POTENSI HUTAN RAKYAT INDONESIA 2003

 

 

Kerja sama
Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan

dengan
Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik

Jakarta, 2004

 


KATA PENGANTAR

Publikasi Potensi Hutan Rakyat Indonesia tahun 2003 ini menyajikan hasil  pengolahan data Daftar ST03-L2 Blok VI, hasil pendaftaran bangunan dan rumah tangga (listing ) Sensus Pertanian 2003. Data yang disajikan menggambarkan potensi tanaman kehutanan di Indonesia yang mencakup populasi jumlah pohon dan banyaknya rumah tangga yang menguasai/ mengusahakan tanaman kehutanan.

Buku ini merupakan laporan hasil pengolahan data potensi hutan rakyat kerjasama antara Pusat Iventarisasi dan Statistik Kehutanan, Badan Planologi Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik.

Semoga dengan adanya publikasi ini ada manfaatnya guna menambah informasi tentang hutan rakyat di Indonesia.

Jakarta, Desember 2004

 


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

    Badan Pusat Statistik (BPS) telah melaksanakan Sensus Pertanian 2003 (ST03), yang merupakan sensus pertanian yang kelima.  Sensus Pertanian yang pertama dilaksanakan pada tahun 1963 dan sejak itu BPS secara rutin menyelenggarakan  Sensus Pertanian setiap 10 tahun sekali.  Karena dilakukan secara berkala, hasil Sensus pertanian yang pertama dapat dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian yang kedua, ketiga dan seterusnya, sehingga perubahan struktur pertanian di Indonesia dapat diikuti dari waktu ke waktu.

    ST03 merupakan kegiatan yang berskala besar sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2003 Sensus Pertanian mencakup kegiatan pendaftaran bangunan dan rumah tangga (listing) yang dilakukan di seluruh wilayah Republik Indonesia pada bulan Agustus 2003, kecuali di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam kegiatan listing baru dilaksanakan pada bulan April 2004. Sementara pada tahun 2004, Sensus Pertanian 2003 mencakup kegiatan pencacahan survei rumah tangga pertanian  sub sector (padi, palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan, budidaya perikanan) dan Survei Pendapatan Petani (SPP) serta Survei Rumah Tangga di Kawasan Hutan. Sampai saat ini BPS baru dapat menyajikan publikasi dari hasil pengolahan data  kegiatan listing ST03 yang berupa data populasi rumah tangga pertanian di setiap subsektor (termasuk rumah tangga yang berusaha di sub sektor kehutanan). 

    Untuk sub sektor kehutanan, data dari hasil listing menunjukkan bahwa banyaknya rumah tangga yang mengusahakan tanaman kehutanan (hutan rakyat) cukup besar, yaitu sekitar 3,43 juta . Untuk mendapatkan data rinci tentang populasi (jumlah pohon) tanaman kehutanan (hutan rakyat) di setiap kabupaten menurut jenis tanaman kehutanan dan jumlah rumah tangga yang menguasai /mengusahakan tanaman kehutanan tersebut diperlukan kegiatan pengolahan data lanjutan.

    Hasil pengolahan data listing ST03 sub sektor kehutanan ini khususnya yang mencakup populasi jumlah pohon dan jumlah pohon yang siap tebang menurut jenis tanaman kehutanan, sangat diperlukan oleh Departemen Kehutanan sebagai angka patokan (benchmarks) untuk penyusunan data potensi hutan rakyat.

  2. Tujuan

    1. Mendapatkan data populasi jumlah pohon, jumlah pohon yang siap tebang  yang disusun menurut jenis tanaman kehutanan angka nasional per propinsi yang dikuasai/diusahakan oleh rumah tangga.

    2. Mendapatkan data populasi jumlah rumah tangga yang menguasai/ mengusahakan  tanaman kehutanan yang disusun menurut jenis tanaman angka nasional per propinsi.

    3. Mendapatkan gambaran tentang potensi hutan rakyat secara nasional per propinsi.

  3. Landasan Hukum

    1. Undang-undang No.16 tahun 1997, tentang Statistik

    2. Undang-undang No.41 tahun 1999, tentang Kehutanan

    3. Peraturan Pemerintah No.51 tahun 199, tentang Penyelenggaraan Statistik

    4. Keputusan Presiden No.3 tahun 2002 Jo Keputusan Presiden No.103 tahun 2001, tentang Kedudukan, Tugas,Fungsi, Kewenangan dan Susunan Organisasi Lembaga Non Departemen.

    5. Nota Kesepahaman & Perjanjian Kerjasama Teknis antara Departemen Kehutanan dan Badan Pusat Statistik tanggal 31 Desember 2003, tentang Penyediaan Data dan Informasi Kehutanan.


BAB II
METODOLOGI

  1. Ruang Lingkup dan Cakupan

    Data mengenai populasi jumlah pohon yang dikuasai/ diusahakan oleh rumah tangga menurut jenis tanaman (hutan rakyat) yang dikumpulkan oleh BPS melalui kegiatan listing ST03 pada  bulan Agustus 2003 yang mencakup seluruh Wilayah Republik Indonesia kecuali Propinsi NAD. Sedangkan kegiatan listing ST03 di Propinsi NAD baru dilaksanakan pada  April 2004. Data tanaman kehutanan yang dikumpulkan melalui kegiatan listing ST03 tersebut mencakup 22 jenis tanaman kehutanan, berurut-turut adalah : akasia, bambu, cemara, cempaka, cendana, eucalyptus, gmelina, jati, johar, kamper, kruing, maja, mahoni, meranti, pinus, rasamala, rotan sengon, sonokeling, suren, sungkai dan tengkawang.

    Pengolahan data potensi hutan rakyat yang dilakukan baru mencakup 10 jenis tanaman kehutanan, yaitu : akasia, bambu, cendana,  jati, mahoni, pinus, sengon, rotan, sonokeling, dan sungkai di seluruh propinsi di Indonesia kecuali Propinsi NAD. Oleh karenanya, angka nasional yang disajikan mengambarkan potensi tanaman kehutanan di Indonesia pada tahun 2003 tanpa Propinsi NAD (karena ada perbedaan referensi waktu pengumpulan data listing ST03). Pemilihan ke sepuluh jenis tanaman kehutanan berdasarkan atas distribusi penyebarannya dimana jenis tanaman tersebut hampir menyebar di seluruh propinsi serta komoditi-komoditi tersebut merupakan komoditi unggulan nasional.

    Data mengenai populasi jumlah pohon dan banyaknya rumah tangga yang menguasai/mengusahakan tanaman kehutanan hasil pengolahan  akan disajikan secara lengkap per jenis tanaman angka nasional (per propinsi).

  2. Konsep dan Definisi

    Usaha tanaman kehutanan adalah kegiatan yang menghasilkan produk tanaman kehutanan (kayu) dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atau memperoleh pendapatan/keuntungan atas resiko usaha.

    Sebuah rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga kehutanan yang selanjutnya disingkat RTK apabila rumah tangga tersebut memelihara/menguasai tanaman kehutanan. Jumlah tanaman kehutanan yang dicatat dalam kegiatan listing ST03 adalah jumlah seluruh pohon yang dikuasai oleh rumah tangga baik yang sudah siap tebang maupun yang masih muda.

    Yang dimaksud dengan dikuasai, bisa berasal dari milik sendiri maupun berasal dari pihak lain. Sedangkan jumlah pohon seluruhnya adalah seluruh pohon baik yang sudah siap tebang ataupun yang masih muda. Pohon siap tebang adalah pohon yang sudah dapat dimanfaatkan hasilnya sebagai kayu pertukangan atau sebagai bahan baku industri

    Sebuah rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga usaha BMU apabila jumlah pohon siap tebang yang diusahakan oleh rumah tangga kehutanan lebih besar atau sama dengan batas minimal usaha.

    Batas Minimal Usaha (BMU) adalah jumlah pohon minimal yang dikuasai dan diusahakan oleh rumah tangga kehutanan sebagai syarat untuk dapat  dikategorikan sebagai rumah tangga usaha BMU atau apabila nilai produksi kotornya lebih besar atau sama dengan Rp.700.000,- per tahun.

    Adapun BMU per jenis tanaman kehutanan (hutan rakyat) yang dikumpulkan dalam kegitan listing ST03 adalah sebagai berikut :

    Kode

    Jenis Tanaman

    Satuan

    Batas Minimal
    Usaha (BMU)

    601

    602

    603

    604

    605

    606

    607

    608

    609

    610

    611

    612

    613

    614

    615

    616

    617

    618

    619

    620

    621

    622

    699

    Akasia

    Bambu

    Cemara

    Cempaka

    Cendana

    Eucalyptus

    Gmelina

    Jati

    Johar

    Kamper

    Kruing

    Maja

    Mahani

    Meranti

    Pinus

    Rasamal

    Rotan

    Sengon

    Sonokeling

    Suren

    Sungkai

    Tengkawang

    Lainnya

    Pohon

    rumpun

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    rumpun

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon

    pohon 

    9

    10

    9

    2

    1

    9

    3

    1

    7

    2

    3

    3

    2

    5

    5

    4

    10

    12

    2

    3

    2

    3

    Catatan:

    Untuk tanaman kehutanan yang belum mempunyai BMU, dapat dikategorikan sebagai rumah tangga usaha BMU apabila nilai produksi kotornya lebih besar atau sama dengan Rp.700.000,- per tahun.

  3. Metode Pengumpulan Data

    Seperti telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa, data mentah sebagai input pengolahan data potensi hutan rakyat adalah hasil pendaftaran bangunan rumah tangga (listing) Sensus Pertanian 2003 Daftar ST03-L2 khususnya untuk kegiatan budidaya Tanaman Kehutanan.

    Kegiatan pendafaran bangunan dan rumah tangga (listing) ST03 dilaksanakan diseluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam,  dilakukan secara lengkap untuk daerah pedesaan dan secara sample untuk daerah perkotaaan. Metode pengumpulan data kegiatan listing ST03 yang digunakan dapat dlihat pada bagan berikut ini :

    Kategori
    Desa/Kelurahan

    Letak
    Geografis

    Strata
    Desa/Kelurahan

    Metode
    Pengumpulan Data

    Perkotaan

    Pantai

     

    Sensus Lengkap

     

    Bukan Pantai

     

    Konsentrasi Usaha pertanian

    Sensus Lengkap

    Tidak konsentrasi pertanian

    Sensus Sampel

    Pedesaan

     

     

    Sensus Lengkap

  4. Pengolahan Data

    Tahapan kegiatan pengolahan data potensi hutan rakyat (Daftar ST03-L2), meliputi kegiatan pembuatan program extract data dan tabulasi, proses tabulasi,  dan pengecekan table-tabel.

    1. Program Extract Data ST03-L2 dan Tabulasi

      Dalam rangka memenuhi berbagai bentuk output khusus mengenai data kehutanan dari data ST2003-L2, maka diperlukan tahapan kegiatan seperti berikut ini :

      • Pembuatan layout tabel yang dibutuhkan

      • Menentukan Variabel yang dibutuhkan untuk kehutanan dari data ST2003-L2 guna menghasilkan tabel kehutanan.

      • Membuat program Extract data kehutanan.

      • Mengextract data kehutanan dari data ST2003-L2.

      • Membuat program Summary untuk data kehutanan.

      • Mensummary data hasil extract untuk digunakan sebagai input tabel kehutanan.

      • Pembuatan program tabel.

      • Memproduksi tabel.

      Tahapan Kegiatan tersebut diatas bisa digambarkan dalam flow proses seperti berikut:

      Layout Tabel

      Layout tabel yang dibutuhkan untuk data kehutanan disesuaikan dengan  karakteristik /variabel yang dibutuhkan dalam penyajian data.

      Pemilihan Variabel Kehutanan

      Dari seluruh variabel yang ada pada data ST2003-L2 tidak seluruhnya akan digunakan untuk pembuatan tabel-tabel kehutanan. Untuk itu perlu ditentukan variabel apa saja yang harus diambil. Berdasarkan layout tabel yang diinginkan maka diperoleh berbagai variabel yang ada didalam data ST2003-L2  yang dibutuhkan. Adapun variabel-variabel tersebut adalah:

      1. Identitas

      2. Blok I

      3. Blok II

      4. Blok VI

      Pemilihan variabel ini dimaksudkan untuk memperkecil data yang akan digunakan untuk menghasilkan tabel, sehingga diharapkan proses tabulasi menjadi lebih cepat.

      Pembuatan Program Extract data Kehutanan

      Berdasarkan variabel kehutanan diatas dibuatlah program guna mengextract variabel kehutanan yang sudah ditentukan dari data ST2003-L2. Program Extract ini dibangun dengan menggunakan Visual Basic 6.0. Program ini akan digunakan nantinya untuk mengextract data ST2003-L2 untuk seluruh propinsi di Indonesia.

      Extract data Kehutanan

      Data ST2003-L2 mencakup berbagai informasi berkaitan dengan rumahtangga pertanian. Guna mempercepat proses didalam memproduksi tabel khusus untuk kehutanan, maka data ST2003-L2 yang dibutuhkan hanyalah data yang berkaitan dengan kehutanan saja (tidak termasuk data untuk sektor lainnya seperti padi/palawija, hortikultura, peternakan dan perikanan, dan lain sebagainya). proses extract data menggunakan  data ST2003-L2 seluruh propinsi di Indonesia sebagai Input. Adapun output dari proses Extract ini adalah  data ST2003-L2-HUTAN.

      Pembuatan Program Summary data Kehutanan

      Data kehutanan (ST2003-L2-HUTAN) yang merupakan raw data untuk program tabulasi jumlahnya masih sangat besar ( ± 40 juta data). Hal ini menjadi tidak feasible jika kita akan menggunakan data tersebut langsung sebagai input untuk program tabulasi karena akan memakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu dibutuhkan data summary untuk data ST2003-L2-HUTAN, karena data summaryu tersebut akan menjadi jauh lebih kecil ukurannya dan selanjutnya akan mempercepat proses tabulasi .Untuk itu dibutuhkan suatu program untuk mensummary data ST2003-L2-HUTAN. Program summary ini dibangun dengan menggunakan Visual Basic 6.0.

      Summary data Kehutanan

      Proses summary data dilakukan dengan menggunakan Program summary. Adapun input dari proses summary data adalah data ST2003-L2-HUTAN. Hasil dari proses summary data adalah data Summary-ST2003-L2-HUTAN.

      Pembuatan program tabulasi

      Berdasarkan layout tabel kehutanan yang diinginkan dan struktur data Summary-ST2003-L2-HUTAN, maka dibuatlah program tabulasi guna menghasilkan informasi tentang RT kehutanan dalam bentuk tabel-tabel. Program tabulasi ini dibuat dengan Visual Basic 6.0. adapun input dari program tabulasi adalah data Summary-ST2003-L2, sedangkan outputnya adalah tabel-tabel dalam bentuk print out  (hard copy).

      Produksi tabel-tabel kehutanan dengan program Tabulasi

      Program tabulasi merupakan program yang digunakan untuk menghasilkan tabel-tabel kehutanan baik tabel perpropinsi maupun tabel nasional. Proses ini membutuhkan printer sebagai device untuk mencetak tabel-tabel yang dihasilkan oleh program tabulasi ke kertas.

    2. Pengecekan Tabel-tabel

      Kegiatan pengecekan tabel-tabel ini lebih menfokuskan pada pengecekan  kelengkapan table seperti kelengkapan judul tabel dan proses-proses penjumlahan kesamping atau kebawah dan konsistensi isian baik di dalam tabel maupun konsistensi isian antar tabel serta kewajaran angka (nilai suatu karakteristik tertentu). Sehingga seluruh karakteristik yang ditabulasikan dapat dijamin konsistensinya.  Disamping itu dari hasil pengecekan tabel dapat diidentifikasi beberapa nilai suatu karakteristik yang ekstrim (out lier) yang terjadi di suatu  wilayah tertentu (propinsi/ kabupaten).

      Permasalahan-permasalahan yang muncul dari temuan hasil pengecekan table-tabel antara lain, sebagai berikut :

      • Ketidaksesuaian komoditas tanaman kehutanan menurut wilayah (seperti diragukan akan keberadaan komoditas tertentu di suatu wilayah).

      • Keidakwajaran data yang dihasilkan (seperti penguasaan jumlah pohon untuk komoditas tertentu)

      • Munculnya angka-angka ekstrim (seperti data yang muncul besarnya sangat mencolok).

      Identifikasi masalah dari hasil pengecekan tabel-tabel  ini akan ditindak lanjuti dengan kegiatan supervisi validasi data ke daerah.

       


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

  1.  Potensi Tanaman Akasia di Indonesia

    Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03) menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  1,2 juta rumah tangga yang mengusai tanaman akasia dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 32,02 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 27,24 pohon. Dari total sebanyak 32,02 juta pohon akasia , sekitar 12,06 juta pohon atau 37,69 persen diantaranya adalah merupakan tanaman akasia yang siap tebang (lihat Tabel 1).

    Apabila diamati lebih lanjut, ternyata tanaman akasia lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 22,61 juta pohon  atau sekitar 70,62 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 9,41 juta pohon (29,38 %)  berada di luar Jawa. Tanaman akasia di Jawa terkonsentrasi di empat propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Timur (21,59 %), Jawa Tengah (19,69 %), Jawa Barat (13,86 %) dan D.I Yogyakarta (12,21 %), sementara di Luar Jawa di Sumatera Selatan (7,20 %) dan Lampung (5,04 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman akasia di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 75,85 persen  dari total Indonesia,  tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 25,36 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 33,14 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman akasia yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 34,19 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 46,12 persen (lihat Tabel 1. Lampiran)

    Rumah tangga  pertanian tanaman akasia (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 234,93 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 18,07 juta. Dari 234,93 ribu rumah tangga pertanian akasia, sekitar 83,40 persen (195,94 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 38,99 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 18,07 juta, sekitar 46,98 persen atau 8,49 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.  Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 13,71 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 5,56 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 4,36 juta  dimana sekitar 2,93 juta pohon tanaman yang siap tebang.

    Tabel 1. Populasi Pohon Tanaman Akasia Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    891 711

    22 611 068

    7 730 365

          195 944

      13 710 687

        5 558 898

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    75,85

    70,62

    64,05

    83,40

    75,88

    65,49

     

    •Siap tebang

     

     

    34,19

     

     

    40,54

    c.

    Rata-rata

     

    25,36

    8,67

     

    69,97

    28,37

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    283 903

    9 409 011

    4 339 330

    38 989

    4 359 249

    2 929 836

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    24,15

    29,38

    35,95

    16,60

    24,12

    34,51

     

    •Siap tebang

     

     

    46,12

     

     

    67,21

    c.

    Rata-rata

     

    33,14

    15,28

     

    111,81

    75,15

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    1 175 614

    32 020 079

    12 069 695

    234 933

    18 069 936

    8 488 734

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    37,69

     

     

    46,98

    c.

    Rata-rata

     

    27,24

    10,27

     

    76,92

    36,13

     

    Gambar 1. Potensi Akasia di Indonesia

  2. Potensi Tanaman  Bambu di Indonesia

    Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03) menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  4,73 juta rumah tangga yang mengusai tanaman bambu dengan populasi  yang dikuasai mencapai 37,93 juta rumpun atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 8,03 rumpun. Dari total sebanyak 37,93 juta rumpun tanaman bambu, sekitar 27,88 juta rumpun atau 73,52 persen diantaranya adalah merupakan tanaman bambu  yang siap tebang (lihat Tabel 2).

    Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman akasia, tanaman bambu lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 29,14  juta rumpun  atau sekitar 76,83 % dari total populasi bambu Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 8,79 juta rumpun (23,17 %)  berada di luar Jawa. Tanaman bambu di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Barat (28,09 %), Jawa Tengah (21,59 %), dan Jawa Timur (19,38  %), sementara di Luar Jawa di propinsi Sulawesi Selatan (3,69 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman bambu di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 75,69 persen  dari total Indonesia, tetapi  rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga  baik di Jawa maupun di Luar Jawa tidak ada perbedaan yang berarti yaitu 8,15 rumpun (di Jawa) dan 7,65 rumpun (di Luar Jawa).  Sedangkan untuk kondisi tanaman bambu, di Jawa persentase tanaman bambu yang siap tebang terhadap total jumlah rumpun seluruhnya mencapai sekitar 72,62 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya sedikit lebih besar mencapai 76,50 persen (lihat Tabel 2. Lampiran)

    Rumah tangga  pertanian tanaman bambu (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 521,52 ribu dengan populasi rumpun yang diusahakan sebanyak 22,84 juta. Dari 521,52 ribu rumah tangga pertanian bambu, sekitar 74,62 persen (389,17 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 132,35 ribu di Luar Jawa.  Populasi bambu yang diusahakan mencapai 22,84 juta rumpun, sekitar 71,67 persen atau 16,37 juta rumpun diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi bambu yang diusahakan mencapai 17,97 juta rumpun dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 12,62 juta rumpun, sementara di Luar Jawa populasi bambu yang diusahakan hanya sekitar 4,86  juta  dimana sekitar 3,75  juta rumpun diantaranya tanaman yang siap tebang.

    Tabel 2. Populasi Rumpun Tanaman Bambu Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

     Uraian 

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah
    RTK

    Jumlah
    Rumpun

    Jml Rpn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Rumpun

    Jml Rpn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    3 576 492

    29 139 388

    21 161 547

          389 169

      17 974 175

      12 617 844

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    75,69

    76,83

    75,89

    74,62

    78,70

    77,08

     

    •Siap tebang

     

     

    76,62

     

     

    70,20

    c.

    Rata-rata

     

    8,15

    5,92

     

    46,19

    32,42

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    1 148 806

    8 786 890

    6 721 780

    132 349

    4 865 497

    3 751 487

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    24,31

    23,17

    24,11

    25,38

    21,30

    22,92

     

    •Siap tebang

     

     

    76,50

     

     

    77,10

    c.

    Rata-rata

     

    7,65

    5,85

     

    36,76

    28,35

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    4 725 298

    37 926 278

    27 883 327

    521 518

    22 839 672

    16 369 331

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    73,52

     

     

    71,67

    c.

    Rata-rata

     

    8,03

    5,90

     

    43,79

    31,39

     

     

    Gambar 2. Potensi Bambu di Indonesia

     

  3. Potensi Tanaman  Cendana di Indonesia

    Dari   Tabel 3,  menunjukkan bahwa  pada tahun 2003 di Indonesia tercatat hanya sekitar 7,34 ribu rumah tangga  yang mengusai tanaman cendana  dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 66,33 ribu pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 9,04 pohon. Dari populasi pohon cendana  sebanyak 66,33 ribu  pohon , sekitar 20 ribu pohon atau 30,79 persen diantaranya adalah merupakan tanaman cendana yang siap tebang.

    Tabel 3. Populasi Pohon Tanaman Cendana Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    753

    8 384

    2 374

                 243

               4 915

               1 966

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    10,27

    12,64

    11,62

    8,61

    15,76

    11,38

     

    •Siap tebang

     

     

    28,32

     

     

    40,00

    c.

    Rata-rata

     

    11,13

    3,15

     

    20,23

    8,09

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    6 582

    57 947

    18 051

    2 578

    26 270

    15 303

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    89,73

    87,36

    88,38

    91,39

    84,24

    88,62

     

    •Siap tebang

     

     

    31,15

     

     

    58,25

    c.

    Rata-rata

     

    8,80

    2,74

     

    10,19

    5,94

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    7 335

    66 331

    20 425

    2 821

    31 185

    17 269

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    30,79

     

     

    55,38

    c.

    Rata-rata

     

    9,04

    2,78

     

    11,05

    6,12

    Berbeda dengan tanaman akasia dan bambu, ternyata tanaman cendana di Indonesia sebagian besar di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 57,95 ribu pohon  atau sekitar 87,36% dari total populasi pohon yang ada, sedangkan sisanya sekitar 8,38 ribu pohon (12,64 %)   di tanam di Jawa. Tanaman cendana di Indonesia terbanyak ditanam di propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu mencapai 42,62 ribu pohon (64,25 %), kemudian di urutan selanjutnya berturut-turut adalah Sulawesi Selatan 9,03 ribu pohon (13,62 %) dan Jawa Tengah 4,44 ribu pohon (6,70 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman Cendana  di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 89,73 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga baik di Luar jawa maupun di Jawa tidak memiliki perbedaan yang berarti yaitu masing-masing 11 pohon (Jawa) dan 9 pohon (Luar Jawa).  Sedangkan untuk kondisi tanaman, di Luar Jawa persentase tanaman cendana yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya mencapai 31,15 persen lebih tinggi disbanding dengan di Jawa persentasenya hanya sekitar 28,32 (Lihat Tabel 3. Lampiran).

    Rumah tangga  pertanian tanaman cendana (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 2,82 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 31,19 ribu. Dari  2,82 ribu rumah tangga yang mengusakan tanaman cendana, sebagian besar  (91,39 %) berasal dari Luar Jawa,sedangkan sisanya sekitar 243 rumah tangga  ada di Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 31,19 ribu, sekitar 55,38 persen atau 17,27 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 4,92 ribu, dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 1,97 ribu pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 26,27 ribu  dimana sekitar 15,30 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.

  4. Potensi Tanaman  Jati di Indonesia

    Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03) menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  3,05 juta rumah tangga yang mengusai tanaman jati dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 79,71 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 26,12 pohon. Dari total sebanyak 79,71 juta pohon jati di Indonesia, sekitar 18,45 juta pohon atau 23,14 persen diantaranya adalah merupakan tanaman jati yang siap tebang . Hal ini memberikan indikasi bahwa sebagian besar tanaman jati yang dikuasai oleh rumah tangga masih berumur muda / baru tanam ( Lihat Tabel 4 ).

    Seperti halnya tanaman akasia dan bambu, tanaman jati juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 50,12 juta pohon  atau sekitar 62,88 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 29,59 juta pohon (37,12 %)  berada di luar Jawa. Tanaman jati di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (26,47 %), Jawa Timur (21,28%) dan D.I Yogyakarta (8,89 %), sementara tanaman jati terbesar di Luar Jawa di Sulawesi Selatan (4,46 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman jati di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 76,68 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 21,42 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 41,59 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman jati yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 22,96 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 23,45 persen (Lihat Tabel 4. Lampiran).

    Rumah tangga pertanian tanaman jati (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1,70 juta dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 46,96 juta. Dari 1,70 juta rumah tangga pertanian jati, sebagian besar yaitu sekitar 78,92 persen (1,34 juta) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 358,54 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 46.96 juta, sekitar 36,07 persen atau 16,94 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 32,67 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 10,44 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 14,28 juta  dimana sekitar 6,50 juta pohon diantaranya adalah tanaman yang siap tebang.

    Tabel 4. Populasi Pohon Tanaman Jati Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    2 340 139

    50 119 621

    11 506 947

    1 342 156

    32 677 011

    10 440 343

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    76,68

    62,88

    62,38

    78,92

    69,59

    61,65

     

    •Siap tebang

     

     

    22,96

     

     

    31,95

    c.

    Rata-rata

     

    21,42

    4,92

     

    24,35

    7,78

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    711 574

    29 592 858

    6 939 077

    358 539

    14 280 606

    6 495 648

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    23,32

    37,12

    37,62

    21,08

    30,41

    38,35

     

    •Siap tebang

     

     

    23,45

     

     

    45,49

    c.

    Rata-rata

     

    41,59

    9,75

     

    39,83

    18,12

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    3 051 713

    79 712 479

    18 446 024

    1 700 695

    46 957 617

    16 935 991

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    23,14

     

     

    36,07

    c.

    Rata-rata

     

    26,12

    6,04

     

    27,61

    9,96

     

  5. Potensi Tanaman  Mahoni di Indonesia

    Pada tahun 2003, tercatat sebanyak 2,31 juta rumah tangga yang mengusai tanaman mahoni dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 45,26 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 19,59 pohon. Dari populasi pohon mahoni di Indonesia sebanyak 45,26 juta, hanya sekitar 9,49  juta pohon atau 20,98 persen saja yang merupakan tanaman mahoni yang siap tebang . Hal ini memberikan gambaran bahwa tanaman mahoni yang dikuasai oleh rumah tangga sebagian besar masih berumur muda (Lihat Tabel 5).

    Tabel 5. Populasi Pohon Tanaman Mahoni Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    2 033 467

    39 990 730

    8 323 125

    892 642

    24 002 728

    7 382 128

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    88,02

    88,36

    87,64

    90,10

    91,57

    87,80

     

    •Siap tebang

     

     

    20,81

     

     

    30,76

    c.

    Rata-rata

     

    19,67

    4,09

     

    26,89

    8,27

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    276 660

    5 268 811

    1 174 067

    98 072

    2 209 125

    1 026 166

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    11,98

    11,64

    12,36

    9,90

    8,43

    12,20

     

    •Siap tebang

     

     

    22,28

     

     

    46,45

    c.

    Rata-rata

     

    19,04

    4,24

     

    22,53

    10,46

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    2 310 127

    45 259 541

    9 497 192

    990 714

    26 211 853

    8 408 294

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    20,98

     

     

    32,08

    c.

    Rata-rata

     

    19,59

    4,11

     

    26,46

    8,49

    Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman akasia, bambu dan jati, ternyata tanaman mahoni juga lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 39,99  juta pohon  atau sekitar 88,36 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 5,27 juta pohon (11,64 %)  berada di luar Jawa. Tanaman mahoni di Indonesia terkonsentrasi di tiga propinsi, berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (39,04 %), Jawa Barat (27,56 %) dan Jawa Timur (11,63 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman mahoni di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 88,02 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di kedua wilayah tersebut relatif sama, yaitu masing-masing sebesar  19,67 pohon (di Jawa) dan 19,04 pohon (di Luar Jawa). Demikian juga dengan kondisi tanaman, baik  di Jawa maupun di luar Jawa persentase tanaman mahoni yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya relatif sama, masing-masing sekitar 20,81 % (di Jawa) dan 22,28 % (di Luar Jawa) (Lihat Tabel 5. Lampiran).

    Rumah tangga  pertanian tanaman mahoni (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 990,71 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 26,21 juta. Dari 990,71 ribu rumah tangga pertanian mahoni, sebagian besar yaitu 892,64 ribu rumah tangga (90,10 %) diantaranya berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 98,07 ribu di Luar Jawa.  Populasi pohon yang diusahakan mencapai 26,21 juta, sekitar 32,08 persen atau 8,41  juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 24,00 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 7,38 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 2,21 juta  dimana sekitar 1,03 juta pohon diantaranya adalah  tanaman yang siap tebang.

  6. Potensi Tanaman  Pinus di Indonesia

    Pada tahun 2003, di Indonesia tercatat sekitar 156,0 ribu rumah tangga yang menguasai tanaman pinus dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 5,82 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 37,33 pohon. Dari total sebanyak 5,82 juta pohon pinus , sekitar 2,72 juta pohon atau 46,63 persen diantaranya adalah merupakan tanaman pinus  yang siap tebang (lihat Tabel 6).

    Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati dan mahoni,  tanaman pinus juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 3,52 juta pohon  atau sekitar 60,46 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 2,30 juta pohon (39,54 %)  berada di luar Jawa. Tanaman pinus  di Jawa terkonsentrasi di tiga  propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Timur (21,05 %), Jawa Tengah (19,53 %) dan Jawa Barat (18,63 %), sementara di Luar Jawa terbanyak di dua propinsi yaitu di Sumatera Utara (20,07 %) dan Sulawesi Selatan (16,92%).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman pinus di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 71,44 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata penguasaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 31,59 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 51,69 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman pinus yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 38,90 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 58,44 persen (Lihat Tabel 6. Lampiran).

    Rumah tangga  pertanian tanaman pinus (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 59,33 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 3,94 juta. Dari 59,33 ribu rumah tangga pertanian pinus, sekitar 66,32 persen ( 39,35 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 19,98 ribu di Luar Jawa.  Dari populasi pohon yang diusahakan sebesar 3,94 juta, sekitar 58,77 persen atau 2,31 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 2,08 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 1,15 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 1,86 juta  dimana sekitar 1,16  juta pohon adalah tanaman yang siap tebang.

    Tabel 6. Populasi Pohon Tanaman Pinus Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    111 458

    3 521 107

    1 369 783

    39 351

    2 076 182

    1 153 946

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    71,44

    60,46

    50,44

    66,32

    52,76

    49,89

     

    •Siap tebang

     

     

    38,90

     

     

    55,58

    c.

    Rata-rata

     

    31,59

    12,29

     

    52,76

    29,32

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    44 548

    2 302 757

    1 345 793

    19 980

    1 858 874

    1 158 827

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    28,56

    39,54

    49,56

    33,68

    47,24

    50,11

     

    •Siap tebang

     

     

    58,44

     

     

    62,34

    c.

    Rata-rata

     

    51,69

    30,21

     

    93,04

    58,00

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    156 006

    5 823 864

    2 715 576

    59 331

    3 935 056

    2 312 773

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    46,63

     

     

    58,77

    c.

    Rata-rata

     

    37,33

    17,41

     

    66,32

    38,98

  7. Potensi Tanaman  Sengon di Indonesia

    Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03), menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  2,32 juta rumah tangga yang mengusai tanaman sengon dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 59,83 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 25,84 pohon. Dari total sebanyak 59,83 juta pohon sengon , sekitar 24,61 juta pohon atau 41,14 persen diantaranya adalah merupakan tanaman sengon yang siap tebang. Hal ini memberikan indikasi bahwa tanaman sengon di Indonesia sebagian besar masih berumur muda  (lihat Tabel 7).

    Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati, mahoni dan pinus, tanaman sengon juga lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 50,08 juta pohon  atau sekitar 83,69 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 9,76 juta pohon (16,31 %)  berada di luar Jawa. Tanaman sengon di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (34,84 %), Jawa Barat (30,62 %) dan Jawa Timur (10,88 %), sementara di Luar Jawa terdapat di dua propinsi yang cukup banyak yaitu di Lampung ( 3,86%) dan Kalimantan Timur(2,20 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman sengon di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 85,63 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 25,25 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 29,33 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman sengon yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 39,10 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 51,58 persen.(Lihat Tabel 7. Lampiran ).

    Rumah tangga  pertanian tanaman sengon (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 406,48 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 34,18 juta. Dari 406,48 ribu rumah tangga pertanian sengon, sebagian besar yaitu sekitar 87,44 persen (355,42 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 51,05 ribu di Luar Jawa.  Dari populasi pohon sengon  yang diusahakan sebanyak 34,18 juta, sekitar 53,34 persen atau 18,23 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 28,70 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 14,21 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 5,48 juta  dimana sekitar 4,03 juta pohon adalah tanaman yang siap tebang.

    Tabel 7. Populasi Pohon Tanaman Sengon Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    1 983 192

    50 075 525

    19 579 689

    355 424

    28 701 783

    14 205 763

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    85,63

    83,69

    79,55

    87,44

    83,97

    77,91

     

    •Siap tebang

     

     

    39,10

     

     

    49,49

    c.

    Rata-rata

     

    25,25

    9,87

     

    80,75

    39,97

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    332 780

    9 758 776

    5 033 539

    51 051

    5 481 076

    4 027 273

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    14,37

    16,31

    20,45

    12,56

    16,03

    22,09

     

    •Siap tebang

     

     

    51,58

     

     

    73,48

    c.

    Rata-rata

     

    29,33

    15,13

     

    107,36

    78,89

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    2 315 972

    59 834 301

    24 613 228

    406 475

    34 182 859

    18 233 036

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    41,14

     

     

    53,34

    c.

    Rata-rata

     

    25,84

    10,63

     

    84,10

    44,86

     

  8. Potensi Tanaman  Rotan di Indonesia

    Dari Tabel 8, menunjukkan bahwa pada tahun 2003 di Indonesia tercatat sekitar  47,23 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman rotan dengan populasi tanaman yang dikuasai mencapai 17,78 juta rumpun atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 376,56 rumpun. Dari populasi tanaman rotan sebanyak 17,78 juta rumpun , sebagian besar yaitu sekitar 14,48 juta rumpun atau 81,41 persen diantaranya adalah merupakan tanaman rotan yang siap tebang .

    Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman cendana, ternyata tanaman rotan juga  lebih banyak di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 17,76  juta rumpun  atau sekitar 99,88 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya yang hanya sekitar 21,38 ribu rumpun (0,12 %)  di tanam di Jawa. Tanaman rotan di Indonesia terkonsentrasi di tiga propinsi di wilayah Kalimantan, dari urutan terbesar berturut-turut adalah di  Kalimantan Tengah (75,45 %), Kalimantan timur (13,69 %)  dan Kalimantan Selatan (7,46 %).  Disamping persentase  rumah tangga yang menguasai tanaman rotan di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 99,88 persen  dari total Indonesia, juga memilki rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga yang jauh lebih tinggi yaitu  sekitar 377,22 rumpun dibandingkan dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Jawa yang hanya sekitar 152,72 rumpun. Kondisi tanaman rotan di Luar Jawa, sebagian besar adalah tanaman yang sudah siap tebang persentasenya mencapai 81,42 persen, sedangkan di Jawa persentase tanaman yang siap tebang sekitar 73,71 persen (Lihat Tabel 8. Lampiran).

    Tabel 8. Populasi Pohon Tanaman Rotan Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    140

    21 381

    15 760

    23

    20 968

    15 493

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    0,30

    0,12

    0,11

    0,06

    0,12

    0,11

     

    •Siap tebang

     

     

    73,71

     

     

    73,89

    c.

    Rata-rata

     

    152,72

    112,57

     

    911,65

    673,61

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    47 087

    17 762 274

    14 462 115

    41 532

    17 167 484

    14 398 442

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    99,70

    99,88

    99,89

    99,94

    99,88

    99,89

     

    •Siap tebang

     

     

    81,42

     

     

    83,87

    c.

    Rata-rata

     

    377,22

    307,14

     

    413,36

    346,68

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    47 227

    17 783 655

    14 477 875

    41 555

    17 188 452

    14 413 935

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    81,41

     

     

    83,86

    c.

    Rata-rata

     

    376,56

    306,56

     

    413,63

    346,86

     

     

    Gambar 3. Potensi Rotan di Indonesia

    Rumah tangga  pertanian tanaman rotan (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 41,56 ribu dengan populasi tanaman yang diusahakan sebanyak 17,19 juta. Dari 41,56 ribu rumah tangga pertanian rotan, sebagian besar yaitu sekitar 99,88 persen atau  (41,53 ribu) rumah tangga berdomisili di  Luar Jawa dan sebagian kecil saja yaitu sekitar 23 rumah tangga di Jawa.  Dari populasi tanaman yang diusahakan rumah tangga sebanyak 17,19 juta rumpun, sebagian besar (83,86 %) atau 14,41 juta rumpun diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di  luar Jawa populasi tanaman yang diusahakan mencapai 17,17 juta rumpun dan sebagian besar (83,87 %) merupakan tanaman yang siap tebang, sedangkan di Jawa hanya sekitar  20,97 ribu rumpun, dengan  kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 15,59 ribu rumpun.

  9. Potensi Tanaman  Sonokeling di Indonesia

    Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03) menunjukkan, bahwa di Indonesia tercatat hanya sekitar  204,62 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman sonokeling dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 2,35 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 11,50 pohon. Dari total sebanyak 2,35 juta  pohon sonokeling, hanya sekitar 742,64 ribu  pohon atau 31,56 persen saja yang merupakan tanaman siap tebang (lihat Tabel 9).

    Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati, mahoni, pinus dan sengon, tanaman sonokeling juga  lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 2,0  juta pohon  atau sekitar 85,36 persen  dari total populasi pohon di Indonesia, sebagian kecil saja yaitu sekitar 344,48 ribu pohon (14,64%)  di tanam di luar Jawa. Tanaman sonokeling di Indonesia  terkonsentrasi di tiga propinsi di Jawa, tiga propinsi potensi tersebut berturut-turut adalah Jawa Tengah (34,30 %), D.I Yogyakarta (29,04 %) dan  Jawa Timur (15,86 %) . Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman sonokeling di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 90,28 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 10,87 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 17,31 pohon.  Kondisi tanaman sonokeling di Jawa umumnya masih berumur muda, hanya sekitar 30,10 persen saja yang merupakan tanaman yang siap tebang dari total 2,0 juta pohon yang dikuasai. Tidak jauh berbeda dengan kondisi tanaman sonokeling di Luar Jawa, tanaman yang siap tebang hanya sekitar 40,09 persen dari total 344,48 ribu pohon yang diusahakan (Lihat Tabel 9. Lampiran)

    Rumah tangga  pertanian tanaman sonokeling (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003, tercatat hanya sekitar 90,17 ribu rumah tangga dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 1,47 juta. Dari 90,17 ribu rumah tangga pertanian sonokeling, sebagian besar diantaranya yaitu sekitar 91,23 persen (82,26 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 7,91 ribu di Luar Jawa. Dari populasi pohon yang diusahakan sebanyak 1,47 juta, sekitar 40,91 persen atau 602,86 ribu pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 1,28 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 484,44 ribu pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 191,59 ribu  dimana sekitar 118,43 ribu pohon adalah tanaman yang siap tebang.

    Tabel 9.  Populasi Pohon Tanaman Sonokeling Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    184 726

    2 008 272

    604 525

    82 259

    1 281 935

    484 436

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    90,28

    85,36

    81,41

    91,23

    87,00

    80,37

     

    •Siap tebang

     

     

    30,10

     

     

    37,79

    c.

    Rata-rata

     

    10,87

    3,27

     

    15,58

    5,89

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    19 894

    344 379

    138 018

    7 906

    191 493

    118 325

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    9,72

    14,64

    18,59

    8,77

    13,00

    19,63

     

    •Siap tebang

     

     

    40,09

     

     

    61,81

    c.

    Rata-rata

     

    17,31

    6,94

     

    24,22

    14,97

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    204 620

    2 352 651

    742 543

    90 165

    1 473 428

    602 761

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    31,56

     

     

    40,91

    c.

    Rata-rata

     

    11,50

    3,63

     

    16,34

    6,69

     

  10. Potensi Tanaman  Sungkai di Indonesia

    Pada tahun 2003, dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003 (ST03) menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat hanya sekitar  22,32 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman sungkai dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 1,01 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 45,29 pohon. Dari total sebanyak 1,01 juta pohon sungkai, sebagian besar adalah tanaman yang berumur muda, hanya sekitar 381,28 ribu pohon atau 37,72 persen  saja yang merupakan tanaman siap tebang (Lihat Tabel 10).

    Apabila diamati lebih lanjut, seperti halnya tanaman cendana dan rotan, tanaman sungkai lebih banyak di tanam di Luar Jawa yaitu mencapai 902,22 ribu pohon  atau sekitar 89,26 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 108,55 ribu pohon (10,74%)  di tanam di Jawa. Tanaman sungkai di Indonesia  terkonsentrasi di lima propinsi di luar Jawa, berturut-turut adalah di  Kalimantan Tengah (21,06 %), Kalimantan Selatan (17,86 %), Kalimantan Timur (12,34 %), Sumatera Selatan (10,82%) dan Sulawesi Selatan (8,78 %). Disamping persentase jumlah rumah tangga yang menguasai tanaman sungkai di Luar Jawa jauh lebih besar dibanding di Jawa yaitu  mencapai 76,0 persen  dari total rumah tangga Indonesia juga memiliki rata-rata penguasaan tanaman  per rumah tangga yang lebih besar yaitu sekitar 53,19 pohon  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Jawa yang hanya sekitar 20,26 pohon.  Kondisi tanaman sungkai di Luar Jawa umumnya merupakan tanaman yang masih berumur muda, tercatat hanya sekitar 35,27 persen dari total jumlah pohon 902,22 ribu yang merupakan tanaman siap tebang, sementara di Jawa tanaman yang siap tebang mencapai 58,12  persen dari total jumlah pohon sebanyak 108,55 pohon ( Lihat Tabel 10. Lampiran).

    Rumah tangga  pertanian tanaman sungkai (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat hanya sekitar 11,42 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 583,40 ribu . Dari 11,42 ribu rumah tangga pertanian sungkai, sekitar 71,09 persen (8,12 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 3,30 ribu di Jawa.  Kondisi tanaman sungkai yang diusahakan oleh rumah tangga sekitar 59,34 persen dari populasi  pohon sebanyak 583,40 ribu merupakan tanaman yang siap tebang.  Di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 491,84 ribu dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 285,91 ribu pohon, sementara di Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 91,56 ribu   dimana sekitar 60,25 ribu pohon adalah tanaman yang siap tebang.

    Tabel 10. Populasi Pohon Tanaman Sungkai Yang Dikuasai/ Diusahakan Rumah Tangga

    Uraian

    Rumah Tangga Kehutanan

    RT Usaha  BMU

    Jumlah RTK

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    Jumlah
    RT Usaha 

    Jumlah
    Pohon

    Jml Phn
    Siap Tebang

    JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    5 357

    108 550

    63 088

    3 302

    91 557

    60 250

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    24,00

    10,74

    16,55

    28,91

    15,69

    17,41

     

    •Siap tebang

     

     

    58,12

     

     

    65,81

    c.

    Rata-rata

     

    20,26

    11,78

     

    27,73

    18,25

    LUAR JAWA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    16 962

    902 223

    318 192

    8 120

    491 841

    285 910

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    76,00

    89,26

    83,45

    71,09

    84,31

    82,59

     

    •Siap tebang

     

     

    35,27

     

     

    58,13

    c.

    Rata-rata

     

    53,19

    18,76

     

    60,57

    35,21

    INDONESIA

     

     

     

     

     

     

    a.

    Absolut

    22 319

    1 010 773

    381 280

    11 422

    583 398

    346 160

    b.

    Persentase

     

     

     

     

     

     

     

    •Thd total

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

    100,00

     

    •Siap tebang

     

     

    37,72

     

     

    59,34

    c.

    Rata-rata

     

    45,29

    17,08

     

    51,08

    30,31

     


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Berdasarkan hasil listing Sensus Pertanian 2003, diperoleh gambaran bahwa potensi tanaman kehutanan (hutan rakyat) di Indonesia  sebagian besar terkonsentrasi di Jawa (akasia, bambu, jati, mahoni, pinus, sengon dan sonokeling), sementara untuk tanaman cendana, rotan dan sungkai terkonsentrasi di Luar Jawa.

  2. Rumah tangga yang mengusai tanaman akasia di Indonesia pada tahun 2003, tercatat sebanyak 1,2 juta dengan populasi pohon yang dikuasai sekitar 32,02 juta. Kondisi tanaman akasia di Indonesia pada umumnya masih berumur muda, hanya sekitar 37,69 persen yang merupakan tanaman siap tebang.  Potensi tanaman akasia terdapat di empat propinsi di Jawa, yaitu di Jawa Timur (21,59 %), Jawa Tengah (19,69 %), Jawa Barat (13,86 %) dan D.I Yogyakarta (12,21 %).

  3. Pada tahun 2003, banyaknya rumah tangga di Indonesia yang mengusai tanaman bambu tercatat 4,73 juta dengan populasi tanaman yang dikuasai sekitar 37,93 rumpun. Kondisi tanaman bambu di Indonesia sebagian besar adalah tanaman yang siap tebang yaitu mencapai sekitar 73,52 persen dari total populasi tanaman yang dikuasai rumah tangga. Potensi tanaman bambu terkonsentrasi  di tiga propinsi di Jawa, yaitu di Jawa Barat (28,09 %), Jawa Tengah (21,59 %) dan Jawa Timur (19,38 %), sementara di Luar Jawa terbanyak di Sulawesi Selatan (3,69 %).

  4. Di Indonesia pada tahun 2003, tercatat hanya ada sekitar 7,34 ribu rumah tangga yang mengusai tanaman cendana dengan populasi pohon sekitar 66,33 ribu. Kondisi tanaman cendana yang dikuasai rumah tangga, lebih dari separuh merupakan tanaman yang berumur muda, selebihnya yaitu sekitar 20 ribu pohon adalah tanaman yang siap tebang. Potensi tanaman cendana terbesar terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur mencapai sekitar 42,62 ribu pohon (64,25 %), kemudian di urutan kedua dan seterusnya adalah di Sulawesi Selatan (13,62 %), dan Jawa Tengah (6,70%).

  5. Banyaknya rumah tangga yang menguasai tanaman jati di Indonesia pada tahun 2003, tercatat sekitar 3,05 juta dengan populasi pohon yang dikuasai sebanyak 79,71 juta.  Seperti halnya tanaman akasia, kondisi tanaman jati di Indonesia sebagian besar masih berumur muda,hanya sebagian kecil saja yaitu sekitar 23,14 persen merupakan tanaman yang siap tebang.  Potensi tanaman jati terkonsentrai di tiga propinsi di Jawa, berturut-turut adalah di Jawa tengah (26,47 %), Jawa Timur (21,28 %) dan D.I Yogyakarta (8,89 %).

  6. Banyaknya rumah tangga yang menguasai tanaman mahoni di Indonesia pada tahun 2003 lebih kecil dibanding dengan rumah tangga tanaman jati yaitu sekitar 2,31 juta dengan populasi pohon yang dikuasai sebanyak 45,26 juta.  Seperti halnya tanaman jati dan akasia, sebagian besar tanaman mahoni yang dikuasai rumah tangga masih berumur muda, hanya sekitar 9,49 juta pohon (20,98 %)  adalah tanaman yang siap tebang.  Tiga propinsi di Jawa merupakan daerah potensi tanaman mahoni di Indonesia, berturut-turut adalah  Jawa Tengah (39,04 %), Jawa Barat (27,56 %) dan Jawa Timur (11,63 %).

  7. Populasi pohon pinus di Indonesia pada tahun 2003, tercatat sekitar 5,82 juta yang dikuasai oleh sekitar 156, 0 ribu rumah tangga. Dari populasi sekitar 5,82 pohon pinus, lebih dari separuh diantaranya adalah tanaman berumur muda, selebihnya sekitar 2,72 juta pohon merupakan tanaman yang siap tebang.  Potensi tanaman pinus terdapat di tiga propinsi di Jawa, berturut-turut  adalah Jawa Timur (21,05 %), Jawa Tengah (19,53%) dan Jawa Barat (18,63 %), sementara di luar Jawa terdapat di Sumatera Utara (20,07%) dan Sulawesi Selatan (16,92 %).

  8. Rumahtangga yang menguasai tanaman sengon di Indonesia pada tahun 2003, tercatat sekitar 2,32 juta dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 59,83 juta. Seperti tanaman pinus, lebih dari separuh dari populasi jumlah pohon yang dikuasai rumah tangga adalah  tanaman berumur muda, selebihnya yaitu sekitar 24,61 juta pohon adalah tanaman yang siap tebang. Potensi tanaman sengon di Indonesia terdapat di tiga propinsi di Jawa, yaitu di Jawa Tengah (34,84 %), Jawa Barat (30,62 %) dan Jawa Timur (10,88 %).

  9. Rumah tangga yang menguasai tanaman rotan di Indonesia pada tahun 2003 tercatat hanya sekitar 47,23 ribu dengan populasi pohon yang dikuasai cukup besar yaitu mencapai sekitar 17,78 juta rumpun.  Berbeda dengan tanaman kehutanan yang lain, sebagian besar tanaman rotan yaitu sekitar 14,48 juta rumpun atau 81,41 persen diantaranya adalah tanaman yang sudah siap tebang. Potensi tanaman rotan di Indonesia terkonsentrasi di wilayah Kalimantan, berturut-turut  di Kalimantan Tengah (75,45 %), Kalimantan Timur (13,69 %) dan Kalimantan Selatan (7,46 %).

  10. Tanaman sonokeling di Indonesia pada tahun 2003, tercatat sebanyak 2,35 juta pohon yang dikuasai oleh hanya 204,62 ribu rumah tangga. Dari populasi sebanyak 2,35 juta pohon sonokeling, sebagian besar diantaranya adalah tanaman yang masih berumur muda, selebihnya sekitar 31,56 persen adalah tanaman yang siap tebang. Potensi tanaman sonokeling di Indonesia terkonsentrasi di tiga propinsi di Jawa, berturut-turut adalah di Jawa Tengah (34,30 %), D.I Yogyakarta (29,04%) dan Jawa Timur (15,86%).

  11. Rumah tangga yang mengusai tanaman sungkai di Indonesia pada tahun 2003, tercatat hanya sekitar 22,32 ribu dengan populasi pohon sekitar 1,01 juta.  Dari populasi sebanyak 1,01 juta pohon, sebagian besar adalah masih berumur muda, selebihnya yaitu sekitar 37,72 persen merupakan tanaman yang siap tebang.  Potensi tanaman sungkai di Indonesia, terkonsentrasi di lima propinsi di Luar Jawa, berturut-turut adalah di Kalimantan Tengah (21,06%), Kalimantan Selatan (17,86 %), Kalimantan Timur (12,34 %), Sumatera Selatan (10,82 %) dan Sulawesi Selatan (8,78 %)

  12. Data yang diperoleh dari pengolahan Daftar ST03-L2 ini baru menggambarkan data potensi tananaman hutan rakyat di Indonesia.  Untuk mendapatkan gambaran lebih jauh tentang potensi hutan rakyat diperlukan suatu studi khusus yang bertujuan untuk memperoleh indikator tentang potensi produksi kayu per pohon untuk setiap jenis tanaman kehutanan.

 


LAMPIRAN:

 

Tabel 1.  Populasi Pohon Tanaman Akasia di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 2.  Populasi Rumpun Tanaman Bambudi Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 3.   Populasi Pohon Tanaman Cendana di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 4.   Populasi Pohon Tanaman Jati di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 5.   Populasi Pohon Tanaman Mahoni di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 6.   Populasi Pohon Tanaman Pinus di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 7.   Populasi Pohon Tanaman Sengon di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 8.   Populasi Pohon Tanaman Rotan di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Tabel 9.   Populasi Pohon Tanaman Sonokeling di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Table 10. Populasi Pohon Tanaman Sungkai di Indonesia Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga

Table 11. Populasi Pohon dan Pohon Siap Tebang Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga menurut Propinsi dan Jenis Tanaman 2003

Table 12. Populasi Pohon dan Pohon Siap Tebang Yang Dikuasai/Diusahakan Rumah Tangga menurut Propinsi dan Jenis Tanaman 2003

Table 13. Jumlah Rumah Tangga, Rumah Tangga Pertanian, dan Rumah Tangga Pertanian Kehutanan menurut Propinsi dan Jenis Tanaman