HASIL   HUTAN

 

Abdurachman

Kekuatan dan kekakuan balok lamina dari dua jenis kayu kurang dikenal = The strength and stiffiness of glugam made from two lesser known wood species / Abdurachman, Nurwati Hadjib. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 87-100 , 2005

Balok lamina 3 dan 5 lapis berukuran 5 cm x 5 cm x 120 cm yang dibuat dari kayu kaya (Khaya Senegalensis (Desr.) A. Juss) dan kayu bipa (Pterygota alata (Roxb.)R. Br.) dengan perekat phenol formadehida (PF) telah diuji sifat fisik dan mekaniknya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor. Susunan pelaminasinya didasarkan pada nilai kekakuan (E) dari bilah penyusunnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan balok lamina 3 lapis lebih besar dari balok lamina 5 lapis maupun kayu solidnya. Rata - rata MOE, MOR, dan MCS kayu kaya lebih besar dari kayu bipa. Balok lamina 3 lapis maupun 5 lapis setara dengan kelas kuat III-II.

Kata Kunci: Kekuatan, kekakuan, balok lamina

 

Abdurrohim, Sasa

Pengawetan kayu tusam segar secara sel penuh dengan bahan pengawet CCB / Sasa Abdurrohim. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 67-70 , 2005

Kayu tusam (Pinus merkusi Jungh. et de Vr.) termasuk kayu yang mudah diawetkan dengan proses rendaman dan sel penuh pada kadar air kering udara sampai titik jenuh serat. Namun demikian belum diketahui apakah kayu tusam dapat diawetkan dalam keadaan segar. Pada penelitian ini diamati kwalitas pengawetan kayu tusam dalam keadaan segar dengan menggunakan bahan pengawet CCB.

Sebanyak 22 contoh uji berukuran panjang antara 39,5 - 41,6 cm, lebar 4,9 -22,2 cm dan tebal 2,4 cm dalam keadaan segar diawetkan dua tahap secara sel penuh dengan konsetrasi larutan CCB 3%. Pada kedua tahap pengawetan digunakan vakum awal dan akhir sebesar 55 cm Hg, serta tekanan hidrolik sebesar 9 atm. Lama vakum awal masing-masing selama 30 menit dan satu jam, vakum akhir selama 15 menit, serta lama tekanan masing-masing satu dan dua jam. Selang pengawetan tahap pertama dan kedua selama satu minggu. Hasil uji coba menunjukkan bahwa kayu tusam segar tidak dapat diawetkan secara sel penuh. Setelah diangin-anginkan selama satu sampai dua minggu dapat dengan mudah diawetkan.

Kata kunci: Kayu tusam segar, sel penuh, baluin pengawet CCB

 

Abdurrohim, Sasa

Pengawetan lima jenis kayu secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF / Sasa Abdurrohim. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 71-78 , 2005

Bagan pengawetan kayu secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF (tembaga-khrom-fluor) diperlukan dalam pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung. Penelitian ini bertujuan menentukan prosedur pengawetan kayu secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF pada lima jenis kayu dalam berbagai ukuran yang lazim digunakan untuk perumahan dan gedung.

Lima jenis kayu dalam keadaan kering udara berukuran balok, kaso dan reng diawetkan secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF. Lama rendaman dingin yang digunakan 3, 5 dan 7 hari dengan konsentrasi larutan 5% dan 10%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan lima jenis kayu yang diteliti hanya satu jenis yang dapat diawetkan memakai bagan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu kayu meranti ukuran balok untuk pemakaian di baiuah atop tanpa kontak dengan tanah. Bagan yang dianjurkan adalah rendaman dingin selama 7 hari dengan konsentrasi larutan CCF 10%.

Kata kunci: Pengawetan, bagan pengawet, CCF

 

Barly

Pengawetan bagian lunak batang kelapa basah dengan cara tekanan = Preservation of green soft tissue coconut wood by pressure methode / Barly, Didik A Sudika. - Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 111-117 , 2005

Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian metode tekanan pada dua varietas kelapa dengan bahan pengawet senyawa boron. Bagian lunak batang kelapa basah pada dolok kesatu, kedua dan ketiga berukuran 5 cm x 10 cm x 100 cm diawetkan dengan cara proses sel penuh (FCP) dan metode tekan berganti (APM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua varietas dan letak dolok dalam batang kelapa dapat diawetkan dengan cara tekanan. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa retensi bahan pengawet yang dihasilkan dengan cara tekan berganti (APM) (11,06 kg/m3 dan 9,44 kg/m3), berbeda dengan yang dihasilkan dengan cara sel penuh (FCP) (4,45 kg/m3 dan 4,74 kg/m3) pada kelapa dalam dan kelapa hibrida.

Kata kunci: Pengawetan, bagian lunak dan basah batang kelapa, metode tekanan

 

Basri, Efrida

Mutu kayu mangium dalam beberapa metode pengeringan = The quality of mangium wood in several drying methods / Efrida Basri. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 119-129 , 2005

Masalah serius yang dikeluhkan dalam pengolahan kayu mangium (Acacia mangium Willd,) adalah proses pengeringannya karena berlangsung lama dengan kecenderungan cacat bentuk dan pecah dalam. Penelitian telah dilakukan dengan metode pengeringan shed; metode kombinasi tenaga surya dan enerji biomas (panas dari tungku kayu bakar); metode shed dan kombinasi tenaga surya dan enerji biomas; kombinasi perlakuan pendinginan dan metode pengeringan shed. Hasilnya menunjukkan pengeringan dengan metode shed dan kombinasi tenaga surya dan enerji biomas dapat mempercepat pengeringan tanpa menimbulkan pecah dan cacat bentuk pada kayu mangium namun dari segi warna agak pucat. Mutu warna kayu mangium yang terbaik diperoleh dari hasil pengeringan shed dengan contoh uji dari ruang pendingin, walaupun dari segi waktu lebih panjang dibandingkan dengan ketiga metode yang lain.

Kata kunci: Mangium, mutu, metode pengeringan, pendinginan

 

Basri, Efrida

Bagan pengeringan dasar 16 jenis kayu Indonesia = Basic drying schedules of 16 Indonesian wood species / Efrida Basri. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 23-33 , 2005

Indonesia memiliki sekitar 4000 jenis kayu yang baru sebagian kecil diketahui bagan pengeringannya, sehingga sering terjadi kesalahan dalam penerapan bagan. Selama ini bagan yang digunakan untuk mengeringkan suatu jenis kayu mengadopsi bagan kayu yang sudah dikenal dengan hanya berdasarkan kesamaan warna, kekerasan serta tekstur dari kayu tersebut. Akibatnya kayu yang dikeringkan mengalami penurunan mutu. Tujuan dari penelitian adalah metietapkan bagan pengeringan dasar 16 jenis kayu Indonesia berdasarkan sifat pengeringannya. Penetapan bagan pengeringan diawali dengan pengujian sifat pengeringan kayu menggunakan metode suhu tinggi (suhu 100 C).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis kayu memiliki respon yang berbeda terhadap perlakuan suhu tinggi. Pada 16 jenis kayu yang diteliti, kayu sengon buto memiliki sifat paling tahan terhadap pemakaian suhu tinggi dan kayu sampora serta kumia batu sangat peka terhadap suhu tinggi. Berdasarkan sifat pengeringan tersebut, maka 16 jenis kayu yang diteliti telah diklasifikasikan ke dalam 10 kelompok bagan pengeringan.

Kata kunci: Kayu, suhu tinggi, sifat pengeringan, bagan pengeringan, mutu

 

Endom, Wesman

Suatu tinjauan peningkatan efisiensi pemanenan hutan tanaman / Wesman Endom, Dulsalam dan Marolop Sinaga. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 43-55 , 2005

Pemanenan kayu sebagai salah satu mata rantai pengelolaan Pembangunan Hutan Tanaman penting mengingat besar pengaruhnya bagi kelancaran iisalta kegiatan lainnya. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang tepat agar senantiasa tnatnpu menghasilkan peningkatan produksi kayu (kuantitas dan kualitas) seraya menjamin efisiensi kerja dan sarana kerja, sehingga benar-benar dapat dicapai suatu produktivitas kerja yang layak dan bermanfaat untnk semua pihak.

Di sebagian besar pengusaha hutan tanaman, peralatan berat yang digunakan umumnya berupa peninggalan pengusahan hutan alam yang ukurannya besar-besar dan sudah tua, sehingga tidak efisien dan produktif. Untuk menggantikannya dengan peralatan yang baru, disamping harganya mahal juga dikhawatirkan bila alat mengalami kerusakan maka pemeliharaannya akan terkendala akibat tekanan politik internasional yang mengakibatkan terjadinya embargo peralatan suku cadang. Oleh karena itu, sudah pada saatnya perlu dibangun dan dikembangkan rekayasa peralatan di dalam negeri sebagai antisipasinya.

Alat bantu pemanenan liasil rekayasa dari prototipe P3THH20 secara ekonomi disimpulkan layak untuk dioperasikan untuk pengeluaran kayu di hutan yang mempunyai dimensi relatif kecil dengan produktwitasnya mencapai 3,5 m3/jam dan biaya operasi sebesar Rp 16.515/m3. Nilai Pay Back Period 1,39 tahun, NPV Rp 75.175.045, IRR 66,4% dan benefit cost ratio 2,51.

Untuk prototip Exp-2000 yang semula hanya di rancang untuk alat pemuat kayu, saat ini sudah dapat dioperasikan untuk pengumpulan kayu dengan cara disarad di atas tanah, menggantung dengan sistem endless pada ketinggian yang terbatas (1,5m) dan menggantung dengan cara skyline. Secara bertahap sejak tahun 2000 alat tersebut terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Prestasi kerja untuk pengumpulan kayu antara 5-6 m3hm/jam dan biaya operasi sebesar Rp 45.850 dan biaya per m3 sebesar Rp 8.327,27.

Kata kunci: Pemanenan, efisiensi, pengelolaan, hutan lestari, alat Exp-2000

 

Endom, Wesman

Pengumpulan kayu hasil hutan rakyat dengan cara pikul pada lapangan curam / Wesman Endom, Yayan Sugilar dan Agus Hidayat.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 145-151 , 2005

Pengumpulan kayu hasil hutan rakyat dengan cara dipikul pada kemiringan lapangan 45 mengikuti jalan setapak sejauh kurang lebih 150 meter, secara praktis tidak efisien. Cara ini di camping lambat, ongkosnya juga mahal. Prestasi kerjanya saat kondisi tenaga masih segar bugar sebesar 0,49 m3.hm/jam/2 orang dan semakin siang kemampuan daya angkut dan pikulnya menurun daengan prestasi hanya tinggal separuh 0,25 m3.hm/jam/2 orang. Karena itu untuk tujuan bisnis, penggunaan cara mekanis seperti pemakaian sistem kabel layang, unimos, tractor atau Exp-2000 merupakan pilihan teknis yang perlu dipertimbangkan.

Kata kunci: Pengupulan, cara pikul, mahal, tidak efisien

 

Endom, Wesman

Rekayasa alat pemotong dahan pohon tinggi dengan alat rantai tipe-I / Wesman Endom.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 113-127 , 2005

Arboretum merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang keberadaannya diperlukan untuk mengetahui sifat pertumbuhan, hama penyakit, kualitas, dan dampaknya bagi lingkungan. Namun, keberadaannya perlu ditinjau ulang terutama bila tegakannya tumbuh berdekatan dengan bangunan sehingga perlu dipotong.

Rantai tipe-1 merupakan alat bantu sederhana yang dirancang untuk memotong dahan - dahan pohon tinggi tanpa harus memanjat. Hasil uji coba menunjukkan banyak sekali faktor yang mempengaruhi kinerja alat seperti tinggi dahan, kemiringan lapangan, panjang lereng, bentuk tajuk, dan kelebatan daun. Dari analisis data diketahui bahwa nilai kumulatif tingkat kesulitan diperoleh rata-rata sebesar 36,7 yang artinya penggunaa alat masih menghadapi kendala cukup sulit karena berbagai hal tadi, sehingga perlu penyempurnaan lebih lanjut.

Kata kunci: Pemotong dahan, pohon tinggi, tanpa panjat

 

Endom, Wesman

Proporsi volume kayukowakan jenis pohon tusam / Wesman Endom, Yayan Sugilar dan Hasan Basri.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 97-103 , 2005

Pohon tusam adalah salah satu jenis penghasil getah. Penyadapan getah dilakukan dengan cara membuat kowakan. Hasil studi memperlihatkan jumlah kowakan tiap pohon bervariasi 2 - 7 buah dengan panjang 0,30 - 3,5 meter. Hasil sadapan getah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun di sisi lain mengurangi volume kayu pertukangan sebesar 7,2 - 38,1% dengan rata - rata 18,1%. Agar tujuan pengusahaan hutan tusam sebagai penghasil kayu pertukangan tidak terlalu banyak terkurangi maka diperlukan teknik penyadapan getah yang lain agar getah yang dihasilkan tidak banyak berkurang.

Kata kunci: Kayu kowakan, penyadapan getah, pengurangan kayu, kayu produk

 

Edriana, E

Teknologi penyulingan minyak atsiri untuk industri kecil dan menengah / E. Edriana, Totok K Waluyo dan E. Suwardi S. - - Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 153-157 , 2005

Minyak atsiri (minyak eteris, essential oil) adalah minyak yang mudah menguap yang dihasilkan dari sumber hayati dengan cara isolasi terutama dengan cara penyulingan.

Digunakan sebagai bahan pewangi, penyedap dan obat-obatan. Beberapa contoh minyak atsiri antara lain : minyak cendana, minyak kayu putih, minyak nilam, minyak sereh, minyak gaharu, minyak daun cengkeh, minyak atsiri terutama diproduksi dengan cara penyulingan.

Penyulingan merupakan pemisahan komponen kimia yang mudah menguap berdasarkan perbedaan tekanan uap masing-masing kimia yang terkandung di dalam bahan. Penyulingan dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu 1) penyulingan dengan air, 2) peyulingan dengan air dan uap, 3) penyulingan langsung dengan uap.

Untuk pengembangan minyak atsiri sebagai salah satu komoditi HHBK, sebaiknya dipromosikan cara penyulingan yang sederhana, mudah dilaksanakan oleh masyarakat, industri kecil dan menengah, serta berharga murah. Tulisan ini menyajikan beberapa cara penyulingan yang umum digunakan untuk memisahkan minyak atsiri.

Kata kunci:   Minyak atsiri, hasil hutan bukan kayu (HHBK), teknik penyulingan, industri kecil dan menengah

 

Gusmailina

Pengolahan nilam hasil tumpang sari di Tasikmalaya = Processing of nilam cultivated under intercroping system in Tasikmalaya / Gusmailina ... [et.al]. - Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 1-14 , 2005

Peran hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam menunjang kegiatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan perlu dikembangkan. Pengelolaan hutan perlu diarahkan tidak hanya sebagai penghasil kayu tetapi juga sebagai penghasil HHBK yang dapat membuka lapangan perkerjaan dan penghasilan bagi masyarakat lokal dengan tetap memperhatikan faktor ekologis. Salah satu program untuk memcapai partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan yang lestari adalah meningkatkan peran HHBK yang mampu meningkatkan kegiatan dan kesejahteraan masyarakat lokal sekitar hutan. Salah satu komoditi HHBK yang perlu dikembangkan adalah pengusahaan nilam secara tumpang sari terutama pada lahan kawasan hutan, sehingga dapat mendukung optimalisasi penggunaan lahan.

Data, informasi serta contoh uji (daun dan minyak nilam) dikumpulkan dari kampung Pager Ageung, Desa Pager Sari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pertanian dan perkebunan pada kebun campuran. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa produktivitas nilam yang ditanam secara tumpang sari di Tasikmalaya sebesar 4 kg/rumpun/panen dengan hasil DNB (daun nilam basah) sekitar 75-100 ton/ha atau sama dengan 15-20 ton DNK (daun nilam kering) per hektar sekali panen lalu dijual ke pedagang dengan harga Rp 500/kg basah, dan Rp 2.500/kg kering, dengan nilai jual sekitar Rp 37,5-50 juta/ha. Usaha ini dikelola oleh Kelompok Tani Mitra Usaha Jaya, proses penyulingan dengan cara uap panas.

Kualitas dan rendemen minyak yang ditanam secara tumpang sari tidak kalah bagus dengan kualitas minyak yang ditanam secara monokultur. Kadar Patchouli berkisar antara 26-39,5%, bahkan yang disuling di laboratorium berkisar antara 41-49,7%, dengan rendemen berkisar antara 2,4-5%. Masyarakat sekitar kota Tasikmalaya semakin berminat untuk memperluas areal penanaman nilam terutam sejak adanya pabrik penyulingan di Pager Ageung, demikian juga pihak kehutanan dan PT Perhutani. Oleh sebab itu pengusahaan nilam secara tumpang sari di lahan kawasan hutan perlu dijadikan bahan pertimbangan kebijakan bagi pengelola dan pengusahaan hutan tanaman.

Kata kunci: Nilam, tumpang sari, rendemen dan kualitas

 

Gusmailina

Prospek dan permasalahan ylang-ylang / Gusmailina, Zulnely dan E. Suwardi Sumadiwangsa. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 165-171 , 2005

Ylang-ylang (Cananga odoratum forma genuina) merupakan tanaman berbentuk pohon yang menghasilkan minyak atsiri. Tanaman ini sekerabat dengan kenanga (Cananga odoratum forma macrophylla,), ke duanya termasuk familia Annonaceae. Pertumbuhan tanaman ylang-ylang relatif cepat. Bila pertumbuhan normal, tanaman ini mulai berbunga pada umur 2,5 - 4 tahun setelah tanam. Di Jawa Barat pertanaman ylang-ylang terdapat di Sukamulya (Sukabumi), Ciminyak (Sukabumi), Subang, Sumedang, Cirebon, dan Kuningan. Pertanaman ylang-ylang yang paling luas adalah yang terletak di Malimping, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten milik Perhutani (502 Ha).

Pada awal berbunga setiap pohon dapat menghasilkan 0,25 - 1 kg setiap pohonnya. Sebagai komoditi kayu dan non kayu, ylang-ylang mempunyai prospek untuk dikembangkan. Kayunya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga, namun yang menjadi komoditi andalan adalah minyak yang dihasilkan dari penyulingan bunga, yang disebut minyak ylang-ylang. Aroma minyak ylang-ylang lebih lembut dan wangi dibanding minyak kenanga. Kualitas minyak ylang-ylang lebih baik dari minyak kenanga, sehingga harganyapun jauh lebih tinggi dari minyak kenanga. Di Amerika dan Perancis, minyak ylang-ylang digunakan sebagai bahan parfum yang bermutu tinggi.

Tulisan ini menyajikan informasi dan ulasan berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada bulan November 2004. Data yang diperoleh berupa data primer hasil wawancara dan pengamatan langsung, sedangkan data sekunder berupa informasi diperoleh dari KPH Serang dan BKPH Malimping.

Kata kunci: Ylang-ylang, atsiri, prospek, masalah

 

Hadjib, Nurwati

Sifat fisis mekanis kayu damar mata kucing bekas sadapan dan kemungkinan pemanfaatannya untuk kayu konstruksi = Physical and mechanical properties of damar mata kucing tapped wood and its possibility asconstruction materials / Nurwati Hadjib, Abdurachman. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 177-185 , 2005

Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu damar mata kucing bekas sadapan bertujuan untuk memanfaatkan kayu bekas sadapan yang sudah tidak produktif lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kering udara kayu bekas sadapan adalah sebesar 0,521, sedangkan kayu yang tidak disadap 0,522. Rata-rata keteguhan lentur maksimum (MOR) kayu bekas sadapan adalah 409,590 kg/cm2, modulus elastiskas (MOE) sebesar 62.820 kg/cm2, sedangkan MOR dan MOE kayu tidak disadap masing-masing sebesar 537,693 kg/cm2 dan 106.869 kg/cm2. Kayu damar mata kucing baik yang disadap maupun tidak disadap tergolong kelas kuat HI, dimana kayu tersebut hanya sesuai untuk digunakan sebagai bahan konstruksi ringan, mebel, peti kemas, kerajinan, venir plywood, dan papanpartikel.

Kata kunci: Sifat fisis, mekanis, sadapan, damar mata kucing

 

Hidayat, Asep

Kajian efisiensi pemanenan kayu mangium : studi kasus di hutan tanaman di Pulau Laut Kalimantan Selatan = Study on harvesting efficiency of mangium: case study at forest plantation in Pulau Laut South Kalimantan / Asep Hidayat, H. Hendalastuti R. - Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 131-142 , 2005

Pemanenan harus mampu memproduksi kayu sesuai dengan target, ramah lingkungan, efektif dan efisien sehingga keuntungan perusahaan maksimal. Pelaksanaan sistem pemanenan yang akan atau telah dilakukan dapat diukur tingkat efisiensinya melalui tiga indikator yaitu indeks tebang, indeks sarad dan indeks angkut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya indeks tebang, indeks sarad dan indeks angkut serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Jumlah contoh untuk penetapan indeks tebang dan sarad sebanyak 52 pohon dipilih secara purposive dengan memperhatikan penyebaran kelas diameter. Sedangkan jumlah contoh penetapan indeks angkut dilakukan dengan cara acak terhadap 22 trip pengangkutan. Pengolahan data indeks tebang dilakukan dengan cara pengelompokan kelas diameter dan dianalisa dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dilanjutkan dengan uji Duncan's.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata - rata, indeks tebang sebesar 0,824, indeks sarad sebesar 0,874 dan indeks angkut sebesar 0,997. Berdasarkan ketiga indeks tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pemanenan yang dilakukan menghasilkan volume aktual sebesar 81,37 m3/ha dengan limbah sebesar 31,96 m3/ha dari potensi tegakan sebesar 113,33 m3/ha.

Kata kunci: Pemanenan, indeks tebang, indeks sarad, indeks angkut

 

Iskandar, M.I

Pemanfaatan serbuk gergaji sebagai bahan pengisi dalam campuran perekat tipe dua pada pembuatan kayu lapis / M.I Iskandar. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 91-94 , 2005

Bahan pengisi dalam campuran perekat yang biasa digunakan adalah tepung tempurnng kelapa. Hnrgnnya mahal dan rnakin sidit diperoleh sehingga perlu dicarikan penggantinya. Bahan yang diingkin dapat digunakan adalah serbuk gergaji.

Venir kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) berukuran 40 x 40 cm x 1,5 mm, sebanyak 75 lembar direkat urea fornialdehida (UF), yang dicampur serbuk gergaji kayu meranti mcrah (Shoroa platyclados V.Sl) dan johar (Cassia siamea Lamk) menjadi 25 lembar kayu lapis. Herat serbuk gergaji terhadap UF adalah 0, 10, 20, 30, dan 40%. Dari setiap lembar kayu lapis dibuat masing-masing sebuah contoh uji kadar air dan kerapatan berukuran 10 x 10 cm, serta 4 buah contoh uji keieguhnn rekat berukuran 8 x 2,5 cm. Kadar air dan kerapatan, contoh uji merupakan kadar air dnn kerapatan setiap lembar kayu lapis, sedangkan keteguhan rekat setiap lembar kayu lapis merupakan rata-rata dari 4 kali pengukuran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan keteguhan rekat bahan pengisi dapat ditambahkan sampai 20%. Penambahan bahan pengisi sebesar ini menghasilkan kayu lapis dengan kadar air di bawah 14%, tetapi kerapatannya meningkat 5,9% sehingga dapat meningkatkan biaya angkut. Untuk itu diperlukan pertimbangan ekonomis dalam menentukan berat bahan pengisi yang dinnjurkan.

Kata kunci: Serbuk gergaji, bahan pengisi, perekat, kayu lapis

 

Komarayati, Sri

Pembuatan pupuk organik dari limbah padat industri kertas = Manufacturing organic fertilizer from paper insdustry's sludge effluent / Sri Komarayati, Ridwan A Pasaribu. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 35-41 , 2005

Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian pembuatan pupuk organik dari limbah padat industri kertas. Untuk pemacu proses digunakan penggiat (aktivator) hayati. Penelitian ini berlangsung selama satu bulan.

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh pupuk organik dengan kandungan unsur hara sebagai berikut: Kadar air 29,5 persen; pH 6,70; KTK 31,74 meq/gr; nisbah C/N 32,00; kandungan C 23,6 persen; N 0,9 persen; P 0,4 persen; K 0,5 persen; Mg 0,6 persen dan Ca 1,9 persen. Tekstur berupa pasir 0,1 persen; debu 59,6 persen dan liat 40,2 persen.

Ditinjau dari hasil analisis kimia, ternyata pupuk yang dihasilkan belum dapat digolongkan sebagai pupuk organik, tetapi masih sebagai pembangun kesuburan tanah (soil conditioner).

Kata kunci: Pupuk organik, limbah padat dan industri kertas

 

Krisdianto

Anatomi dan kualitas serat tujuh jenis kayu kurang dikenal dari Jawa Barat = Anatomy and fiber quality of seven lesser-known wood species from West Java / Krisdianto. --Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 259-282 , 2005

Salah satu alternatif sumber bahan baku kayu untuk industri perkayuan nasional adalah memanfaatkan kayu dari hutan tanaman dan menggunakan kayu dari jenis yang kurang dikenal. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanf aatannya sebagai pulp dan kertas. Untuk keperluan identifikasi, ciri utama dari ketujuh jenis tersebut adalah:

  1. Kayu Hymenaea courbaril keras, berwarna agak kemerahan dengan corak bergaris-garis, memiliki susunan parenkim bersayap dan lingkaran tumbuh yang dibentuk oleh parenkim pita konsentris.

  2. Kayu Tamarindus indica keras, berwarna kuning keputihan. Parenkim bersayap dan lingkaran tumbuh dibentuk oleh parenkim pita konsentris dan adanya lapisan yang tidak berpembuluh.

  3. Kayu Ehretia accuminata agak lunak dengan warna coklat pucat dengan pembuluh membentuk susunan pori tata lingkar.

  4. Kayu Litsea odorifera agak lunak dengan warna coklat kekuningan, dengan bau yang khas. Parenkimnya selubung sebagian dan parenkim pita konsentris. Terdapat sel minyak.

  5. Kayu Colona javanica keras dengan warna coklat agak kemerahan. Jari-jarinya memiliki 2 macam ukuran, parenkim berkelompok membentuk garis-garis pendek antar jari-jari.

  6. Kayu Melicope lunu-ankenda keras, berwarna kuning pucat. Parenkim paratrakea bentuk sayap yang bergabung membentuk garis konsentris yang tidak terputus, seperti berlapis-lapis diluar lingkaran tumbuh.

  7. Kayu Pouteria duclitan keras, berwarna putih kekuningan. Parenkim tersusun bentuk jala dan pembuluhnya ganda radial 2 6 (9) sel.

Kualitas serat dari ketujuh jenis kayu yang dipelajari termasuk dalam kelas kualitas II dan III untuk produk pulp dan kertas. Kayu marasi, kendal, hum gading dan sampora termasuk dalam kelas kualitas II, sedangkan kayu asam jawa, ki sampang dan nyatu termasuk dalam kelas kualitas HI.

Kata kunci: Kayu kurang dikenal, anatomi, identifikasi, serat

 

Krisdianto

Aplikasi teknologi gelombang mikro dalam peningkatan kualitas kayu / Krisdianto. --Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 13-22 , 2005

Teknologi gelombang mikro dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas kayu, di antaranya dalam pengeringan dan pengawetan kayu. Di beberapa negara maju telah diterapkan dalam pengeringan kayu karena hemat energi dan ramah lingkungan. Di Makasar telah ada instalasinya tctapi energi yang digunakan niasih terlalu mahal karena belum terintegrasi dalam pengolahan kayu.

Gelombang mikro mengakibatkan struktur anatomi rusak, seperti sel jari-jari, noktah yang beraspirasi dan tilosis, sehingga permeabilitas kayu meningkat. Dalam mengawetkan kayu yang sukar diawetkan dengan persyaratan retensi tinggi, seperti kayu untuk perkapalan, gelombang mikro mungkin dapat dimanfaatkan sebagai perlakuan pendahuluan.

Kata kunci:   Gelombang    mikro,    kualitas,    pengeringan,    pengawetan,    anatomi, permeabilitas

 

Kusmiyati, Evi

Potensi burahol sebagai komoditi hasil hutan bukan kayu yang terancam punah / Evi Kusmiyati, Poedji Hastoeti ; Gusmailina. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1; Halaman 9-16 , 2005

Burahol (Stelechocarpus burahol) termasuk keluarga Annonaceae. Kebanyakan suku ini dilaporkan mengandung senyawa sitotoksik, antimikroba, dan juga sebagai insektisidz. Saat ini keberadaan burahol sudah memprihatinkan karena terancam punah dan langka serta sulit dijumpai. Hal ini disebabkan karena faktor budaya dan kepercayaan masyarakat di masa lampau membuat tanaman ini menjadi terlupakan. Padahal tanaman ini selain bentuknya yang unik dengan buah yang bergantungan dan menempel di batang, juga sangat potensial dikembangkan sebagai komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang memanfaatkan buahnya sebagai bahan baku industri jamu, obat dan kosmetika yaitu untuk memperhalus kulit dan mencegah penyakit-penyakit yang merusak j aringan kulit.

Untuk mengembangkan tanaman burahol perlu upaya pengenalan kembali kepada masyarakat, karena selain bermanfaat sebagai komoditi HHBK, juga bentuk pohon yang menarik cocok dikembangkan untuk tanaman peneduh, baik di pekarangan rumah, pinggir jalan, atau lebih indah lagi kalau ditanam di taman-taman perkotaan.

Tulisan ini menyajikan tentang prospek burahol sebagai komoditi HHBK, berikut analisis pendahuluan buah burahol yang berpotensi sebagai tanaman obat. Hasil analisis pendahuluan menunjukkan bahwa buah burahol positif mengandung bahan aktif yang berguna sebagai obat, baik buah muda, sedang atau buah yang sudah tua.

Kata kunci: Burahol, HHBK, analisis, potensi dan prospek

 

Lestari, Setyani B

Sifat papan serat sembilan kenis kayu dari Irian Jaya = Fiberboard properties of nine wood species from Irian Jaya / Setyani B Lestari.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 399-405 , 2005

Penelitian ini bertujuan unruk mengetahui sifat pengolahan dan sifat fisik mekanik papan serat sembilan jenis kayu yang berasal dari Irian Jaya. Penelitian pembuatan papan serat ini dilakukan untuk mengetahui kualitas kayu tersebut dihubungkan dengan kegunaannya dalam pengembangan industri pengolahan kayu terutama industri papan serat. Dengan demikian penggunaannya akan lebih optimal karena papan serat dapat digunakan sebagai bahan mebel, konstruksi, peti kemas dan bahan bangunan lainnya. Pembuatan pulp menggunakan proses semikimia terbuka dengan kondisi pengolahan, konsentrasi NaOH 35 g/1, perbandingan serpih dan larutan pemasak 1 : 8 dan suhu pemasakan 100C selama 2 jam. Setelah pemasakan, pulp dicampur dengan bahan penolong urea formaldehida 10% dan tawas 5% w/w. Metode yang dipakai dalam pembentukan lembaran papan serat adalah pembentukan lembaran basah menggunakan "deckle box". Selanjutnya dikempa dingin dengan tekanan 10 kg/cm2 selama 5 menit .dan dilanjutkan dengan kempa panas bertekanan 25 kg/cm2 pada suhu 170C selama 10 menit.

Pengamatan terhadap hasi] pengolahan dan sifat fisismekanis lembaran papan serat dibandingkan dengan standar FAO (1958). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen memenuhi standar dan konsumsi alkali termasuk kelas rendah sampai sedang. Sifat fisismekanis papan serat sembilan jenis kayu yang memenulii standar FAO ialah kerapatan dan keteguhan patah 8 jenis kayu, kecuali Trichandenia Philippinensis Merr. keteguhan lentur Timelodendrom amboinicum Hassk, Gmelina moluccana (BL) Beaker, Celtis rigesans (Miq) Planch, dan keteguhan tank sejajar pcrmukaan Timelodendrom amboinicum Hassk. Sedangkan daya serap air dan pengembangan tebal tidak memenuhi standar FAO.

Kata kunci: Irian Jaya, proses soda panas terbuka, sifat fisis papan serat

 

Lempang, Mody

Sifat fisik dan mekanik kayu sama-sama (Pouteria firma) = Physical and mechanical properties of Sama-sama (Pouteria firma) wood / Mody Lempang.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 407-415 , 2005

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi sifat fisik dan mekanik kayu sama-sama {Pouteria firma). Sifat fisik dan mekanik kayu sampel yang diidentifikasi terdiri dari kadar air, berat jenis, penyusutan, keteguhan lentur, keteguhan tekan, keteguhan geser, dan keteguhan pukul. Kayu contoh uji diambil dari hutan produksi alam di I-Calukku Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengujian sifat fisik dan mekanik kayu dilaksanakan mengikuti Standar Industri Jepang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sama-sama mengandung kadar air basali rata-rata 113,84%, berat jenis kering udara 0,60 dan penyusutan tangensial dari basali ke kering udara 4,63%. Kayu sama-sama memiliki keteguhan lentur mutlak rata-rata 551,99 kg/cm2, keteguhan tank sejajar serat 408,85, keteguhan tekan sejajar serat 230,13 kg/cm2, keteguhan tekan tegak lurus serat 127,11 kg/cm2, keteguhan geser sejajar serat 64,40 kg/cm2 dan keteguhan pukul 7,67 kg/cm2. Kayu sama-sama dapat digolongkan ke dalam kayu kelas kuat III sampai IV dan berdasarkan sifat fisik dan mekaniknya, kayu tersebut cocok digunakan untuk bahan bangunan, moulding, vinir dan pallet.

Kata kunci: Kayu sama-sama, fisis, mekanis, kegunaan

 

Lelana, Neo Endra

Pengawetan bagian luar kayu kelapa secara rendaman dingin dengan bahan pengawet CCB / Neo Endra Lelana.--Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 139-143 , 2005

Kayu kelapa (Cocos nucifera L.) banyak digunakan untuk berbagai macam keperluan, seperti van konstruksi, furniture dan barang kerajinan. Kayu kelapa rentang terhadap serangan jamr dan serangga perusak kayu, sehingga perlu diawetkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui retensi bahan pengawet CCB pada bagian luar kayu kelapa dari tiga kelas kerapatan yang berbeda. Contoh uji berukuran 1 cm x 100 cm direndam dalam larutan bahan pengawet CCB 3% masing - masing 24, 48, dan 96 jam. Hasil penelitian menunjukkan, kerapatan dan lama perendaman mempengaruhi retensi bahan pengawet CCB. Perendaman kayu kelapa yang mempunyai kerapatan rendah selama 48 jam sudah dapat mencapai estndar retensi yang disyaratkan.

Kata kunci: Kayu kelapa, bahan pengawet CCB, rendaman dingin, retensi

 

Malik, Jamaludin

Produksi komponen mebel skala kecil dari limbah pembalakan hutan tanaman / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 27-39 , 2005

Pengolahan kayu limbah pembalakan hutan tanaman menjadi komponen mebel merupakan salah satu alternatif dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya kayu yang semakin terbatas dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Data dan informasi aspek teknis maupun finansial proses produksinya masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian pembuatan komponen mebel skala kecil dari limbah tersebut.

Penelitian dilakukan melalui uji coba pembuatan komponen mebel dari kayu limbah pembalakan hutan tanaman. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengamatan dan pengukuran di hutan tanaman serta pengamatan pada proses pembuatan produk. Bahan yang digunakan berupa dolok tiga jenis kayu, yaitu agatis, tusam dan gmelina yang berdiameter 9 -19,5 cm. Produk yang dibuat dibandingkan dengan standar pabrik.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemanfaatan kayu jati di Jawa Barat lebih efisien. Ketiga jenis kayu yang diteliti mungkin dapat mengikuti pola pemanfaatannya. Rendemen  komponen  mebel  hasil  uji  coba sebesar  18,81% dengan  mutu  lokal.

Perbandingan biaya bahan baku dan overhead adalah 52:48. Biaya bahan baku dapat ditekan dengan membangun industri komponen mebel di dekat lokasi bahan baku.

Kata kunci: Hutan tanaman, limbah pembalakan, komponen mebel

 

Malik, Jamaludin

Keteguhan lentur statis balok lamina dari tiga jenis kayu limbah pembalakan hutan tanaman = Statis bending of laminated wood assembled from logging wood waste of three species plantantion forests / Jamaludin Malik, Adi Santoso.- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 385-397 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat keteguhan lentur dan patah (MOE dan MOR) balok lamina dari kayu limbah pembalakan hutan tanaman dengan menggunakan tiga jenis perekat yaitu lignin resorsinolformaldehida (LRF), tanin resorsinolformaldehida (TRF) dan phenol resorsinoi formaldehida (PRF). Kayu lamina dibuat dari komposisi tiga jenis kayu yaitu tusam (Pinus merkusii), damar {Agathis sp.) dan gmelina (Gmelina arbored).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kempa 8 jam menghasilkan nilai MOE lebih besar sedangkan masa kempa 12 jam meningkatkan MOR. Komposisi jenis terbaik dari kayu lamina berdasarkan nilai MOE dartMOR-nya adalah agatis-agatis-agatis pada masa kempa 8 jam.

Ketiga jenis kayu limbah pembalakan memiliki sifat perekatan yang baik dan cocok dibuat produk kayu rekonstitusi khususnya kayu lamina tipe eksteriot untuk keperluan struktural.

Kata kunci: Keteguhan lentur, MOE dan MOR, balok lamina, kayu limbah pembalakan

 

Mandang, Yance I

Aplikasi program komputer SQL server untuk identifikasi jenis-jenis kayu Asia Tenggara / Yance I Mandang. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 65-85 , 2005

Identifikasi kayu merupakan langkah awal dalam proses pengolahan dan pemanfaatan kayu yang rasional. Namun identifikasi secara manual adakalanya memerlukan waktu yang sangat lama dan tidak jarang dengan hasil yang hampa. Dengan program komputer diharapkan pekerjaan identifikasi kayu ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Dalam makalah ini disajikan suatu petunjuk membuat basis data anatomi kayu dan merangkainya dengan SQL Server untuk digunakan dalam proses identifikasi contoh kayu tidak dikenal. Data anatomi kayu ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) kemudian disusun dalam tabel dengan format tertentu lalu diimpor ke dalam SQL Server yang sudah diinstal ke dalam komputer. Identifikasi contoh kayu tidak dikenal dilakukan dengan menggunakan kode dan kata-kata pelacak baku. Cara identifikasi disajikan melalui beberapa contoh aplikasi.

Kata kunci: Anatomi kayu, identifikasi kayu, program komputer, SQL Server

 

Muslich, Mohammad

Keawetan 200 jenis kayu Indonesia terhadap penggerek di laut = Durability of 200 Indonesia wood species againts marine borers / Mohammad Muslich, Ginuk Sumarni. --Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 163-176 , 2005

Contoh representative dua ratus jenis kayu yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia diteliti sifat keawetannya terhadap serangan penggerek di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 30x5x2,5 cm, dirakit dengan tali plastik dan dipasang di perairan Pulau Rambut serta diamati setelah 6 bulan. Dari hasil penelitian tersebut dibuat lima klasifikasi keawetan berdasarkan intensitas serangan pada masing-masing contoh uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua contoh uji mendapat serangan berat oleh Pholadidae dan Teredinidae. Lima jenis (2,5 persen) tahan terhadap penggerek di laut, dimasukkan ke dalam katagori kelas awet I dan 10 jenis (5 persen) dimasukkan ke dalam kelas awet II. Sementara itu, sisanya 26 jenis (13 persen) termasuk kelas awet HI, 50 jenis (25 persen) termasuk kelas IV, dan 109 jenis (54,5 persen) termasuk kelas V

Kata kunci: Keawetan, jenis-jenis kayu Indonesia, penggerek kayu di laut

 

Muslich, Mohammad

Retensi dan penetrasi bahan pengawet CCB pada bambu tallang dengan metode "Stepping" / Mohammad Muslich, Ginuk Sumarni. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 61-65 , 2005

Bambu tallang (Schizotachyium brachydadum Kurz.) merupakan salah satu jenis bambu yang banyak digunakan untnk barang kerajinan dan alat musik. Produk tersebut rentan terluidap organisme perusak. Untuk meningkatkan umur pakainya, bambu segar sebagai bahan baku produk dnpat diaivetnn dengan metode "siepping".

Dua puluh tujuh batang bambu tallang yang berasal dari Tana Toraja, diaxuetkan dengan CCB (tembaga-khrom-boron) dengan metode "stepping". Konsentrasi bahan pengawet yang dipakai 3%, 5% dan 7% sedangkan lama rendaman 3, 6 dan 9 liari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan lama rendaman yang dianjurkan masing-masing 5% dan enam hari, karena persyaratan yang ditetapkan telah dicapai.

Kata kunci: Bambu tallang, tembaga-khrom-boron, "stepping", retensi, penetrasi

 

Novriyanti, Eka

Bambu, tanaman multimanfaat pelindung pinggir sungai / Eka Novriyanto. --  Info Hasil Hutan : Volume 11. No. 1 ; Halaman 1 -8 , 2005

Bambu sejak dulu sudah diketahui merupakan tanaman multimanfaat. Mulai akar sampai pucuk tanaman dapat dimanfaatkan secara luas, meski umumnya masyarakat lebih familiar dengan batangnya. Dewasa ini, bambu juga dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi, terutama untuk perlindungan tanah di tebingan sungai. Selain itu, dalam periode tertentu dapat dipanen hasil, baik batang maupun rebungnya.

Kata kunci: Bambu, sifat-sifat, konservasi tanah, pemanfaatan

 

Pasaribu, Ridwan Achmad

Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri untuk peningkatan nilai tambah / Ridwan Achmad Pasaribu. - - Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 23-41, 2005

Potensi limbah pembalakan hutan alam produksi dan hutan tanaman serta industri kayu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannnya sampai saat ini kebanyakan digunakan sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan arang. Pemanfaatan limbah kayu tersebut selain menghasilkan nilai tambah yang relatif rendah, juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan berupa abu dan asap yang tertiup angin serta pemberosan pemanfaatan areal sumber daya hutan.

Alternatif yang dapat ditempuh oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor adalali mengoptimalisasikan pemanfaatan limbah tersebut dengan teknologi inovatif yang sederhana, murah, dapat diaplikasikan pada masyarakat dan mampu memproduksi produk jadi yang memberikan nilai tambah tinggi. Teknologi pemanfaatan inovatif seperti ini sangat cocok dikembangkan untuk mendukung pengembangan program social forestry, zero waste, restrukturisasi industri hasil hutan dalam pemanfatan bahan baku dan produk hasil hutan serta pelestarian lingkungan.

Teknologi yang cukup strategis untuk dikembangkan penelitiannya oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor dan disampaikan hasil-hasil penelitiannya secara ringkas pada makalah ini adalah teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri pengolahan kayu skala kecil untuk karton rakyat, pupuk organik mikoriza, media budidaya jamur yang dapat dimakan, komponen mebel, kayu lamina, arang kompos, arang aktifdan cuka kayu.

Kata kunci:  Limbah pembalakan, limbah industri kayu, nilai tambah, sosial forestry, zero waste, restrukturisasi industri

 

Pari, Gustan

Pengaruh lama aktivasi terhadap struktur kimia dan mutu arang aktif serbuk gergaji sengon = Effect of activation time on chemical structure and quality of sengon sawdust activated charcoal / Gustan Pari [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 207-218 , 2005

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh lama aktivasi terhadap perubahan struktur kimia dan mutu arang aktif. Arang aktif dibuat di dalam retor baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik pada suhu 850C dengan lama waktu reaksi 30,60,90 dan 120 menk dengan menggunakan uap air sebagai bahan pengaktif. Evaluasi strukur kimia arang aktif dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri infra merah (FTIR), X-ray difraksi (XRD dan elektron mikroskop (SEM). Mutu arang aktif terbaik dihasilkan pada arang yang diaktivasi selama 90 menit.

Rendemen yang dihasilkan sebesar 13,75 persen, kadar air 3,03 persen, abu 23,57 persen, zat terbang 11,12 persen, karbon terikat 65,31 persen. Daya serap terhadap iodin sebesar 1003,9 mg/g, benzena 19,10 persen, formaldehida 40,55 persen dan metilina biru 282,19 mg/g. Mutu arang aktif yang dihasilkan ini, terutama apabila dilihat dari besarnya daya serap terhadap iodin dan metilina biru memenuhi persyaratan Standar Indonesia. Hasil pengkajian struktur arang aktif dengan menggunakan XRD menunjukkan tinggi (Lc) dan jumlah (N) lapisan aromatik meningkat dengan makin lamanya waktu aktivasi, sedangkan lebar (La) lapisan aromatik dan derajat kristalinitasnya (X) menurun dengan jarak antar lapisan (d) stabil. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa permukaan arang aktif mengandung ikatan C-O dan C-H, dan hasil analisis SEM menunjukkan jumlah dan diameter pori meningkat dengan makin lamanya waktu aktivasi dan didominasi oleh makropori.

Kata kunci: Arang aktif, sengon, struktur, serbuk gergaji, XRD, FTIR, SEM

 

Prabawa, Sigit Baktya

Sifat fisik dan dimensi serat kayu mangium berumur empat tahun dari daerah Sebulu, Kalimantan Timur = The physical and fiber dimension properties of 4 year old mangium wood from Sebulu of East Kalimantan / Sigit Baktya Prabawa .-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 339-348 , 2005

Acacia mangium Wild termasuk famili Leguminoceae. Jenis iiii umumnya di Indonesia dikenal sebagai mangium, sedangkan di luar negeri dikenal juga dengan nama sabah salwood, black wattle, hickory wattle atau brown salwood. Pohon ini merupakan species asli dari Maluku, Papua Barat, Papua Nugini, Australia and Queensland. Untuk tujuan komersial, sangat beralasan memilili mangium sebagai jenis yang perlu dikembangankan di areal Hutan Tanaman Industri di Indonesia karena sifat-sifatnya yang cukup istimewa.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa sifat fisik dan dimensi serat dari kayu mangium berumur 4 tahun yang berasal dari Sebulu, Kalimantan Timur dan mencoba mengkaitkan dengan kemungkinan penggunaannya.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kerapatan kering udara, berat jenis kering tanur, dan kadar air kerihg udara dari kayu mangium berumur 4 tahun berturut-turut adalah 0,48 gr/cm3, 0,40 dan 19%; Nilai rataan dari panjang serat, diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding berturut-turut adalah 782,4 u, 21,7 u, 16,3 u. and 2,8 u.

Kata kunci: Sifat fisik, dimensi serat dan kayu mangium

 

Purnomo

Potensi dan peluang usaha perlebahan di Propinsi Riau / Purnomo. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 133-141 , 2005

Nilai tambah dari sumber daya perlebahan sudah tidak disangsikan lagi bahkan upaya pengembangannya sejalan dengan program pemerintah dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat dan pelestarian hutan.

Peluang usaha di bidang perlebahan sangat menjanjikan khususnya apabila dilihat dari potensi yang mendukungnya. Ketersediaan pakan lebah seperti didaerah Riau sangat melimpah. Dari dua areal HPHHTI yang berlokasi di Riau tersedia kawasan tanaman Acacia mangium seluas 250.000 Ha dan mampu mensekresi nektar, ekstrakflora sebesar 83,25 liter/Ha/hari.

Sedangkan dari sejumlah 20.000 koloni lebah hutan (Apis dorsata) yang berada di Riau, sekitar 9.650 Koloni sampai dengan saat ini belum tersentuh dengan tangan tnanusia. Apabila koloni lebah ini dikelola dan dimanfaatkan maka ratusan ribu liter madu dapat diproduksi dari lebah Apis dorsata tersebut.

Kata kunci: Potensi, peluang usaha, lebah hutan

 

Rochmayanto, Y

Suplai-diman serat sutera di Riau dan Sumatera Barat / Y. Rochmayanto, T Sasmita. --Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 177-184 , 2005

Besaran suplai diman serat sutera di Riau adalah nihil. Adapun besaran suplai aktual dari petani sutera alam di Sumatera Barat adalah 1406,5 kg/tahun untuk kokon dan 3 kg untuk benang sutera (pada tahun 2003-2004). Sedangkan secara potensial dari 90 petani dan 60 ha kebun murbei pada 4 sentra produksi sutera alam di Sumbar (Solok Utara, Solok Selatan, Tanah Datar dan Batu Sangkar) dapat menghasilkan kokon sebanyak 75.600 kg/tahun dan benang sutera sebanyak 10.800 kg/tahun. Adapun demand aktual di Sumatera Barat untuk kokon sebesar 2.400 kg/tahun dan untuk benang sutera sebesar 300 kg/tahun. Diman potensial benang sutera diprediksi sebanyak 16.918 kg/tahun dan kokon sebanyak 118.428 kg/tahun. Besaran tersebut belum termasuk kebutuhan dari Sumatera Utara dan ekspor.  Rendahnya suplai dibandingkan diman disebabkan oleh harga kokon yang rendah di tingkat petani akibat

(1)   monopoli pembelian oleh satu perusahaan sutera di Medan dan

(2)   kualitas pakan yang tidak mendukung.

Berdasarkan situasi demikian dapat direkomendasikan:

(1)   perlunya peningkatan kapasitas dan skala produksi pada sentra produksi sutera alam di Sumatera Barat,

(2)   dapat dilakukan pengembangan dan perluasan usaha sutera alam di Riau,

(3)   untuk pengembangan di Riau yang merupakan dataran rendah diperlukan rekayasa alat dan lingkungan untuk memenuhi persyaratan umum suhu, kelembaban dan ketinggiantempat.

Kata kunci: Suplai-diman, kokon, benang sutera

 

Roliadi, Han

Kemungkinan pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan papa serat berkerapatan sedang = Possible utilization of empty oil-palm bunches as raw material for manufacturing medium-density fiberboard / Han Roliadi, Widya Fatriasari. --Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 101-109 , 2005

Tanda kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat industri minyak kelapa sawit dengan potensi cukup besar (2,5 juta ton per tahun), yang dewasa ini hanya dibuang di tempat, atau dibakar sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu usaha dalam mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkannya untuk pembuatan papan serat berkerapatan sedang (MDF), sebagaimana dilakukan melalui percobaan skala laboratoris secara batch. Pengolahan pulp TKKS untuk MDF menggunakan proses semi-kimia soda panas terbuka, diikuti dengan perendaman dalam larutan alkali pada suhu kamar, dan sesudahnya diolah secara mekanis menjadi pulp. Sebelum pembentukan lemabara MDF, pada TKKS ditambahkan bahan pengikat / penerkat fenol formaldehida (PF). Pembentukan lembaran menggunakan proses basah.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman alkali menghasilkan pulp TKKS dengan diameter serat dan lumen lebih besar, dan dinding serat lebih tipis, dibandingkan dengan tanpa perlakuan rendaman. Selanjutnya, perendalam alkali ternyata berinteraksi dengan penggunaan perekat PF, sehingga menghasilkan lembaran MDF dengan kerapatan dan sifat kekuatan lebih tinggi; dan penyerapan air dan pengembangan tebal yang lebih rendah, dibandingkan dengan tanpa perendaman. Beberapa sifat MDF memenuhi persyaratan standar FAO, yaitu kerapatan, modulus patah, dan kekuatan rekat internal. Yang belum memenuhi adalah pengembangan tebal, penyerapan air, modulus elastisitas, dan kekuatan memegang sekerup. Diharapkan bisa diperbaiki dengan penggunaan bahan penolak air dan lebih banyak bahan perekat.

Kata Kunci: MDF, TKKS, rendaman alkali, perekat PF, dan cara basah

 

Roliadi, Han

Removal of residual creosote in out-of-service utility poles using steam treatment = Pengeluaran sisa kreosot dalam tiang listrik bekas pakai menggunakan perlakuan uap / Han Roliadi, Elvin T Choong. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 197-205 , 2005

Keberadaan sisa-sisa kreosot dalam produk kayu bekas pakai dan tak lagi digunakan, diantaranya tiang listrik bekas, dapat mengakibatkan kesulitan/masalah dalam pemanfaatannya menjadi produk berguna lain seperti: papan blok, papan partikel, papan serat, dan pulp/kertas. Maka, sisa kandungan kreosot tersebut harus dihilangkan atau diturunkan menggunakan perlakuan khusus yang efektif. Sebelum perlakuan uap, tiang listrik tedsebut perlu dibuat menjadi partikel-partikel berukuran kecil, antara lain serbukgergaji sehingga memudahkanpenguapan kreosot oleh uap.

Perlakuan uap terhadap tiang listrik bekas pakai telah dicoba keefektifannya dalam menghilangkan/menurunkan sisa kandungan kreosotnya. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan uap dapat menurunkan kandungan kreosot hingga 1,31 persen, untuk kandungan awal kreosotnya yang berbeda-beda. Tiang listrik dengan kandungan kreosot lebih tinggi membutuhkan waktu perlakuan uap lebih lama. Pada kandungan awal kreosot tertentu atau sama, penurunan/pengeluaran kreosot pada batang/tiang listrik bekas yang berumur pakai lebih lama ternyata lebih sulit dari pada tiang listrik berumur lebih muda. Pada berbagai umur, selanjutnya baik pada tiang listrik berumur lebih muda ataupun lebih tua, penurunan/pengeluaran kresosote juga lebih sulit pada bagian dalam batang/tiang dibandingkan dari bagian yang lebih dekatpermukaan batang/tiang.

Perlakuan uap merupakan cara yang murah dan efisien menurunkan kandungan kreosot. Penurunan lebih lanjut kreosot yang tersisa dalam batang dapat dilakukan dengan cara lain, seperti dengan pelarut organik yang memerlukan biaya mahal dan penggunaan mikororganisme tertentu yang memerlukan waktu lebih lama.

Kata kunci:  Perlakuan uap, sisa kreosot, tiang listrik bekas pakai, keausan, dan tiang listrik baru/segar diawetkan

 

Roliadi, Han

Uji coba mesin serpih mudah dipindahkan untuk produksi serpih dari limbah industri pengergajian kayu = Trial test on portable chipper for chip production from wood sawmill-generated wastes / Han Roliadi, Ridwan A Pasaribu. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3; Halaman 219-227 , 2005

Limbah industri penggergajian kayu dengan potensi 7,8 juta m3 per tahun belum banyak dimanfaatkan. Salah satu pemanfaataanya adalah pembuatan pulp untuk kertas dan papan serat, tetapi sebelumnya limbah tersebut perlu dijadikan serpih dengan alat layak teknis dan ekonomis/finansial, diantaranya mesin serpih mudah dipindahkan (SMD).

Hasil percobaan mesin SMD terhadap limbah penggergajian dari campuran lima jenis kayu (Manii, Pinus, Jeunjing, Duren, dan Jengkol): kapasitas penyerpihan (1,432 0,089) m3 atau 1548,48 kg (berat basah) atau 854,76 kg (berat kering) per jam, ternyata secara teknis setara dengan penyerpihan kayu konvensional: 1,5 - 2,0 m' per jam atau 870,28 kg (berat kering) per jam. Produktifitas mesin SMD (bruto/serpih belum disaring): 1542,18 kg (berat basah) atau 854,88 kg (berat kering) per jam. Produktifitas serpih tersaring: 732,29 kg serpih kering per jam atau 2933,16 kg per hari, atau 880 ton per tahun. Rendemen serpih: 98,22 persen (belum disaring) atau 84,25 persen (sudah disaring).

Hasil penelaahan finansial/ekonomis: harga pokok produk Rp 263.343,00 per ton serpih kering tersaring; BEP (titik impas) 938,51 ton produksi serpih per tahun di mana lebih besar dari perhitungan produktifitasnya (880 ton serpih kering per tahun); payback period singkat (dua tahun); dan nilai layak bersih positif (+ Rp 5.734.964,77). Nilai-nilai tersebut mengindikasikan kelayakan finansial ekonomis pengoperasion mesin SMD untuk limbah industri penggergajian.

Kata kunci:   Limbah penggergajian, mesin SMD, serpih, kelayakan, teknis dan finansial /ekonomis

 

Roliadi, Han

Uji coba portable chipper untuk produksi serpih dari limbah industri penggergajian kayu / Han Roliadi, Ridwan A Pasaribu dan Rena M Siagian. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 79-84 , 2005

Limbah industri penggergajian kayu dewasa ini belum banyak dimanfaatkan dan potensinya tnencapai 7,8 juta m3 per tahun. Limbah tersebut perlu diberi nilai tambah menjadi produk bermanfaat diantaranya pulp untuk kertas dan untuk papan serat/MDF. Hal tersebut merupakan salah satu usaha dalam rangka menciptakan efisiensi pemanfaatan bahan baku kayu, mendorong pengernbangan industri skala kecil, dan restrukturisasi industri kayu (kehutanan). Sebelum limbah penggergajian tersebut diolah menjadi pulp, namun perlu diubah dulu menjadi bentuk serpih kayu, dengan menggunakan alat yang layak teknis dan ekonomis/finansial, yaitu portable chipper.

Uji coba portable chipper terhadap limbah industri penggergajian yang terdiri dari campuran lima jenis kayu (manii, pinus, sengon, duren, dan jengkol) telah dilakukan di Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan (Bogor), dan hasilnya adalah sbb: Kapasitas penyerpihan portable chipper (input) adalah 1.548,48 kg linibah (berat basah) per jam, atau 854,76 kg limbah (berat kering) per jam, atau 1,432 m3 limbah per jam, yang mana secara "teknis" masih komparabel dengan kapasitas penyerpihan kayu regular yaitu: 1,5 - 2,0 m3 per jam atau 870,28 kg berat kering per jam. Sedangkan produktifitas portable chipper (output) adalah 1.542,18 kg serpih (berat basah) bruto (belimi disaring) atau 854,88 kg serpih (berat kering bruto) per jam. Rendemen serpih bruto adalah 98.22 persen (dasar berat kering), sedangkan rendemen serpih tersaring adalah 84,25 persen (dasar berat kering). Produktifitas portable chipper yang melibatkan alat penyaringan/fraksionasi serpih adalah 732,29 kg serpih tersaring (dasar berat kering) per jam atau 2.933,16 kg serpih kering tersaring per hari, atau 880 ton serpih kering tersaring per tahun.

Selanjutnya, penelaahan finansial/ekonomis terhadap portable chipper mini berikut alat penyaring/fraksionasi serpih adalah sebagai berikut: Harga pokok produk = Rp. 263.343,- per ton serpih tersaring (berat kering); BEP (break even point atau titik impas) dicapai pada produksi serpih sebesar 938,51 ton yang ternyata lebih besar dari perhitungan produktifitasnya yaitu 880 ton serpih kering per tahun; Pay-back period relatif singkat yaitu pada tahun ke dua (atau dua tahun); dan Net-present value (NPV) yang "positif (+ Rp. 5.734.964,77). Nilai-nilai: Harga pokok produk (serpih tersaring), BEP, Pay-back period, NPV tersebut memberi indikasi akan "kelayakan" finansial ekonomis pengoperasian portable chipper mini berikut alat penyaring/fraksionasi dalam memproduksi serpih tersaring dari limbah industri penggergajian.

Kata kunci: Limbah, penggergajian kayu, portable chipper, teknis, dan finansial

 

Roliadi, Han

The utilization of sludge waste mixed with old newsprint and Abaca fibers as raw material for pulp/paper manufacture = Pemanfaatan campuran limbah sludge, kertas koran bekas dan serat abaka sebagai bahan baku pembuatan pulp kertas / Han Roliadi, Rena M Siagian.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 417-430 , 2005

Industri pulp kertas Indonesia kebanyakan masih tergantung pada kayu konvensional. Salah satu mengurangi ketergantungan ini adalah mencari sumber serat ligno selulosa lain yang dapat dimanfaatkan seperti: Umbah sludge, kertas koran bekas, dan serat abaka (Musa textiles Nee), sebagaimana dilakukan dalam percobaan ini menjadi pulp untuk kertas karton. Mula-mula, sludge dibersihkan sehingga bebas dan bahan asing berukuran relatif besar, kertas bekas dibuang tintanya dan diolah menjadi pulp, dan kulit batang abaka diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas. Selanjutnya, bubur serat disiapkan dengan variasi komposisi campuran sludge bersih (0 - 30 persen), pulp koran bekas (55 - 100 persen), dan pulp abaka (0 - 15 persen). Pada tiap komposisi tersebut, ditambahkan bahan aditif (alum pengikat dan perekat pati, masing-masing 1,5 persen). Selanjutnya, lembaran pulp dibentuk secara manual bertarget gramatur 125 gram per m2, dan diuji sifai kekuatan dan derajat kecerahannya.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa menurunnya porsi sludge, dan meningkatnya pulp kertas koran bekas ataupun pulp abaka meningkatkan kekuatan lembaran pulp. Derajat kecerahan lembaran pulp juga mengalami hal serupa, tetapi menurun dengan meningkatnya porsi pulp abaka. Kualitas lembaran pulp campuran dari 0-10 persen sludge berserat pendek, 75-100 persen kertas koran bekas, dan 0-15 persen pulp abaka dapat menyamai kertas karton komersial bergramatur 125 gram per m2. Penggunaan sludge lebih dari 10 persen masih mungkin dengan pemakaian lebih banyak bahan pengikat perekat (pati, dekstrin, dan resin).

Kata kunci: Kertas koran bekas, Umbah sludge berserat pendek, kulit batang abaka, kertas karton, dan pulp

 

Santoso, Adi

Aplikasi kopolimer tanin resorsinol formaldehida untuk meningkatkan sifat fisis mekanis bagian lunak kayu kelapa = Application of tannin resorcinol formaldehyde copolymer for physical mechanical improvement of coconut wood inner part / Adi Santoso, Barly. --Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 79-86 , 2005

Impregnasi kopolimer merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kualitas kayu. Dalam penelitian ini digunakan kopolimer tanin resorsinol formaldehida (TRF) terhadap bagian lunak kayu kelapa. Polimer diimpregnasikan dengan menggunakan vakum pada tekanan awal 11 atm. Sifat fisis dan mekanis contoh diuji sebelum dan sesudah perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mampu meningkatkan karakteristik fisis dan mekanis bagian lunak kayu kelapa tersebut.

Kata kunci: Kayu kelapa, sifat fisik-mekanis, impregnasi, tannin

 

Santoso, Adi

Pengaruh tipe sambungan ujung sisi terhadap kualitas kayu sambungan mangium / Adi Santoso, Osly Rachman dan Abduachman. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 51-56 , 2005

Kayu sambung ujung-sisi (edge-to-edge-grain joints wood) pada dua bilah kayu pada umumnya membentuk sudut. Produk papan sambung ini digunakan untuk kayu pertukangan seperti daun pintu, kusen, laci dan kotak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lima tipe sambungan ujung-sisi dari papan sambung mangium yang direkat dengan PVAc terhadap sifat fisis dan mekanisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air bilah sambung mangium rata-rata. kurang dari 14%, dan memenuhi persyaratan SNI (2000), dengan kerapatan tergolong rendah sampai sedang (0,53-0,62 g/cm2). Keteguhan lentur maupun keteguhan patah kayu sambung tertinggi dicapai oleh produk bertipe sambungan sudut dengan dua lidah (tipe B) (1.417,71 kg/cm2 dan 83,69 kg/cm2), dan yang terendah adalah produk dengan tipe sambungan setengah dengan rongga (tipe E) (197,289 kg/cm2 dan 61,47 kg/cm2). Sifat perekatan dari kelima tipe sambungan kayu tergolong sedang (4,41-7,43 kg/cm2) dan hanya tipe setengah sambungan pada satu sisi (tipe C) yang memenuhi persyaratan. Kayu sambung dengan karakter seperti tersebut di atas cocok untuk pemakaian kusen dan daun rangka pintu atau jendela.

Kata kunci: Kayu sambung, mangium, hutan tanaman

 

Santoso, Adi

Keteguhan rekat papan lantai lamina kombinasi kayu dan batang kelapa dengan perekat lignin resorsinol formaldehida / Adi Santoso, Barly. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 85-89 , 2005.

Penelitian pembuatan kayu lamina dengan bahan baku campuran kayu mangium (acacia mangium), damar (agathis sp), gmelina (Gmelina arborea) dan batang kelapa (Cocos nusifera) telah dilakukan menggunakan perekat lignin resorsinol fotrmaldehida (LRF), diuji berdasarkan standar Jepang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tertinggi dicapai pada produk yang dibuat dari bagian batang kelapa dalam (local) (0,83 g/an3) da terendah dicapai oleh produk yang dibuat dari kombinasi kayu mangiu dan bagian lunak batang kelapa (0,40 g/cm3). Kualitas terbaik keteguhan rekat lantai lamina dicapai pada produk yang dibuat dari kombinasi bagian lunak batang kelapa dalam dengan kayu damar (52,80-60,48 kg/cml), kombinasi bagian lunak dan keras kelapa hibrida (52,80-68,48 kg/cm2) serta kombinasi bagian lunak kelapa hibrida dengan kayu magium (57,32-80,44 kg/cm2).

Kata kunci: Papan lantai lamina kombinasi kayu-batang kelapa, LRF, keteguhan rekat, kerapatan

 

Santoso, Adi

Pengaruh jenis perekat dan kombinasi jenis kayu terhadap keteguhan rekat kayu lamina = Effect of glue and combined wood species on the strength of laminated wood / Adi Santoso, Jamaludin Malik.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 375-384 , 2005

Penelitian ini bertujuan mengetahui penganih penggunaan tiga jeins perekat, yaitu lignin resorsinol formakleliida (LRF), tanin resorsinol formaldehida (TRF) dan fenol resorsiiiol formalderhida (PRF) dengan lama peiigempaan yang berbeda terhadap keteguhan rekat kayu lamina dari kombinasi tiga jenis kayu, yaitu: tusam (Pinus merkusii), damar (Agathis sp.), dan gmelina (Gmelina arborea).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis perekat, jenis kayu dan interaksinya maupun lama pengempaan masing-masing' berpengaruh terhadap ketegulian rekat kayu lamina. Demikian pula interaksi antara jenis perekat dengan susunan jenis kayu, jenis perekat dengan masa kempa, jenis

kayu dengan masa kempa, serta jenis perekat dengan susunan jenis kayu berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lamina. Hasil uji kering menunjukkan bahwa keteguhan rekat tertinggi (110,88 kg/cm2) diperoleh dari kayu lamina yang dibuat dari kombinasi jenis kayu tusam, gmelina dan damar dengan perekat LRF yang dikempa selama 8 jam. Kayu lamina yang dibuat dari kombinasi jenis kayu tersebut yang diuji pada kondisi basah, memiliki keteguhan rekat tertinggi (43,73 kg/cm2) dengan menggunakan perekat PRF dan dikempa selama 15 jam.

Kata kunci: Perekat kayu, lignin, tanin, kayu lamina

 

Santoso, Adi

Kualitas rekatan bilah sambung jari pada lima jenis kayu dengan perekat lignin dan tannin = Bonding quality of finger jointed board on fove wood species using lignin and tannin based adhesives / Adi santoso, Osly Rachman dan Jamaludin Malik. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 187-195 , 2005

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komponen senyawa dalam lignin dan tanin dapat dibuat kopolimer dengan resorsinol dan formaldehida membentuk resin lignin- dan tanin formaldehida untuk produksi kayu lamina eksterior.

Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas lignin resorsinol formaldehida dan tanin resorsinol formaldehida dalam pembuatan bilah sambung jari dari lima jenis kayu untuk bangunan perkapalan, yaitu: tempeas (Teysmanniodendron sympliciodes Kosterm), waru (Hibiscus tiliaceus L), bunyo (Trioma malaccensis Hook F.), gambir (Trigonopheura malayana Hook F.), dan rasamala (Altingia excelsa Noronha) terhadap sifat mekanisnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak dijumpai adanya delaminasi bilah sambung jari pada kelima jenis kayu. Sifat mekanis dari bilah sambung jari dipengaruhi secara nyata oleh jenis kayu, jenis perekat dan interaksi kedua faktor tersebut.

Kata kunci: Lignin, tanin, resorsinol, jenis kayu, bilah sambung

 

Sinaga, Marolop

Produktivitas dan biaya produksi penebangan hutan tanaman industri di PT Inhutani II Pulau Laut = Productivity and cost of felling forset plantation in PT Inhutani II Pulau Laut / Marolop Sinaga. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 69-78 , 2005

Penelitian penebangan hutan tanaman industri telah dilaksanakan di areal hutan tanaman industri PT Inhutani II Semaras, Pulau Laut. Jenis pohon yang ditebang adalah mangium (Acacia mangium). Penebangan dilakukan dengan sistim tebang habis sesuai dengan tujuan pengusahaan hutan tanaman industri, sehingga contoh uji yang diamati terdiri dari 97 pohon. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu penebangan dilakukan dengan meninggalkan tunggak serendah mungkin, dan menggunakan gergaji rantai berukuran kecil mengingat diameter pohon yang kecil tidak seperti diameter pohon pada hutan alam. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produktivitas dan biaya produksi penebangan hutan tanaman industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas penebangan berkisar antara 0,738 -11,645 m'/jam dengan rata-rata 3,12 mVjam. Besarnya biaya penebangan berkisar antara Rp 814/m3 - Rp 18.868/m3 dengan rata-rata Rp. 4.411/m3. Produktivitas penebangan dapat ditingkatkan dengan mengefisienkan waktu kerja dan apabila produktivitas meningkat maka biaya produksi penebangan dapat diperkecil sehingga lebih murah. Untuk itu keterampilan ipara pekerja penebang pohon perlu ditingkatkan sehingga dapat menggunakan waktu seefektif mungkin.

Kata kunci: Hutan tanaman industri, produktivitas, biaya penebangan

 

Sudradjat, R

Teknologi pembuatan biodisel dari minyak biji tanaman jarak pagar = Manufacturing technology of biodisel from jarak pagar plant seed oil / R Sudradjat... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 53-68 , 2005

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman cepat tumbuh dan sangat toleran terhadap iklim tropis dan jenis tanah, sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Selain itu, minyak dari bijinya dapat digunakan sebagai bahan energi. Bahkan bagian lain dari tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan khusus.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan biodisel dari minyak biji jarak pagar. Biodisel adalah bahan bakar minyak (BBM) dari minyak nabati untuk otomotif (mobil) dan disel generator. Pembuatan biodisel dilakukan dengan proses 2 tahap, tahap pertama adalah proses esterifikasi yaitu untuk mengubah asam lemak bebas menjadi metil ester. Tahap kedua adalah proses transesterifikasi yaitu untuk mengubah trigliserida menjadi metil ester. Proses 2 tahap ini dapat menurunkan kadar asam lemak bebas dari minyak jarak pagar dengan proses esterifikasi yang mana asam lemak bebas tersebut dapat menghambat konversi trigliserida menjadi metil ester pada proses transesterifikasi. Proses esterifikasi menggunakan metanol sebanyak 20% (v/v) secara konstan untuk setiap perlakuan, sebagai katalis digunakan H2SO4 2%. Proses transesterifikasi menggunakan metanol dalam jumlah yang bervariasi yaitu : 10, 20, 30, 40, 50, 60% (v/v) dan katalis yang digunakan adalah KOH 0,3%. Kedua tahap reaksi tersebut dilakukan pada suhu 60C dan lama reaksi 90 menit. Sifat fisika kimia minyak jarak pagar yang diuji adalah bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan ester, kerapatan dan kekentalan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses 2 tahap yang dinamakan proses "estrans", dibandingkan dengan proses satu tahap, mampu mengkonversi trigliserida menjadi metil ester dalam jumlah yang lebih banyak. Hal tersebut ditunjukkan oleh rendahnya bilangan asam dan kekentalan, yaitu pada konsumsi metanol optimum sebesar 40% (v/v). Angka konsumsi metanol sebesar 40% (v/v) tergolong tinggi, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut yang lebih fokus pada upaya untuk menurunkan konsumsi metanol pada pembuatan biodisel dengan menggunakan proses "estrans".

Kata kunci:    Jatropha curcas L., biodisel, proses 2 tahap, esterifikasi, transesterifikasi, asam lemak bebas

 

Sudradjat, R

Pembuatan arang aktif dari tempurung biji jarak pagar = Manufacturing of activated charcoal from jatropha seed shell /R. Sudradjat, D. Tresnawati dan D Setiawan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 143-162 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan dan sifat arang aktif yang dihasilkan dari tempurung biji jarak pagar {Jatropha curcas L.). Proses penelitian dilakukan dengan pembuatan arang dari tempurung biji jarak pagar pada suhu 500C selama 5 jam. Kemudian arang tersebut direndam dalam larutan asam fosfat 1 persen, 2 persen dan 3 persen selama 24 jam. Selanjutnya arang diaktivasi pada suhu 650, 750 dan 850C dan disemprot uap panas selama 60 menit dengan suhu 125C, laju alir uap panas 0,27 kg/jam dan tekanan 0,025 mb.

Parameter yang diuji adalah rendemen, kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, kadar karbon terikat, daya serap terhadap yodium dan benzena, peningkatan kejernihan warna minyak jarak pagar dan minyak goreng kelapa sawit yang dijernihkan menggunakan arang aktif dari tempurung biji jarak.

Hasil optimum diperoleh pada kondisi aktivasi menggunakan suhu 850C. Penggunaan bahan kimia H3PO4 tidak berpengaruh terhadap sifat fisiko-kimia arang aktif. Oleh karena itu, pembuatan arang aktif dari tempurung biji jarak pagar hanya memerlukan suhu tinggi dan aliran uap panas.

Hasil optimum dari penelitian ini menunjukkan rendemen 80,8 persen; kadar air 1,7 persen; kadar zat terbang 3,2 persen; kadar abu 3,5 persen; kadar karbon terikat 91,6 persen; daya serap terhadap iodium 1.061,2 mg/g; daya serap terhadap benzena 24,8 persen; peningkatan kejernihan minyak jarak pagar 1,8 persen, sedang untuk minyak kelapa sawit 6,2 persen. Seluruh sifat fisiko-kimia memenuhi standar SNI untuk arang aktif serbuk (SNI 06-3730-95).

Kata kunci: Tempurung biji jarak pagar, arang aktif, daya serap terhadap iodium, daya serap terhadap benzena

 

Sudradjat, R

Optimalisasi proses estrans pada pembuatan biodisel dari minyak jarak pagar (Jatropha curcas L) = Estrans process optimalization in biodiesel manufacturing from Jatropha curcas L oil /R Sudradjat, Indra Jaya dan D Setiawan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4; Halaman 239-257 , 2005

Pembuatan biodisel dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap pertama proses esterifikasi dan pada tahap kedua proses transesterifikasi. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah katalis HCl (1 persen dan 2 persen), persentase metanol terhadap minyak 0; 5 ; 10; 15 dan 20 persen (v/v) dan lama reaksi (1 jam dan 2 jam), suhu diatur konstan pada 60C. Dalam proses transesterifikasi perlakuannya adalah: persentase metanol terhadap minyak 0 ; 5 ; 7,5 ; 10; 15 dan 20 persen (v/v), lama reaksi 0,5 jam dan 1 jam. Pada tahap ini katalis yang-digunakan adalah NaOH dan suhu konstan pada 60C. Parameter yang diamati adalah yang merupakan respons terhadap perlakuan yang diberikan dalam penelitian yaitu : bilangan asam, kekentalan dan kerapatan biodisel. Konversi maksimum asam lemak menjadi metil ester ditunjukkan dengan rendahnya bilangan asam, kekentalan dan kerapatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses esterifikasi menggunakan metanol 10 persen da] menurunkan bilangan asam secara nyata sampai persyaratan standar ASTM PS-121 (< 0,8 mg KOH minyak). Pada proses transesterifikasi menggunakan metanol 10 persen kekentalannya menurun samj memenuhi persyaratan standar ASTM PS-121 (< 6,0 cSt). Meskipun kerapatan tidak menurun sec; signifikan, tetapi nilainya memenuhi standar Eropa yaitu 0,87 - 0,90 g/ml. Hasil analisa lengkap si fisiko-kimia biodisel dari sampel yang diolah pada kondisi optimum menunjukkan seluruh sifatn memenuhi persyaratan ASTM PS-121.

Kata kunci: Biodisel, jarak pagar, estrans, esterifikasi, transesterifikasi

 

Sudradjat, R

Pembuatan arang aktif dari kayu jarak pagar (Jatropha curcas L) = Manufacture of activated charcoal from Jatropha curcas L wood / R Sudradjat, Anggorowati dan D Setiawan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 299-315 , 2005

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi proses yang optimum pada pembuatan arang aktif dari kayu jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan mengetahui konsentrasi optimum dari penggunaan arang aktif jarak untuk pemucatan minyak jarak. Faktor perubah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu : konsentrasi H3PO4 (5, 10 dan 15 persen) dan suhu aktifasi (650, 750 dan 850C). Parameter yang diamati adalah rendemen, kadar air, abu, zat terbang, karbon terikat, daya serap iod dan benzena. Untuk pemucatan minyak jarak parameternya adalah : rendemen, kejernihan, bilangan asam dan bilangan peroksida.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa konsentrai H3PO4 meningkatkan daya serap iod dan benzena secara nyata, tetapi pengaruh suhu hanya nyata terhadap peningkatan daya serap iod. Sifat fisiko-kimia yang optimum dari arang aktif dihasilkan dengan menggunakan suhu aktifasi 750C dan konsentrasi H3PO415 persen. Kondisi optimum ini memberikan rendemen arang aktif 52,5 persen, kadar air 4 persen, zat terbang 11,8 persen, abu 19,29 persen, karbon terikat 68,91 persen, daya serap iod 1039,2 mg/g dan benzena 13,5 persen. Kecuali daya serap benzena, semua sifat arang aktif lainnya memenuhi SNI06-3730-1995.

Karbon aktif yang dibuat dengan kondisi optimum, berhasil dengan baik digunakan sebagai absorben untuk pemucatan minyak jarak pagar kasar, karena berhasil meningkatkan kejernihan minyak tersebut hingga 92 -105 persen dan mengurangi bilangan asam hingga 27 - 32 persen.

Kata kunci: Arang aktif, Jatropha curcas L., daya serap iod, daya serap benzena

 

Suhartana, Sona

Peningkatan produktivitas dan efisiensi pemanfaatan kayu melalui penebangan serendah mungkin dengan timber hasvester di satu HTI Riau / Sona Suhartana, Djaban Tinambunan. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 95-103 , 2005

Tulisan ini mengetengahkan hasil penelitian tentang prodnktivitas dan biaya penebangan serta L'fiswnsi penebangan dengan teknik serendah mungkin dan dengan teknik  konvensional wenggunakan Timber harvester lengkap. Penelitian dilakukan di satu perusahaan Hutan Tanaman hidnsln (HTI) di Riau pada tahun 2004. Titjuan penelitian ini adalah untuk mengetahid pengamh penebangan serendah mungkin dengan timber harvester terliadap produktwitas dan efisiensinya. Sasarau penelitian adalali meminimalkan tinggi tunggak yang terjadi serta memaksimalkan diameter yang dapat dimanfaatkan sarnpai 5 cm yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi kayu.

Data yang dikumpidkan adalah waktu kerja, hasil kerja dan biaya penebangan. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t.

Hasil penelitian menunjukkan bahxva dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin: (1) Produktivitas penebangan meningkat sebesar 2,505 mA/jam (tidak berbeda nyata); (2) Efisiensi penebangan meningkat sebesar 7,3% (sangat berbeda nyata pada taraf 99%) yang setara dengan 0,003 mJ per pohon berasal dari cabang dan 3,78 cm berasal dari tunggak; (3) Biaya penebangan berkurang sebesar Rp 1.638 (tidak berbeda nyata); dan (4) Rata-rata tinggi tunggak yang dicapai oleh penebangan serendah mungkin adalah 11,32 cm dan oleh konvensional sebesar 15,10 cm.

Katu kunci:  Penebangan     serendah     mungkin,     timber    harvester     lengkap, produktivitas, efisiensi pemanfaatan kayu

 

Suhartana, Sona

Peningkatan pemanfaatan kayu rasamala dengan perbaikan teknik penebangan dan sikap tubuh penebang : studi kasus di KPH Cianjur Perhutani Unit III Jawa Barat = Increasing the utilization of Rasamala wood by improving felling techniques and feller posture : case study at Cianjur forest district Perhutani Unit III West Java / Sona Suhartana, Yuniawati, Djaban Tinambunan.- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5; Halaman 349-361 , 2005

Penelitian ini dilaksanakan di KPH Cianjur Jawa Barat pada tahun 2005. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penmgkatan pemanfaatan kayu rasamala yang dihasilkan dan penerapan teknik penebangaa serendah mungkin dan konvensional sett a sikap tubuh penebang (jongkok dan membungkuk).

Data yang dikumpulkan adalah: waktu kerja, volume kayu, produktivitas, efisiensi, tinggi tunggak dan biaya penebangaii. Data dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap faktorial split plot.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Dengan menerapkan teknik serendah mungkin dapat meningkatkan efisiensi sebesar 28.5% (jongkok) atau 28.2% (membungkuk); (2) Teknik penebangan dan sikap tubuh penebang berpengaruh nyata terhadap produktivitas dan biaya penebangan; (3) Rata-rata tinggi tunggak untuk teknik penebangan serendah mungkin adalah 9.18 cm (jongkok) dan 9.64 cm (membungkuk); sedangkan untuk teknik konvensional adalah 15.83 cm (jongkok) dan 16.41 cm (membungkuk).

Kata kunci: Teknik penebangan, jongkok, membungkuk dan pemanfaatan kayu

 

Suhartana, Sona

Meningkatkan produktivitas kayu pinus melalui penebangan serendah mungkin: studi kasus di KPH Sumedang, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat / Sona Suhartana, Yuniawati.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 87-96 , 2005

Tulisan ini mengetengahkan hasil penelitian tentang produktivitas dan biaya penebangan serta efisiensi pemanfaatan kayu dengan teknik serendah mungkin dan teknik konvensional yang menggunakan gergaji rantai. Efisiensi dan efektivitas teknik yang digunakan pada kegiatan penebangan akan menentukan efisiensi pemanfaatan kayu secara keseluruhan. Perlu adanya penyempurnaan teknik penebangan. Penelitian dilakukan di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang, Perum Perhutani III Jawa Barat pada tahun 2004. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produktivitas dan efisiensi penebangan serendah mungkin. Sasaran penelitian adalah berkurangnya tinggi tunggak yang terjadi dan meningkatnya produksi kayu melalui pemanfaatan kayu sampai diameter minimal 5 cm. Data yang dikumpulkan adalah waktu kerja, hasil kerja dan biaya penebangan. Data dianalisa dengan menggunakan uji-t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin: (1) Produktivitas penebangan meningkat sebesar 2,635 m3/jam; (2) Efisiensi pemanfaatan kayu meningkat sebesar 16,3% yang setara dengan 0,56 m3 (16,08%) per pohon yang berasal dari cabang dan 0,013 m3 (0,22%) per pohon berasal dari tunggak; (3) Biaya penebangan berkurang sebesar Rp. 622,71 /m3; dan (4) Rata -rata tinggi tunggak yang dicapai adalah 13,05 cm pada teknik penebangan serendah mungkin dan 21,97 pada penebangan secara konvensional.

Kata Kunci: Penebangan serendah mungkin, tusam, produktivitas, efisiensi

 

Sukartana, P

A Laboratory trial on applying entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae as barrier for subterranean termite Coptotermes curvignathus = Percobaan laboratoris mengenai pengunaan cendawan patogen serangga metarhizium anisopiae sebagai penyekat rayap tanah Coptotermes curvignathus / Paimin Sukartana ... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 229-237 , 2005

Pengendalian rayap selama ini lebih tergantung pada penggunaan insektisida kimia yang pada umumnya tidak ramah lingkungan. Pengendalian secara biologis, misalnya menggunakan cendawan patogen serangga, sedang dikembangkan untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia beracun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas 6 strain cendawan patogen serangga, Metarhizium anisopliae (Metschnikoff) Sorokin, yang diperoleh dari berbagai lokasi, sebagai penyekat serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus. Beberapa tingkat ketebalan cendawan yang dibiakkan dalam media beras digunakan sebagai penyekat yang disusun bersama-sama dengan media pasir dan umpan blok kayu tusam (Pinus merkusii,) dalam tabung reaksi. Rayap tanah sebanyak 50 ekor terdiri dari 45 ekor rayappekerja dan 5 ekor rayapperajurit dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi, dan kemudianpercobaan disimpanpada suhu kamar selama 9 hari.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa rayap pada umumnya mampu menembus cendawan penyekat, tetapi hanya rayap yang berhasil menembus penyekat dengan ketebalan 2 cm atau kurang dapctt menyerang kayu umpan. Persentase kematian rayap pada umumnya tinggi pada perlakuan dengan ketebalan penyekat 4 dan 5 cm. Strain cendawan yang berasal dari Pakem (Yogyakarta) tampak paling menjanjikan, sementara peringkat di bawahnya secara berurutan adalah dari Jombang Jawa Timur), Universitas Gadjah Mada (UGM) 1 (Yogyakarta), Bogor Jawa Barat), Semarang Jawa Tengah) dan UGM 2 (Yogyakarta). Ketebalan cendawan penyekat 4 sampai dengan 5 cm pada umumnya dapat menyebabkan kematian rayap yang tinggi, antara 80 sampaidengan 100 persen.

Kata kunci: Cendawan penyekat, penembusan, serangan dan kematian rayap

 

Sukadaryati

Produktivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu = Productivity and cost of log skidding using agriculture tractor with auxiliary equipment / Sukadaryati, Dulsalam dan Djaban Tinambunan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 283-297 , 2005

Penelitian produtivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu dilakukan di hutan tanaman kayu mangium dl KPH Bogor. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis finansial tentang penyaradan kayu dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu. Data panjang dan diameter kayu yang disarad, waktu kerja dan biaya penyaradan dikumpulkan.

Hasil penelitian penyaradan menggunakan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu sederhana mampu menyarad 3 batang/rit atau 2,075 m3.hm/jam. Traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu winch menghasilkan produktivitas penyaradan yang lebih baik, yaitu sebesar 2,328 m3.hm/jam. Biaya penyaradan dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu sederhana sedikit lebih rendah dibanding biaya penyaradan dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu winch. Disarankan bahwa alat bantu taktor pertanian perlu disempurnakan. Di samping itu penyaradan pada areal dimana penyaradan secara manual tidak mungkin dapat dilakukan, traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu dapat dijadikan salah satu alternatif.

Kata kunci: Traktor pertanian, produktivitas, biaya, alat bantu sederhana, winch

 

Sukadaryati

Potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium sebagai bahan serpih = Potency and harvesting cost of wastes from mangium-stand felling as raw material for wood chip / Sukadaryati, Dulsalam dan Osly Rachman. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4; Halaman 327-337 , 2005

Pemanfaatan kayu di hutan sampai saat ini masih dirasakan belum optimal, terbukti masih tingginya limbah kayu dari kegiatan pemanenan. Limbah yang terjadi dari pohon yang ditebang sampai dengan diameter batang minimum 15 cm adalah sebesar 57 persen. Oleh karena itu langkah - langkah pengelolaan hutan menuju zero waste perlu dilakukan. Salah satu cara untuk meningkatkan pemanfaatan hutan tanaman adalah memanfaatkan limbah penebangan hutan tanaman menjadi bahan baku serpih.

Penelitian potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium (Acacia mangium) telah dilakukan di BKPH Parungpanjang, KPH Bogor pada tahun 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium sebagai bahan baku serpih adalah 0,079 mVpohon atau 15,4 persen dan Rp 15.250/sm. Potensi limbah penebangan mangium sebagai bahan baku serpih yang layak diusahakan adalah sebesar 8,33 sm/ha atau 4,44 mVha. Sementara itu harga pokok limbah kayu mangium adalah sebesar Rp 23.375/sm.

Dukungan pemerintah sangat diperlukan dalam bentuk kebijakan yang dapat mendorong kembali masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan limbah penebangan kayu dari hutan tanaman sebagai bahan baku serpih. Kebijakan tersebut berupa kemudahan dalam memperoleh limbah kayu dengan harga sesuai besarnya biaya eksploitasi dan menetapkan harga dasar serpih yang tidak terlalu tinggi.

Kata kunci: Potensi hutan, limbah kayu, hutan tanaman, biaya, serpih

 

Sulastiningsih

Pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina = Effect of wood layer on the laminated bamboo board properties / I.M Sulastiningsih, Nurwati dan Adi Santoso. --Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 15-22 , 2005

Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengganti kayu untuk bahan bangunan. Masalah pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. Pembuatan produk bambu lamina merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina (3 lapis) telah dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloapseudoarundinacea), sedangkan perekatnya adalah tanin resorsinol formaldehida (TRF). Kayu yang digunakan adalah mangium (Acacia mangium) dan tusam (Pinus merkusii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan kayu sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina. Bambu lamina yang semua lapisannya terdiri dari bambu, kerapatannya lebih tinggi (0,8 g/cm3) dibanding bambu lamina yang lapisan tengahnya dari kayu mangium (0,7 g/cm3) dan tusam (0,64 g/cm3). Bambu lamina yang lapisan tengahnya kayu tusam mempunyai sifat kestabilan dimensi yang paling rendah dibanding bambu lamina lainnya. Sifat mekanis bambu  lamina menurun dengan adanya lapisan  kayu dalam  komposisi  lapisan penyusunnya.

Kata kunci: Bambu lamina, lapisan kayu, sifat fisis dan mekanis

 

Sulastiningsih, I.M

Pemanfaatan bambu untuk lantai / I.M Sulastiningsih. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 3-12 , 2005

Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengganti (substitusi) kayu khususnya untuk bahan bangunan. Pada tahun 2003 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan telah berhasil membuat alat pembelah bambu yang mengliasilkan bilah bambu yang lums dan mudah direkat kearah lebar. Dengan alat tersebut serta dengan perekat tertentu, bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan khususnya untuk lantai.

Tanaman bambu khususnya yang berdiameter besar dan dinding bambunya tebal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bambu lamina untuk lantai sehingga dapat diperoleh nilai tambah yang tinggi. Bambu lamina dari bilah bambu andong sangat cocok untuk lantai karena mempunyai sifat kekerasan sisi yang lebih tinggi (443 kg/cm2) dibanding kayu jati (428 kg/cm2). Di samping itu bambu lamina dari bilah bambu andong mempunyai kestabilan dimensi yang cukup tinggi, hal ini terlihat dari nilai pengembangan tebal (1,03%), pengembangan lebar (0,76%) dan pengembangan panjang (0,46%) yang sangat kecil setelah produk tersebut direndam dalam air dingin selatna 24 jam. Sifat ini sangat mendukung kesesuaian bambu lamina dari bilah bambu andong untuk lantai.

Pengembangan pemanfaatan bambu untuk lantai perlu terns disosialisasikan karena dapat menunjang usaha pemerintah dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan. Dalam proses pembuatan lantai bambu kegiatan pembuatan bilah hams dilakukan di hutan atau daerah sekitar hutan sehingga biaya angkutnya murah, limbah yang terjadi dapat dikembalikan ke hutan dan masyarakat sekitar hutan dapat terlibat dalam proses produksi lantai bambu.

Perlu dilakukan rekayasa alat belah bambu portable sehingga alat yang dihasilkan dapat langsung dicoba di lapangan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas khususnya di daerah yang mcmiliki potensi tanaman bambu cukup besar. Pengembangan industri lantai bambu hams didukung oleh tersedianya pasokan bambu secara berkesinambungan dan kegiatan penelitian perlu diarahkan untuk meningkatkan teknologi pembuatan lantai bambu.

Kata kunci: Pemanfaatan, bambu, lantai, alat belah bambu, nilai tambah

 

Sumadiwangsa, E Suwardi

Peningakatan produktivitas dan kualitas HHBK / E Suwardi Sumadiwangsa. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 117-131 , 2005

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapat masyarakat sekitar hutan. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan, dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. Sampai sekarang teknik budidaya, pemanenan dan pengolahan masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepatguna yang memadai. IPTEK tepatguna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis bernilai tinggi yang akan ditanam, seleksi bibit, teknik pemanen dan pemeliharaan, panen, pasca panen, pengolahan dan diversifikasi produk.

Beberapa komoditi HHBK seperti rotan, bambu, gaharu, kemeyan, sagu, jernang, nilam, gondorukem, damar, kopal, kemiri, kilento dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas yang tinggi. Tulisan ini disusun untuk mengungkap IPTEK dasar yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas HHBK. Selain itu juga diperlukan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK.

Kata kunci: HHBK, teknologi, lokal, IPTEK tepat guna, peningkatan

 

Suwandi

Prospek pengembangan sutera alam dan permasalahannya di Riau dan Sumatera Barat / Suwandi , Rochmayanto, E. Novriyanti. - - Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 143-148 , 2005

Prospek pengembangan persuteraan alam di Propinsi Riau dan Sumatera Barat masih memiliki potensi yang cukup besa. Kebutuhan benang sutera di dalam dan luar negeri cukup tinggi sedangkan produksi masih sangat rendah dan hingga kini belum tercukupi. Riau memiliki sumberdaya alam dan lahan produktif yang luas memungkinkan untuk pengembangan sutera alam di masa mendatang. Hasil ujicoba penanaman murbei jenis Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana, M. khumpai, dan M. alba var kanva-2 memberikan hasil yang baik. Di samping itu perlakuan pemeliharaan ulat sutera dengan teknik rekayasa suhu dan kelembaban pada ruangan pemeliharaan, menunjukan renspon yang nyata, rata-rata persentase hidup ulat 97%, kokon, 96% dan kulit kokon 35,1%. Sumatera Barat memiliki kondisi alam yang lebih ideal dengan ketinggian tempat berkisar antara 400 - 1.200 m dpi. Persuteraan alam di propinsi ini sudah berkembang di beberapa daerah antara lain Solok, Gunung Talang, Muara Labuh, Sungai Tarab, Tanah Datar, dan Payakumbuh. Kebutuhan benang sutera di beberapa sentra pengrajin songket membutuhkan benang 25 kg/bulan, lebih besar dari kemampuan produksi daerah ini.

Kata kunci: Prospek, produksi, sutera alam, peluang usaha

 

Tinambunan, Djaban

Kajian implementasi pemanenan hutan ramah lingkungan / Djaban Tinambunan, Dulsalam. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 105-116 , 2005

Adanya isu sentral ramah lingkungan merupakan bukti semakin tingginya tuntutan yang hams dipenuhi oleh Pemerintah (Departemen Kehutanan) untuk menyongsong era globalisasi. Dalatn pengelolaan hutan lestari, praktek pemanenan hutan dikendalikan dan dikaitkan dengan praktek silvikultur untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai tegakan secara berkelanjutan. Untuk itu perlu dikaji implementasi pemanenan hutan yang ramah lingkungan. Aspek yang dikaji adalah teknis, ekonomis dan lingkungan. Kajian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang pemanenan hutan ramah lingkungan yang dapat diimplementasikan di lapangan. Hasil kajian adalah sebagai berikut:

  1. Pemanenan ramah lingkungan (RIL), baik di Sumatera Selatan maupun di Kalimantan Timur, sebagian besar telah diimplementasikan oleh para pengusaha hutan.

  2. Peta   pemanenan   kayu   yang   merupakan   perlengkapan   penting   dalam pemanenan kayu   belum diberikan kepada penebang dan penyarad.

  3. Petunjuk teknis penebangan dan penyaradan belum diberikan kepada penebang dan penyarad.

  4. Kegiatan pasca pemanenan kayu yaitu penutupan jalan, penutupan jalan sarad, penutupan penyebrangan    sementara,    penutupan    tambang dan penutupan TPn belum banyak yang dilakukan.

  5. Implemantasi pemanenan hutan ramah lingkungan perlu ditingkatkan.

Kata kunci: Pemanenan hutan, ramah lingkungan, implementasi

 

Wibowo, Santiyo

Teknik pengolahan gambir di desa Siambaliang , kabupaten Dairi Sumatera Utara = Technique of gambir processing on Siambaliang villagr, Diari distric North Sumatera / Santiyo Wibowo, Totok K Waluyo. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 43-52 , 2005

Gambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang penting di Indonesia, digunakan secara tradisional untuk berbagai tujuan seperti campuran makan sirih, obat, industri tekstil dan kulit. Salah satu sentra produksi gambir di Indonesia adalah Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang teknik pengolahan gambir di Desa Siambaliang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara yang dilaksanakan pada bulan Desember 2002 dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan gambir dilakukan dengan teknik yang sederhana dan tradisional, rendemen yang dihasilkan antara 4,2 - 4,8 persen dengan rata-rata 4,6persen.

Kata kunci: Gambir, Uncaria gambir Roxb., teknik pengolahan

 

Wibowo, Santiyo

Pengusahaan kulit kayu medang landit di desa Bulu Mario Sipirot Tapanuli Selatan Sumatera Utara / Santiyo Wibowo.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 105-112 , 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang langit (Persea spp) di desa Bulo Mario, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan meliputi potensi, cara pemanenan, penanganan pasca panen, tata niaga, dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon, kayu belum dimanfaatkan secara optimal, dan belum ada budidaya tanaman. Pohon medang langit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan Negara. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio).

Kata kunci: Kulit kayu medang landit, pemanenan, obat anti nyamuk, dupa

 

Wibowo, Santiyo

Kajian pengolahan dan sistem pemasaran gula merah aren di desa Kuta Raja, Tiga Binanga-Tanah Karo, Sumatera Utara / Santiyo Wibowo, Sentot Adi Sasmuko. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 41-49 , 2005

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengolahan dan sistem pemasaran gula aren (Arenga pinnata Merr.) dilaksanakan di Desa Kuta Raja, Tiga Binanga, Tanah Karo, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan gula aren dilakukan secara tradisional dengan teknik dan peralatan sederhana. Pohon aren yang disadap merupakan tanaman yang tumbuh secara alami di lahan masyarakat atau di kawasan' hutan dan belum dibudidayakan. Rantai pemasaran melibatkan petani produsen, pedagang pengumpul dan pengecer. Perlu adanya pembudidayaan aren dengan menggunakan bibit yang berkualitas, pembentukan Koperasi Unit Desa (KUD) untuk memperbaiki sistem pemasaran dan membangun kerjasama antara produsen dan perusahaan industri makanan.

Kata kunci: Gula aren, teknik pengolahan, sistem pemasaran

 

Winarni, Ina

Beberapa catatan pohon penghasil biji tengkawang / Ina Winarni, E.S Sumadiwangsa dan Dendi Setiawan. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 17-25 , 2005

Tengkawang merupakan maskot propinsi Kalimantan Barat tetapi manajemen pohon tengkawang di hutan alam masih belum maksimal sehingga potensinya menurun dengan tajam. Tulisan ini mengungkap manfaat pohon tengkawang sebagai penghasil biji tengkawang ditinjau dari kualitas, produktivitas dan nilai ekonomisnya. Mutu biji. tengkawang ditentukan kandungan lemak dan kandungan asam lemak bebas (FFA). Semakin tinggi kandungan lemak dan semakin rendah kandungan FFA, semakin tinggi pula mutunya. Pada periode tahun 1985 1989, ekspor tengkawang Indonesia telah menghasilkan devisa sebesar $ 7.439.167,75 yang berasal dari biji tengkawang sebanyak 10.677,01 ton. Nilai setiap ton biji tengkawang yang diekspor bervariasi yaitu dari US$ 400 - 1400. Selain bijinya, kayu tengkawang pada umumnya merupakan jenis meranti yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Apabila dinilai, maka dalani 1 ha pohon tengkawang akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 82,5 juta (biji tengkawang) dan Rp 24-48 juta (kayu meranti) yaitu apabila pohon tersebut sudah tidak mampu memproduksi buah tengkawang lagi.

Manajemen pohon tengkawang di hutan alam akan maksimal yaitu, apabila masyarakat menanam pohon tengkawang, manfaat yang diperoleh adalah secara ekonomis meningkatkan pendapatan masyarakat dan dari aspek lingkungan turut menjaga kelestarian hutan.

Kata kunci: Biji tengkawang, mutu tengkawang, nilai ekonomi, jenis meranti

 

Winarni, Ina

Produksi integrasi arang dan wood vinegar dari limbah kayu kaliandra / Ina Winarni, Tjutju Nurhayati dan Dadang S. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 159-164 , 2005 Kebutuhan kayu di Indonesia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kemajuan IPTEK. Sementara itu bahan baku kayu semakin menurun akibat eksploitasi hutan yang tidak disertai dengan pengelolaan hutan secara lestari. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan adanya kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan yaitu pemenuhan kayu bukan dari hutan akan tetapi berasal dari limbah/peremajaan atau hasil hutan bukan kayu lainnya.

Kaliandra (Calliandra callothyrsus Meissn.) merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh yang multiguna untuk pemecahan masalah tersebut. Beberapa keunggulan kaliandra adalah :

(1)   mudah bertunas apabila dipangkas;

(2)   menekan pertumbuhan alang-alang;

(3)   menyuburkan tanah;

(4)   mencegah terjadinya erosi;

(5)   tahan terhadap naungan dan kekeringan;

(6)   tempat lebah untuk memproduksi madu.

Potensi dan manfaat kaliandra bagi masyarakat sekitar hutan adalah dari keseluruhan bagian pohonnya, mulai dari perakaran sampai bagian daun dapat berguna bagi yang menanamnya. Selain itu bagian limbah kayunya dapat menghasilkan arang dan cuka kayu yang dapat digunakan maupun dijual untuk menambah pendapatan masyarakat, begitu pula dengan madu yang dihasilkan oleh lebah yang berada pada pohon tersebut.

Kaliandra dapat menghasilkan kayu bakar sekitar 35-65 meter kubik per ha/thn dengan berat jenis 0,67 g/cm3 dengan nilai kalor arang mencapai 6.500 kalf gr berat kering. Selain itu secara bersamaan dalam produksi arang dapat diproduksi cuka kayu sebagai hasil kondensasi dari asap buangan/limbah dari pembuatan arang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi cuka kayu yang berasal dari kaliandra adalah sebesar 229,57 kg/m.3. Sedangkan dari segi budidayanya kayu ini dapat memberi nilai tambah yaitu dari bunga yang dapat dimanfaatkan oleh lebah penghasil madu. Sehingga dapat dikatakan potensi kayu kaliandra bagi masyarakat sangat besar dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Kata kunci: Restrukturisasi kehutanan, kaliandra, arang, cuka kayu, madu

 

Winarni, Ina

Sekilas tentang jernang sebagai komoditi yang layak dikembangkan / Ina Winarni, Totok K Waluyo, Poedji Hastoeti. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 177-184 , 2005

Jernang sebagai salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu andalan bagi masyarakat anak dalam (kubu) untuk memperoleh pendapatan. Jernang sebagai penghasil resin berasal dari buah rotan jenis Daemonorops sp.

Penyebaran rotan jernang meliputi Sumatera (Jambi) dan di Kalimantan, dan komoditi ini telah diusahakan oleh masyarakat suku kubu secara intesif di Jambi. Rendemen getah yang dihasilkan sekitar 20%, dengan harga jual pada para pengumpul seharga Rp 250.000 s/d Rp 300.000, yang kemudian oleh pengumpul dijual kepada pedagang besar seharga Rp 350.000 s/d Rp 450.000, yang selanjutnya diekspor ke Singapura.

Tulisan ini memuat sekilas tentang jernang yang layak dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar hutan.

Kata kunci: Jernang, penyebaran, rendemen

 

Yuniarti, Karnita

The effect of compression levels and sampling's position on log on rubinate uptake by microwave-heated sitka spruce (Picea sitchensis (Bong) Carr) = Pengaruh tingkat penekanan dan posisi pengambilan sampel pada dolok terhadap penyerapan rubinate oleh sitka spruce yang dipanaskan dahulu dengan microwave / Karnita Yuniarti, Jeff Han. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 317-325 , 2005

Penggunaan energi mikrowave pada tingkat cukup tinggi dapat menyebabkan perubahan dimensi kayu akibat patahnya beberapa struktur kayu yang lemah. Modifikasi lebih lanjut dengan resin diikuti penekanan kayu selama proses fiksasi resin dapat memperbaiki kualitas kayu tersebut. Penelitian ini benujuan untuk menganalisis pengaruh penekanan selama proses fiksasi resin rubinate dan faktor posisi pengambilan sampel kayu terhadap penyerapan rubinate oleh Sitka spruce yang sebelumnya dipanaskan dengan mikrowave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan akhir dipengaruhi oleh tingkat penekanan yang digunakan selama proses fiksasi resin dan kurang dipengaruhi oleh faktor posisi pengambilan sampel kayu. Penyerapan akhir rubinate juga dipengaruhi oleh interaksi antara kedua faktor tersebut.

Kata kunci: Tingkat penekanan, sitka spruce, mikrowave, rubinate

 

Yuniarti, Karnita

The effect of soaking period and sample's side surfaces on copper sulphate retention in oven dried Radiata pine = Pengaruh lama perendaman dan bidang permukaan sampling uji terhadap retensi tembaga sulfat pada kayu Pinus radiata kering oven / Karnita Yuniarti, Jeff Hann.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 363-374 ,2005

Penelitian bcrtujuan untuk menganalisa pengaruh lama perendaman dalam larutan pengawet tembaga sulfal dan bidang permukaan samping yang terekspos terbadap nilai retensi tembaga sulfat pada kayu Pinus radiata D.Donnj/atig dikeringkan dengan oven. Hasilpenelitian menunjukkan nilai retensi tembaga sulfat dipengaruhi dengan sangat nyata oleh faktor waktu rendam dan bidang permukaan samping contoh uji yang terekspos selama proses nndaman. Nilai retensi tembaga sulfat tertinggi (91,10 kg/ m3) dihasilkan melalui proses rendaman selama 1800 detik (30 me nit) dengan bidang permukaan samping contoh uji yang terekspos adalah tangensial atas. Perendaman selama 10 detik dengan membiarkan permukaan samping radial contoh uji yang terekspos menghasilkan nilai retensi tembaga sulfat terendah (6,26 kg/m3).

Kata kunci; bidang permukaan samping, lama perendaman, tembaga sulfat, Pinus radiata

 

Yuniawati

Pemadatan tanah akibat lalu lintas traktor dalam pemanenan hutan / Yuniawati. - Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 57-64 , 2005

Pemadatan tanah adalah peningkatan berat isi dan pemampatan partikel tanah akibat adanya beban dinamik, seperti traktor. Penggunaan traktor dalam pemanenan hutan dapat menimbulkan   pemadatan   tanah   yang   menghambat  pertumbuhan   tanaman   karena pernapasan,  penyerapan air dan hara oleh akar, serta aktivitas jasad hidup yang menggemburkan tanah terhambat.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemadatan tanah dipengaruhi oleh berat dan banyak lintasan traktor yang melintas serta jenis dan kandungan air tanah. Berat traktor yang sampai ke tanah bergantung kepada bidang tekanan roda traktor dalam lintasan dan sifat tanah. Kepadatan tanah dapat dikurangi dengan menggunakan pola lintasan yang sama, mengganti ban dengan rantai dan mengoperasikan pada saat tanah kering.

Kata kunci: Traktor, pemadatan tanah, pemanenan hutan

 

Yuniawati

Beban kerja, keselamatan dan kesehatan kerja dalam pemanenan hutan / Yuniawati.-Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 129-137 , 2005

Kegiatan pemanenan hutan merupakan salah satu hubungan kerja antara manusia, peralatan, dan lingkungan kerja. Ketidak seimbangan hubungan antara ketiga hal tersebut dapat menimbulkan kecelakaan kerja, yaitu: kematian, cacat atau penyakit, kerusakan harta, penurunan produktivitas, turunnya citra perusahaan, dan kerusakan lingkungan. Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang kecelakaan kerja yang sering terjadi dalam pemanenan hutan serta upaya untuk mengatasinya. Data dan informasi dalam pembahasan diperoleh dari rangkuman hasil - hasil penelitian dan rujukan pustaka.

Makin berat kerja yang dilakukan oleh otot semakin besar pula energi yang dibutuhkan. Pekerjaan yang melebihi kemampuan tubuh menimbulkan kelelahan. Kelelahan sebagai keadaan menurunnya kondisi fisik tubuh dan berkurangknya kekuata dibedakan atas kelelahan psikologi dan fisiologi. Kelelahan adalah penyebab terjadinya kecelakaan kerja disamping faktor lain seperti sikap tubuh dalam bekerja dan beban tambahan dari lingkungan kerja.

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kecelakaan kerja dalam pemanenan hutan dan upaya untuk mengatasinya sehingga keselamatan dan kesehatan kerja dapat meningkatkan produktivitas pemanenan hutan.

Kata kunci: Pemanenan hutan, beban kerja, kelelahan, kecelakaan