HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

 

Andadari, Lincah

Pengaruh residu beberapa insektisida pada daun murbei (Morus cathayana H.) terhadap rendemen pemeliharaan dan mutu kokon ulat sutera (bombyx mori L.) = Residual effect of some insecticides of mulberry leaves Morus cathayana H. on survival rate and cocoon quality of Bombyx mori L / Lincah Andadari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 149-156 , 2005

Penelitian pengaruh residu berbagai insektisida pada pakan (Morus sp.) terhadap rendemen pemeliharaan dan mutu kokon ulat sutera Bombyx mori L. dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2003 di ruang pemeliharaan ulat sutera Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Sebagai bahan penelitian dipergunakan ulat sutera bivoltine hasil persilangan (Fl). Ulat diberi makan daun murbei yang telah dan yang tidak disemprot insektisida sesuai dengan perlakuan. Dalam penelitian ini dipergunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan berupa 3 perlakuan insektisida dan kontrol, masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida tidak berpengaruh terhadap rendemen pemeliharaan dan bobot kokon tetapi berpengaruh terhadap bobot kulit kokon dan persentase kulit kokon. Untuk pengendalian hama murbei sebaiknya digunakan insektisida yang mempunyai selang waktu residu yang pendek 16 hari setelah penyemprotan insektisida, daun murbei aman dipergunakan sebagai pakan ulat sutera.

Kata kunci: Insektisida, murbei, Bombyx mori L., kokon

 

Andadari, Lincah

Pengaruh cendawan mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan stek murbei (Morus alba var Kanva- 2 L) = Effect of arbuscular mycorrhiza fungi to cutting growth of mulberry (Morus alba var Kanva-2 L.) / Lincah Andadari, Ragil SB Irianto. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 269-275 , 2005

Kendala dalam usaha persuteraan alam di Indonesia adalah masih rendahnya produktivitas daun murbei dan kokon ulat sutera, sehingga penghasilan yang diperoleh masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan produksi daun murbei perlu terus dilakukan, antara lain melalui peningkatan teknik pemeliharaan tanaman murbei. Peningkatan produksi daun murbei dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pemuliaan, budidaya seperti perbanyakan bibit dengan stek dan penerapan bioteknologi. Pengembangan tanaman murbei terutama di luar Pulau Jawa seringkali mengalami kegagalan terutama pada lahan - lahan marjinal. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, penggunaan inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam perbanyakan bibit dengan cara stek merupakan salah satu bioteknologi yang perlu diterapkan.  Penelitian penggunaan mikoriza pada stek tanaman murbei menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan dan ulangan sebanyak delapan kali. Hasil percobaan menunjukkan persentase tumbuh dan jumlah daun antara tiap perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata namun inokulasi dengan Glomus aggregatum menunjukkan peningkatan persentasi tumbuh sebesar 16% dan jumlah daun sebesar 30% dibandingkan dengan kontrol. Pegaruh mikoriza pada stek murbei memberikan perbedaan yang nyata pada parameter panjang akar dan berat akar.

Kata kunci: Murbei, inokulasi, mikoriza, pertumbuhan

 

Antoko, Bambang S.

Keragaman jenis tumbuhan dan tingkat kesuburan tanah pada beberapa sistem pengelolaan perladangan berpindah di zona penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh = Species diversity at shifting cultivation regimes in buffer zone Bukit Tiga Puluh National Park / Bambang S. Antoko dan Asep Sukmana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 113-125 , 2005

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak sistem pengelolaan perladangan berpindah terhadap keragaman jenis tumbuhan dan tingkat kesuburan tanah di zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi menurut perkembangan sistem perladangan berpindah yang dilakukan oleh masyarakat pada lokasi penelitian yaitu tipe ladang bera satu tahun, tipe ladang bera dua tahun, dan tipe ladang bera tiga tahun, dan sebagai pembanding/kontrol diamati pula jenis-jenis vegetasi di kawasan bekas tebangan. Analisa vegetasi dilakukan dengan menghirung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. Dilakukan pula pengambilan enam buah sampel tanah secara purposif pada masing-masing lokasi untuk mengetahui kondisi tanah tersebut secara umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe ladang bera tiga tahun mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua sistem pengelolaan perladangan berpindah lainnya. Namun demikian, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa semua sistem pengelolaan menunjukkan penurunan keragaman jenis tumbuhan yang nyata jika dibandingkan dengan kawasan bekas tebangan yang relatif tidak terganggu kondisinya oleh aktivitas berladang.

Kata kunci:  Keragaman jenis tumbuhan, sistem pengelolaan perladangan berpindah

 

Anwar, Chairil

Teknologi rehabilitasi lahan mangrove terdegradasi / Chairil Anwar. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 53-64 , 2005

Laju kerusakan kawasan mangrove dalam dua dekade belakangan ini begitu pesat (kehilangan sekitar 2,15 juta ha dalam 21 tahun). Keadaan ini tidak seimbang dengan laju pemulihannya yaitu hanya kurang lebih 1.578 ha/tahun, berdasar data Statistik Kehutanan Indonesia, 2004 selama lima tahun. Persentase tumbuhnya juga dilaporkan sangat rendah. Untuk data penanaman mangrove di Sulawesi Selatan tahun 1999 saja hanya mencapai persen tumbuh sebesar 24,3 %. Mangrove Sumatera Selatan yang luas kawasannya 558 ribu ha dan non kawasannya 495 ribu ha, dengan kondisi 75 % dalam keadaan rusak berat hingga rusak sedang, realisasi penanaman mangrovenya selama lima tahun terakhir (1999-2003) hanya mencapai 200 ha. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan teknologi rehabilitasi hutan mangrove, khususnya yang berkaitan dengan teknik penanaman mangrove disajikan dalam tulisan ini. Untuk penyiapan bibit disajikan cara pemungutan dan pengenalan ciri buah matang. Untuk pembibitan disajikan cara penyiapan dan pembuatan bedeng serta cara pembibitannya. Untuk penyiapan-tanaman disajikan cara pemilihan jenis, persiapan penanaman, dan pengangkutan bibit. Untuk cara penanaman disajikan cara penanaman melalui bibit maupun langsung, serta teknik-teknik penanaman pada kondisi tapak khusus, seperti berombak dan berlumpur dalam.

Kata kunci: Mangrove, pembibitan, penanaman, rehabilitasi, Sumatera Selatan

Aswandi

Model pendugaan volume batang berdiri dengan integrasi fungsi taper jenis meranti (Shorea spp): studi kasus di HPH PT Kiang Nam Development Indonesia Sumatera Utara = Estimation model of standing tree volume using integration of taper function for meranti (Shorea sp): Case study in forest consessioner PT Kiang Nam development Indonesia Nort Sumatera / Aswandi, Darmawan Edy dan Dodo A Suhada. - Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 11-19 , 2005

Beragamnya bentuk pohon membatasi penggunaan label volume dan angka bentuk batang dalam pendugaan volume pohon dengan jenis dan lokasi tertentu. Angka bentuk 0,7 yang umumnya digunakan dalam inventarisasi hutan cenderung menghasilkan pendugaan volume yang bias, khususnya bagi bentuk batang yang tidak linear. Studi ini bertujuan untuk menemukan suatu model penduga volume pohon berdiri yang lebih akurat dengan menggunakan pendekatan integrasi fungsi taper. Berdasarkan pengukuran 424 seksi batang dari 89 pohon contoh, diperoleh fungsi taper dan pendugaan volume pohon berdiri sebagai berikut:

 

dimana d: diameter pada ketinggian k, D : diameter setinggi dada, h : ukuran tinggi pohon pada titik tertentu, dan H: tinggi total kayu pertukangan. Pendugaan volume pohon berdiri jenis meranti (Shorea spp.) menggunaan integrasi fungsi taper menghasilkan pendugaan yang memiliki akurasi tinggi dan fleksibilitas dalam pelaksanaannya.

Kata kunci: Volume pohon, model, fungsi taper, angka bentuk, tabel volume

 

Aswandi

Model pertumbuhan dan hasil hutan tanaman Gmelina arborea menggunakan petak ukur temporer di Sumatera Utara = Growth and yield model for Gmelina arborea plantantion using temporary sampling plots North Sumatera / Aswandi, Cica Ali. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 349-360 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pertumbuhan dan hasil jenis Gmelina arborea di Pasir Mandoge Simalungun Sumatera Utara. Data pengukuran 12 plot ukurtemporer digunakan untuk merumuskan model penduga diameter, tinggi, jumlah pohon per hektar, luas bidang dasar, dan volume tegakan. Semua plot tersebut berada pada tegakan yang berumur 5-8 tahun. Kualitas tempat tumbuh dihitung menggunakan persamaan indeks tempat tumbuh SI = H* {(1 -e237*8)/ (1 -e" 237*A)} yang dibangun berdasarkan hubungan antara peninggi dengan umur tegakan. Hasil volume pada umur rotasi 8 tahun adalah 178,74 m3 ha' dengan MAI sebesar 22,34 m3 ha' tahun1. Model prediksi pertumbuhan dan hasil dibangun berdasarkan analisis dan diperoleh :

  1. Model dbh tegakan: \RD = 5.84 - 6.27 AA - 0.511 hi5-0.00066 N

  2. Model tinggi tegakan: ln// = - 4.09 + 4.07 inA -1.46 lnB+ 1.15 In JV-1.30 lnS

  3. Model penduga jumlah pohon: In N= 8.80 + 0.227 inB - 0.817 ln> - 0.227 lnS

  4. Model luas bidang dasar AnB = 5.26 - 0.0281 S- 8.05 A1 - 0.151 S/A

  5. Model volume: hi V= 2.02 + 0.0407 S + 0.65 AA + 0.682 hi B

Model-model tersebut menghasilkan kurva pertumbuhan berbentuk sigmoid. Hasil ini mendukung prinsip-prinsip biologi perkembangan tegakan.

Kata kunci: Model, pertumbuhan dan hasil, Gmelina arborea, Sumatera Utara

 

Aswandi

Model ingrowth, upgrowth dan mortality pada hutan rawa bekas tebangan di propinsi Riau = Ingrowth, upgrowth and mortality models for overlogged swamp forest in province of Riau / Aswandi. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 361-375 , 2005

Pertumbuhan hutan setelah penebangan merepresentasikan dinamika pertumbuhan tegakan melalui penambahan individu pohon baru (ingrowth), peningkatan fase pertumbuhan melalui pertambahan diameter (upgrowth), dan kematian pohon penyusun tegakan (mortality). Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model penduga ingrowth, upgrowth, dan mortality hutan rawa dengan menggunakan data seri petak ukur permanen HPH PT. Inti Prona Provinsi Riau. Model yang dibangun menunjukkan bahwa laju ingrowth, upgrowth, dan mortality dipengaruhi oleh luas bidang dasar tegakan, kerapatan tegakan, dan ukuran pohon. Laju ingrowth dan upgrowth berhubungan negatif dengan luas bidang dasar tegakan, dan ingrowth dan upgrowth akan semakin rendah pada luas bidang dasar tegakan yang semakin besar (tegakan yang lebih rapat). Sedangkan laju mortality berhubungan positif dengan luas bidang dasar tegakan, sehingga laju mortality akan semakin tinggi pada luas bidang dasar tegakan yang semakin besar.

Kata kunci : Ingrowth, upgrowth, mortality, luas bidang dasar, kerapatan tegakan, model, struktur tegakan, hutan rawa

 

Antoko, Bambang S

Karakteristik habibat dan populasi walet sarang hitam (Collocia maxima Hume, 1878) di gua sungai Pinang, Mandailing Natal Sumatera Utara = Characteristics of habitat and population of black-nest swiflet (Collocia maxima Hume, 1878) in sungai Pinang's cave Mandailing Natal, North Sumatera / Bambang S Antoko, Bakhdal dan M Salman Zuhri. --Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 377-385 , 2005

Kabupaten Mandailing Natal (Madina) adalah salah satu pemasok sarang walet sarang hitam (Collocalia maxima Hume, 1878) di Provinsi Sumatera Utara. Namun demikian, data dan informasi mengenai habitat, populasi, dan teknik pemanenannya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik habitat, populasi, dan teknik pemanenan walet sarang hitam. Data yang dikumpulkan meliputi populasi dan kebiasaan burung ini, parameter habitatnya yaitu gua Sungai Pinang dan teknik pemanenan serta produktivitas sarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata gua berkisar antara 26-28 C, kelembaban antara 70-80 %, dan intensitas cahaya antara 0,2-4,1 foot candle atau setara dengan 2,0-41 lux meter. Hal ini merupakan habitat yang sesuai bagi walet sarang hitam. Berdasarkan hasil produksi sarang pada bulan September 2002, dapat diprediksi bahwa jumlah populasi Collocalia maxima Hume, 1878 di gua Sungai Pinang antara 90.000-120.000 pasang burung atau antara 180.000-240.000 ekor burung. Pemanenan dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu panen besar, panen sedang, dan panen kecil.

Kata kunci: Walet sarang hitam, Collocalia maxima Hume 1878, gua Sungai Pinang, habitat wallet

 

Bismark, M.

Model pengukuran biomassa populasi primata = Model of primate population biomass measurement / M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 491-496 , 2005

Kualitas ekosistem hutan sebagai habitat dapat dinilai dari biomassa primata arboreal yang pergerakan dan sumber pakan sangat tergantung pada struktur fisik tegakan. Pendugaan berat badan (Bb) individu sebagai biomassa secara langsung di habitat alami dilakukan dengan mengukur gaya elestisitas cabang berdiameter kurang dari 10 cm dirnana primata duduk atau istirahat. Penelitian ini menggunakan bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) sebagai satwa model. Model regresi eksponensial sebagai penduga Bb (kg) dengan parameter geometrik tubuh yang berhubungan erat dengan berat badan, telah diujikan terhadap panjang badan dan kepala (td, dalam cm) serta luas permukaan tubuh (L, dalam m2). Dalam penelitian, td diukur pada posisi duduk bekantan. Hasil menunjukkan bahwa korelasi L terhadap td pada jantan dan betina berbeda. Dengan luas permukaan tubuh betina setengah dari luas permukaan tubuh jantan (dimorfisme seksual), nilai korelasi L dengan td adalah L^ = 0.0514e0.0395td, sedangkan L$ = 0.1048e0.0662td dan korelasi L dengan Bb mengikuti persamaan     L = 0.1324 Bb0.67.

Kata kunci: Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb), biomassa, populasi jenis

 

Darwiati, Wida

Serangan ulat kantong pada bibit meranti di persemaian = Bagworm attack on meranti seedling nursery / Wida Darwiati, Sri Esti Intari. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 345-351 , 2005

Ulat kantong adalah salah satu hama perusak daun yang potensial, yang umumnya mewabah pada musim kemarau yang panjang. Jenis hama ini mempunyai tanaman inang yang sangat bervariasi mulai dari tanaman pertanian, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan. Pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2004, bibit Anisoptera spp., S. stenoptera, dan 5. macrophylla di pesemaian Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor, diserang oleh hama ulat kantong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ulat kantong yang menyerang bibit meranti di pesemaian, perilaku dan biologi hama, serta akibat serangannya. Penelitian ini dilakukan dengan menghitung persentase serangan ulat kantong pada 50 bibit tanaman yang diambil secara acak, serta menghitung populasi tiap jenis ulat kantong pada 15 tanaman contoh dari total 50 bibit tanaman tersebut. Hasil identifikasi di laboratorium ternyata bibit meranti tersebut diserang oleh jenis ulat kantong yang berukuran agak besar (Amatissa sp.), dan (Pteroma sp.) ulat kantong yang berukuran agak kecil. Jumlah rata-rata ulat kantong per bibit adalah : bibit Anisoptera spp. 58 ulat, S. stenoptera 53 ulat, dan S. macrophylla 48 ulat, dengan persentase serangan ulat pada bibit 5. anisoptera sebesar 84 %, S. stenoptera sebesar 76 %, dan S. macrophylla sebesar 60 %.

Kata kunci: Walet sarang hitam, Collocalia maxima Hume 1878, gua Sungai Pinang, habitat wallet

 

Darwiati, Wida

Uji toksikologi daun babadotan (Ageratum conyzoides L) dan cente manis (Lantana camara L) terhadap hama penggerek pucuk mahoni (Lepidoptra : Pyralidae) = Toxicology test of Babadotan (Ageratu conyzoides L) and Cente manis (Lantana camara L) leaves to shoot borer of mahagony (Lepidoptera:Pyralidae) / Wida Darwiati, Sri Esti Intari. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 353-358 , 2005

Dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu sebagai upaya perlindungan hutan tanaman, kegiatan penelitian pestisida nabati yang berasal dari tanaman mulai dikembangkan karena tidak mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas insektisida nabati yang berasal dari tumbuhan babadotan (Ageratum conyzoides L.) dan cente manis (Lantana camara L.) terhadap hama penggerek pucuk mahoni (Hypsiphylla robusta Moore,). Dosis yang digunakan 0,5; 1,0; dan 1,5 gram dengan rancangan percobaan Acak Lengkap. Dari hasil analisis kimia yang menggunakan alat HPLC (High Pressure Liquid Chromatography) diketahui bahwa tumbuhan babadotan mengandung senyawa kimia dari golongan Precocene 1, Precocene 2, senyawa saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri; sedangkan tumbuhan cente manis mengandung senyawa asam lantanin atau asam triterpen dan lantaden A. Hasil uji efikasi menunjukkan bahwa perlakuan serbuk daun babadotan dengan dosis 0,5 dan 1,0 gram tidak berbeda nyata, sedangkan dosis 1,5 gram menunjukkan perbedaan nyata dan efektif dengan persentase kematian 15,5 %. Sedangkan perlakuan serbuk daun cente manis dengan dosis 0,5; 1,0; dan 1,5 gram semuanya efektif.

Kata kunci: Pestisida nabati, penggerek pucuk Hypsiphylla robusta Moore, mahoni

 

Garsetiasih, R

Studi struktur populasi rusa totol (Axis axis ERXL) di Taman Istana Bogor = Study of population structure of cital deer (Axis axis ERXL) in the park of Bogor palace / R Garsetiasih, Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 61-70 , 2005

Tujuan penelitian untuk mengetahui dinamika dan struktur populasi Rusa Totol di Taman Istana Bogor. Penghitungan jumlah rusa menggunakan metode konsentrasi, yaitu pengamatan dilakukan terpusat pada tempat rusa melakukan aktivitas makan dan istirahat. Untuk pengamatan struktur umur dilakukan dengan penggolongan rusa berdasarkan kematangan kelamin dan ukuran besar tubuh ke dalam kelas dewasa produktif, dewasa tidak produkktif, remaja hampir dewasa, remaja muda, dan anak. Hasil penelitian menunjukkan populasi rusa di Taman Istana Bogor total 759 individu (jantan 236 individu, betina 450 individu, dan anak 73 individu), kelas umur dewasa produktif 351 individu, dewasa tidak produktif 54 individu, remaja hampir dewasa 172 individu, remaja muda 109 individu, dan anak 73 individu. Kepadatan populasi rusa sebesar 38 individu/ha, sedangkan berdasarkan perhitungan ketersediaan pakan Taman Istana Bogor hanya dapat menampung 13 individu/ha. Hal ini menunjukkan bahwa populasi rusa yang ada di Taman Istana Bogor telah melebihi daya dukung, sehingga perlu dilakukan manajemen populasi di antaranya dengan mengeluarkannya atau rusa di Taman Istana Bogor dapat dijadikan stok untuk pengembangan Rusa Totol di tempat yang lain.

Kata kunci: Rusa Totol, populasi, kelas umur, halaman Istana Bogor

 

Garsetiasih, R.

Studi potensi pakan rusa (Cervus timorensis rusa de Blainville) di penangkaran Ranca Upas, Ciwidey Bandung Jawa Barat = Study of deer feed potency (Cervus timorensis rusa de Blainville) in The Ranca Upas Captive Breeding, Ciwidey Bandung West Java) /R. Garsetiasih, dan N.M. Heriyanto. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.6 ; Halaman 547-553 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pakan rusa melalui penentuan daya dukungnya. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai November 2004 di penangkaran rusa Ranca Upas, Ciwidey Bandung Jawa Barat. Pengumpulan data vegetasi pakan rusa menggunakan metode plot bujur sangkar berukuran 1 m x 1 m. Penentuan plot pertama dilakukan secara acak yang selanjutnya sistematik, jumlah plot yang digunakan sebanyak 20 plot, jarak antara plot 10 m. Dari penelitian ditemukan beberapa rumput sebagai pakan rusa. Jenis rumput tersebut yang paling disukai secara berurutan adalah bayondah (Isachne globosa O.K.), lampuyang (Panicum repens Linn.), lameta (Leersia hexandra Swartz.), dan kipahit (Anastrophus compressus Schlechtd.). Nilai gizi hijauan pakan rusa ditunjukkan oleh kadar protein yang dikandung hijauan pakan. Kandungan protein pakan tertinggi secara berturut-turut yaitu jenis bayondah sebesar 15,53 %, lampuyangan 10,66 %, dan lameta sebesar 9,64 %. Daya dukung habitat pakan di penangkaran rusa Ranca Upas dengan luas 4,5 ha sebanyak 21 individu untuk musim kemarau dan 40 individu pada saat musim hujan.

Kata kunci: Potensi, pakan rusa, Ranca Upas

 

Gunawan, Hendra

Nilai manfaat ekonomi hidrologis daerah aliran sungai bagi sektor rumah tangga, pertanian sawah, dan perikanan darat di Provinsi Gorontalo = The Economical value of hydrological function of watersheds in gorontalo province for the sectors of household, irrigated rice field, and freshwater fisheries in Gorontalo Province / Hendra Gunawan, Rahayu Supriadi, dan Maryatul Qiptiyah. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 135-147 , 2005

Daerah Aliran Sungai (DAS) memegang peranan penting dalam neraca air bagi suatu wilayah. Suplai dan kualitas air sungai, mata air, dan air tanah sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan di daerah aliran sungai. Pemanfaatan air di Provinsi Gorontalo sampai saat ini masih kurang memperhatikan hutan dan DAS sebagai satu kesatuan pengelolaan. Akibatnya tidak ada penghargaan terhadap jasa hutan yang diberikan melalui fungsi hidrologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menaksir nilai manfaat hidrologis DAS di Provinsi Gorontalo, khususnya untuk sektor rumah tangga, pertanian sawah, dan perikanan. Wawancara terstruktur dilakukan untuk mendapatkan data primer konsumsi air oleh penduduk. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai manfaat hidrologis daerah aliran sungai di Provinsi Gorontalo untuk sektor rumah tangga, pertanian sawah, dan perikanan mencapai hampir Rp 90 milyar setahun. Masalahnya, baik masyarakat maupun instansi terkait belum sepenuhnya menyadari arti penting keberadaan hutan di DAS sehingga penggundulan hutan masih terus berlangsung. Meskipun bencana kekeringan belum melanda provinsi ini tetapi bencana banjir sering melanda setiap tahun akibat hilangnya hutan di DAS. Pembuatan kebijakan pengelolaan sumberdaya air yang terpadu sangat dianjurkan agar pemanfaatan air dapat lebih optimal dan lestari.

Kata kunci: Hidrologi, daerah aliran sungai, air, hutan, Gorontalo

 

Gunawan, Hendra

Keanekaragam jenis burung di Wanariset Malili kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan = Bird diversity in malili research station East Luwu Timur Sulawesi Selatan / Hendra Gunawan, Indra A.S.L.P Putri dan Maryatul Qiptiyah. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 241-250 , 2005

Wanariset Malili merupakan pulau ekosistem hutan yang terletak di antara pemukiman dan lahan budidaya sehingga memiliki peranan penting dalam mendukung konservasi kehidupan liar, khususnya burung. Penelitian yang bertujuan mempelajari kekayaan dan keanekaragaman jenis burung ini dilakukan menggunakan metode IPA dengan lima buah titik pengamatan. Dalam penelitian ini ditemukan 30 jenis burung, di mana tujuh jenis diantaranya merupakan burung endemik dan tujuh jenis burung dilindungi. Indeks keanekaragaman jenis burung di Wanariset Malili adalah 2,7359 dan indeks eveness 0,8022. Sebagian besar burung yang dijumpai merupakan jenis terestrial dan penghuni tetap Wanariset Malili.

Kata kunci: Burung, aves, keanekaragaman, wanariset

 

Gunawan, Hendra

Pengaruh perambahan terhadap vegetasi dan satwa liar di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Provinsi Sulawesi Tenggara = The effect of forest encroachment on vegetation and wildlife in Rawa Aopa Watumohai National Park, South East Sulawesi Province / Hendra Gunawan dan Abdullah Syarief Mukhtar. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 449-459 , 2005

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) sedang mengalami tekanan akibat perambahan hutan. Perambahan ini mengakibatkan rusaknya sampai hilangnya habitat yang menyebabkan menurunnya sampai hilangnya satwa di habitat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perambahan hutan terhadap vegetasi dan satwaliar di TNRAW. Vegetasi dipelajari melalui analisis garis berpetak, mamalia dan reptilia diamatai dengan metode transek sedangkan burung diobservasi dengan metode IPA. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perambahan menyebabkan terganggunya sampai berubahnya ekosistem mikro akibat berubahnya struktur dan komposisi sampai hilangnya vegetasi. Perambahan juga menyebabkan berkurangnya sampai hilangnya ruang, pakan, tempat berlindung, dan tempat beraktivitas sosial. Pengaruh perambahan hutan yang diterima oleh populasi satwaliar antara lain menurunnya populasi, terganggunya kesehatan, migrasi, meningkatnya persaingan, perubahan perilaku, perubahan kebiasaan makan dan jenis makanan, dan terganggunya proses reproduksi. Satwa yang paling berat menerima pengaruh perambahan merupakan jenis-jenis dilindungi yaitu anoa (Bubalus depressicornis), rusa (Cervus timorensis), monyet digo (Macaca ochreata), dan kuskus beruang (Phalanger ursinus).

Kata kunci: Pengaruh, perambahan, vegetasi, satwaliar, taman nasional, Rawa Aopa

 

Gunawan, Hendra

Model Zona Penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, di Provinsi Sulawesi Tenggara = Buffer Zone Model of Rawa Aopa Watumohai National Park in South East Sulawesi Province / Hendra Gunawan ... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 477-490 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang sesuai dengan karakteristik biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kriteria dan indikator yang digunakan diadaptasi dari berbagai sumber yang sudah banyak diterapkan. Suatu survei dengan wawancara terstruktur, kuesioner, dan checklist digunakan untuk menghimpun data sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Metode garis berpetak digunakan untuk menganalisis vegetasi dan transek untuk menginventarisasi satwaliar. Hasil penelitian merekomendasikan model penyangga yang dapat mengurangi atau menghilangkan tekanan terhadap taman nasional sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Model penyangga yang dapat berfungsi demikian adalah penyangga ekonomi dan zona pemanfaatan tradisional.

Kata kunci: Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, zona penyangga, model, kriteria, indicator

 

Gunawan, Hendra

Analisis keberhasilan rehabilitasi mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah = An Analysis on the success of mangrove rehabilitation in the North Coast of Central Java / Hendra Gunawan dan Chairil Anwar. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 239-248 , 2005

Upaya rehabilitasi hutan mangrove sudah dimulai sejak tahun 1990-an namun sampai tahun 2003 hanya dapat terealisasi 7.890 ha, itupun dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan tanaman rehabilitasi mangrove di pantai utara Jawa Tengah, khususnya tanaman Rhizophora mucronata yang ditanam padatahun 2002. Enam petak contoh untukpengamatan diambil dari beberapatempat yangmewakili limakabupaten yaitu : Brebes, Pemalang, Demak, Jepara, dan Pati. Indikator keberhasilan yang digunakan adalah persentase hidup, tinggi, dan diameter tanaman. Hasil penelitian ini menyimpulkan tingkat keberhasilan tanaman R. mucronata berbeda di antara petak contoh yang ditunjukkan oleh perbedaan tinggi dan diameter rata-rata serta persen hidup. Diameter dan tinggi tanaman di enam petak contoh secara statistik berbeda nyata. Sedangkan keberhasilan hidup bervariasi dari 23,5 % sampai 99,6 %. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain hama dan penyakit tanaman, ombak, gangguan ternak, gangguan manusia, dan kualitas bibit yang buruk. Sedangkan diameter dan tinggi rata-rata erat kaitannya dengan tingkat kesuburan dan kesesuaian tempat tumbuh dan serangan hama. Faktor non teknis juga menentukan keberhasilan rehabilitasi mangrove di antaranya kelembagaan dan kebijakan pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat.

Kata kunci: Mangrove, rehabilitasi, keberhasilan, pantai utara, Jawa Tengah

 

Gunawan, Hendra

Karakteristik perambahan hutan di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Propinsi Sulawesi Tenggara = The characteristics of forest encroachment in Rawa Aopa Watumohai National Park South East Sulawesi Province / Hendra Gunawan. - Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 261-272 , 2005

Sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi, banyak taman nasional mengalami tekanan akibat perambahan. Karakteristik perambahan taman nasional biasanya spesifik untuk setiap lokasi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta kondisi biofisik wilayah dan situasi politik di daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perambahan kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data sekunder dilakukan di kantor Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif.. Hasil penelitian menemukan bahwa perambahan meningkat pesat menjelang masa krisis ekonomi dan mencapai puncaknya pada saat teijadi gerakan reformasi. Perambah dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan motivasinya yaitu pengklaim lahan adat/warisan, perambah yang sekedar menyambung hidup akibat krisis ekonomi, dan perambah serakah yang bertujuan memperkaya diri. Klaim lahan adat mencapai 22.150 ha oleh 11 kelompok masyarakat, 3.221 ha di antaranya telah diolah dan dipatok, sisanya masih berhutan. Di samping itu, juga terjadi jual beli lahan kawasan yang mencapai 3.100 ha. Luas kerusakan hutan akibat perambahan mencapai 9.233 ha atau 8,78 % dan luas kawasan taman nasional ini yang mengakibatkan terganggunya fungsi ekologis dan hidrologis hutan serta hilangnya nilai estetika. Tujuh puluh empat persen perambah adalah pendatang yang sebagian besar merupakan Suku Bugis, sedangkan penduduk asli hanya 26 % yang terdiri dan Suku Moronene dan Tolaki. Berdarkan luas garapannya, sebagian besar perambah (52,1 %) menggarap lahan dengan luas antara 1 -2 ha, bahkan 26,3 % perambah hanya menggarap lahan dengan luas kurang dari 1 ha. Penduduk setempat sebagian besar menggarap lahan dengan luas kurang dari 2 ha, sedangkan penggarap lahan yang lebih luas umumnya adalah pendatang.

Kata kunci:    Perambahan, kawasan hutan, taman nasional, Rawa Aopa, Watumohai, Sulawesi

 

Gintings, A. Ngaloken

Pembuatan bibit tanaman kemiri yang mudah dan resiko kecil = Easy and low risk of kemiri nursery establisment / A. Ngaloken Gintings. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 161-165 , 2005

Penyediaan bibit dalam kualitas baik dan tepat waktu adalah syarat mutlak keberhasilan kegiatan hutan tanaman. Salah satu kendala pengembangan tanaman kemiri, adalah pengecambahan benihnya karena kulit biji kemiri sangat keras (Anonimous, 1981). Untuk mengatasi masalah ini maka telah dicoba berbagai cara pembibitan tanaman kemiri. Perlakuan yang pernah dicobakan antara lain pemanasan biji secara terkendali yaitu meletakkan biji di atas pasir dan di dalampasir secara bergantian, meretakkan biji dengan alatjepitan, merendam biji di air mengalir, merendam biji yang akan dikecambahkan dalam larutanKNO3 0,2 %, menjemur biji lalu disiram pada saat biji masih panas, menanam biji langsung di lapangan dan mengikir kulit biji kemiri. Pengalaman terakhir Bapak Makmur di Sulawesi Selatan dimulai denganpemilihan benih, merendam biji dalam drum selama 15 hari, menjemur biji yang sudah direndam dalam net yang dimasukkan ke dalam karung di bedeng, menyiram biji yang dijemur pada saat panas terik (antara jam 12-13), mengumpulkan biji yang telah retak dan memasukkannya ke dalam polybag yang telah diisi media tanah lapisan atas, memelihara bibit sampai mempunyai enam lembar daun dan batangnya berkayu, mencabut bibit yang ada dalampolybag, memasukkan bibit yang telah dicabut ke dalam pelepah batang pisang sebagai alat pendingin, mengangkut bibit yang ada dalam pelepah pisang ke lokasi penanaman, memasukkannya kembali bibit cabutan ke dalam polybag, dan setelah bibit tanaman memperlihatkan kondisi yang segar kembali maka bibit siap untuk ditanam. Cara pembibitan seperti itu akan mempercepat dan meningkatkan keberhasilan perkecambahan, menghemat biaya angkutan bibit, dan menjaga kualitas bibit kemiri.

Kata kunci:   Seleksi biji kemiri, perlakuan terhadap biji, penghematan biaya angkut bibit dan kualitas bibit kemiri

 

Hadisoesilo, Soesilowati

Apis nigrocincta Smith, 1861 dan Apis cerana Fab., 1793 persamaan dan perbedaan = Apis nigrocincta Smith, 1861 and Apis cerana Fab., 1793 similarities and differences / Soesilowati, Hadisoesilo. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 103-109 , 2005

Setelah mengalami perubahan berkali-kali, akhirnya pada tahun 1996 dapat dibuktikan bahwa Apis nigrocincta Smith, 1861 merupakan jenis tersendiri terpisah dan Apis cerana F., 1793. Konfirmasi ini diperoleh berdasarkan atas perbedaan waktu penerbangan pejantan dari kedua jenis tersebut di lokasi yang sama. Semua peneutian dilakukan di pulau Sulawesi. Sampai saat ini A. nigrocincta baru diketemukan di Sulawesi dan Sangihe serta di kepulauan di sekitarnya. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang A. nigrocincta, persamaan dan perbedaan di antara kedua jenis ini yang meliputi sebaran, morfologi, struktur alat kelamin pejantan, perilaku cara besarang, waktu penerbangan pejantan, dan perilaku dalam menutup sel pejantan dipaparkan di dalam tulisan ini.

Kata kunci: Apis nigrocincta, Apis cerana, waktu penerbangan pejantan, perilaku penutupan sel pejantan

 

Hakim, Ismatul

Rehabilitasi lahan dengan pola pengelolaan hutan bersama masyarakat di pulau Jawa: Studi kasus di KPH Madiun dan KPH Kuningan / Ismatul Hakim, Setiasih Irawanti dan Sylviani. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 76-90 , 2005

Program PHBM yang dikembangkan oleh Perum Perhutani merupakan salah satu pola yang baik dalam mendukung kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan. Dalam penerapannya di lapangan ternyata terdapat perbedaan dalam hal cara pendekatannya antara satu KPH dengan KPH lain. Di KPH Madiun, pendekatannya langsung dengan cara mengadopsi pedoman yang sudah dipersiapkan oleh KPH Madiun terutama dalam hal teknik manajemennya dengan menggunakan konsep Management Regime (MR) atau sistem plong-plongan. Demikian pula dengan sistem sharing hasil kayunya di mana Perhutani mendapatkan 75 % dan masyarakat mendapat 25 %. Sementara hasil tanaman lainnya menjadi milik masyarakat seluruhnya (100 %). Di KPH Kuningan, konsep pengelolaan tanaman dan sistem sharing hasilnya merupakan hasil kesepakatan antara masyarakat (Forum PHBM) dengan Perum Perhutani. Harapan utama masyarakat (petani) terhadap program PHBM adalah adanya jaminan keberlanjutan pemanfaatan lahan garapan di. wilayah kerja Perhutani dalam jangka panjang, adanya kemudahan dalam pengadaan modal usaha, adanya peningkatan produktifitas, adanya peningkatan kesejahteraan keluarga/rumah tangga (pendidikan dan kesehatan) dan adanya kemudahan dalam memperoleh saprodi (pupuk, bibit, dan obat-obatan), adanya bimbingan, pelatihan dan pendampingan dari instansi terkait serta adanya kemudahan dalam pemasaran hasil usahataninya. Dalam rangka penyempurnaan penerapan konsep PHBM di lapangan, maka, pihak Perum Perhutani harus dapat memahami berbagai aspek kelembagaan yang ada di tingkat bawah, dalam hal ini desa. Dua aspek kelembagaan yang harus diperhatikan adalah aspek kultural dan struktural. Aspek kultural meliputi proses dinamika dalam masyarakat, tata nilai (maju), kepemimpinan, manajemen, kompetensi SDM, dan politik pemerintahan. Sedangkan struktural organisasi kelembagaan PHBM harus mengikuti perkembangan kultural yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, rehabilitasi lahan dengan pola PHBM dari sisi teknologi maupun kelembagaannya sangat bersifat local specific.

Kata Kunci: PHBM, sharing hasil, kelembagaan, local specific

 

Hendalastuti R, Henti

Peran asam humat dan asam oksalat dalam meningkatkan kualitas bibit Gmelina arborea = The role of humic and oxalic acid in improving the quality of Gmenia arborea seedling / Henti Hendalastuti R, Asep Hidayat. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 299-309 , 2005

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit Gmelina arborea terhadap konsentrasi dan frekuensi pemberian asam humat dan asam oksalat. Parameter pertumbuhan yang diamati mencakup pertambahan tinggi bibit, diameter, Berat Kering Total (BKT), Nisbah Pucuk Akar (NPA), dan Indeks Mutu Bibit (1MB). Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial dalam Acak Lengkap 2x2x3 dan kontrol dengan 20 ulangan, tiap ulangan terdiri dari satu tanaman. Asam humat dengan konsentrasi 1.800 ppm rnerupakan perlakuan yang mampu meningkatkan nilai Indeks Mutu Bibit 28,64 % lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan kombinasi konsentrasi 1.800 ppm dengan frekuensi pemberian sebanyak dua kali meningkatkan nilai 1MB 17,56 % lebih tinggi dibanding kontrol.

Kata kunci: Asam humat, asam oksalat, Gmelina arborea

 

Hendromono

Penyederhanaan sistem silvukultur TPTI di hutan alam rawa gambut Labuan Tangga kabupaten Rokan Hilir Riau = Simplification of TPTI silficultural system at peat swamp foret in Labuan Angga Rokan Hilir District Riau / Hendromono... [et. al]. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume I I No. 1 ; Halaman 21-35 , 2005

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah kecenderungan penurunan potensi produksi hutan alam rawa-gambut setelah dieksploitasi dengan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Hal ini disebabkan antara lain oleh sebagian pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tidak sungguh-sungguh mematuhi aturan TPTI, karena aturannya dianggap terlalu rumit, pengawasan oleh pihak kehutanan kurang, serta tidak adanya kepastian usaha. Tujuan penelitian adalah menyajikan informasi ilmiah sistem silvikultur TPTI yang Iebih sederhana dan praktis agar mudah dilaksanakan dan diawasi. Metodologi penelitian melalui pendekatan analisis vegetasi, potensi tegakan, pengamatan kondisi lingkungan, dan pencatatan data sekunder. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa kawasan hutan rawa-gambut Labuan Tangga didominasi oleh jenis pohon niagawi (30 jenis) dan sisanya (12 jenis) jenis pohon Iain-lain. Meranti batu (Shorea uliginosa Foxw.(Sect.Mutica) umumnya mendominasi tingkat pohon di hutan primer dan bekas tebangan. Permudaan alam tingkat semai dan pancang di hutan rawa-gambut bekas tebangan cukup banyak sehingga tidak diperlukan penanaman pengayaan, kecuali di kawasan bekas Tempat Penimbunan Kayu Sementara (TPn), bekas jalan sarad dan jalan rel perlu direhabilitasi. Jumlah pohon jenis niagawi di hutan primer sangat mencukupi, sedangkan di hutan bekas tebangan cukup memadai untuk rotasi berikutnya, asal hutannya tidak ditebang secara ilegal. Rata-rata jumlah pohon ramin (Gonystylus bancanus Kurtz.) di hutan rawa-gambut primer 5 pohon per ha, di bekas tebangan 2,5 pohon per ha. Disarankan agar Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) dilakukan dekat (Et - 1) dengan waktu Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT). ITT dilakukan segera setelah penebangan suatu blok (Et), pengadaan bibit bersamaan dengan waktu penebangan (Et), penanaman rehabilitasi dilakukan Et + 1, dan pemeliharaan I berupa pembebasan vertikal pada Et + 1. Apabila rel masih belum dibongkar, pemeliharaan II berupa pembebasan vertikal dilakukan dua tahun setelah pemeliharaan I (Et + 3). Penjarangan tidak diperlukan, karena pembebasan vertikal dapat berfungsi juga sebagai penjarangan.

Kata kunci : Hutan rawa-gambut, sistem silvikultur, TPTI

 

Hendromono

Pemilihan jenis pohon untuk rehabilitasi lahan kritis / Hendromono, Herman Daryono dan Durahim. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 24-31 , 2005

Bencana alam yang berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang akhir-akhir ini sering terjadi salah satunya disebabkan oleh banyaknya lahan kritis pada Daerah Aliran Sungai. Untuk merehabilitasi lahan kritis di dalam maupun di luar kawasan hutan perlu adanya dukungan semua pihak, balk Departemen Kehutanan dan departemen yang terkait, instansi di tingkat provinsi, kabupaten atau kota, Lembaga Sosial Masyarakat maupun masyarakat. Kegiatan rehabilitasi lahan akan lebih berhasil apabila didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat dari hasil kegiatan penelitian dan pengembangan mengenai jenis-jenis pohon untuk lahan kritis. Pada lahan kritis yang umumnya mempunyai tingkat kesuburan rendah dan tanahnya terbuka, umumnya cocok ditanami jenis-jenis pioner. Jenis-jenis pioner yang ada di Indonesia di antaranya: Acacia mangium, A. auriculiformis, Aleuritus moluccana, Casuarina equisetifolia, C. junghuhniana, Duabanga moluccana, Eucalyptus urophylla, Melaluca leucadendron, Peronema canescens, Pinus merkusii, dan Schima wallichii.

Kata kunci: Pemilihan jenis pohon, rehabilitasi, lahan kritis

 

Herawati, Tuti

Aplikasi metode proses hirarki analitik penentuan prioritas jenis pohon hutan rakyat: studi kasus di kecamatan Pamarican = The aplication of analitical hierarchy process for priority determination of tree species for small scale private forest case study in Pamarican Subdistrict / Tuti Herawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 93-103 , 2005

Penentuan jenis pohon merapakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pengelolaan hutan rakyat. Dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan jenis pohon diperlukan pertimbangan yang rasional dan menyeluruh. Dengan demikian keputusan yang dihasilkan dapat memberikan jaminan keberhasilan tumbuh, menguntungkan, dan sekaligus mampu menampung kepentingan berbagai pihak. Metode atau alat yang dapat digunakan untuk penentuan jenis pohon dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan kriteria secara menyeluruh adalah PHA (Proses Hirarki Analitik). Dalam metode ini kriteria keputusan dipecahkan dalam urutan hirarki, penilaian diberikan pada setiap kriteria, serta menyatukan penilaian untuk menentukan pilihan yang memiliki prioritas tertinggi. Kekuatan proses ini terletak pada rancangannya yang bersifat komprehensif, dengan mempergunakan logika, pertimbangan berdasarkan intuisi, data kuantitatif, dan kualitatif. Teknik ini telah diterapkan untuk mendapatkan urutan prioritas pilihan jenis pohon hutan yang dike lo la rakyat di Kecamatan Pamarican. Hirarki yang disusun terdiri dari dua tingkat dengan sejumlah aspek dan kriteria. Terdapat 4 aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan jenis pohon, yaitu aspek teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prioritas jenis yang dihasilkan adalah sebagai berikut: 1) Swietenia macrophylla King dengan bobot prioritas 42,2 %; 2) Paraserianthes falcataria (J) Nielsen (32,2 %); dan 3) Tectona grandis Lf (25,6 %).

Kata kunci: Penentuan, jenis pohon, prioritas, hutan rakyat, Proses Hiraki Analitik, aplikasi

 

Herawati, Tuti

Kondisi pengeloaan LAK di Indonesia dan peluang pengembangannya di Nusa Tenggara Timur = Condition of LAC bussines in Indonesia, and its development opportunity in East Nusa Tenggara / Tuti Herawati. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 231-237 , 2005

Lak merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang potensial untuk dikembangkan. Lak digunakan untuk berbagai kepeluan dalam bidang industri di antaranya sebagai bahan politur mebel, isolasi listrik, piringan hitam, tinta cetak, dan pewarna makanan. Pasar lak internasional saat ini dikuasai oleh India dan Thailand. Pengusahaan lak di Indonesia baru dilakukan di Jawa Timor dan Nusa Tenggara (NTT). Di Jawa Timur, pengusahaan lak dilakukan oleh Perum Perhutani secara intensif, sementara itu pengusahaan lak di NTT belum dilakukan secara profesional. Potensi pengembangan usaha budidaya lak di NTT cukup tinggi dengan rata-rata produksi lak per tahun sekitar 100.000 ton. Hal ini didukung oleh kondisi iklim yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman inang dan serangga seed lak. Dengan potensi tersebut, pengembangan usaha seed lak di NTT perlu dibina lebih lanjut dalam peningkatan produksi, kualitas, dan kelembagaan yang lebih profesional. Pembinaan dapat dimulai dari membangun proyek-proyek percontohan pengusahaan lak dengan keterlibatan masyarakat yang tinggi.

Kata kunci: Lak, serangga, tanaman inang, percontohan

 

Herawati, Tuti

Mimba (Azadirachta indica Juzz): tanaman multi manfaat potensial untuk rehabilitasi lahan / Tuti Herawati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 135-139 , 2005

Selama tiga dasawarsa terakhir potensi dan kondisi hutan Indonesia semakin menurun, oleh karenanya upaya pemulihan lahan kritis semakin dirasakan urgensinya. Jenis tanaman yang dipilih untuk kegiatan rehabilitasi lahan harus memenuhi kriteria lingkungan guna tercapainya perbaikan ekosistem dan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mimba memiliki keunggulan sebagai tanaman pioner yang mampu tumbuh di lahan kritis yang ekstrim kering. Selain itu mimba juga merupakan jenis tanaman yang memberikan banyak manfaat yaitu dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati, bahan baku obat tradisional, dan bahan baku industri keperluan rumah tangga. Mengingat keunggulan tersebut maka mimba merupakan tanaman alternatif rehabilitasi lahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kata kunci: Unggul, multimanfaat, pioner, pestisida, obat, bahan baku industri

 

Herawati, Tuti

Pengujian mutu benih pohon wangin (Melaleuca bracteata Linn) / Tuti Herawati, Yana Sumarna dan Yetti Heryati. - -Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 141-144 , 2005

Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan selain dilakukan dengan menanam pohon penghasil kayu, perlu juga memperhatikan pengembangan pohon penghasil komoditas bukan kayu. Salah satu komoditas HHBK yang memiliki propsek penting adalah tumbuhan penghasil minyak atsiri. Pohon wangi (Meialeuca bacteata) adalah salah satujenis pohon penghasil minyak atsiri yang dapat disuling dari daunnya, serta memiliki kandungan metyl euganol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati, bahan obat, dan bahan baku industri parfum. Pohon wangi merupakan tumbuhan eksot yang berasal dari Australia, tetapi telah mampu beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Namur saat ini pengembangan pohon wangi baru dilakukan di beberapa lokasi dalam skala kecil. Mengingat potensinya sebagai penghasil minyak atsiri yang berpotensi ekonomi, maka pengembangan pohon wangi dapat dilakukan dalam skala yang lebih luas. Untuk itu diperlukan penelitian yang meliputi aspek budidaya hingga pasca panen. Sebagai langkah awal dilakukan kegiatan pengujian mutu benih hasil eksploitasi dari beberapa pohon. induk di Indonesia. Pelakuan yang diberikan berupa lamanya penjemuran dan media perkecambahan, sedangkan parameter yang diamati adalah persen kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tebaik bagi presentase kecambah M. bracteata adalah pasir halus dengan persen kecambah 94,22 % dan media campuran tanah dan pasir halus (1:1) (v:v) dengan persen kecambah 94,11 %. Lama penjemuran buah M. bracteata tidak berpengaruh terhadap persen kecambah benih M. bracteata.

Kata kunci: Hasil hutan bukan kayu, minyak atsiri, budidaya, mutu benih, persen kecambah

 

Heriansyah, Ika

Potensi Hutan tanaman marga shorea dalam menyerap CO2 melalui pendugaan biomassa di hutan penelitian Haurbentes = Shorea plantation forest potency on carbon sequestration through biomassa estimation in Haurbentes forest reseach / Ika Heriansyah dan Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 105-111 , 2005

Rosot hutan memainkan peranan penting dalam siklus ekologi secara alami dan dapat mencegah pemanasan global dengan menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya sebagai karbon dalam bentuk materi organik tanaman (pada waktu fotosintesis) dan dikenal sebagai sequestrasi. Separuh massa tanaman merupakan karbon, sehingga sejumlah besar karbon tersimpan dalam hutan sehingga hutan merupakan penyimpan karbon terbesar di dataran bumi. Penelitian mengenai potensi hutan tanaman shorea dalam menyerap karbon dilakukan di Hutan Penelitian (HP) Haurbentes, melalui pendugaan akumulasi volume kayu dan biomassa pada semua tanaman shorea. Penelitian dilakukan dengan mengukur diameter pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang pada semua pohon di setiap plot contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter (145,2 cm) dan tinggi (50,9 m) maksimum dicapai oleh jenis Shorea stenoptera Burck. umur 63 tahun. Kemampuan tanaman shorea di HP Haurbentes dalam menyerap CO2 terlihat bervariasi (Tabel 1) sesuai dengan jenis dan umur tanaman. Dari 7 jenis, 5. Stenoptera Burck menyerap CO2 terbesar yang disusul berturut-turut oleh jenis S. seminis (de Vriese) Sloot.; 5. leprosula Miq.; 5. selanica Blume; S. Palembanica Miq.; S. pinanga Scheff. dan S. stenoptera form Ardikusuma.

Kata kunci: Hutan tanaman shorea, Haurbentes, biomassa, menyerap karbon

 

Heriyanto, N.M

Kajian Beberapa Aspek Ekologi Pohon Kedawung (Parkia roxburghii G. Don.) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur = Study of Ecological Aspects of Kedawung Tree (Parkia roxburghii G. Don.) at Meru Betiri National Park, East Java / N.M. Hariyanto dan ZuraidaJurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 157-166 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek ekologi pohon kedawung (Parkia roxburghii GDon.). Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2004 berlokasi di blok Pakeman, Pringtali, dan Lodadi Sub Seksi II Ambulu, Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang 1.000 m, jalur diletakkan memotong lereng dan jumlah jalur pengamatan 3 jalur. Plot-plot penelitian untuk kedawung ditetapkan secara sengaja dengan metode purposive sampling dimana pengukuran dilakukan pada tempat-tempat yang terdapat pohon kedawung (P. roxburghii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat kedawung (P. roxburghii) di Taman Nasional Meru Betiri banyak dijumpai di pinggi-pinggir aliran sungai dengan topografi agak curam dengan komposisi vegetasi di sekitar pohon kedawung banyak dijumpai jenis-jenis besule (Chydenanthus excelsus) dengan Indeks Nilai Penting (INP) = 28,5 % dan wining (Pterocybium javanicum) dengan INP = 20,0 %. Lingkungan fisik yang berkaitan erat dengan kedawung adalah suhu antara 27-30C, kelembaban udara antara 50-85 %, kemiringan lahan antara 10-60 %, dan ketinggian tempat di atas permukaan laut antara 10-200 m. Jenis tanahnya yaitu Latosol dengan tekstur geluh lempungan dengan pH antara 5,5-6,5. Jenis wining (Pterocybium javanicum) merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan asosiasi kuat dengan kedawung, hal ini ditunjukkan dengan besarnya nilai Indeks Ochiai, Indeks Dice dan Indeks Jaccard mendekati nilai satu, dan fakta di lapangan ditemukan secara bersama-sama dengan pohon kedawung. Pemanenan buah kedawung oleh masyarakat tidak berpengaruh buruk pada pohonnya akan tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu regenerasi. Regenerasi alami pohon kedawung di TNMB dibantu oleh satwaliar terutama buru'ng rangkong (Buceros rhinoceros) dan aliran air hujan.

Kata kunci : Ekologi, kedawung (Parkia roxburghii G Don), Taman Nasional Meru Betir

 

Imanuddin, Rinaldi

Model hubungan tinggi tegakan dengan peninggi pada hutan tanaman mahoni (Swietenia mahagoni Jack.) = Stand height and upper height relationship model of Swietenia mahagoni Jack. plantation forest. - Info Hutan / Rinaldi Imanuddin. - Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 47-52 , 2005

Dalam praktek lapangan, pengukuran tinggi pohon merupakan pekerjaan yang relatif sulit dan membutuhkan banyak waktu. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dicari metode inventarisasi yang meminimalkan pekerjaan pengukuran tinggi pohon tanpa mengurangi kelengkapan informasi yang hams disajikan dari kegiatan inventarisasi hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model hubungan antara tinggi tegakan dengan peninggi tegakan pada hutan tanaman mahoni. Dengan terbentuknya model yang dimaksud, maka pekerjaan pengukuran tinggi pohon dalam inventarisasi hutan dapat berkurang sangat signifikan. Dari hasil analisis regresi yang telah dilakukan terhadap 16 plot dengan umur tegakan 3, 9, 13, dan 20 tahun di Banten dan 12 plot dengan umur tegakan 3, 7, dan 20 tahun di Tasikmalaya, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat nyata antara tinggi tegakan dengan peninggi pada hutan tanaman mahoni. Hasil persamaan regresi hubungan tinggi tegakan dengan peninggi di masing-masing lokasi penelitian adalah sebagai berikut: Banten: M = -0,68260 + 0,94323 Oh; R2 = 0,996; Tasikmalaya: H= -1,11600 + 1,01654 Oh; R2 = 0,990; dimana # adalah tinggi tegakan (m), dan Oh adalah peninggi (m). Dari hasil uji keseragaman regresi menunjukkan bahwa persamaan hubungan H dengan Oh pada hutan tanaman mahoni tidak berbeda nyata menurut lokasi, sehingga dapat disusun persamaan yang berlaku secara umum, yaitu H= -0,72231 + 0,95519 Oh, dengan koefisien determinasi sebesar 0,993.

Kata kunci : Tinggi tegakan, peninggi, model, mahoni

 

Intari, Sri Esti

Pengendalian hama Shorea spp menggunakan insektisida biologi dan hayati = The use of biological and plant origin insecticides for controling insect pest on Shorea spp / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 83-91 , 2005

Pengendalian hama menggunakan insektisida hayati Bacilus thuringiensis dan cuka kayu pinus merupakan salah satu cara pengendalian hama yang ramah lingkungan, karena sifatnya yang mudah terurai. Insektsidiajenis ini telah banyak dikembangkan di sektor pertanian dan perkebunan, sedangkan di sektor kehutanan belum banyak dilaksanakan. Untuk mengendalikan hama Shorea spp. dilakukan percobaan dengan menggunakan insektisida hayati yang berbahan aktif Bacilus thuringiensis yang memproduksi zat-zat sangat beracun bagi larva serangga, di antara racun ini yang penting adalah delta-endotoksin yang berbentuk kristal dan cuka kayu pinus yang mengandung senyawa kimia seperti pada umumnya insektisida pembunuh hama. Percobaan pengendaliannya dilakukan di laboratorium dan lapangan dengan berbagai konsentrasi B. thuringiensis (1 gr/l, 2 gr/l, 3 gr/l, 4 gr/l, dan 5 gr/l) dan cuka kayu pinus (10 cc/l, 20 cc/l, 30 cc/l, 40 cc/l, dan 50 cc/l), dengan rancangan percobaan RAL di laboratorium dan RCBD di lapangan. Parameter yang diamati adalah persentase kesembuhan tanaman dari serangan hama setelah perlakuan insektisida hayati Bacilus thuringiensis dan cuka kayu pinus dalam beberapa dosis. Hama yang menyerang tanaman  Shorea leprosula di  lapangan  adalah  kumbang  Exopholis hypoleuca (Coleoptera, Melolonthidae). Hama yang menyerang anakan S. leprosula dan S.selanica di pesemaian adalah ulat Orgyia sp. (Lepidoptera, Lymantriidae). Pengendalian hama ulat Orgyia sp. di tingkat laboratorium dengan menggunakan cuka kayu pinus dengan takaran 50 cc/l dan B. thuringiensis dengan takaran 5 gr/l efektif. Pengendalian hama kumbang E. hypoleuca yang menyerang S. leprosula di lapangan dengan menggunakan cuka kayu pinus dengan takaran 40 cc-50 cc/l efektif. Pengendalian hama ulat Orgyia sp. di pesemaian dengan menggunakan B. Thuringiensis dengan takaran 4-5 gT/1 efektif.

Kata kunci: Pengendalian hama, Shorea spp., Bacilus thuringiensis, cuka kayu pinus

 

Intari, Sri Esti

Kemampuan memangsa kumbang lembing Coleophora inarqualis (Coleoptera: Coccinellidae) pada beberapa jenis kutu daun (Homoptera: Aphidiidae) = Feeding capacity of the beetle coloephora inaequalis (Coleoptera: Coccinellidae) on two species of aphids (Homoptera: Aphidiidae) / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 277-281 , 2005

Percobaan pemangasaan kumbang lembing Coelophora inaequalis (Coeloptera : Coccinellidae) pada kutu daun Aphis crassivora dan Rhoplasivum maydis dilakukan di laboratorium. Sejumlah kutu daun didedakan pada larva kumbang instar 1, 2, 3, dan 4 di dalam kurungan. Hasilnya menunjukkan bahwa larva instar 1 hanya makan 5 ekor kutu daun A. crassivora. Jumlah kutu daun yang dimangsa meningkat pada instar - instar berikutnya. Perilaku memangsa yang sama juga ditunjukkan pada kumbang lembing ini yang diberi pakan kutu daun R. maydis. Waktu yang dipergunakan untuk memangsa kutu daun berbeda pada setiap instar. Larva instar 1 dan 2 memangsa kutu daun lebih lama daripada instar yang lebih tua.

Kata kunci:    Kemampuan memangsa, Coccinellidae, Coelophora inaequalis, Aphis cassivora, Rhophalosivum maydis

 

Intari, Sri Esti

Serangga penyerbuk pada tegakan sengon (Paraseranthes falcataria) = Insect pollinators to flowers of Paraseanthes falcatari / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.6 ; Halaman 539-545 , 2005

Penelitian terhadap serangga-serangga penyerbuk bunga sengon, Paraserianthes falcataria dilakukan di kebun sengon di Rancamaya, Bogor. Sebanyak 11 jenis serangga diperoleh dari bunga sengon, terdiri dari Lepidoptera (2 jenis), Hymenoptera (8 jenis), dan Diptera (1 jenis). Dari pengamatan adanya serbuk sari pada badan serangga pengunjung bunga sengon, seizin Apis indica, berdasarkan waktu kehadirannya menunjukkan bahwa jenis Xylocopa latipes dan X. confusa adalah penyerbuk utama bunga sengon.

Kata Kunci: Hymenoptera, Lepidoptera, Diptera, polinator, Paraserianthes falcataria

 

Intari, Sri Esti

Percobaan pengujian toksisitas tepung biji Annona glabra dan A.squamosa sebagai insektisida pada lalat rumah (Musca domestica) = An experiment on the efficacy of Annona glabra and A. squamosa Seed Powder as Insecticides to Housefly (Musca domestica) / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 431 -436 , 2005

Penelitian uji tokasisitas tepung biji Annona glabra dan A. squamosa dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor dengan tujuan adalah untuk memperoleh dosis yang efektif dalam pengendalian hama menggunakan insektisida nabati. Tepung biji kedua jenis Anona masing-masing dicampur dengan makanan lalat (susu bendera : gula pasir =1:1) dengan kadar 0 % (kontrol), 5 %, 10 %, 15%, 20 %, dan 25 %, diberikan pada 30 ekor lalat percobaan di dalam kandang. Jumlah lalat yang mati di dalam kandang diamati, jumlahnya dihitung setiap 6,12,24, dan 48 jam sesudah perlakuan. Hasilnya menunjukkan bahwa tepung biji A glabra lebih beracun terhadap lalat yang dicoba daripada tepung biji A. squamosa. Nilai LC 50 untuk A. glabra adalah pada kadar 7,95 % dalam waktu 24 jam, sedangkan untuk A. squamosa adalah pada kadar 31,6 % untuk waktu yang sama.

Kata kunci; Toksisitas, Annona glabra, A. squamosa, lalat rumah, anonain

 

Iskandar, Sofian

Karakteristik pengunjung Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Jawa Tengah = The Characteristic of visitors of The Grojogan Sewu Nature Recreation Park, Central Java / Sofian Iskandar, dan Endang Karlina. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 197-203 , 2005

Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2001, dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik pengunjung Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, sebagai salah satu indikator dalam pemanfaatan kawasan tersebut secara berkelanjutan. Taman Wisata Alam Grojogan Sewu terletak di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, mempunyai luas 20 hektar, dengan fenomena alamberupa air terjun sebagai obyek utamanya. Komposisi pengunjung terdiri dari 57,4 % laki-laki dan 42,6 % wanita. Kelas umur pengunjung terdiri dari usia 18-26 tahun (34,1%), merupakan kelompok umur dominan; diikuti dengan kelompok umur 0-17 tahun (33,5 %), kelompok umur 27-39 tahun (17,6 %) dan di atas 40 tahun (14,8 %). Kelompok pengunjung pada umumnya adalah kelompok keluarga, selain ada juga kelompok pelaj ar dan perseorangan. Setiap hari Taman Wisata Alam Grojogan Sewu dikunjungi oleh 150-200 orang, dan pada musim libur jumlah pengunjung dapat mencapai 1500-2000 orang. Pada umumnya pengunjung datang untuk menikmati fenomena dan keindahan alam air terjun serta kelompok satwaliar (kelompok monyet ekor panjang) yang sudah jinak. Fasilitas umum yang tersedia di areal wisata tersebut pada umumnya sudah memadai. Namun ada beberapa papan pemberitahuan (sign board) yang perlu ditambahkan, seperti papan larangan untuk membuat coretan (grafity) dan memberi makan satwaliar.

Katakunci : Taman wisata alam, karakteristik pengunjung

 

Iskandar, Sofian

Potensi kawasan budidaya di Pantai Utara Indramayu sebagai habitat burung air = The Potency of production lands at Northern Shore of Indramayu, West Java as a habitat of shorebirds species / Sofian Iskandar dan M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 423-429 , 2005

Studi potensi ekologi dari lahan produksi di kawasan pantai utara Indramayu bertujuan untuk mengevaluasi nilai penting dari lahan tersebut sebagai habitat dalam melestarikan keanekaragaman jenis burung air. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada tahun 1988 di daerah lahan basah di Desa Singakerta dan sekitarnya dijumpai 27 jenis burung air di mana 14 jenis di antaranya merupakan jenis burung migran. Namun dalam pengamatan ini hanya dijumpai delapan jenis burung air, di mana dua jenis di antaranya merupakan burung migran. Hampir seluruh lahan basah di Desa Singakerta dan sekitarnya telah berubah menjadi tambak dan persawahan. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa lahan basah yang terdiri dari tambak dan persawahan tersebut mempunyai nilai fungsi esensial sebagai habitat dari berbagai jenis burung air. Saat ini perubahan habitat yang terjadi oleh adanya perubahan fungsi lahan telah mengancam keanekaragaman dan populasi jenis burung air. Karena berbagai fungsi habitat seperti sebagai penyedia sumber pakan, tempat perlindungan, tempat berkembang biak, dan perawatan anak telah rusak akibat aktivitas manusia. Kami merekomendasikan bahwa seluruh lahan basah di kawasan tersebut yang mempunyai nilai penting bagi perlindungan jenis burung air di luar kawasan konservasi, sebaiknya ditetapkan sebagai daerah perlindungan khusus, dan dikelola berdasarkan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan serta.diatur oleh suatu Peraturan Daerah (Perda). Dengan demikian kawasan lahan basah tersebut masih tetap dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat, dalam rangka meningkatkan pendapatan mereka; di lain pihak kawasan tersebut juga tetap dapat sebagai habitat bagi berbagai jenis burung air.

Kata kunci: Keanekaragaman jenis burung air, kawasan esensial, konservasi jenis

 

Iskandar, Sofian

Kajian pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati di kompleks hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon dalam kegiatan ekowisata = The Utilization of biodiversity potencies of Tanjung Lame-Karang Ranjang National Park for ecotourism activity / Sofian Iskandar dan Endang Karlina. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 167-179 , 2005

Penelitian tentang potensi keanekaragaman hayati di kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum bertujuan untuk mengetahui berbagai potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum yang dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam. Dalam hal ekosistem, kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum mempunyai kekhasan sebagai ekosistem hutan yang telah mengalami suksesi puncak setelah terjadinya bencana alam Gunung Krakatau tahun 1883. Ekosistem di hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang terdiri dari hutan pantai, hutan mangrove, dan hutan dataran rendah. Keanekaragaman jenis flora yang terdapat padajalur Tanjung Lame-Karang Ranjang antara lain bayur {Pterospermum javanicum), kigentel (Diospyros cauliflora), nibung (Oncosperma tigillarria), dan langkap (Arenga obtusifolia). Sedangkan jenis faunanya antara lain adalah badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos javanicus), dan macan tutul (Panthera pardus melas); serta jenis primata endemik jawa, yaitu owa jawa (Hylobates moloch) dan surili (Presbytis comata). Selama pengamatan, di Pulau Handeuleum dijumpai empat jenis mamalia, 12 jenis aves, dan dua jenis reptilia. Selama pengamatan di kedua lokasi tersebut, tercatat 12 jenis mamalia (tujuh jenis dilindungi), 25 jenis aves (sembilan jenis dilindungi), empat jenis reptilia, dan dua jenis amphibia. Kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang, sesuai dengan peta zonasi TNUK, merupakan kawasan hutan yang ditetapkan sebagai zona rimba, yang sering dikunjungi oleh wisata wan, baik lokal maupun manca negara. Pulau Handeuleum, berdasarkan peta zonasi TNUK, ditetapkan sebagai zona pemanfaatan intensif.

Kata kunci: TN. Ujung Kulon, keanekaragaman hayati, pemanfaatan, ekowisata

 

Kalima, Titi

Studi sebaran alam Pinus merkusii Jungh. et de Vriese Tapanuli, Sumatera Utara dengan metode cluster dan pemetaan digital = Study of natural distribution of Pinus merkusii Jungh.et de Vriese in Tapanuli, North Sumatera using cluster method and digital mapping / Titi Kalima, Uhaedi Sutisna, dan Rusli Harahap. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 497-505 , 2005

Pinus adalah salah satu marga yang terdiri atas 100 jenis di seluruh dunia dan populasi jenis P. merkusii Jungh et de Vries yang tumbuh di Indonesia mempunyai nilai ekonomi tinggi, baik dari kayunya maupun getahnya. Salah satu hal yang paling penting dari jenis tersebut karena tumbuh secara alam dan endemik di Sumatera. Studi yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang sebaran alam P. merkusii Jungh. et de Vriese di wilayah hutan Tapanuli, Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah metode kluster (cluster method) yang terdiri empat plot bentuk lingkaran setiap klusternya dengan jari-jari 17,95 m setiap plotnya. Studi menunjukkan bahwa sebaran alam P. merkusii Jungh. et de Vriese terdapat di wilayah Bukit Barisan daerah Habinsaran dan Garoga meliputi daerah-daerah Dolok Tusam, Dolok Saut, Dolok Sipirok, Dolok Soanon, Situnggaling, dan Suaka Margasatwa Baruman. Populasi P. merkusii Jungh. et de Vriese tersebut tumbuh berkelompok secara terpencar pada ketinggian antara 1.000 m sampai dengan 2.000 mdi atas permukaan laut dengankemiringan lahan antara 45-80 persen. Di bawah tegakan hutan alam P. merkusii Jungh. et de Vriese di Dolok Tusam dijumpai tanaman kemenyan (Styrax benzoin Dryand.) dengan kerapatan berkisar antara 19-28 pohon per klusternya. Adapun komposisi jenis tumbuhan di bawah P. merkusii Jungh. et de Vriese adalah Melastoma malabathricum, Symplocos sp., Scheffera sp., Calophyllum soulattri, Castanopsis acuminatissima, Knema conferta, dan Pandanus sp.

Kata kunci: Sebaran alam, Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, Tapanuli, Sumatra Utara

 

Kalima, Titi

Identifikasi jenis tanaman rotan di hutan penelitian Haurbentes Jawa Barat = Identification of rattan species planted in Haurbentes experiment forest West Java / Titi Kalima, Uhaedi Sutisna. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 1-34 , 2005

Hutan Penelitian Haurbentes yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merapakan areal hutan yang dibangun dan dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam ditujukan untuk percobaan introduksi jenis-jenis pohon kayu asing. Selain itu, Hutan Penelitian Haurbentes berfungsi pula sebagai areal untuk penelitian di bidang konservasi ex-situ jenis-jenis flora hutan Indonesia termasuk jenis-jenis rotan. Kini, nilai koleksi flora di Hutan Penelitian Haurbentes semakin penting peranannya sehingga upaya peningkatan pelayanan jasa informasi tentang pemanfaatan koleksi flora menjadi prioritas perhatian saat ini. Secara ringkas, koleksi flora jenis-jenis tanaman rotan di Hutan Penelitian Haurbentes diungkap berbagai hal, baik berdasarkan hasil pengamatan maupun berdasarkan data sekunder yang meliputi antara lain, karakter morfologi biologi lainnya. Deskripsi tentang koleksi tanaman rotan di Hutan Penelitian Haurbentes tersebut sangat berguna bagi ilmu pengetahuan flora maupun bagi pengembangan budidaya rotan di Indonesia.

Kata kunci: Flora rotan, pengenalan, Hutan Penelitian Haurbentes

 

Kalima, Titi

Keragaman manfaat beberapa jenis perdu oleh masyarakat sekitar hutan alam produksi, Jambi = Utilization diveristy on some shrubs species by local community around natural production forest, In Jambi / Titi Kalima. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 111-120 , 2005

Keragaman manfaat beberapa jenis perdu oleh masyarakat sekitar hutan alam produksi dilaksanakan di PT. Asia Log, Jambi. Pemilihan jenis perdu atau jenis pohon kecil yang   dimanfaatkan   berdasarkan   informasi   masyarakat   tradisional.   Hasil   penelitian menunujukkan bahwa 17 jenis tumbuhan diketahui mempunyai manfaat. Dari ke 17 jenis tumbuhan ini, tujuh jenis termasuk yang paling dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Diantaranya Cassia alata Linn., Costus rumpianus DC, Fibraurea chloroleuca Miers., Ficus septica L, Solanum torvum Swartz., Fagraea auriculata Jack, dan Eurycoma longifolia Jack.

Kata kunci: Keragaman manfaat, jenis perdu, masyarakat tradisional

 

Karlina, Endang

Analisis potensi fisik dan biotik kawasan sebagai obyek wisata di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu Jawa Tengah = Biopysical potency analysis of the forest area as tourism site in the Grojogan Sewu Nature Recreatin Park, Central Java in supporting management of the park / Endang Karlina. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 387-397 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi hayati, khususnya vegetasi dan satwaliar, sebagai dasar penyusunan program pengelolaan dan pengembangan pemanfaatandan penyelamatan fungsi hutan di Bukit Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Penelitian potensi biotik dilakukan dengan menggunakan metode jalur transek untuk satwaliar fan plot sampling untuk vegetasi tumbuhan. Data satwaliar dianalisis secara deskriptif, sedangkan data vegetasi tumbuhan dianalisis dengan metode Indeks Nilai Penting. Berdasarkan hasil penelitian vegetasi, diketahui bahwa dalam kawasan TWA Grojogan Sewu dijumpai 29 jenis tumbuhan. Untuk tingkat pohon didominasi oleh jenis tusam (Pinus merkusii) dengan INP 190,58 %, tingkat tiang didominasi olehjenis puspa (Schima walichii) dengan INP 100,92 %. Jenis satwaliar dijumpai sebanyak 18 jenis, yaitu tujuh jenis kelas mamalia, di mana satu jenis merupakan satwa dilindungi yaitu rusa (Cervus timorensis) dan jenis burung (aves) 11 jenis. Obyek wisata yang menarik pengunjung adalah air terjun dengan indekpreferensi 10,4; atraksi satwa 1,4; tanaman ornamen 1; vegetasi hutan 0,64; dan sarana wisata buatan 0,11. Obyek satwaliar yang mudah dijumpai adalah Macacafascicularis. Dalam hal ini menurut pendapat pengunjung, pengunjung merasa ada obyek yang menarik dan tidak terganggu dengan kehadiran monyet (45 %) dan merasa terganggu atau membahayakan dengan kehadiran kelompok monyet (20 %). Dalam pengelolaan TWA tersebut masih ada beberapa permasalahan, terutama pengelolaan sampah dan pengelolaan satwaliar.

Kata kunci: Keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman satwaliar, pengelolaan

 

Kayat

Karakteristik pengunjung dan nilai ekonomi kawasan Wisata Otak Kokok Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok = Visitors characteristics and economic value of Otak Kokok Recreation Area of Gunung Rinjani National Park, Lombok Island / Kayat dan I Made Widnyana. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 135-143 , 2005

Penilaian terhadap manfaat rekreasi diperlukan dalam rangka pengambilan keputusan untuk pembangunan dan pengembangan pemanfaatan suatu kawasan wisata. Otak Kokok adalah salah satu obyek wisata alam pada kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yang paling banyak dikunjungi. Informasi yang berkaitan dengan nilai ekonomi dan karakteristik pengunjung belum cukup tersedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi tentang karakteristik pengunjung dan untuk menaksir nilai ekonomi kawasan wisata Otak Kokok. Metode yang diterapkan adalah metode deskriptif terhadap karakterisasi pengunjung dan metode biaya perjalanan {travel cost method) untuk penaksiran nilai ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh pengunjung Taman Nasional Gunung Rinjani adalah pengunjung lokal (Pulau Lombok). Dalam kaitan dengan sosial ekonomi, mayoritas pengunjung berasal dari kelas menengah ke bawah. Motivasi kunjungan yang menonjol adalah piknik (rekreasi sehari) dan keyakinan bahwa beberapa penyakit akan sembuh bila mandi di dalam air terjun Otak Kokok. Nilai ekonomi ekowisata Otak Kokok diperkirakan sebesar 1,5 milyar rupiah.

Kata kunci: Ekowisata Otak Kokok, pengunjung, nilai ekonomi

 

Kosasih, A Syaffari

Pengaruh skarifikasi pada benih kayu jaha (Terminalia bellerica Roxb.) terhadap perkecambahan dan pertumbuhan bibitnya = The effect of scarification of kayu Jaha's (Terminalia bellerica Roxb.) seeds on their germination and growth /A Syaffari Kosasih, Yunita Lisnawati, Yetti Heryati. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 53-57 , 2005

Kayu Jaha (Terminalia bellerica Roxb.) adalah jenis pohon cepat tumbuh dengan tinggi MAI 1,6 m dan diameter MAI 2,1 cm. Kayu jenis ini dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan danfurniture, buah muda sebagai campuran obat, buah tua sebagai bahan baku cat, dan keping biji dapat dimakan. Meskipun banyak manfaat dan cepat pertumbuhannya namun untuk mengembangkan jenis ini secara alami sangat sulit, karena kulit biji keras dan tebal sehingga jenis ini sulit berkembang biak, sehingga perlu cara untuk mempercepat proses perkecambahannya. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan skarifikasi, yaitu perendaman dalam air dingin selama 48 jam, pengeratan pangkal biji danpemecahan tempunmg bijinya. Tiap perlakuan diulang tiga kali dan setiap ulangan terdiri dari 50 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara skarifikasi dengan merendam benih dalam air dingin memberikan respon terbaik dengan persen kecambah 70,27 %, kemudian pengeratan pangkal biji 60,13 %, dan pemecahan tempunmg bijinya 30,53 %. Biji tersebut berkecambah dalam waktu tiga bulan. Namun ketiga cara skarifikasi tersebut tidak berpengaruh pada pertumbuhan bibitnya sampai bibit berumur enam bulan.

Kata kunci: Kayu jaha (Terminalia bellerica Roxb.), benih, skarifikasi

 

Kosasih, A. Syaffari

Pertumbuhan tiga jenis meranti (Shorea spp.) dalam rangka konservasi Ex-Situ di Hutan Penelitian Haurbentes, Bogor = The Growth of three species of meranti (Shorea spp.) in supprting Ex-Situ conservation at Haurbentes Research Forest, Bogor / A. Syaffari Kosasih dan Rina Bogidarmanti. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 75-80 , 2005

Kegiatan eksploitasi sumberdaya hutan, terutama untuk jenis-jenis yang bernilai ekonomis sudah berlangsung cukup lama. Jika kegiatan ini tidak disertai dengan usaha-usaha penanaman kembali, maka sudah barang tentu kelestarian jenis tersebut sangat terancam. Shorea spp. (meranti) merupakan salah satu penghasil kayu terbesar dari hutan alam produksi yang saat ini kelestariannya juga sudah mulai dikhawatirkan oleh berbagai kalangan. Oleh karena itu berbagai kegiatan penelitian yang dapat menunjang usaha konservasi ex-situ-nya. harus tenis dilakukan. Sehubungan dengan itu maka dilakukan kegiatan penelitian yaitu penanaman tiga jenis meranti (S. mecistopteryx Ridl., S. leprosula Miq., dan S. selanica Blume) di Hutan Penelitian Haurbentes, Jasinga, Bogor, untuk mengetahui pertumbuhan dan daya adaptasinya pada lahan dengan vegetasi ditumbuhi semak belukar ringan. Pengukuran tinggi dan diameter dilakukan pada waktu tanaman berumur 6 dan 9 tahun. Hasil pengukuran riap diameter maupun tinggi untuk ketiga jenis meranti tersebut (S. mecistopteryx Ridl., S. leprosula Miq., dan S. selanica Blume) masing-masing sebesar 1,26; 1,31; dan 1,28 cm untuk pertumbuhan diameter dan 1,07; 0,94; dan 1,03 m untuk pertumbuhan tinggi per tahun, dengan riap jenis meranti tidak berbeda dengan pertumbuhan meranti di hutan alam Kalimantan Timur. Ini menunjukkan bahwa tapak Hutan Penelitian Haurbentes sangat sesuai untuk pengembangan jenis-jenis meranti, khususnya untuk pengembangan pembibitan guna pembangunan hutan dipterocarpaceae di pulau Jawa.

Kata kunci : Meranti, konservasi ex-situ

 

Kosasih, A Syafari

Cara alami penanganan benih meranti (Shorea spp) sebagai bahan cabutan / A Syafari Kosasih. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 108-112 , 2005

Produk benih meranti dan hutan alam belum dapat disimpan dengan baik, keterbatasan biaya dan teknologi perlu digali untuk memanfaatkan benih alami menjadi bibit. Salah satu kendalanya adalah sifat benih meranti yang rekalsitran, untuk itu metode menyimpan benih dalam bentuk bibit di bawah pohon induknya sebagai alternatif memperoleh bibit yang diperlukan. Metode tersebut menghasilkan bibit alam siap tanam yang jumlahnya bervariasi antara 2000 s/d 20.000 anakan per pohon induk sesuai dengan jenis pohon dan ukuran buah.

Kata kunci:   Meranti, rekasitran, benih, bibit

 

Kuntadi

Aspek teknis dalam strategi pemuliaan bibit lebah madu Apis cerana = Technical aspect for stock improvement strategy of Apis cerana honey bee / Kuntadi. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 281-290 , 2005

Budidaya lebah madu lokal Apis cerana telah dilakukan di Indonesia sejak lama. Saat ini kegiatan perlebahan dibina oleh Departemen Kehutanan dan menjadi salah satu program pokok dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu. Hambatan utama dalam pengembangan budidaya lebah A. cerana adalah belum adanya kegiatan pcmuliaan terhadap jenis ini. Di sampingrata-rata produksi madunya sangat rendah, lebah ini juga memiliki kecenderungan hijrah (kabur) dan pecah koloni yang tinggi. Perilaku tersebut menghambat pengembangan budidaya lebah madu A. cerana di Indonesia. Sebagai tanggapan terhadap perlunya dilakukan pemuliaan lebah madu A. cerana, di dalam tulisan ini dibahas mengenai beberapa aspek teknis yang dibutuhkan untuk program seieksi koloni dan pemuliaan lebah madu ini.

Kata kunci: Apis cerana, seleksi koloni, pemuliaan bibit

 

Kuswanda, Wanda

Potensi habitat dan pendugaan populasi orang utan (Pongo abeliiLesson 1827) di Cagar Alam Dolok Sibual-Buali, Sumatera Utara = Potency of habitat and population estimation of orang utans (Pongo abelii) in Dolok Sibual-buali Nature Reserve, North Sumatra / Wanda Kuswanda dan Sugiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.6 ; Halaman 555-566 , 2005

Orang utan termasuk satwaliar yang terancam punah pada habitat alaminya. Fragmentasi dan kerusakan habitat menjadi penyebab utama menurunnya populasi dan distribusi orangutan liar. Cagar Alam Dolok Sibual-buali adalah salah satu areal konservasi sebagai habitat alami orangutan di Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi habitat dan pendugaan populasi orangutan sebagai bahan acuan dalam pengelolaan cagar alam dan konservasi orangutan Sumatera. Pengamatan dilakukan pada dua areal penelitian, yaitu wilayah barat (Aek Nabara) dan wilayah timur (Sialaman). Analisis vegetasi untuk mengetahui potensi habitat menggunakan metode garis transek yang dibuat sebanyak 10 petak contoh berukuran 20mx20m dengan jarak antar petak contoh 50 meter. Hasil analisis vegetasi tumbuhan yang ditemukan dikelompokkan dalam sumber pakan dan sebagai pohon sarang orangutan. Pendugaan populasi dilakukan secara tidak langsung berdasarkan penemuan sarang. Hasil penelitian di wilayah barat diperoleh sebanyak 53 jenis tumbuhan dan wilayah timur 39 jenis di mana 36 jenis diidentifikasi sebagai sumber pakan orangutan. Jenis tumbuhan yang mendominasi adalah medang nangka (Eleaocarpus obtusus), hau dolok (Eugenia sp.), dan hoteng (Quercus maingayi) tumbuhan. Berdasarkan Indeks Kesamaan Jaccard and Sorensen menunjukkan bahwa kondisi habitat antara kedua wilayah penelitian tidak sama. Nilai dugaan kepadatan populasi berdasarkan penemuan sarang di wilayah barat sebesar 0,791 ekor/km2 dan wilayah timur sebesar 0,271 ekor/km2.

Kata kunci : Orang utan, habitat, populasi, Cagar Alam Dolok Sibual-buali

 

Kuswanda, Wanda

Aktivitas harian orangutan liar (Pongo abelii Lesson 1827) di Cagar Alam Dolok Sibual-Buali, Sumatera Utara = Daily activities of wild orang utans (Pomgo abelii Lesson 1827) in Dolok Sibual-Buali Nature Reserve, North Sumatra / Wanda Kuswanda dan Sugiarti. --Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 567-579 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai aktivitas harian orangutan liar (Pongo abelii Lesson 1827) menurut kelas umur sebagai bahan acuan dalampengelolaan cagar alam dan konservasi orangutan Sumatera. Pengumpulan data aktivitas harian orangutan menggunakan metode focal animal sampling yang dibagi pada tiga periode waktu pengamatan, yaitu pagi hari (06.00-10.00 WIB), siang hari (> 10.00-14.00 WIB), dan sore hari (>14.00-18.00 WIB). Aktivitas yang diamati dibatasi pada aktivitas makan, bergerak, istirahat, sosial, dan membuat sarang. Pada pagi hari alokasi penggunaan waktu aktivitas harian orangutan paling banyak digunakan untuk makan, sebesar 34,31 % dengan frekuensi aktivitas tertinggi pada betina dewasa; siang hari untuk aktivitas sosial, sebesar 42,36 % dengan frekuensi aktivitas tertinggi pada jantan dewasa; dan sore hari untuk aktivitas bergerak, sebesar 34,03 % dengan frekuensi aktivitas tertinggi pada jantan dewasa. Sinaga (1992) menyatakan bahwa aktivitas harian orangutan secara umum digunakan untuk makan, bergerak, dan membuat sarang. Alokasi penggunaan waktu pada aktivitas harian orangutan berhubungan dengan kelas umurnya sedangkan frekuensi aktivitas harian tidak berhubungan dengan kelas umur orangutan.

Kata kunci : Orang utan, aktivitas harian, Cagar Alam Dolok Sibual-buali

 

Kuswanda, Wanda

Potensi dan pemanfaatan sumberdaya hutan di daerah penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Provinsi Jambi = Forest potency and forest resources utilization in buffer zone of Bukit Tiga Puluh National Park, Jambi Province / Wanda Kuswanda dan Sugiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 597-608 ,2005

Daerah Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) memiliki beragam potensi sumberdaya hutan seperti hasil hutan kayu, non kayu, dan satwaliar. Masyarakat memanfaatkan sumberdaya hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat. Pengumpulan data pemanfaatan sumberdaya hutan menggunakan metode wawancara dan penyebaran kuisioner, potensi hasil hutan (kayu dan non kayu) berdasarkan metode garis berpetak dan satwaliar dengan metode transek garis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon penghasil kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat hanya teridentifikasi 21 jenis, non kayu 18 jenis, dan satwaliar 30 jenis. Nilai keanekaragaman jenis (H') sumberdaya hutan sebesar 2,07 yang berarti hutan di daerah penyangga dalam kondisi tidak stabil. Masyarakat memanfaatkan sumberdaya hutan untuk bahan bangunan, kayu bakar, makanan, dan dijual. Sumberdaya hutan yang selalu dimanfaatkan masyarakat adalah meranti (Shorea sp.), medang (Litsea sp.), durian (Durio zibethinus), rotan (Calamus manan), jengkol (Archidendron pauciflorum), jernang (Daemonorops draco), dan rusa (Cervus unicolor).

Kata kunci: Potensi sumberdaya hutan, zona penyangga, Taman Nasional  Bukit Tigapuluh

 

Kuswanda, Wanda

Analisis karakteristik dan pengelolaan populasi banteng (Bos javanicus d'Alton, 1832) di Padang Pengembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon = Analysis on characteristics and management of Banteng's (Bos javanicus d'Alton,1832) population in the Cidaon Grazing Area, Ujung Kulon National Park / Wanda Kuswanda. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 193-204 , 2005

Populasi Banteng (Bos javanicus d'Alton, 1832) di Taman Nasional Ujung Kulon terkonsentrasi pada habitat padang penggembalaan dan hutan di sekitarnya. Penurunan kualitas dan areal padang penggembalaan telah mengurangi daya dukungnya sehingga banyak banteng yang memasuki kawasan hutan. Kondisi ini dapat mengancam populasi badak (Rhinoceros sondaicus) karena akan terjadi persaingan pakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2002 di padang penggembalaan Cidaon. Pengamatan populasi banteng menggunakan metode terkonsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata sebanyak 29 individu banteng memasuki padang penggembalaan setiap hari untuk mencari makan. Struktur umurnya termasuk dalam struktur umur meningkat (progressive population). Perbandingan nilai seks rasio pada kelas umur muda dan dewasa masing-masing adalah 1 : 2,3 dan 1: 3,3 dengan nilai natalitas sebesar 0,6 dan nilai mortalitas pada kelas umur dewasa sebesar 0,8. Rekomendasi untuk pengelolaan populasi banteng di padang penggembalaan Cidaon di antaranya adalah mengendalikan jumlah populasi, memperbaiki dan memelihara padang penggembalaan, dan memantau pertumbuhan populasi banteng.

Kata kunci: Banteng, padang penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon

 

Kuswandi, R

Kajian implementasi kriteria dan indikator pengelolaan hutan alam produksi lestari di Papua = Study on the implememtation of criteria and indicator of sustainable forest managemant in Papua / R Kuswandi, E Sapulete Max J Tokede. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 59-66 , 2005

Pengelolaan Kelestarian Hasil Hutan Alam Produksi menganut prinsip pengelolaan hutan yang mengintegrasikan optimalisasi fungsi produksi dan fungsi ekologis secara berimbang. Sistem silvikultur TPTI yang diterapkan dalam pengelolaan hutan alam produksi kenyataannya belum mampu menjamin tercapainya tujuan tersebut. Untuk itu pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dalam pengelolaan hutan alam produksi yaitu Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL). Untuk pelaksanaannya pemerintah melalui Menteri Kehutanan telah menetapkan kriteria dan indikator PHAPL pada setiap Unit Pengelolaan seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 4795/Kpts-II/ 2002. Karena kebijakan ini masih baru, maka perlu dilakukanpengkajian implementasi dari kriteria dan indikator PHAPL tersebut oleh HPH di lapangan. Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui apakah kriteria dan indikator tersebut dapat diimplementasikan dan telah sesuai dengan kondisi obyektif lapangan. Penelitian dilakukan di dua areal HPH yang ditentukan secara purposif yaitu areal HPH PT. Bade Makmur Orisa, Merauke dan PT. Wapoga Mutiara Timber Unit II, Jayapura. Hasil kajian menunjukkan bahwa kriteria dan indikator PHAPL belum dapat diterapkan sepenuhnya pada kedua areal HPH tersebut karena masih terkendala implementasi beberapa indikator yang terkait dengan persyaratan kepastian kawasan, hak ulayat, potensi minimum, dan pelaksanaan IPKHH-MA pada areal konsesi HPH. Kriteria yang terkait dengan masalah tersebut perlu dikaji dan dipertimbangkan lebih lanjut serta dilakukan penyelesaian dengan kondisi obyektif lapangan.

Kata kunci: Kriteria dan indikator, PHAPL

 

Kwatrina, Rozza Tri

Keragaman jenis tumbuhan dan satwa liar di cagar alam Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara = Diversity of plants and animal at Dolok Tinggi Raja nature reserve Nort Sumatra. - Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 71-82 , 2005

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan dan satwa liar serta gangguan habitat yang dapat mengancam kawasan tersebut. Vegetasi diamati dengan menggunakan metode transek dan digunakan untuk menentukan Indek Nilai Penting, Indek Keragaman Shannon-Weaver, dan Indek Dominansi. Satwaliar diamati dengan menggunakan metode pengamatan langsung dan tak langsung. Hasil menunjukkan bahwa cagar alam didominasi oleh lima suku tumbuh-tumbuhan yaitu Moraceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Dipterocarpaceae, dan Fagaceae yang tergolong dalam 66 jenis dan 37 suku dengan indeks keragaman jenis terletak pada kisaran 1,4-1,5. Sedangkan satwa liar yang diamati tergolong ke dalam enam jenis herbivora, delapan jenis karnivora, dan 13 jenis omnivora dengan indeks keragaman jenis yaitu 1,29. Terdapat satu jenis tumbuhan yang dilindungi di Indonesia, yaitu Amorphophallus titanum dan beberapa jenis satwaliar yang dilindungi. Ancaman yang utama terhadap kawasan cagar alam adalah penebangan pohon dan perambahan lahan untuk berkebun. Solusi penanggulangan masalah yang dapat diusulkan adalah meninjau kembali pembangunan jalan, peningkatan pengawasan dan pengamanan hutan, dan kemungkinan pembangunan taman wisata alam air panas.

Kata kunci: cagar alam, Dolok Tinggi Raja, keragaman jenis, tumbuhan, satwaliar

 

Kwatrina, Rozza Tri

Habitat dan keragaman jenis kupu-kupu di cagar alam dan taman wisata alam Lembah Harau, Sumatera Barat = Habitat and diversity of butterfly at harau valley nature reserve and nature recreation park, West Sumatera / Rozza Tri Kwatrina, Sugiarti, dan Pidin Mudiana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. I I No.2 ; Halaman 175-187 , 2005

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai keragaman jenis kupu-kupu dan kondisi habitatnya di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Lembah Harau, Sumatera Barat. Kupu-kupu ditangkap dengan menggunakan metode sweeping dan jumlah jenis tertangkap digunakan untuk mengetahui keragaman jenisnya. Data vegetasi dikumpulkan dengan menggunakan metode transek dan dianalisis untuk mengetahui habitat dan tumbuhan pakan larva kupu-kupu melalui Indeks Nilai Penting Relatif, Indeks Keragaman Jenis Shannon-Weaver, Indeks Dominasi, Indeks Kesamaan Jaccard dan Sorensen, serta analisis korelasi rank Spierman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis di taman wisata alam lebih banyak (54 jenis) dibandingkan di hutan cagar alam (21 jenis) dengan indeks keragaman jenis masing-masing 1,39 dan 1,23. Satu jenis kupu-kupu yang dilindungi (Trogonoptera brookiana trogon) ditemukan di taman wisata alam. Jumlah tumbuhan pakan larva lebih banyak ditemukan di taman wisata alam yaitu delapan jenis, dibandingkan di hutan cagar alam yaitu dua jenis. Indeks Kesamaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komunitas tumbuhan antara kawasan cagar alam dan taman wisata alam dengan indeks keragaman jenis terletak antara 1,11 -1,57 pada kedua lokasi. Populasi kupu-kupu berkorelasi nyata dan bernilai positif dengan jenis pakan larva di taman wisata alam, tetapi berkorelasi nyata dan bernilai negatif dengan populasi pohon di hutan cagar alam.

Kata kunci: Habitat, kupu-kupu, cagar alam, taman wisata alam, Lembah Harau

 

Kwatrina, Rozza Tri

Pendugaan biomassa dan kandungan karbon pada batang tanaman Eucalyptus grandis di PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, Sumatera Utara = The Biomass and carbon contens prediction of Eucalyptus grandis at PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, North Sumatera / Rozza Tri Kwatrina, Sugiarti, dan Asep Sukmana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 507-517 , 2005

Penelitian untuk menduga biomassa dan kandungan karbon batang Eucalyptus grandis telah dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, Sumatera Utara. Data diambil dari 32 pohon contoh dengan kelompok umur 1-2, 3-4, 5-6, dan 7-8 tahun. Biomassa dan kandungan karbon diduga dengan menggunakan persamaan: B = 0,292Da67P1'20 untuk biomassa dan C = 0,074DW94P109 untuk karbon. Untuk alasan kepraktisan dan keefektifan pengambilan data di lapangan, dapat menggunakan persaman B = 0,090D21341 untuk biomassa dan C = 0,025 D2-413 untuk karbon. Biomassa batang ekaliptus rata-rata umur 2,17; 3,17; 5,25 dan 7 tahun masing-masing adalah 8,01; 14,01; 52,71 dan 48,84 ton/ha sedangkan karbon masing-masing adalah 2,66; 4,67; 17,84 dan 16,84 ton/ha.

Kata kunci: Biomassa, karbon, rosot karbon, Eucalyptus grandis

 

Langi, Liafrida Tangke

Jenis-jenis bambu di daerah Sentani Barat Jayapura = Varieties of bamboo in the region of West Sentani Jayapura / Liafrida Tangke Langi, Jack Wanggai, Herman Remetwa. -Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 121-134 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis bambu di daerah Sentani Barat. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 8-22 April 2002 dan berlokasi di sepanjang (kiri-kanan) jalan Sentani Barat hingga Depapre ( 24 km). Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan teknik survey dan pengambilan contoh dilakukan secara purposif. Ditemukan enam jenis bambu (18,2 %) dari 33 jenis bambu yang terdapat di Papua, antara lain: Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl., Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz., Neololeba atra (Steud.) Widjaja, Schizostachyum lima (Blanco) Merr., Schizostachyum sp., dan Thyrsostachys siamensis Gamble. Jumlah rumpun terbanyak ditemukan pada Bambusa vulgaris. Bentuk-bentuk pemanfaatan yang ditemukan pada masyarakat asli di daerah Sentani Barat terbagi dalam 6 kelompok, yaitu sebagai bahan konstruksi: pagar, kandang, rumpon, pengait atap, dan penyangga kacang panjang; bahan makanan: sayur rebung; alat kesenian: suling; kerajinan: sisir bambu; alat berburu: kalawai, tombak dan perangkap babi hutan, serta sebagai tanaman hias. Sedangkan jenis yang paling sering dimanfaatkan adalah Bambusa vulgaris dan Schizostachyum lima.

Kara kunci: Jenis bambu, Sentani Barat

 

Lekitoo, Krisma

Analisis vegetasi pada hutan koridor cagar alam pegunungan tamrau utara dan suaka margasata jamurrsba-medi sorong = Vegetation analisys on forest corridor of nature mountain range at north tamrau and the game reserve jamursba-medi sorong / Krisma Lekitoo, Julius D Nugroho dan Rocky CH Metalmety. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 303-317 , 2005

Cagar Alam Pegunungan Tamrau Utara dan Suaka Margasatwa Jamursba Medi adalah dua kawasan konservasi yang terdapat di Papua. Kedua kawasan konservasi ini mulai tahun 2000 telah diusulkan untuk digabungkan menjadi satu yaitu kawasan Taman Nasional Pegunungan Tamrau Utara - Pantai Jamursba-Medi. Sebagai kawasan konservasi kedua kawasan itu memiliki beberapa prioritas yang berdasarkan pada kekayaan jenis, keanekaragaman habitat, dan nilai keunikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan berkayu pada hutan dataran rendah koridor Cagar Alam (CA) Pegunungan Tamrau Utara dan Suaka Margasatwa (SM) Jamursba-Medi Sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif denganteknik survey. Pengambilan contoh vegetasi menggunakan petak contoh Witthaker yang telah dimodifikasi. Peletakan petak contoh dilakukan secara purposif dengan memperhatikan faktor kelerengan, ketinggian tempat, dan jarak dari sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hutan di koridor C. A. Pegunungan Tamrau Utara - S.M. Pantai Jamursba-Medi tersusun atas 52 jenis pohon, 23 jenis tiang, 28 jenis pancang, dan 42 jenis anakan. Pada tingkat pohon terdapat 23 famili, tingkat tiang 15 famili, tingkat pancang 18 famili, dan tingkat anakan 30 famili. Pada tingkat permudaan semai vegetasi berkayu (pohon) yang dominan adalah Drypetes longifolia, Memecylon sp., dan Sizygium sp.; pada tingkat permudaan pancang jenis yang dominan adalah Canarium indica, Vatica papuana, dan Lithocarpus rufovillosus; tingkat permudaan tiang jenis yang dominan adalah L. rufovillosus, Reinwardtiodendron sp., dan Urandra brasii; sedangkan pada tingkat pohon jenis yang dominan adalah L. rufovillosus, Intsia palembanica, dan Pometia pinnata.

Kata kunci : Analisis, vegetasi, koridor, cagar alam, suaka margasatwa, Tamrau, Jamursba-Medi

 

Lekitoo, Krisma

Jenis Tumbuhan Pakan Kuskus di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami Kabupaten Nabire = The Types of Vegetation as a Kuskus Food at Moor Island District of Napan Weinami Nabire / Krisma Lekitoo, Permenas Dimomonmau dan Marinus Rumawak. -Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 461-476 , 2005

Salah satu jenis fauna Papua yang tergolong langka dan bernilai ekonomi tinggi adalah kuskus. Secara umum, di Papua terdapat 5 jenis kuskus yang dilindungi oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 247/KPTS/UM/4/1979, yaitu kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), kuskus bertotol biasa (Spilocuscus maculatus), kuskus timur (Phalanger orientalis), kuskus bertotol hitam (Phalanger rufoniger), dan kuskus rambut sutera (Phalanger vestitus). Di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami Kabupaten Nabire terdapat 2 jenis kuskus yang dilindungi yaitu Spilocuscus maculatus dan Phalanger orientalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi sebagai pakan kuskus di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami Kabupaten Nabire. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural dengan informan kunci (key informen) untuk mengetahui jenis-jenis pakan alami yang dikonsumsi oleh kuskus tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis vegetasi sebagai pakan kuskus yang terdiri dari 8 vegetasi tergolong tanaman pertanian dan 26 jenis vegetasi tergolong vegetasi hutan. Daya dukung habitat kuskus di Pulau Moor secara umum masih di bawah daya dukung maksimum.

Kata kunci: Kuskus, vegetasi, pakan, Pulau Moor

 

Lekitoo, Krisma

Struktur Vegetasi Habitat Palem Kol Irian (Licuala tilifera Becc.) Pada Kawasan Hutan Primer Kali Waramui Distrik Masni Kabupaten Manokwari = Vegetation Structure of Irian Cabbage Palm (Licuala tilifera Becc.) Habitat on Region of Primary Forest Waramui River District of Masni Manokwari Regency / Krisma Lekitoo, Hans F.Z. Peday dan Rocky CH. Metalmety. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 581-595 , 2005

Salah satu jenis palem yang terdapat pada kawasan hutan Kali Waramui adalah jenis palem kol irian (Licuala tilifera Becc). Jenis palem ini merupakan salah satu jenis palem endemik Papua dan sangat berpotensi sebagai tanaman hias lokal terutama bagi masyarakat yang berada pada daerah Papua. Namun sampai saat ini informasi mengenai potensi dan habitat jenis palem tersebut pada kawasan hutan Kali Waramui masih sangat kurang, sehingga langkah yang perlu diambil adalah melakukan penelitian pada kawasan hutan tersebut. Penelitia ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan kondisi habitat jenis palem kol irian (Licuala tilifera) pada kawasan hutan primer Kali Waramui di Kampung Meikosa Distrik Masni Kabupaten Manokwari yang terletak pada kawasan hutan dataran rendah Prafi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey. Pengamatan terhadap palem Licuala tilifera dilakukan bersama-sama dengan tumbuhan berkayu (pohon) dengan menggunakan contoh sampling kombinasi plot dan jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat Licuala tilifera terdiri dari 102 jenis vegetasi berkayu dari 30 famili yang membentuk struktur dan komposisi hutan Kali Waramui. Vegetasi tumbuhan berkayu pada tingkat pohon yang dominan di antaranya Pimelliodendron amboinensis, Alpitonia microcarpa, Alstonia scholaris, dan Intsia palembanica. Struktur populasi Licuala tilifera membentuk struktur populasi yang normal. Semai (55,17 %) menempati dasar piramida, tumbuhan muda (27,59 %) menempati bagian tengah, dan puncak piramida ditempati oleh tumbuhan dewasa (17,24 %). Licuala tilifera pada kawasan hutan Kali Waramui tumbuh baik pada ketinggian tempat 255-390 m dpi, kelerangan 0-115 %. Kisaran kelerengan tersebut sangat bervariasi dan memiliki kondisi habitat yang datar, lereng, lembah dan puncak, pada tanah-tanah dengan keadaan solum yang sedang, sedikit berbatu, banyak serasah atau bahan organik dan tanah umumnya kering, lembab, sedikit berair atau berlumpur dengan naungan sedang sampai berat (60-90 %), suhu optimum berkisar antara 27-30 C dan kelembaban optimum berkisar antara 75-92 %. Habitat demikian umumnya terdapat pada lembah-lembah dan lereng-lereng yang tidak curam (kelerengan < 20 %).

Kata kunci :     Struktur, habitat, palem, Licuala telifera, kawasan hutan primer Kali Waramui

 

Lekitoo, Krisma

Deskripsi jenis-jenis bambu dan rotan pada kawasan hutan Kali Waramui Masni Kabupaten Manokwari = Description The kinds of bamboo and rattan on region of forest Waramui River District of Masni Manokwari Regency / Krisma Lekitoo, Hans F.Z. Peday dan Rusdy Anggrianto. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 81-91 , 2005

Masyarakat Papua telah lama memanfaatkan rotan dan bambu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, namun sampai saat ini potensi jenis, pemanfaatan, dan populasi rotan dan bambu belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan masih adanya keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis rotan dan bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan jenis-jenis rotan dan bambu yang tumbuh di kawasan hutan Kali Waramui Kampung Meikosa, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan pengamatan petak contoh berukuran 20 m x 20 m pada daerah yang ditemukan rotan dan bambu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 jenis rotan dan 4 jenis bambu. Jenis-jenis rotan tersebut antara lain Calamus aruensis Becc, Calamus heterachanthus Zipp. Ex. Blume., Calamus longipinna Lauterb & K.Schum., Calamus sp., dan Korthalsia zippeli Burret, sedangkan jenis-jenis bambu adalah Bambusa vulgaris Schrad. Ex Wendl., Gigantochola atter (Hassk.) Kurz., Neololeba atra (Lindl.) Widjaja, dan Schizostachyum brachyclaudum Kurz.

Kata kunci: Bambu, rotan, kali Waramui

 

Mindawati, Nina

Pengaruh macam media terhadap pertumbuhan semai Acacia mangium Willd = The influence of media to growth of Acacia mangium Willd. seedlings / Nina Mindawati, Enny Yusnita Susilo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 53-59 , 2005

Penanaman jenis cepat tumbuh seperti jenis Acacia mangium Willd. telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia. Jenis ini biasanya ditanam pada lahan-lahan yang tidak subur {marginal) sehingga untuk manghasilkan pohon yang berkualitas, perlu penggunaan bibit yang baik. Penyediaan bibit yang berkualitas tergantung jenis dan kualitas media yang dipakai. Salah satu media semai yang baik adalah media dari tanah lapisan atas, namun penggunaan tanah lapisan atas sebagai media yang baik telah dihindari karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan. Oleh karena itu perlu dicari alternatif dengan media yang dapat menggantikan media tanah. Penelitian pengaruh macam media terhadap pertumbuhan semai A. mangium telah dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan sembilan macam media semai, yang bertujuan untuk mengetahui media yang baik bagi pertumbuhan semaiA. mangium. Hasilpenelitianmenunjukkan bahwa campuran kompos serasah A. mangium dengan wan's pith (1:1) ataupun dengan (2:1) dapat digunakan sebagai media semai sebelum ditanam ke lapangan karena dapat meningkatkan pertumbuhan semai A. mangium di persemaian.

Kata kunci: Jenis cepat tumbuh, Acacia mangium Willd., media, semai

 

Mindawati, Nina

Pengaruh lebar jalur bersih terhadap pertumbuhan jenis meranti merah penghasil tengkawang (Shorea stenoptera dan Shorea mecistopteryx) di Hutan Penelitian Haurbentes, Bogor = The Effect of clean spacing line on the growth species producing bornetallow (Shorea stenoptera and Shorea mecistopterix) at Haurbentes Research Forest, Bogor / Nina Mindawati...(et.al). -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 167-174 , 2005

Shorea stenoptera dan Shorea mecistopteryx merupakan jenis yang populer dalam dunia perdagangan sebagai kayu tropis yang mempunyai kualitas baik dan juga dapat menghasilkan buah tengkawang. Penelitian yang dilakukan di Hutan Penelitian Haurbentes bertujuan untuk mencari pengaruh berbagai lebar jalur bersih terhadap pertumbuhan dan daya hidup jenis pohon penghasil tengkawang S. stenoptera dan S. mecistopteryx. Penelitian berdasarkan rancangan Split Plot, dengan dua jenis Shorea sebagai petak utama dan j alur bersih sebagai anak petak. Tiap perlakuan diulang dua kali, dengan lima perlakuan lebar jalur bersih dan jarak tanam 3 m x 4 m. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata persen tumbuh untuk S. stenoptera 68,31 % dan S. mecistopteryx 41,34 %. Tinggi untuk S. stenoptera berkisar 122,68 cm-148,54 cm dan diameter l,38cm-l,77cm,sedangkan.S'. mecistopteryx tinggi sekitar 117,61 cm-157,28cm dan diameter 1,23 cm-1,73 cm. Perlakuan lebarjalur bersih dua meter berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan diameter S. stenoptera dan S. mecistopteryx. Kesuburan tanah di areal penanaman rendah. Total populasi fungi dan bakteri masing-masing adalah 0,81 x 105 CFU/gr tanah dan 10,03 x 107 CFU/gr tanah. Prestasi kerja dari mulai penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan memerlukan 82 HOK/ha.

Kata kunci: Shorea stenoptera, S. mecistopteryx, tengkawang, lebar jalur

 

Mindawati, Nina

Pengaruh tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) terhadap kondisi hara di hutan alam produksi di PT ITCI Kalimantan Timur = The effect of Indonesia selective cutting and planting to nutrient condition in production natural frests of PT ITCI district East Kalimantan / Nina Mindawati, Tati Rostiwati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 283-293 , 2005

Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) merupakan salah satu sistem silvikultur untuk mengatur pemanfaatan hutan alam produksi di Indonesia. Sistem ini belum banyak dikaji pengaruhnya terhadap kesuburan tanah dan ketersediaan hara sebagai salah satu indikator kualitas suatu tempat tumbuh. Penelitian mengenai kondisi hara, baik tanah maupun tegakan di hutan alam akibat kegiatan TPTI, telah dilakukan di PT. ITCI, Kalimantan Timur. Penelitian dengan menggunakan metode observasi lapangan, dilakukan terhadap tegakan sisa pada plot hutan alam bekas TPTI yang berumur tujuh tahun setelah penebangan. Variabel yang diamati adalah biomassa tegakan, kandungan hara pohon yang dibedakan berdasarkan bagian-bagian pohon (daun, cabang, dan batang) dalam kelas diameter 20-30 cm dan kelas diameter > 30 cm serta kandungan hara contoh tanah yang diambil secara komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa tegakan di hutan primer lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan hutan yang telah dilakukan TPTI, namun kandungan hara yang terakumulasi pada tiap bagian pohon berbeda nyata untuk hara N, P, K, dan Mg. Konsentrasi hara pada tiap bagian pohon dan kandungan hara tanah di TPTI yang cenderung lebih tinggi dibandingkan konsentrasi hara pada hutan primer menunjukkan bahwa sistem penebangan TPTI memberikan pengaruh positif terhadap iklim mikro tegakan sehingga siklus nutrisi (pohon dan tanah) masih berlangsung dengan baik.

Kata kunci: Tebang Pilih Tanam Indonesia, hutan primer, biomassa, hara pohon, hara tanah

 

Mindawati, Nina

Pemilihan jenis pohon untuk hutan tanaman campuran dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan di dataran tinggi Cikole, Jawa Barat = Species selection for mix plantation forest for mix plantation forest for land rehabilitation activity at the Cikole hihgland, West Java / Nina Mindawati, A. Syaffari Kosasih, dan Yetti Heryati. - Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 223-230 , 2005

Pembangunan hutan tanaman industri untuk memasok bahan baku industri telah dikembangkan secara luas di Indonesia, namun hasilnya belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Kesuksesan membangun hutan tanaman tergantung banyak faktor, salah satunya adalah pemilihan jenis yang akan dikembangkan untuk penentuan kesesuaian lahannya. Penelitian pemilihan jenis untuk kegiatan penanaman atau rehabilitasi dalam bentuk tanaman campuran di dataran tinggi Cikole, Jawa Barat telah dilakukan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan sebagai perlakuan adalah tujuh jenis pohon {Agathis loranthifolia, Pinus oocarpa, Shorea platyclados, Alnus nepalensis, Toona sureni, Casuarina junghuhniana, dan Khaya anthotheca) yang dicobakan dalam bentuk hutan campuran per blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis Alnus nepalensis dan Casuarina junghuhniana merupakan jenis terpilih yang cocok untuk dataran tinggi. A. nepalensis menghasilkan persen jadi 93,62 % dengan MAI tinggi 3,67 m dan MAI diameter 3,67 cm. Sedangkan C. junghuhniana menghasilkan persen jadi 94,66 %, MAI tinggi 2,26 m dan MAI diameter 2,73 cm.

Kata kunci: Pemilihan jenis, tanaman campuran, dataran tinggi

 

Mindawati, Nina

Perbanyakan bibit jenis-jenis tanaman hutan untuk mendukung gerhan / Nina Mindawati, Atok Subiakto. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 32-39 , 2005

Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (GERHAN) merupakan program nasional yang dilatarbelakangi oleh terjadinya sejumlah bencana alam dan semakin luasnya jumlah lahan kritis di Indonesia. Kegiatan GERHAN berdasarkan keseimbangan ekosistem satuan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unitpengelolaan. Untuk suksesnya program GERHAN di atas, faktor pengadaan dan perbanyakan bibit yang berkualitas merupakan kunci keberhasilan yang perlu diperhatikan di samping teknik lainnya seperti teknik penanaman dan teknik konservasi lahan penanaman. Selain itu pemilihan jenis yang sesuai dengan kondisi lingkungan lahan penanaman perlu diperhatikan, sehingga disarankan penggunaan jenis-jenis andalan setempat untuk dikembangkan dalam program GERHAN pada setiap DAS yang diprioritaskan.

Kata kunci: Rehabilitasi hutan dan lahan, Daerah Aliran Sungai, perbanyakan bibit

 

Mindawati, Nina

Hutan penelitian sebagai wadah kegiatan konservasi alam / Nina Mindawati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 130-134 , 2005

Sejak tahun 1937, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam (P3HKA), yang dahulu bernama Balai Penyelidikan Kehutanan, telah membangun Hutan Penelitian (HP) di 14 lokasl yang berbeda, di mana 10 buah berada di wilayah Jawa Barat dengan berbagai kondisi lingkungan yang berbeda. Keragaman dan dominasi jenis di tiap HP berbeda satu sama lain, yaitu keragaman di HP Cigerendeng 10 jenis; HP Pasir Awi 47 jenis; HP Arcamanik 15 jenis; HP Pasir Hantap 78 jenis; HP Cikole 43 jenis; HP Cikampek 59 jenis; HP Yanlapa 66 jenis; HP Carita 43 jenis; HP Dramaga 130 jenis, dan di HP Haurbentes sebanyak 70 jenis. Saat ini beberapa hutan penelitian di atas telah ditunjuk sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk penelitian dan pengembangan oleh Menteri Kehutanan. Mengingat keragamannya yang sangat tinggi, maka HP dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk konservasi alam khususnya konservasi ex-situ.

Kata kunci:   Hutan penelitian, keragaman, KHDTK, konservasi

 

Murniati

Aplikasi inkolum cendawan vesikular-arbuskular mikoriza dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan pohon alang-alang = Aplication of vesicular-arbuscular mycorrhizal fungi inoculum and its effects on three growth on alang-alang grasslands / Murniati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 319-338 , 2005

Tujuan penelitian adalah untuk menguji peranan dari inokulum cendawan mikoriza vesicular-arbuscular dalam memacu pertumbuhan empat jenis pohon terpilih dan untuk mengevaluasi kemampuan tumbuh keempat jenis pohon tersebut di lahan alang-alang yang terdegradasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 1999 sampai Oktober 2001. Bibit umur lima bulan dari empat jenis pohon, mahoni ((Swietenia macrophylla), sungkai (Peronema canescens), kemiri (Aleurites moluccana), dan sukun (Artocarpus altilis) ditanam dengan jarak 4 x 2 m2 menurut rancangan acak petak terbagi dalam percobaan faktorial. Sebagian bibit diinokulasi dengan cendawan mikoriza (spora dorman dalam Mycofer dari jenis Glomus manihotis, Glomus etunicatum, Gigaspora rosea, dan Acaulospora tuberculata) dan sebagian lagi tidak diinokulasi. Sebagai parameter pertumbuhan pohon, persen hidup, tinggi, dan diameter batang diukur 3, 6, 12, 18, dan 24 bulan sesudah tanam. Jenis dan populasi mikoriza dan akar yang terinfeksi diperoleh melalui analisis contoh tanah dan jaringan akar yang diambil sebelum, 6, dan 24 bulan sesudah penanaman pohon. Di persemaian, inokulasi bibit dengan cendawan mikoriza tidak meningkatkan pertumbuhan bibit. Inokulasi pada fase pesemaian ini nyata meningkatkan persen hidup setelah bibit dipindah ke lapangan. Tetapi rata-rata peningkatannya hanya 6,5 %. Inokulasi terhadap jenis-jenis pohon pionir di pesemaian ini tidak memperlihatkan efek positif pada fase pertumbuhan selanjutnya di lapangan. Performan dari empat j enis pohon t erpilih dan kemampuannya untuk b ersaing dengan alang-alang, menunjukkan bahwa mahoni, sungkai, dan kemiri cocok ditanam di lahan marginal alang-alang. Sedangkan sukun tidak cocok dengan kondisi lahan alang-alang yang tandus.

Kata kunci:  Peranan, memacu,  inokulasi,  pionir,  kemampuan, terdegradasi, spora, performan

 

Murniati

Penyiapan lahan alang-alang untuk usaha tani agroforestry dengan teknologi murah dan ramah lingkungan = Preparation of alang-alang grasslands for agroforestry systems through a cheap and environmental friendly technology / Murniati. - Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 321-331 , 2005

Luas lahan alang-alang terus meningkat sebagai akibat penggunaan lahan yang tidak tepat, sistem pertanian tebas bakar, kebakaran dan/atau pembakaran hutan dan lahan. Dewasa ini luas lahan alang-alang telah mencapai puluhan juta ha, sebagian besar berada di luar kawasan hutan dan berpotensi sebagai areal tujuan transmigrasi. Makalah ini membahas penyiapan lahan alang-alang untuk pengembangan usahatani agroforestry dengan menggunakan teknologi murah dan ramah lingkungan. Metodapressing yaitu merebahkan alang-alang dengan menggunakan benda berat yang diikuti dengan penanaman legum cover crop Pueraria javanica dapat mematikan dan mencegah recovery alang-alang serta memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Metoda ini memberikan pertumbuhan pohon yang tidak berbeda dengan metoda penyemprotan herbisida dan/atau pencangkulan tanah yang cukup mahal dan kurang menguntungkan bagi kehidupan mikro-organisme tanah. Metoda ini memang tidak memberikan hasil tanaman semusim atau tanaman tumpangsari yang maksimal tetapi cukup atau optimal sesuai dengan prinsip masukan rendah dan ramah lingkungan yang dianut. Hasil tanaman jagung menurun dengan meningkatnya kapasitas naungan atau Leaf Area Index (LAI) dari pohon. Hasil optimal diperoleh pada tingkat kapasitas naungan <40 % dan LAI <\. Pengembangan agroforestry di lahan alang-alang ditujukan pada areal yang miring sedangkan areal yang datar (kemiringan <15 %) dapat digunakan untuk pengembangan tanaman pangan secara monokultur.

Kata kunci: Penggilasan, penutup tanah, input rendah, kapasitas naungan, pioneer

 

Murniati

Rehabilitasi hutan dan lahan dengan pendekatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat: beberapa pelajaran strategis / Murniati. - -Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 65-75 , 2005

Makalah ini mendiskusikan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang bertumpu pada kepentingan masyarakat, konsep dan implementasinya di lapangan. Pada akhir tahun 2002 Departemen Kehutanan telah menetapkan Sosial Forestri sebagai program dan kegiatan strategis yang memayungi pengelolaan hutan berbasis masyarakat di mana rehabilitasi hutan dan lahan merupakan kegiatan yang dominan. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dengan pendekatan PHBM adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan dan lahan yang bertumpu pada kepentingan masyarakat, dilaksanakan melalui inisiatif dan kolaborasi berbagai pihak (multi stakeholder,) dengan menempatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama. Kegiatan ini bukan sekedar atau merupakan satu-satunya kegiatan fisik tanam menanam pohon, melainkan suatu kegiatan yang terintegrasi yang juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta mengembangkan dan memperkuat kelembagaan. masyarakat. Dalam implementasinya, beberapa kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang bertumpu pada kepentingan masyarakat telah memberikan dampak positif, baik dari aspek teknis dan lingkungan, sosial budaya dan ekonomi, maupun aspek kelembagaan. Namun demikian masih banyak ditemui kelemahan dan kekurangan, antara lain belum sepenuhnya partisipatif, masih kurang mempertimbangkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat serta belum menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Untuk menjamin keberlanjutan kegiatan dalam jangka panjang, masih banyak yang perlu diperbaiki dan disempurnakan, antara lain perlu adanya kepastian pemanfaatan atau pemilikan hasil rehabilitasi oleh masyarakat.

Kata kunci: Partisipatif, inisiatif, kolaborasi, multi stakeholders, sharing input dan output, keberlanjutan

 

Nazif, M

Penggunaan herbisida monoaminum glifosat untuk pengendalian gulma di bawah tegakan Acacia mangium Willd di Parung Panjang Jawa Barat = The use of monoamonium glifosat hercide to control weeds under Acacia mangium Willd. plantation in Parung Panjang West Java / M Najif, Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No. 1 ; Halaman 37-52 , 2005

Ujicoba telah dilakukan di Parung Panjang, Jawa barat untuk mengetahui efektivitas herbisida monoamonium glifosat dalam mengendalikan gulma di bawah tegakan Acacia mangium Willd. Percobaan dilaksanakan melalui aplikasi herbisida monoamonium glifosat dengan dosis 3,4,5, 6 dan 9 liter per ha serta membandingkannya dengan herbisida glifosat up 4,5 liter per ha, perlakuan manual dan kontrol (tanpa perlakuan). Hasil percobaan menunjukkan bahwa herbisida monoamonium glifosat dapat digunakan sebagai sarana pemeliharaan tanaman kehutanan dari gangguan gulma di bawah tegakanAcaci'a mangium Willd. Selanjutnya herbisida monoamonium glifosat dengan minimum dosis 4,5 liter/ha efektif untuk mengendalikan gulma Imperata cylindrica Beauv., Borreria latifolia DC. dan Mikania micrantha Will. Meskipun demikian herbisida ini tidak efektif untuk mengendalikan pertumbuhan gulma Chromolaena odorata DC. Pada tanaman Acacia mangium Willd. tidak tampak gejala keracunan akibat penggunaan herbisida monoamonium glifosat pada semua tingkat dosis yang dicobakan.

Kata kunci: Tanaman Acacia mangium Willd., pengendalian gulma, herbisida

 

Novriyanti, Eka

Pembuatan Stek Cabang Bambu dengan Penambahan Hormon Tumbuh = Addition of Growth Hormone into Bamboo Branch Cuttings Prapagation / Eka Novriyanti dan Edi Nurrohman. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 249-260 , 2005

Penelitian ini dilakukan untuk melihat keberhasilan hidup stek cabang bambu betung dan bambu hitam yang diberi perlakuan seksi cabang, yaitu: pangkal (P), tengah (T), ujung (U), dan konsentrasi hormon pertumbuhan NAA, yaitu: kontrol tanpa ZPT (DO), 50 ppm (Dl), 100 ppm (D2), dan 150 ppm (D3). Pengamatan pada stek bambu hitam dan bambu betung saat berumur 5 bulan menunjukkan bahwa stek cabang bambu hitam dan bambu betung bertunas masing-masing sebanyak 32,33 % dan 8,75 %. Bagian pangkal cabang kedua jenis bambu menunjukkan nilai tertinggi untuk persen bertunas, jumlah, dan panj ang tunas. Dalam pembuatan stek cabang bambu hitam, penambahan hormon pertumbuhan NAA 50 ppm menunjukkan hasil yangbaik untuk persentase bertunas stek serta rata-rata jumlah dan panjang tunas, yaitu 86 %; 7,99; dan 79,14 cm. Untuk bambu betung, perlakuan pangkal cabang j uga berpengaruh sangat nyata dibanding perlakuan yang lain terhadap persen bertunas, rata-rata jumlah tunas, dan rata-rata panjang tunas. Namun perlakuan konsentrasi NAA tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap ketiga parameter yang diukur.

Kata kunci: Bambu, stek cabang, hormon pertumbuhan

 

Prameswari, Diana

Ketersediaan unsur hara makro pada tegakan Eucalyptus pellita umur 4 dan 6 tahun di PT Wirakarya Sakti Jambi / Diana Prameswari, Nina Mindawati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 101-107 , 2005

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) selalu dihadapkan pada masalah miskinnya unsur hara mineral dalam tanah, karena tanah hutan di Indonesia pada umumnya relatif miskin unsur hara. Dalam rangka memenuhi program HTI maka dipilih jenis-jenis pohon yang cepat tumbuh antara lain Eucalyptus pellita di mana pohon tersebut memerlukan unsur hara yang banyak untuk pertumbuhannya, sehingga unsur hara dari tanah hutan akan semakin terkuras, terutama pada periode ke dua atau pada daur berikutnya seteiah penebangan. Oleh karena itu perlunya informasi tentang ketersediaan unsur hara pada suatu ekosistem hutan khususnya lahan HTI bertegakan E. pellita. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara makro di bawah tegakan E. pellita. Penelitian ini dilakukan di areal HTI PT WKS, Desa Kuala Dasal, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi. Metode penelitian yang dipergunakan adalah menghitung besarnya produktivitas sesaat (kg/ha atau ton/ha) melalui pengukuran biomasa tegakan. Membuat plot contoh secara sistematik dengan pengawalan secara acak berukuran 100x100 m (Ihektar) pada lahan bertegakan E. pellita umur 4 dan 6 tahun dengan 3 kali ulangan (3 buah plot) untuk setiap umur tegakan. Untuk pohon contoh diambil sebanyak 5 pohon dalam setiap umur tegakan dengan 5 buah titik pengamatan secara diagonal. Dilakukan penimbangan pada setiap contoh terdiri dari batang, daun, cabang, dan ranting. Pengukuran kadar air sampel juga dilakukan untuk setiap komponen tegakan dan analisa kandungan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketersediaan hara E. pellita umur 6 tahun akan semakin banyak dengan bertambahnya umur tegakan. Pada umur 4 tahun total hara pohon dan tanah sebesar 5.340 kg /ha sedangkan pada umur 6 tahun sebesar 8.691 kg/ha. Untuk jenis E. pellita umur 4 tahun apabila dilakukan penebangan akan terjadi potensi kehilangan unsur hara makro sebesar 63,38 % dari total unsur pada biomasa tegakan tanpa akar sedangkan pada umur 6 tahun sekitar 56,34 %.

Kata kunci:   Unsur hara makro, umur,   Eucalyptus pellita, Jambi

 

Pratiwi

Laju aliran permukaan, tingkat erosi dan kehilangan unsur hara pada berbagai umur tegakan Acacia mangium Willd. di Riau = Run-off, erosion stage and nutrient losses in several Acacia mangium Willd. stands age in Riau / Pratiwi, Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 251-257 , 2005

Acacia mangium Willd. merupakan salah satu jenis pohon tumbuh cepat yang diprioritaskan dalam pembangunan hutan tanaman dan dikelompokkan dalamkelompok kayu serat/pulp. Sampai dengan saat ini, daur tebang yang digunakan untuk jenis ini adalah 8 tahun, karena daur tebang ini dianggap cukup aman dari segi ekologi. Artinya pada daur tebang ini diperkirakan hutan tanaman sudah menghasilkan kayu yang cukup tinggi dan sudah terjadi keseimbangan unsur hara yang tersedia. Dari segi ekonomis, penurunan daur tebang menjadi jurang dari 8 tahun dianggap lebih menguntungkan. Namun demikian diduga dengan penurunan daur tebang ini akan mengakibatkan dampak negatif terharap lingkungan, seperti meningkatnya aliran permukaan dan erosi serta penurunan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penurunan daur tebang A. mangium terhadap aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara. Pengamatan aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara dilakukan terhadap tegakan A. mangium yang berumur 5, 6, 7, dan 8 tahun pada rotasi I dan II serta di hutan alam. Pada lokasi - lokasi tersebut dibuat plot - plot pemantauan erosi dan aliran permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara di hutan tanaman lebih tinggi dibandingkan di hutan alam. Terdapat kecenderungan bahwa aliran permukaan dan erosi menurun dengan bertambahnya umur tegakan, baik pada rotasi I maupun II. Secara umum kehilangan unsur - unsur hara, baik melalui aliran permukaan maupun erosi di hutan alam jauh lebih rendah dibandingkan kehilangan unsur - unsur hara pada rotasi I dan II. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan kebijakan dalam penurunan daur tebang A. manium.

Kata kunci: Acacia mangium Willd., erosi, aliran permukaan, kehilangan unsur hara, daur ulang

 

Pratiwi

Persebaran beberapa jenis pohon penghasil lateks di Indonesia = Distribution of several latex producing trees in Indonesia / Pratiwi, Titi Kalima. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 333-343 , 2005

Tulisan ini membahas mengenai habitat dan persebaran dari 11 pohon penghasil lateks, kecuali Hevea braziliensis Muell.Arg. Lateks digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu jelutung atau jelutong, perca atau percha, dan bahan karet yang masing-masing disadap dari Dyera spp.; Palaquium spp.; Ganua spp.; Payena spp.; dan Ficus spp. Produksi lateks mengalami penurunan sejak tahun 70-an dan masyarakat telah menghentikan kegiatan penyadapan Ficus sejak budidaya Hevea digalakkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi lateks antara lain: (1) penyadapan lateks bukan merupakan mata pencaharian utama; (2) tebangan hutan lebih menguntungkan; dan (3) lateks yang dikumpulkan dari hutan alam tidak dapal bcrsuing dcngan bahan lalcks sintetis dan lateks yang bcrasal dari llcvca. Dudidaya pohon penghasil lateks diikuti dengan peningkatan teknik penyadapan dan pemrosesan lateks merupakan salah satu alternatif untuk mempromosikan posisi pemasaran lateks alam.

Kata kunci: Persebaran, pohon penghasil lateks

 

Pratiwi

Aspek konservasi tanah dan air dalam rehabilitasi hutan dan lahan / Pratiwi. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 45-52 , 2005

Peningkatan laju deforestasi menyebabkan peningkatan luas lahan terdegradasi. Lahan-lahan tersebut perlu segera direhabilitasi, karena tanpa usaha rehabilitasi lahan daya dukung lingkungan bagi kehidupan akan menurun dan bencana alam seperti longsor, banjir, dan kekeringan akan sering terjadi. Upaya rehabilitasi lahan terdegradasi sebenarnya telah lama dilakukan namun keberhasilannya masih jauh dari yang dlharapkan. Hal ini antara lain disebabkan dalam upaya rehabilitasi, aspek-aspek konservasi tanah dan air masih kurang diperhatikan. Sementara itu lahan-lahan yang perlu direhabilitasi umumnya lahan-lahan miring dengan jenis tanah Podzolik Merah Kuning. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi tanah dan air. Beberapa teknik konservasi tanah dan air dapat diterapkan, seperti metode vegetatif, mekanik, dan kimiawi, serta kombinasi antara metode vegetatif dan mekanik melalui teknik mulsa vertikal. Keterlibatan masyarakat dalam penerapan konservasi tanah dan air sangat diperlukan misalnya melalui Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Rakyat yang disisipkan dalam program Perhutanan Sosial (Social Forestry).

Kata kunci: Konservasi tanah dan air, lahan terdegradasi, rehabilitasi hutan dan lahan

 

Pudjiharta, A

Evapotranspirasi Jenis Pohon Agathis alba, Alnus nepalensis, dan Castanopsis argentea = Evapotranpiration of Agathis alba, Alnus nepalensis, and Castanopsis argentea tree species / A. Pudjiharta. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 417-422 , 2005

Informasi tentang evapotranspirasi (consumptive use) jenis pohon diperlukan untuk klarifikasi dari permasalahan hidrologi hutan, memberikan solusi alternatif danbermanfaat dalampemilihan jenis pohon untuk program-program penanaman terutama untuk pertimbangan hidrologi. Evapotranspirasi adalah faktor yang penting dalam berbagai aktivitas dalam pengembangan sumber air, pengembangan air tanah, konservasi air dan tanah, klasiflkasi iklim, keseimbangan air dan produktivitas biomasa. Evapotranspirasi adalah fenomena alam dalam cuaca dan siklus air/sirkulasi air. Evapotranspirasi oleh tanaman (pohon) dipengaruhi oleh jenis, biomasa, dan umur dari tanaman. Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan air atau evapotranspirasi jenis Alnus nepalensis Don, Agathis alba Foxw, dan Castanopsis argentea A.DC. Terutama Agathis alba Foxw yang ditanam pada berbagai tempat untuk tujuan berbeda antara lain untuk reboisasi, rehabilitasi dari lahan kritis, dan perhutanan sosial; karena itu informasi evapotranspirasi jenis pohon diperlukan untuk pertimbangan hidrologi agar tidak timbul masalah hidrologi di kemudian hari.

Kata kunci: Evapotranspirasi, Agathis alba Foxw, Alnus nepalensis Don, Castanopsis argentea A.DC

 

Rostiwati, Tati

Sifat toleransi anakan ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) terhadap naungan melalui pendekatan karakter morfologi dan anatomi daun = The Study of the character of tolerancy of ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) seedling to shadingthrough leaf morphological and anatomical characteristic approac / Tati Rostiwati dan Abdurani Muin. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 609-617 , 2005

Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi sifat toleransi anakan ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) yang tumbuh pada tiga kondisi cahaya. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan variabel utama adalah karakter morfologi daun (Luas Davm-Leaf Areaf LA; Luas Daun Spesifik-Specific Leaf Area/SLA; Bobot Daun Spesifik-Specific Leaf Weight/SLW) dan karakter anatomi daun (tebal jaringan daun, tebal lapisan palisade, dan jumlah stomata per luasan daun). Sebagai variabel pendukung adalah respon pertumbuhan tinggi anakan ramin umur dua tahun pada tiga kondisi cahaya di plot penelitian plasma nutfah ramin, Universitas Tanjungpura, Provinsi Kalimantan Barat. Hasil penelitian ini adalah anakan G bancanus (jenis semitoleran) mempunyai karakter morfologi yang sama dengan kelompok tumbuhan jenis toleran dan intoleran, yaitu SLA daun tumbuhan yang ternaungi lebihbesar dibandingkan dengan SLA daun tumbuhan pada kondisi agak terbuka dan terbuka, sementara SLW menunjukkan keadaan sebaliknya. Perbedaan yang nyata yang ditunjukkan oleh karakter anatomi hanya variabel jumlah stomata per luasan daun. Jumlah stomata tertinggi terlihat pada anakan yang tumbuh pada kondisi terbuka (282,36), kemudian diikuti oleh anakan pada kondisi agak terbuka (220,26) dan ternaungi (205,31). Perbedaan tersebut sejalan dengan perbedaan respon pertumbuhan tinggi dan diameternya. Tinggi dan diameter anakan pada kondisi terbuka, agak terbuka, dan ternaungi berturut-turut 145,12 cm dan 1,831 cm; 141,13 cm dan 1,536 cm; 98,65 cm dan 1,298 cm.

Kata kunci: Kondisi cahaya, karakter morfologi, karakter anatomi, ramin, toleransi

 

Santoso, Erdi

Prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik untuk mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi / Erdi Santoso, Maman Turjaman dan Tri Wira Yuwati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 1-14 , 2005

Kerusakan hutan dan lahan yang terdegradasi di Indonesia semakin meningkat, dan saat ini telah mencapai 56,98 juta ha. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut Departemen Kehutanan melakukan terobosan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN). GERMAN direncanakan akan selesai dalam waktu lima tahun (2003-2007) dengan luas total tiga juta ha meliputi 68 DAS prioritas. Teknologi rehabilitasi hutan dan lahan yang ramah lingkungan antara lain penerapan teknologi konservasi tanah dan air, perbaikan sifat fisik dan kimia tanah dengan aplikasi pupuk organik, penyediaan bibit berkualitas dalam skala operasional dan aplikasi mikroba tanah seperti ektomikoriza, endomikoriza, bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, bakteri pereduksi sulfur, dan Iain-Iain yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pemacu pertumbuhan dan agen remediasi lahan hutan terdegradasi. Rehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi dan terpolusi memerlukan upaya ekstra agar tanaman dapat tumbuh baik dan memiliki daya tahan yang kuat. Pemberian pupuk anorganik pada area! yang luas merupakan altematif yang tidak efisien, selain mahal juga tidak berwawasan lingkungan. Teknologi pembangunan hutan yang ramah lingkungan merupakan alternatif pemecahan yang efektif dan efisien dalam menangani masalah rehabilitasi lahan marjinal. Dengan demikian teknologi pemanfaatan mikroba tanah untuk penyediaan bibit yang berkualitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan untuk mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi.

Kata kunci:    Potensi, prospek serta aplikasi mikroba simbiotik, rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi

 

Sawitri, Reny

Keragaman benthos sebagai indikator kualitas ekosistem perairan hutan produksi = Benthos diversities as indicator of riverine ecosystem quality of production forest / Reny Sawitri dan M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 519-526 , 2005

Kualitas ekosistem perairan di hutan produksi dipengaruhi oleh teknik penebangan hutan secara konvensional (CNV) dalam hal ini TPTI atau ramah lingkungan (ReducedImpact Logging, RIL). Penelitian pengaruh penebangan terhadap kualitas air bertujuan melihat dari keragaman dan populasi benthos di perairan CNV dan RIL dan menjadikan keragaman benthos sebagai indikator kualitas perairan. Metode penentuan lokasi pengambilan contoh adalah purposive random sampling dan parameter yang diteliti adalah kualitas fisik dan kimia air, keragaman benthos, serta tekstur dasar sungai. Hasil penelitian menunjukkanbahwa keragaman benthos di CNV dipengaruhi oleh BOD dan COD, sedangkan di perairan RIL, dipengaruhi oleh DO. Kandungan hara yang diindikasikan dari jumlah nitrogen dan fosfat di kawasan RIL lebih tinggi daripada di CNV. Dari 15 jenis benthos yang teridentifikasi di lokasi penelitian termasuk ke dalam 9 ordo. Jenis yang penyebarannya luas atau dengan frekuensi keberadaannya tinggi adalah Laccophylus sp. (Coleoptera), Hagenius sp. (Odonata), Palaemonetes sp. (Decapoda), dan Macrobrachium sp. (Decapoda). Keberadaan jenis benthos ini dipengaruhi oleh substrat dasar sungai di ekosistem perairan, di mana CNV lebih banyak mengandung tanah lempung dan Hat dibandingkan dengan di perairan RIL, sehingga populasi benthos lebih tinggi, yaitu 180 individu per m2 dibandingkan dengan 108,75 individu per m2. Keberadaan jenis benthos tersebut menunjukkan kualitas air tergolong dalam kategori bersih.

Kata kunci: Reduced Impact Logging (RIL), Conventional Logging (CNV), kualitas air, benthos, substrat sungai

 

Sawitri, Reny

Evaluasi tingkat kelayakan ekonomi pengusahaan Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran = Evaluation of economic feasibility of Pananjung Pangandaran Recreational Park / Reny sawitri, N.M. Heriyanto, dan R. Garsetiasih. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 181-192 , 2005

Pananjung Pangandaran diusahakan sebagai kawasan wisata alam karena potensi pemandangan dan sumberdaya alamnya bempa vegetasi, satwaliar, pantai, taman laut, gua, dan batu bersejarah. Tujuan studi ini adalah mengevaluasi tingkat kelayakan ekonomi dengan mengetahui total pendapatan, kelayakan finansial pengusahaan Taman Wisata Alam (TWA), dan pengaruhnya terhadap sosial ekonomi masyarakat Desa Pangandaran. Metoda yang digunakan adalah Discounted Cash Flow (DCF) dari Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR) didasarkan pada rekapitulasi data jumlah pengunjung, harga tiket, investasi fasilitas pariwisata, dan biaya pengusahaan. Penelitian ini juga dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat disertai studi literatur monografi penduduk Desa Pananjung. Total pendapatan dari banyaknya pengunjung pada tahun 1993-2002 adalah sebesar Rp 2.154.570.800,-. Dari hasil analisis DCF diketahui bahwa nilai NPV sebesar Rp 1.326.178.100,- dan BCR sebesar 260 %. Selanjutnya, TWA ini berpengaruh terhadap masyarakat Desa Pangandaran dapat dilihat dari pendapatan masyarakat yang umumnya berasal dari sektor jasa (85 %) dan adanya kecenderungan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, serta lingkungan hidup yang lebih baik. Dengan demikian, evaluasi tingkat kelayakan ekonomi pengusahaan Pananjung Pangandaran mengindikasikan layak diusahakan sebagai taman wisata alam.

Kata kunci : Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, analisa DCF, sosial dan ekonomi masyarakat

 

Sidiyasa, Kade

Habitat dan potensi regenerasi pohon pakan bekantan (Nasalis larvatus) di Kuala Samboja Kalimantan Timur = Habitat and potency of proboscis monkey's (Nasalis larvatus) food trees regeneration in Kuala Sumba East Kalimantan / Kade Sidiyasa, Noorhidayah dan Amir Ma'ruf. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 409-416 , 2005

Bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan salah satu satwa endemik di Kalimantan juga dijumpai pada hutan mangrove di Kuala Samboja Kalimantan Timur. Kondisi habitat dan potensi regenerasi pohon pakannya telah diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sonneratia caseolaris sebagai sumber pakan utama bekantan mendominasi tegakan pada semua tingkat pertumbuhan (pohon, pancang, semai). Berdasarkan penyebaran kelas diameter batang, proses regenerasi alami pada tingkat pohon berlangsung dengan sangat baik yang dicirikan oleh kehadiran pohon-pohon yang berdiameter batang kecil (10-20 cm) dengan jumlah terbanyak. Kondisi regenerasi yang baik tidak dijumpai pada tingkat pancang dan semai. Terutama pada tingkat semai bahkan sangat rendah, hanya terdapat sebanyak 39,68 semai/ha. Tidak ada anakan dari jenis pohon lain yang tercatat pada tingkat semai. S. caseolaris diketahui sebagai sumber pakan yang utama bagi bekantan di Kuala Samboja.

Kata kunci: Bekantan, regenerasi, pohon pakan, Sonneratia caseolaris, Kalimantan Timur

 

Siregar, Chairil Anwar

Pemanfaatan arang untuk memperbaiki kesuburan tanah dan pertumbuhan Acacia mangium / Chairil Anwar Siregar. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 15-23 , 2005

Arang merupakan salah satu sumber energi penting di negara-negara berkembang. Arang memiliki fungsi yang efektif untuk fiksasi dan inaktivasi karbon di atmosfer, serta untuk konservasi lingkungan sebagai kondisioner tanah atau perangsang pertumbuhan tanaman. Di lain pihak, pemanfaatan arang di sektor kehutanan, terutama hutan tanaman industri, belum banyak diperkenalkan karena tidak tersedianya informasi. Teknik aplikasi arang dapat dikembangkan untuk memperbaiki kondisi tanah pada pembangunan hutan tanaman. Acacia mangium merupakan salah satu jenis yang paling penting dalam hutan tanaman industri di Indonesia. Meskipun A. mangium sudah mampu beradaptasi lebih baik dengan sebagian besar iklim di Indonesia, tetapi teknik penanaman pada lahan terdegradasi seperti lahan alang-alang belum banyak dilaksanakan. Penelitian rumah kaca ini dirancang untuk mengetahui tingkat efektivitas arang yang ditambahkan pada tanah miskin hara terhadap pertumbuhan Acacia mangium umur 6 bulan. Perlakuan arang yang diberikan adalah 0, 10, 15, dan 20% (v/v). Tanah diambil dari horizon B yang termasuk dalam Orthic Acrisol (Very fine, mixed, semiactive, isohyperthermic, Typic Paleudult). Tanah disaring dengan saringan tanah ukuran 5 mm dan dicampur dengan arang sebelum dimasukkan ke pot. Berat tanah untuk masing-masing pot adalah 4000 g (berat kering udara). Untuk mengetahui pengaruh aplikasi arang terhadap pertumbuhan tanaman dan sifat kimia tanah, maka digunakan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Penambahan arang ke tanah meningkatkan secara nyata tinggi dan diameter semai jika dibandingkan dengan kontrol. Pemberian arang dengan konsentrasi lebih dari 10 % memberikan pengaruh yang sedikit terhadap pertumbuhan. Berat kering akar tidak dipengaruhi oleh aplikasi arang. Secara morfologis, aplikasi arang mampu meningkatkan secara nyata rasio biomasa pucuk terhadap akar tanaman. Sebaliknya, aplikasi arang menurunkan secara nyata rasio berat kering batang dan akar terhadap daun tanaman. Perlakuan arang meningkatkan secara nyata pH tanah, C organik, N total, HCI 25 %-extractable P, HCI 25 % dan Bray-extractable K, basa-basa dapat ditukar (Ca, Mg, Na, dan K), persentase kejenuhan basa, dan menurunkan secara nyata kapasitas tukarkation (CEC, KC11 N-extractable AP* dan H*). Has/7 penelitian inijuga menunjukkan bahwa aplikasi arang pada konsentrasi 10 % mampu memperbaiki ketersediaan hara tanah, dan juga berpengaruh secara nyata  memperbaiki pertumbuhan tanaman.

Kata kunci : Aplikasi arang, pertumbuhan, hara tanah, Acacia mangium2

 

Sofyan, Agus

Pengaruh umur semai dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit tembesu (Fragaea fragrans Roxb) di persemaian / Agus Sofyan, Mamat Rahmat dan Saiful Islam. --Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 113-121 , 2005

Beberapa jenis kayu asli yang bernilai ekonomis umumnya belum banyak diketahui teknik silvikulturnya, baik di lapangan maupun di persemaian. Penelitian ini dilakukan di persemaian Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Palembang, Sumatera Selatan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan dua (2) faktor perlakuan dan tiga (3) ulangan. Pertakuan tersebut adalah umur semai dan takaran pupuk. Jenis yang digunakan adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur semai dan perlakuan pemupukan tidak berpengaruh nyata, namun interaksi keduanya memberikan pengaruh terhadap persen hidup. Umur semai delapan (8) minggu berpengaruh lebih baik dibandingkan umur semai yang lain. Pemberian pupuk NPK 0,25 gram berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter tetapi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi bibit tembesu.

Kata kunci:   Umur semai, pupuk NPK, tembesu (Fagraea fragrans Roxb)

 

Sofyan, Agus

Pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan awal tanaman jati (Tectona grandis Linn) di stasiun penelitian Kemampo Sumatera Selatan / Agus Sofyan ... [et.al] . -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 122-129 , 2005

Jati (Tectona grandis Linn) merupakan jenis kayu mewah yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Walaupun Sumatera Selatan memiliki perbedaan karakter lahan yang berbeda dengan lahan di mana jati berasal, masyarakat Sumatera Selatan sangat antusias untuk menanaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemupukan terhadap pertumbuhan anakan jati yang berumur satu tahun di Stasiun Penelitian Kemampo, Sumatera Selatan. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan pemupukan : NPK 67 g, NPK 133 g, NPK 200 g, PMLT 63 g, PMLT 125 g, PMLT 189 g, dan kontrol. Parameter pertumbuhan (diameter dan tinggi anakan) diukur setelah enam bulan perlakuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter dan pertambahan tinggi anakan.

Kata kunci : Pemupukan, jati, Tectona grandis I

 

Sugiarti

Keanekaragaman jenis hayati pada ekosistem estuaria di suaka margasatwa Langkat Timur Laut = The biodiversity richness of estuarin ecosystem at North-East Lankat wild reserve / Sugiarti ... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 259-268 , 2005

Penelitian ini dilaksanakan untukk mengetahui keanekaragaman jenis hayati pada ekosistem estuari di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Pengumpulan data tumbuhan menggunakan metode jalur berpetak dengan klasifikasi tumbuhan yaitu pohon, belta, dan semai/tumbuhan bawah. Data satwa menggunakan metode garis transek dan metode penangkapan serta data sifat fisik dan biotik perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan estuaria terbagi menjadi 3 (tiga) habitat utama yaitu hutan pantai, hutan mangrove, dan hutan nipah. Keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa tertinggi secara umum ditemukan di hutan mangrove karena merupakan habitat yang lebih stabil dan memiliki produktivitas energy yang lebih tinggi dibandingkan tipe habitat yang lain. Kondisi fisik perairan (penetrasi cahaya, suhu, pH, salinitas, dan debit air) masih tergolong normal dan memungkinkan plankton hidup dengan baik.

Kata kunci: Estuaria, keanekaragaman jenis hayati, Karang Gading, Langkat

 

Suharti, Sri

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM): peluang usaha, peningkatan kesejahteraan dan permasalahan peningkatan produktivitas / Sri Suharti, Murniati. --Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 176-185 , 2005

Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) merupakan salah satu upaya nyata yang dilakukan  pemerintah  dalam  rangka  mengakomodasi  perubahan paradigma dalam pembangunan kehutanan dan sentralistik dan top-down menuju pembangunan yang partisipatif. Melalui program PHBM, masyarakat yang semula kurang mendapat porsi dalam kegiatan pengelolaan hutan diposisikan menjadi mitra utama pemerintah. Tulisan ini mencoba menyajikan uraian tentang pelaksanaan PHBM di berbagai wilayah, partisipasi masyarakat, peluang usaha, permasalahan peningkatan produktivitas serta sampai seberapa jauh pelaksanaan PHBM mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesertanya. Mengamati perkembangan berbagai sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang telah dilaksanakan pada berbagai daerah serta kontribusinya terhadap pendapatan total masyarakat, nampak bahwa aplikasi program Social Forestry (SF) ini ternyata cukup mampu menjadi salah satu kunci keberhasilan-pengelolaan hutan lestari di masa datang. Implementasi kegiatan SF bukan hanya sekedar aplikasi model pengelolaan kawasan yang inklusif dan kolaboratif dengan cara menanam pohon tetapi lebih dari itu merupakan upaya untuk membangun paradigma pengelolaan hutan yang multipihak dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Oleh karena itu diperlukan kesediaan seluruh pihak untuk benar-benar bersedia berbagi peran, hak (termasuk bagi hasil tanaman kayu dan non kayu) dan tanggung jawab dalam mengelola hutan bersama. Pendampingan, pembinaan, serta monitoring dan evaluasi dari setiap tahapan kegiatan secara intensif dan berkesinambungan sangat diperlukan untuk menjamin kelestarian kegiatan yang telah dirintis sebelumnya.

Kata kunci:    Social    Forestry,    sharing,    sosial    ekonomi,    kesejahteraan masyarakat, multipihak

 

Suharti, Sri

Pola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Haurbentes = Collaborative model in management of Haurbentes forest area for special purpose / Sri Suharti, Tati Rostiwati dan Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 527-537 , 2005

Pengelolaan KHDTK merupakan bentuk pengelolaan kawasan hutan yang baru di sektor kehutanan. KHDTK diperuntukkan bagi kegiatan penelitian dan pengembangan, pendidikan, dan pelatihan serta keperluan budaya dan religi. Hutan Penelitian Haurbentes sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No. 289 yang sebelumnya seluas 60 ha dan dibangun pada tahun 1940 sekarang diperluas menjadi 100 ha. Dengan bertambahnya luas hutan yang harus dikelola dan berubahnya status menjadi KHDTK yang implikasinya akan melibatkan lebih banyak parapihak/ stakeholder (masyarakat setempat, Perhutani, pemda setempat, perguruan tinggi, dan instansi penelitian lainnya), maka tujuan pengelolaannyapun akan lebih luas dan beragam dari sebelumnya. Untuk mengantisipasi kondisi yang ada serta dalam rangka meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan, maka perlu dibuat Rencana Kerja Kolaboratif KHDTK Hutan Penelitian Haurbentes. Tujuan penelitian adalah untuk menggali potensi yang ada yang bisa dikolaboratifkan dengan berbagai stakeholder serta tersedianya acuan berupa langkah-langkah yang perlu dilakukan segera di HP Haurbentes dan acuan dasar bagi penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) untuk pengelolaan jangka panjang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metoda survai dan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion/FGD. Pemilihan sampel responden dilakukan sccarapurposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang kerjasama kolaborasi di KHDTK Haurbentes sangat prospektif untuk dilakukan. Hasil wawancara dengan respoden terpilih menunjukkan bahwa berbagai stakeholder yang terkait dengan keberadaan KHDTK Haurbentes sangat berminat untuk mengadakan kerjasama secara intensif dengan Badan Litbang Kehutanan sebagai pengelola KHDTK: Beberapa masalah yang perlu diantisipasi antara lain adalah kejelasan hak dan kewajiban/ tanggung jawab, pembagian keuntungan dan resiko, masalah dana, upaya peningkatan kesadaran dan kemandirian masyarakat setempat serta pengawasan kegiatan yang berlangsung di KHDTK. Untuk merealisasikan agar kerjasama tersebut benar-benar dapat memberikan manfaat yang nyata, beberapa upaya adaptasi/modifikasi dalam pengelolaan KHDTK termasuk struktur organisasinya perlu dilakukan. Selain itu, pertemuan/diskusi secara rutin dan intensif dengan pihak-pihak yang bekerjasama perlu dilakukan agar berbagai masalah yang timbul dari adanya kerjasama tersebut dapat diantisipasi sebelumnya.

Kata kunci: KHDTK Haurbentes, rencana pengelolaan, kolaborasi, stakeholder

 

Suharti, Sri

Integrasi program gerhan dan social forestry melalui pengembangan komoditianeka usaha kehutanan / Sri Suharti. -- Prosiding ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 169-175 , 2005

Kegagalan berbagai program yang telah digulirkan pemerintah di masa lalu telah menyebabkan kondisi hutan dan kehutanan di Indonesia mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Jika hal ini dibiarkan maka tidak lama lagi hutan di Indonesia hanya akan tinggal menjadi kenangan/sejarah masa lalu. Untuk mengatasi hal ini, pada akhir tahun 2002 pemerintah telah menetapkan dua program strategis Departemen Kehutanan yaitu program GERHAN dan Social Forestry. Tujuan pelaksanaan kedua program tersebut adalah merehabilitasi kawasan hutan yang rusak dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Agarpelaksanaan kedua program dapat berjalan secara efisien sehingga memberikan hasil yang optimal, kedua program strategis tersebut dapat diintegrasikan dan dilaksanakan secara simultan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan program GERHAN dan Social Forestry adalah melalui pengembangan komoditi Aneka Usaha Kehutanan yang selain mempunyai fungsi rehabilitasi, juga mampu memberikan kontribusi pendapatan secara layak dan signifikan kepada masyarakat sekitar. Tulisan ini mencoba menguraikan tentang prospek pengintegrasian pola-pola kegiatan dalam program GERHAN dengan bentuk-bentuk kegiatan yang dikembangkan dalam program Social Forestry melalui pengembangan komoditi Aneka Usaha Kehutanan. Berbagai permasalahan yang perlu diantisipasi dalam kegiatan integrasi antara lain adalah masalah ketersediaan modal usaha, sharing hasil, penetapan hak, tanggung jawab dan sanksi serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Oleh karena itu dalam kegiatan integrasi ini diperlukan tidak hanya persiapan dan perencanaan yang matang namun juga persamaan persepsi tentang tujuan kegiatan integrasi GERHAN dan Social Forestry dan semua stakeholder yang terlibat.

Kata kunci:   Program strategis, simultan, prospektif, wanafarma, non kayu, sosial ekonomi masyarakat

 

Suharti, Tati

Nilai ekonomi penurunan daun tebang Acacia mangium Willd di hutan tanaman industri PT. Arara Abadi, Riau = The Economic value of cutting cycle reduction of Acacia mangium Willd. at Arara Abadi industrial plantation forest concession, Riau / Sri Suharti dan Asmanah Widiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 619-630 , 2005

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produktivitas lahan hutan dan sekaligus penyediaan bahan baku industri perkayuan. Jenis tanaman yang umumnya dikembangkan adalah jenis-jenis tumbuh cepat (fast growing species) dan tidak menuntut persyaratan tumbuh yang tinggi seperti Acacia mangium Willd. Untuk lebih mendorong perluasan pembangunan HTI, PT. Arara Abadi mengusulkan agar daur rata-rata tanaman A. mangium diturunkan menjadi 6 tahun dengan kisaran antara 5-8 tahun dari daur semula 8 tahun. Dengan adanya penurunan daur tanam, intensitas serta frekuensi kegiatan secara keseluruhan akan meningkat sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan pendapatan serta kesempatan kerja masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada daur tanam berapa tahun yang dapat memberikan kontribusi pendapatan yang optimum bagi perusahaan dan sekaligus meningkatkan kesempatan kerja pada masyarakat di sekitarnya. Pengkajian terhadap nilai ekonomi penurunan daur A mangium dilaksanakan di HPH PT. Arara Abadi Riau. Data yang digunakan berasal dari hasil observasi lapangan, data sekunder perusahaan, laporan RKPHTI perusahaan serta penetapan beberapa asumsi untuk berbagai peihitungan ekonomi yang diperlukan. Analisis dilakukan dengan mempelajari semua biaya produksi dan penerimaan dari tegakan A. mangium pada berbagai kelas bonita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil analisis finansial dengan menggunakan berbagai kriteria (Net Present Value/NPV dan Benefit/Cost ratio/B/C ratio pada tingkat bunga pasar 16-18% per tahun, serta Internal Rate of Return/IKR), pendapatan optimum diperoleh pada daur tebangan 6 tahun.

Kata kunci: Hutan Tanaman Industri (HTJ), Acacia mangium Willd., analisis finansial, NPV, IRR, B/C ratio

 

Sumarhani

Uji coba padi gogo (Oriza sativa) tahan naungan dengan sistem wanatani dibawah tegakan hutan tanaman jati (Tectona grandis) di BPKH Jambang Kulon Jawa Barat = Trial of shade tolerant on dry field rice in agroforestry system under teak plantantion forest (Tectona grandis) at Jampang Kulon South Sulawesi province / Sumarhani, Harun Alrasyid dan Yeti Heryatti . - Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 227-239 , 2005

Percobaan penanaman padi gogo tahan naungan di bawah tegakan hutan tanaman jati telah dilakukan di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jampang Kulon, Jawa Barat. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan galur/varietas padi gogo tahan naungan yang potensial untuk dikembangkan di bawah tegakan hutan tanaman jati dan memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan jati. Di dalam penelitian ini menggunakan 5 galur/varietas padi gogo di bawah tegakan jati umur 3 tahun, 14 tahun, dan 26 tahun. Penelitian ini menggunakan rancangan Split Plot Design dengan perlakuan 3 klas umur jati sebagi petak utama dan 5 galur/varietas padi gogo sebagai anak petak, yang masing - masing di ulang 4 kali. Ukuran petak utama masing - masing ialah 36 m x 35 m dan anak petak ialah 4 m x 5 m. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa 5 galur/varietas padi gogo yang tahan naungan, tahan kekeringan, toleran terhadap tanah asam, dan berumur genjah dapat tumbuh dengan baik di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun (70,25%) dengan intensitas cahaya 70,28% daripada tegakan jati umur 14 dan 26 tahun. Produksi padi gogo yang tinggi adalah galur Dt-15/II/KK (2.487,50 gr/20m2) dan varietas jatiluhur (2.725,00 gr/20 m2). Kedua galur/varietas padi tersebut mempunyai prospek yang baik sebagai komoditi tanaman pangan dengan sistem wanatani/agroforestry di bawah tegakan hutan tanaman jati. Padi gogo galur Dt-15/I I/KU dan varietas jatiluhur mempunyai peluang dikembangkan melalui penelitian pengembangan dalam skala luar.

Kata kunci: Tectona grandis, padi gogo galur Dt-15/II/KK, dan varietas jatiluhur, wanatani

 

Sumarhani

Pengelolaan hutan bersama masyarakat: sebagai solusi rehabilitasi hutan dan lahan di KPH Ciamis, KPH Sumedang dan KPH Tasikmalaya / Sumarhani. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 91-100 , 2005

Hutan sebagai aset dan modal pembangunan nasional mempunyai peranan penting bagi penyangga kehidupan dan penggerak perekonomian bangsa Indonesia. Namun, kondisi hutan saat ini cenderung mengalami penurunan. Adanya konversi hutan untuk pembangunan bidang lain (industri, pertambangan, dan pemukiman), perambahan hutan, kebakaran hutan, dan penebangan liar menjadi penyebab menurunnya kualitas dan kuantitas hutan. Laju kerusakan hutan pada tiga pulau besaryakni Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi antara tahun 1985-1997 sebesar 1,6-2 juta ha/th. Selama kurun waktu tiga tahun berikutnya (1997-2000), laju kerusakan hutan pada lima pulau besar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian) meningkat mencapai 3,51 juta ha/th. Pengelolaan hutan lestari yang selama ini didengung-dengungkan ternyata mengalami kegagalan. Pengelolaan hutan konvensionai bersifat sentraiistik dan lebih berorientasi pada produk kayu dengan distribusi hasil tidak merata. Selain itu, masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan tidak banyak dilibatkan dalam setiap tahapan pengelolaan hutan, masyarakat hanya sebatas sebagai buruh bukan sebagai mitra sejajar. Untuk itu pengelolaan hutan saat ini perlu melibatkan peran aktif masyarakat sekitar hutan sebagai pelaku utama. Upaya merehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi serta mengakomodir keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan hutan, telah dirintis oleh Perum Perhutani melalui program Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PSHBM) atau biasa disebut PHBM. Makalah ini membahas beberapa model PHBM yang dilaksanakan di RPH Banjarsari (KPH Ciamis), RPH Tanjungkerta (KPH Sumedang), dan RPH Cineam (KPH Tasikmalaya). Prediksi panen sengon di areal tanaman jati, RPH Banjarsari menunjukkan bahwa petani akan memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp 1.767.857,-/th/0,25ha. Di RPH Tanjungkerta pendapatan bersih petani vanili di bawah tegakan pinus adalah Rp 7.275.575,-/th/ha dan di RPH Cineam pendapatan bersih petani dan kapulaga basah adalah Rp 600.000,-.Ah/ha.

Kata kunci:   Partisipatif, jiwa berbagi, berbasis, bagi hasil

 

Suryanto

Analisis komposisi, riap, dan regresi antara diameter dengan riap pada hutan penelitian Sangai, Kalimantan Tengah = Analysis of Composition, Icrement, and Regression Between Diameter and Increment of Sangai Research Forest Station, Central Kalimantan / Suryanto, Ayi Suyana, dan Supianto. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 437-448 , 2005

Sasaran penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, riap, dan hubungan regresi antara riap dan diameter. Data yang dianalisis adalah data dasar stasiun penelitian hutan Sangai, tahun pengukuran 1993-1996 dan 2003. Analisis data menggunakan metode validasi melalui rumus-rumus persamaan distribusi normal. Penelitian ini memberikan hasil bahwa pada 15 petak inti terdapat 63 famili, meliputi 407 jenis dari 8.768 individu pohon. Berdasarkan kelas diameternya, kecenderungan dominasi kelompok jenis non-dipterocarpaceae terdapat pada pohon-pohon bei diameter kecil (10 cm) dan terus menurun hingga diameter medium (60 cm). Berikutnya, kelompok jenis dipterocarpaceae lebih mendominasi pada kelas diameter besar (60 cm ke atas). Kecenderungan dominasi kelompok jenis dipterocarpaceae pada kelas diameter besar ini mengakibatkan dominasinya pada kriteria volume dan basal area. Kelompokjenis dipterocarpaceae memiliki nilai riap rata-rata yang lebih tinggi daripadakelompok jenis non dipterocarpaceae, untuk semua kelas diameter. Pada kelompokjenis dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,33 cm/tahun pada kelas diameter di bawah 20 cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga tertinggi pada kelas diameter 40-50 cm, yaitu 0,56cm/tahun dan kembali menurun hingga nilai riap 0,35cm/ tahun pada kelas diameter di atas 100 cm. Pada kelompokjenis non dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,22 cm/tahun pada kelas diameter di bawah 20 cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga tertinggi pada kelas diameter 30-40 cm, yaitu 0,30 cm/tahun dan kembali menurun hingga nilai riap 0,26 cm/tahun pada kelas diameter di atas 100 cm. Pada analisis regresi berikutnya menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan regresi yang signifikan antara riap dengan diameternya pada empat jenis persamaan yang diuji, yaitu persaman linear, kuadrat, kubik, dan logaritma. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai koefisien determinasi yang kecil, yaitu antara 0,05-0,20, yang berarti hanya sebesar 5-20 % variabel riap dapat dijelaskan oleh variabel diameter melalui persaman tersebut. Berdasarkan hasil tiga analisis pada penelitian ini, dapat ditarik sebuah sintesa bahwa dinamika hutan dibentuk atas kinerja tiga sistem yang kompleks, yaitu sistem hara dan cahaya, sistem riap, dan sistem regenerasi. Tiga sistem dinamika tersebut berjalan dalam mekanisme persaingan yang sempurna, namun atas dasar mekanisme persaingan tersebut tercipta kondisi pendorong dan pembatas'yang membentuk keseimbangan dalam dinamika hutan hujan tersebut.

Kata kunci:   Dipterocarpaceae, non-dipterocarpaceae, kelas diameter, komposisi, riap, regresi, dinamika hutan

 

Susanty, Farida Herry

Dinamika struktur tegakan tinggal umur 2, 5 dan 8 tahun setelah penebangan di Longbangun Kalimantan Timur = Diynamic structure of standing stock on age 2, 5 and 8 years after logging in Longbangun East Kalimantan / Farida Herry Susanty. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 399-407 , 2005

Beberapa aspek penting yang diperlukan dalam manajemen hutan alam produksi dalam mencapai kelestarian meliputi aspek produksi yang berkaitan dengan perencanaan produksi, aspek ekologi yang berkaitan dengan pengaruh sistem penebangan yang diterapkan, dan aspek produktivitas (terutama dalam memperbaiki kualitasdan kuantitas tegakan setelah penebangan). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi sebagai masukan bagi pengaturan hasil hutan alam produksi terutama untuk rotasi kedua. Penelitian ini dilaksanakan pada satu konsesi Unit Manajemen Hutan di areal Long Bagun Kalimantan Timur, yang bertujuan untuk menyediakan data dan informasi tegakan tinggal pada hutan alam produksi setelah penebangan yang meliputi: struktur tegakan tinggal pada umur 2 tahun (Rencana Karya Tahunan/RKT 2001), 5 tahun (RKT 1998/1999), 8 tahun (RKT 1995/ 1996) setelah penebangan, dan hutan primer sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pertumbuhan dipengaruhi oleh sistem penebangan. Karakteristik tegakan (risalah tegakan, tapak, dan input silvikultur/ pemeliharaan) perlu dipertimbangkan untuk membangun model-model dinamika pertumbuhan pada hutan bekas tebangan. Bentuk struktur tegakan tinggal hutan alam bekas tebangan berdasarkan nilai kerapatan (jumlah batang per ha) dalam distribusi kelas diameter umumnya mengikuti bentuk kurva De Lio Court atau kurva J-terbalik, kecuali pada Logged Over Area (LOA) 5 (RKT 1998/1999). Berdasarkan nilai kerapatan tegakan untuk tingkat tiang dan pohon, menunjukkan bahwa pada LOA 8 sebesar 432 batang/ha, LOA 2 sebesar 313 batang/ha, dan LOA 5 sebesar 246 batang/ha. Kondisi serupa juga ditunjukkan pada nilai dominansi (bidang dasar per ha) adalah sebagai berikut: pada LOA 8 (27,97 mVha), LOA 2 (25,10 m2/ha), dan LOA 5 (19,74 mVha). Sementara pada hutan primer (sebagai kontrol) memliki nilai kerapatan sebesar 526 batang/ha dengan nilai bidang dasar sebesar 38,1 mVha. Tegakan tinggal hutan bekas tebangan pada tapak Long Bagun menunjukkan bentuk pertumbuhan yang positif, terutama pada LOA 2 dan LOA 8, sementara pada LOA 5 memliki kuantitas tegakan yang lebih kecil.

Kata kunci : Struktur, tegakan tinggal, kerapatan, bidang dasar, hutan bekas tebangan

 

Susila, I Wayan Widhana

Produktivitas tanaman reboisasi jenis johar di desa Sillu-Fatuleu, Kupang = Productivity of Johar (Cassia siamea) Plantation at Sillu-Fatuleu, Kupang / I Wayan Widhana Susila. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 205-214 , 2005

Jenis johar (Cassia siamea) merupakan salah satu komoditi yang banyak dikembangkan pada program toatanAatiatnan. diTknoi. Ka.'yunya dapat dimanfaatkan untuk baharibaagunandanalatmmaritang,g,a. Informasi tentang hutan tanaman johar di daerah Sillu masih bersifar kualitatif, sedangkan data kuantitatifnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi riap dan model pertumbuhan untuk pengelolaan tegakan johar yang lestari. Penelitian dilaksanakan di Sillu, Fatuleu-Kupang dengan pembuatan dan pengukuran satu seri petak ukur permanen (PUP) ukuran 70 m x 70 m (3 PUP) pada tegakan johar tahun tanam 1994 secara berulang dari tahun 1995 sampai dengan 2001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riap rata-rata tahunan (MAI) sampai umur tegakan tujuh tahun adalah MAI-diameter = 2,62 cm dan MAI-tinggi pohon = 1,52 m; dengan perkembangan MAI (diameter dan tinggi) dari umur satu tahun sampai tujuh tahun relatif cenderung meningkat. Model pertumbuhan yang dapat disusun berdasarkan nilai kesalahan bakunya adalah:

Kata kunci: Johar, pertumbuhan tegakan, riap, model pertumbuhan dan riap

 

Susila, I Wayan Widhana

Produktivitas tegakan hutan tanaman mahoni di Kanar Sumbawa dan Takari Kupang = Productivity of mahagony (Sweitenia macropylla King) plantation at Kanar, Sumbawa and Takari Kupang / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 273-279 , 2005

Jenis mahoni (Sweitenia macrophylla King) merupakan salah satu komoditi yang banyak dikembangkan pada program hutan tanaman industri di Timor. Kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bangunan, perkakas rumah tangga, dan bahan baku kerajinan. Informasi tentang hutan tanaman mahoni di Kanar dan Takari masih bersifat kualitatif, sedangkan data kuantitatifnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi nap dan model pertumbuhan dan hasil untuk pengelolaan tegakan mahoni yang lestari. Penelitian dilaksanakan di kawasan hutan Kanar, Kabupaten Sumbawa dan kawasan hutan Takari, Kabupaten Kupang dengan pembuatan dan pengukuran masing-masing satu sen petak ukur permanen (PUP) ukuran 3mx70mx70m(3 PUP) pada tegakan tahun tanam 1992 (Kanar) dan 1991 (Takari) secara berulang dari tahun 1997 sampai dengan 2001. Hasil penelitian rrienunjukkan bahwa nap rata-rata tahunan (MAI) di Kanar sampai umur tegakan 10 tahun adalah MAI-diameter = 1,84 cm dan MAI-tinggi = 1,32 m; sedangkan di Takari adalah MAI-diameter = 1,28 cm dan MAI-tinggi pohon = 0,96 m. Model pertumbuhan yang dapat disusun berdasarkan nilai kesalahan bakunya adalah:

Takari Kupang: MAI-t (m)= l,0795-0,0249x; MAI-d (cm) = 0,7354+0,0565x; CAI-t(m)= 19,6900-4,7672X+0339X2;CAI- d(cm) = 0,3957 + 0,1583x; T(m) = 3,5880 + 0,0961x; dan D (cm)= 2,8147 + 0,1628x.

Kata kunci: Mahoni, pertumbuhan tegakan, riap, model pertumbuhan dan riap

 

Sutiyono

Budidaya bambu untuk bahan kertas / Sutiyono. - -Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 145-156 , 2005

Bambu dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku industri pulp setelah fraksi bukan serat (lignin dan zat ekstraktif) dihilangkan melalui proses kimia atau semi kimia. Serat bambu tergolong serat panjang sehingga berpotensi sebagai substitusi serat panjang yang dihasilkan dari kayu daun jarum. Mengingat potensi jenis dan potensi kemampuan tumbuh di Indonesia sangat besar maka pengembangan bambu melalui budidaya untuk bahan kertas perlu dipertimbangkan. Tulisan ini akan menyajikan pertimbangan-pertimbangan teknis budidaya bambu untuk kertas seperti memilih jenis bambu, memilih tempat, dan menata struktur batang dalam rumpun. Juga diinformasikan kebijakan dan strategi pengembangan bambu yang telah digariskan oleh Departemen Kehutanan.

Kata kunci: Bambu, serat panjang, kertas, budidaya, memilih jenis, memilih tempat

 

Suwandi

Aplikasi pupuk lambat tersedia terhadap pertumbuhan beberapa jenis stek murbei (Morus spp.) pada media tanah podzolik merah kuning = The Application of slow release fertilizer (SRF) on the growth of several mulberry stump on the red yellow podzolik soil media / Suwandi, Eka Novriyatni, Syasri Jannetta. - Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 631-637 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh perlakuan dosis pupuk lambat tersedia terhadap pertumbuhan berbagai jenis stek murbei serta kualitas bibit. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalampola faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor A= 4 jenis murbei dan faktor B = 4 tingkat pupuk lambat tersedia (SRF); jumlah satuan unit perlakuan adalah 16, setiap perlakuan diulang tiga kali, dan setiap ulangan terdiri atas empat bibit murbei. Parameter yang diamati adalah panjang tunas, diameter tunas, jumlah daun, dan panjang akar stek murbei umur tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan dosis SRF pada berbagai stek murbei memperlihatkan respon yang nyata terhadap parameter panjang tunas, diameter tunas, jumlah daun, dan panjang akar. Perlakuan terbaikpada Moms khumpai denganpanjang tunas rata-rata 36,3 cm, diameter tunas 0,3 cm, dan jumlah daun 36,3/pohon. Sedangkan pada perlakuan berbagai dosis SRF perlakuan 0,9 g/stek berpengaruh nyata pada panjang tunas rata-rata 30,1 cm, diameter tunas 0,3 cm, dan jumlah daun 14,7/pohon. Interaksi kedua perlakuan tersebut berpengaruh nyata pada panjang akar, dan pengaruh terbaik pada M. alba dengan dosis SRF 0,9 g/stek yaitu 57,0 cm.

Kata kunci : Moms sp., SRF, pupuk lambat larut, pakan

 

Takandjandji, Mariana

Pertumbuhan dan perkembangan tanduk rusa timor di penangkaran Oilsonbai = The growth and development of antler rusa Timor's at Oilsonbai captive breeding / Mariana Takandjandji, Cecep Handoko. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 311-320 , 2005

Tanduk hanya dimiliki oleh rusa jantan dan tanduk tersebut bercabang-cabang. Tanduk terbentuk oleh jaringan tulang dan diawali dengan pertumbuhan pedikel (bungkul) yang terdapat di kepala. Selama masa pertumbuhannya, tanduk rusa terbungkus oleh kulit yang dinamakan velvet. Velvet kemudian mengelupas dan mengering, hingga muncullah tanduk yang sempurna (keras). Tanduk rusa sangat digemari orang untuk dijadikan bahan ramuan obat dan cindera mata (souvenir). Selain itu, tandukjuga berfungsi sebagai senjata dan merupakan lambang keperkasaan dari seekor rusa jantan terutama dalam suatu musim perkawinan. Namun tandukjuga merupakan suatu ancaman bagi sesama rusa dan manusia. Untuk mempertahankan fungsi sekaligus menghindari terjadi cedera yangberkepanjangan, perlu diketahui pertumbuhan dan perkembangan serta pengguguran tanduk rusa. Suatu pengamatan telah dilakukan di lokasi penangkaran rusa timor di Oilsonbai, Kecamatan Maulafa, Kotamadya Kupang, Provinsi NTT dengan maksud untuk mengetahui dan mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan serta pelepasan tanduk. Pengamatan dilakukan pada lima ekor rusa jantan yang berumur enam bulan ke atas. Hasil yang diperoleh adalah musim pertumbuhan dan pengguguran tanduk rusa timor di penangkaran Oilsonbai, NTT rata-rata terjadi pada bulan Maret. Sedangkan umur r ata-rata untuk mencapai kesempumaan tanduk adalah 16,28 bulan di mana umur pertumbuhan tanduk yang pertama (velvet) yakni 10,48 bulan, masa pengelupasan velvet berlangsung selama 3,6 bulan, dan masa untuk kesempumaan tanduk menjadi keras berlangsung selama 2,4 bulan. Jadi, dari mulai pertumbuhan awal sampai mencapai tanduk yang sempuma, membutuhkan waktu 5,10 bulan.

Kata kunci: Tanduk, pedikel, velvet, breeding, testosteron

 

Triantoro, R.G.N

Faktor yang berpengaruh pada kualitas habitat peneluran penyu di suaka margasatwa Jamursba Medi = Factor affecting turtle nesting habitat in Jamursba Medi wildlife reserve forest / R.G.N. Triantoro dan Kuswandi. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 93-102 , 2005

Suaka Margasatwa Jamursba Medi merupakan salah satu dari 6 (enam) tempat peneluran penyu besar di dunia. Jenis penyu yang dominan bertelur di pantai Jamursba Medi adalah jenis Penyu Belimbing/ Leatherback Turtle (Dermochelys coriacea Vandelli, 1761/ Saat ini habitat penelurannya mulai mengalami penurunan kualitas akibat faktor-faktor alam. Selain itu predator turut memberikan dampak terjadinya penurunan jumlah sarang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan faktor-faktor yang berpotensial mengakibatkan penurunan kualitas habitat peneluran dan dampak terhadap jumlah sarang penyu yang dihasilkan. Metode yang dipakai adalah deskriptif dengan teknik observasi. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mengganggu dalam proses peneluran penyu dan mengakibatkan penurunan kualitas habitat peneluran, meliputi batang kayu, invasi rumput (Ipomoea pescaprae dan Scirpus glosus), bebatuan (batu kali dan kerikil), abrasi (sungai dan laut), sampah alami lainnya (ganggang laut, dedaunan, ranting, cabang, dan akar kayu). Babi dan anjing piaraan merupakan predator utama terhadap keberadaan telur dan tukik yang merupakan akibat tidak langsung dari adanya aktifitas manusia. Dampak terhadap jumlah sarang adalah persentase jumlah sarang terendah terdapat pada pantai bagian ketiga (kotor), diikuti pantai bagian kedua (dibersihkan), dan pantai bagian pertama (bersih alami).

Kata kunci : Penyu, penurunan kualitas, habitat peneluran, faktor alami, jumlah saranga

 

Wahyono, Rachmat

Pengembangan jenis cepat tumbuh sebagai pemenuhan kayu pertukangan / Rachmat Wahyono. - -Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 40-44 , 2005

Kerusakan hutan alam di Indonesia akhir-akhir ini meningkat cukup tajam. Upaya memperbaiki kerusakan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Jika kebutuhan kayu tetap mengandalkan dari hutan alam, maka hal ini sangat tidak mungkin. Dengan demikian sistem pengelolaan hutan alam lestari sangat diperlukan. Salah satu upaya penyelamatan hutan alam adalah dengan mengembangkan hutan tanaman untuk memenuhi kebutuhan industri kayu tersebut, baik untuk kayu serat/pu\p maupun kayu pertukangan. Namun demikian, sampai dengan saat ini pengembangan hutan tanaman agaknya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kayu serat. Sementara pengembangan hutan tanaman kayu pertukangan masih relatif jauh dari yang diharapkan. Dalam upaya pengembangan hutan tanaman kayu pertukangan, jenis-jenis cepat tumbuh seyogyanya diprioritaskan agar kebutuhan kayu pertukangan tersebut dapat terpenuhi.

Kata kunci: Hutan tanaman, kayu pertukangan, cepat tumbuh

 

Wibowo, Ari

Kerawanan kawasan hutan dan dampak kebakaran terhadap tegakan Pinus mercusii Jungh et de Vrise di KPH Sumedang Jawa Barat = Fire danger and impact of fire to Pinus mercusii Jungh et de Vrise plantantion in forest district of Sumedang West Java / Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 1-9 , 2005

Penelitian yang dilakukan di BKPH Sumedang, Jawa Barat ini bertujuan untuk mengetahui kerawanan kebakaran kawasan hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. et de Vriese dan dampak kebakaran terhadap tegakan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese. Penelitian dilaksanakan melalui observasi terhadap penyebab kebakaran, potensi bahan bakar di bawah tegakan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, kondisi topografi, kondisi cuaca dan perilaku kebakaran yang terjadi serta dampaknya terhadap tegakan pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi disebabkan oleh kecerobohan pengunjung yang menggunakan api. Intensitas kebakaran yang terjadi cukup tinggi yang disebabkan oleh tebalnya serasah pinus dan tumbuhan bawah yang padat, topografi yang terjal dan bahan bakar yang kering karena musim kemarau. Tinggi lidah api mencapai 3,4 meter sedangkan tinggi bagian pohon yang hangus mencapai 5,7 meter. Kebakaran mengakibatkan kerusakan tajuk sebesar 62 persen, dan karena batang yang luka untuk penyadapan, sebagian pohon terluka parah setelah terbakar dan akan dilakukan regenerasi dengan tanaman bam.

Kata kunci: Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, hutan tanaman, kebakaran hutan, bahaya kebakaran

 

Wibowo, Ari

Kerawanan hutan gambut terhadap kebakaran dan upaya pengendalian di kelompok hutan sungai Kumpeh Jambi = Fire hazard on peat forest and its control effort in sungai Kumpeh forest group Jambi / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 35-45 , 2005

Penelitian yang dilakukan di hutan rawa gambut pada kelompok hutan Sungai Kumpeh di Jambi, Sumatera, bertujuan untuk mengetahui kerawanan lahan gambut terhadap kebakaran hutan dan untuk mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian kebakaran hutan yang diterapkan oleh HPH yang mengelola wilayah tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengamatan untuk mengetahui kondisi hutan, kerawanannya   terhadap   kebakaran,   cara   pengelolaan   dan   efektivitas   sistem pengendalian kebakaran yang diterapkan. Hasil penelitian di kelompok hutan Sungai Kumpeh menunjukkan bahwa kawasan hutan umumnya adalah lahan gambut yang hampir selalu digenangi air dan memiliki tipe iklim A atau selalu basah. Meskipun demikian pada musim kemarau panjang khususnya bersamaan dengan kejadian gejala alam El-Nino, kerawanan hutan gambut terhadap kebakaran sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh tebalnya lapisan gambut yang lebih dari satu meter. Dari hasil observasi terlihat bahwa pengelola hutan telah berusaha untuk melindungi kawasannya dari kebakaran meskipun fasilitas dan peralatan masih minim untuk melindungi seluruh kawasan. Dengan pertimbangan luasnya kawasan dan resiko tinggi lahan gambut untuk terbakar pada musim kemarau, sistem pengendalian kebakaran hams lebih ditingkatkan, dengan membentuk 5 regu pemadam kebakaran, peningkatan keterampilan personil melalui latihan dan peningkatan sistem deteksi.

Kata kunci: Kebakaran hutan, pengendalian kebakaran, kebakaran gambut

 

Wibowo, Ari

Kerawanan hutan tanaman campuran terhadap kebakaran dan pemilihan jenis tanaman sekat bakar di bagian kesatuan pemangkuan hutan Bayah, Banten = Selection of fire break species in Bayah sub forest district Banten / Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 205-213 , 2005

Hutan tanaman sejenis (monokultur) telah diketahui mempunyai tingkat kerawanan terhadap kebakaran yang tinggi, karena kondisinya yang homogen dan terbuka, serta ketersediaan bahan bakar yang melimpah. Hutan tanaman dengan jenis campuran diduga memiliki tingkat kerawanan yang lebih rendah terhadap kebakaran. Penelitian di BKPH Baha, KPH Banten ini bertujuan untuk mengetahui kerawanan hutan campuran terhadap kebakaran, serta mendapatkan jenis tanaman yang baik untuk dikembangkan sebagai tanaman sekat bakar, guna melindungi hutan tanaman dari kerusakan akibat kebakaran hutan. Metode penelitian adalah dengan membandingkan kerawanan hutan tanaman yang baik untuk dikembangkan sebagai penelitian adalah dengan membandingkan kerawanan hutan tanaman campuran terhadap hutan alam dan hutan tanaman monokultur. Sedangkan untuk jenis tanaman sekat bakar dipilih yang terbaik berdasarkan kriteria fisik tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerawanan terhadap kebakaran tidak banyak berbeda dengan hutan tanaman jenis monokultur. Berdasarkan pengamatan dan analisa jenis lamtoro (Leucaena glauca Bth.) mempunyai potensi yang terbaik sebagai tanaman sekat bakar.

Kata kunci: Hutan Campuran, jenis tanaman sekat bakar, kerawanan kebakaran

 

Wibowo, Ari

Penyakit Acacia mangium Wild. di KPH Majalengka dan KPH Banten = Diseases of Acacia mangium Wild. in forest districts of Majalengka and Banten / Ari Wibowo, Illa Anggraeni. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 339-347 , 2005

Permasalahan yang timbul dengan penanaman hutan tanaman industri (HTI) secara monokultur dan dengan skala 1 uas adalah sa ngat rentan t erhadap serangan h ama penyakit. A cacia mangium Wild, adalah jenis yang banyak dikembangkan sebagai tanaman HTI, dan jenis ini telah diketahui diserang oleh berbagai jenis penyakit. Untuk mengetahui berbagai jenis penyakit yang menyerang tanaman Acacia mangium Wild, dilakukan penelitian di KPH Majalengka dan Banten. Pengamatan di lapangan dengan membuat petak-petak pengamatan berukuran 20 x 20 meter persegi pada berbagai umur tanaman Acacia mangium Wild, dan menghitung potensi serangan serta intensitas serangan penyakit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman Acacia mangium Wild, berumur 1 -2 tahun di KPH Majalengka terserang penyakit bercak daun dengan intensitas ringan, sedangkan di KPH Banten, tanaman Acacia mangium Wild, berumur 1-2 tahun terserang penyakit karat daun dan embun jelaga dengan intensitas ringan. Di kedua lokasi pada umumnya tanaman Acacia mangium Wild, yang berumur lebih dari tiga tahun bebas dari penyakit, kecuali ditemukannya penyakit embun jelaga dengan intensitas ringan di KPH Banten.

Kata kunci: Acacia mangium Wild., penyakit hutan tanaman, hutan tanaman

 

Wibowo, Ari

Kebakaran pada lahan gambut dan upaya pengendaliannya = Fire in peat land and its control efforts / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 67-74 , 2005

Hutan rawa gambut adalah salah satu tipe hutan yang ada di Indonesia yang dicirikan dengan lapisan organik tebal dan curah hujan yang tinggi atau beriklim basah. Bahaya utama yang mengancam kelestarian hutan gambut adalah kebakaran yang dapat membunuh semua vegetasi yang ada di atasnya, sulit untuk dikendalikan dan menghasilkan banyak asap. Upaya untuk mencegah kebakaran pada lahan gambut harus dilakukan dengan menghentikan kegiatan konversi hutan gambut, menghentikan pembangunan saluran air pada rawa gambut dan mengawasi praktek tradisional sonor yang membakar lahan gambut untuk pertanian. Selain itu, sejalan dengan peraturan yang ada, setiap unit pengelolaan hutan yang ada di lahan gambut harus melengkapi dengan peralatan yang cukup dan petugas yang terlatih untuk mengendalikan kebakaran hutan.

Kata kunci: Hutan gambut, pengendalian kebakaran

 

Wibowo, Ari

Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap polusi udara = Impact of forest and land fires to air pollution / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 153-160 , 2005

Di Indonesia, kejadian kebakaran hutan dan lahan setiap tahun cenderung semakin meningkat dengan akibat yang sangat merugikan. Salah satu akibat buruk adalah terjadinya polusi udara. Polusi yang berupa asap sangat mengganggu aktivitas karena mempengaruhi jarak pandang dan mengganggu kesehatan masyarakat karena asap akibat kebakaran juga mengandung zat-zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan akan menghasilkan karbon yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga berpengaruh buruk terhadap lingkungan dengan meningkatnya pemanasan global karena efek rumah kaca. Dengan kejadian kebakaran yang berulang, termasuk terjadinya kebakaran dengan besaran sangat besar pada tahun 1997/1998, maka Pemerintah Indonesia harus lebih bersungguh-sungguh dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dalam hubungannya dengan polusi udara, kegiatan monitoring tingkat pencemaran udara akibat kebakaran hutan perlu diintensifkan, terutama untuk memberikan informasi pada tahap dini, sehingga akibat merugikan terhadap masyarakat dapat dikurangi.

Kata kunci:   Kebakaran hutan dan lahan, polusi udara, polusi asap

 

Wibowo, Ari

Masalah penebangan liar dan upaya penanggulangannya = The issue of illegal logging and its control effort / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 291-298 , 2005

Di Indonesia masalah penebangan liar merupakan ancaman terhadap kelestarian hutan. Secara ekonomi, kerugian akibat penebangan liar mencapai Rp 30,42 trilyun per tahun yangberupa 50,7 jutam3kayu ilegal. Maraknya penebangan liar disebabkan oleh lemahnya supremasi hukum, kesenjangan antara produksi lestari hutan dengan kebutuhan bahan baku, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah, masalah pengelolaan hutan, serta sebab-sebab lainnya. Penebangan liar dapat dilakukan secara sederhana oleh masyarakat untuk bertahan hidup sampai dengan penebangan liar dalam skala besar yang terorganisir dan melibatkan banyak pihak. Akibat dari penebangan liar ini tidak hanya merugikan secara ekonomis tetapi jugamengakibatkan kerusakan lingkungan dan kerugian lain yaituterjadinyadegradasi moral dan sosial budaya masyarakat. Upaya penanggulangan penebangan liar memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah, penegakan supremasi hukum, perbaikan sistem pengelolaan hutan, dan kegiatan lain yang perlu diprogramkan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Kata kunci: Penebangan liar, kelestarian hutan

 

Widyati, Enny

Rehabilitasi lahan bekas tambang batubara melalui perbaikan kualitas tanah dengan metode bioremediasi / Enny Widyati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 157-168 , 2005

Sampai saat ini keberhasilan rehabilitasi lahan bekas tambang batubara masih sangat rendah. Hal ini karena kondisi tanah pada lahan tersebut sangat berat untuk mendukung pertumbuhan tanaman akibat adanya fenomena acid mine drainage (AMD) yang mengakibatkan tanah menjadi sangat masam. Rendahnya pH ini akan menghambat ketersediaan unsur-unsur hara makro akan tetapi bahkan meningkatkan kelarutan logam-logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi AMD sehingga dapat meningkatkan pH dan KTK serta menurunkan konsentrasi sulfat dan beberapa logam berat dengan memanfaatkan limbah industri kertas (sludge,). Penelitian juga dilakukan untuk mengetahui siapa yang berperan dalam proses bioremediasi, mikrob atau komponen sludge lain, dengan cara sterilisasi sludge dibandingkan dengan sludge yang tidak steril. Sterilisasi tanah dilakukan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara mikrob pengkoloni sludge dengan mikrob tempatan indigenous,) tanah. Perlakuan yang diberikan adalah sludge (bioremediasi), fopsoil sebagai standard operational procedure (SOP) dan tanah tanpa. perlakuan (kontrol). Percobaan dilakukan dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan. Untuk memelihara kondisi anaerob maka dilakukan penjenuhan air setiap tiga hari sekali. Variabel yang diukur meliputi pH, KTK, kandungan N, P, K serta Fe, Mn, Zn, dan Cu yang diamati setiap 5 hart selama 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakukan bioremediasi memberikan hasil yang paling balk pada peningkatan ketersediaan unsur hara makro (N 3150 %, P 4533 %, K 400 %) diikuti oleh SOP meningkatkan N (800 %) dan P (200 %) dibanding kontrol (100 %). Bioremediasi juga dapat menurunkan konsentrasi kandungan Fe, Mn, Zn dan Cu dengan efisiensi berturut-turut sebesar 98,86 %; 48,05 %; 78,39 % dan 62,51 %. Sedangkan SOP menurunkan konsentrasi Fe (69,02 %), Zn (34,80 %) dan Cu (31,09 %). Namun demikian perlakuan SOP dapat meningkatkan konsentrasi Mn (194,49 %) dibanding kontrol 100 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sludge sebagai bahan organik dapat memodifikasi Hngkungan yang memungkinkan berlangsungnya proses bioremediasi dan mikrob yang mengkoloni di dalamnya memacu proses tersebut menjadi lebih cepat. Selama poses bioremediasi tidak terdapat interaksi antara mikrob dalam sludge dengan mikrob tempatan tanah. Dari hasil penelitian ini direkomendasikan bahwa sludge industri kertas mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai agen pembenah tanah pada persiapan lahan dalam kegiatan revegetasi lahan bekas tambang batubara.

Kata kunci:   Rehabilitasi, lahan bekas tambang batubara, bioremediasi

 

Widyati, Enny

Pemanfaatan sludge industri kertas sebagai agen pembenah tanah pada lahan bekas tambang batubara = The use of pulp and paper sludge as a soil amendment agent on ex-coal mining site / Enny Widyati...(et.al). -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 127-134 , 2005

Menumbuhkan bibit pada lahan bekas tambang batubara dihadapkan pada berbagai macam kendala akibat kondisi lahan bekas tambang ini yang kurang mendukung karena pH lahan rendah, kandungan bahan organik tanah (BOT) rendah, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kurang seimbangnya unsur hara dan terjadi akumulasi logam berat. Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan limbah industri kertas {sludge) sebagai agen pembenah tanah untuk memperbaiki kondisi lahan bekas tambang batubara sehingga menjadi lebih optimum untuk menumbuhkan bibit. Diambil 2 kg tanah dari lahan bekas tambang batubara dan ditempatkan pada polibag kemudian dicampur secara homogen dengan masing-masing 0 %, 25 %, dan 50 % dengan sludge dan sludge yang sudah dikomposkan (v/v). Diberi penyiraman setiap 3 hari sekali untuk menirukan kondisi di lapangan. Setelah 2 minggu dilakukan pengukuran pH, KTK, S total, dan kandungan sulfat tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sludge 50 % memberikan hasil yang paling baik, meningkatkan pH 103 %, KTK 167 %, S total dan SO4 diturunkan sebanyak 87,05 % dibanding kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa sludge industri kertas mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai agen pembenah tanah.

Kata kunci: Sludge industri kertas, agen pembenah tanah, lahan bekas tambang batubara

 

Widiarti, Asmanah

Kajian kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar taman hutan rawa Wan Abdul Rachman Lampung = Study on socio economic and cultural condition of local peple surrounding grand forest park Wan Abdul Rachman Lampung / Asmanah Widiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 215-226 , 2005

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kondisi sosial-ekonomi dan budaya masyarakat setempat dalam rangka mencari pendekatan yang paling sesuai untuk pengelolaan kawasan pelestarian. Kajian dilakukan dengan metoda studi deskriptif dan mengambil kasus di empat lokasi desa-desa sekitar Tahura WAR yaitu Sungai Langka, Beringin, Gebang, dan Kateguhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterbatasan kemampuan masyarakat yaitu hanya di bidang usahatani menjadi masyarakat sangat tergantung pada sumberdaya hutan. Sudah sejak lampau masyarakat membuka kawasan hutan untuk kegiatan pertanian. Rata - rata kepemilikan lahan dalam kawasan bervariasi antara 0,5 - 4 ha per keluarga. Umumnya kepemilikan lahan bersifat warisan atau turun temurun sehingga cenderung mengakibatkan kawasan hutan yang digarap semakin bertambah. Dari lahan dalam kawasan rata - rata memberikan penghasilan sebesar 4.708.637,- atau sumbangannya terhadap pendapatan total keluarga sebesar 62,24%. Ketergantungan masyarakat pada sumberdaya hutan tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, status sosial, jarak dari kawasan, status kekayaan, memiliki pekerjaan atau tidak, tetapi lebih ditujukan oleh sistem pewarisan lahan. Pembangunan Social Forestry di areal Tahura telah disambut baik oleh masyarakat setempat karena program ini memberikan keleluasaan dan kepastian hukum pada masyarakat untuk memasuki kawasan dan mengambil hasilnya. Namun demikian pelaksanaan Social Forestry masih membutuhkan pembinaan, pengawasan, dan evaluasi yang terus menerus dari instansi terkait setempat berkaitan dengan sistem budidaya pertanian dan jenis komoditi yang dikembangkan dalam kawasan pelestarian sehingga tidak mengganggu fungsi utamanya. Di samping itu diperlukan aturan - aturan untuk membangun model Social Forestry yang paling sesuai untuk kawasan pelestarian. Upaya mempertahankan kawasan pelestarian dan sekaligus memberikan kesejahteraan masyarakat setempat tidak bisa dipisahkan disebabkan adanya interaksi yang sangat kuat antara masyarakat setempat dengan sumberdaya hutan di sekitarnya.

Kata kunci: Sosial-ekonomi, masyarakat setempat, pelestarian, hutan

 

Widyati, Enny

Keanekaragaman hayati dan efektivitas cendawan mikoriza arbuskula (CMA) pada lahan bekas tambang batubara = Biodiversity and effectiveness of arbuscular mycorrchizal fungi (AMF) isolated from Ex-Coal mining area / Enny Widyati... [et.al]. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 295-302 , 2005

Peranan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam membantu pertumbuhan dan ketahanan tanaman yang tumbuh pada lahan marginal seperti lahan bekas tambang sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keanekaragaman hayati CMA pada lahan bekas tambang batubara dan isolat yang paling efektif untuk membantu pertumbuhan bibit/4cac/a crassicarpa. Isolasi dan pemurnian dilakukan menurut metode Brundett et al. dengan inang Prueariajavanica. Sedangkan uji kompatibilitas dilakukan dengan bibit A. crassicarpa umur 7 hari. Pertumbuhan diamati melalui pengukuran tinggi setiap bulan selama 3 bulan. Setelah 3 bulan bibit dipanen dan diamati nodulasi, biomassa, dan persentase akar terinfeksi CMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan bekas tambang batubara di Sumatera Selatan ditemukan Scutelospora sp., Acaulospora sp., dan Glomus sp. Jenis yang mendominasi adalah Glomus sp. Isolat 13 (Glomus sp.) yang diisolasi dari A. auriculiformis merupakan isolat yang paling kompatibel dan efektif, terbukti isolat ini dapat meningkatkan tinggi, biomas, dan nodulasi tanamanA. crassicarpa berturut-turut sebesar 38 %, 201 %, dan 108 %. Isolat ini juga mempunyai produktivitas yang tinggi (256 spora/10 g inokulum) dan infektif (84 %). Dengan demikian, isolat ini dapat dikembangkan sebagai inokulum A. crassicarpa pada kegiatan revegetasi lahan bekas tambang batubara.

Kata kunci: Keanekaragaman hayati, cendawan mikoriza arbuskula, isolat efektif dan kompatibel, lahan bekas tambang batubara

 

Yafid, Bugris

Permudaan Pinus merkusii Jungh et de Vriese Galur Kerinci, Potensi dan Komposisi Tegakan di Kawasan Hutan Bukit Tapan, Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi = Seedlings of Pinus merkusii et de Vriese Kerinci Strain, Potential and Stand Composition in the Bukit Tapan Forest, Kerinci Seblat National Park, Jambi / Bugris Yafid dan Yusuf S. Jafarsidik. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 145-152 , 2005

Pengamatan anakan Pinus merkusii Jungh et de Vriese galur Kerinci, potensi dan komposisi tegakan hutan di Bukit Tapan (Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi) dilaksanakan dalam rangka konservasi in-situ. Pengamatan dimaksudkan untuk memverifikasi keadaan anakan Pinus merkusii galur Kerinci tersebut Metoda jalur digunakan dalam inventarisasi di bawah tegakan non-Pinus. Plot 20 m x 20 m diletakkan sepanjang jalurlOO m (5 plot) dan pohon > 10 cm dbh dicatat spesies dan diametemya setinggi dada. Belta dicatat jurnlah dan jenisnyadalamkwadrat 5mx5mdalamtiap plot. Semaidengandiameter<1 cm dicatat dalam kwadrat 1 m x 1 m dalam tiap plot. Jalur yang lain sepanjang 40 m (2 kwadrat 20 x 20 untuk pohon atau = 800 m2) dibuat di bawah tegakan campuran. Spesimen yang tidak teridentifikasi dikoleksi dan diidentifikasi di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam(P3HKA), Bogor. Tidak didapati semai Pinus di bawah kedua tegakan non-Pinus dan tegakan campuran Pinus. Sejumlah individu danjenis belta didapati di dalam plot di bawah kedua tegakan. Delapanbelasjenis dan 59 individu pohon diperoleh di bawah tegakan non-Pinus (setara dengan 295 ha1) dengan bidang dasar seluas 15,7 m2 ha1. Jenis Beilschmiedia dictyoneura merupakan jenis yang dominan. Delapanjenis pohon dengan 36 individu diperoleh di bawah tegakan campuran, setara dengan 450 ha1 dan l7,7 ha1. Lapaiacea subintegerrima adalah jenis yang dominan di bawah tegakan campuran. Luas bidang dasar di bawah kedua tegakan tersebut jauh di bawah luas bidang dasar rata-rata hutan tropis sebesar 36 m2 ha1. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan mengenai pertumbuhan semai Pinus galur Kerinci dalam kaitannya dengan konservasi in-situ maupun ex-situ. Staf Taman Nasional Kerinci Seblat Resor Bukit Tapan menginformasikan bahwa penanaman semai Pinus galur Kerinci tersebut selalu gagal bahkan mati total.

Kata kunci: Pinus merkusii Jungh et de Vriese galur Kerinci, semai, inventarisasi, Taman Nasional Kerinci Seblat

 

Yuliana, Sarah

Respon pemberian pakan pada tukik kura-kura perut merah (Emydura subglobosa subglobosa Kreff, 1876) di penangkaran BPPKPM Manokwari = Feeding responses of red-bellied short necked turtle (Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876) at Juvenile Stage in BPPKPM captivity Manokwari / Sarah Yuliana...(et.al). - Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 215-221 , 2005

Terbatasnya informasi biologis akan pengelolaan fauna Papua menyebabkan seluruh penelitian di bidang ekologi menjadi penting. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aspek morfologi dan pemberian pakan pada tukik Kura-kura Perut Merah (Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876) di penangkaran BPPKPM, Manokwari.

Metode pengamatan digunakan untuk mengumpulkan data pada respon tukik pada pemberian pakan, terutama aspek pertambahan ukuran tubuh dan perilaku konsumsi. Hasil yang diperoleh menunjukkan ciri tukik tampak pada warna kemerahan, agak oranye, atau kuning kecoklatan di bagian plastron. Terdapat garis lebar berwarna kuning yang dimulai dari bagian hidung, melewati mata, sampai dengan bagian belakang mata sampai bagian tympanum, bagian atas mulut kekuningan dan bagian bawahnya merah,. Bentuk kerapas agak lonjong, agak melebar pada bagian bawah. Variasi tampak pada individu berukuran lebih kecil yang berwarna lebih cemerlang. Panjang maksimum kerapas 76,00-113,30 mm, lebar maksimum 61,25-93,00 mm, panjang maksimum plastron 58,60-98,35 mm, dan berat badan 48,50-139,50 gram. Secara umum perlakuan pakan yang berbeda-beda menyebabkan peningkatan ukuran tubuh, misalnya pada panjang dan lebar kerapas, panjang plastron, serta bobot tubuh. Pertumbuhan tubuh kura-kura dalam penelitian ini berjalan sangat lambat. Pengamatan terhadap perilaku konsumsi tukik menunjukkan adanya pemilihan pakan, mulai dari jenis yang sudah dikenali kemudian beralih ke jenis pakan hijauan selanjutnya ke pakan hewani.

Kata kunci: Respon, pakan, tukik, Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876, penangkaran

 

Yuliana, Sarah

Pendugaan Asosiasi Interspesifik dan Pengelompokan Tipe Habitat Beberapa Jenis Amfibi (Ordo: Anura Rafinesque, 1815) = The Estimation of Interspesific Association and Habitat Grouping on Some Amphibian (Ordo:Anuran Rafinesque, 1815 / Sarah Yuliana, Mirza Dikari Kusrini, dan Herman Remetwa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 189-196 , 2005

Interaksi antar spesies mahluk hidup merupakan dasar awal dari banyak karakteristik dalam komunitas ekologi. Interaksi ini akan mempengaruhi distribusi dan keadaan internal suatu populasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan asosiasi interspesifik dan pengelompokan terhadap tipe habitat pada sejumlah jenis amfibi (ordo anura). Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Visual Encounter Survey, sedangkan pendugaan asosiasi dan pengelompokan habitat satwa dilakukan dengan perhitungan Indeks Asosiasi Interspesifik dan Indeks Similaritas Jaccard. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya 13 jenis anura yang tersebar di hampir seluruh lokasi pengamatan. Pendugaan terhadap asosiasi interspesifik menghasilkan 4 kelompok jenis yang berasosiasi berdasarkan kesamaan lokasi perjumpaan, yaitu kelompok yang dijumpai di areal persawahan, kelompok yang sering mengunjungi daerah pemukiman manusia dan daerah yang terganggu walau dapat hidup di hutan primer dan sekunder, kelompok jenis yang sering ditemukan di daerah hutan primer atau sekunder, atau pada badan-badan air alami seperti sungai, kolam atau rawa alarni, serta kelompok jenis yang hanya dijumpai di daerah tegakan (dalam kasus ini arboretum Fahutan). Pendugaan terhadap pengelompokan tipe habitat yang diamati menunjukkan 3 kelompok tipe habitat berdasarkan kesamaan sifat fisik, yaitu kelompok lokasi berupa badan air permanen, kelompok badan air temporal, dan kelompok lokasi tanpa badan air. Dari hasil penelitian, jenis Rhacoporus reindwardtii Schlegel (1840) menunjukkan lokasi dengan tingkat gangguan manusia yang rendah, jenis Bufo melanostictus Schneider (1799) menjadi indikator adanya pengaruh manusia yang kuat dalam habitat.

Kata kunci : Asosiasi interspesifik, pengelompokan habitat, anura