan istilah/frasa dalam Bahasa Inggris untuk menjelaskan mengenai areal hutan yang telah disertifikasi, dan istilah tersebut dipergunakan dalam tulisan ini.

[3] Seluruh data dalam Tabel 1 dan data-data selanjutnya dalam tulisan ini diperoleh dari website www.fscoax.org, www.certificationcanada.org, www.pefc.org dan www.afandpa.org, buku “Behind the Logo” (FERN, 2001), dan catatan staf Pustanling ketika mengikuti pelatihan “Forest Certification” Tahun 2001 di Garpenberg, Swedia.